
Setelah beberapa hari dirawat, Salwa dan putrinya diperbolehkan untuk pulang. Sampai hari ini, dia belum menyadari kehadiran bik Eli.
Mobil yang ditumpangi oleh Salwa berhenti tepat di pintu masuk rumahnya. Keenan membimbing Salwa untuk turun, sedangkan ibu menggendong Mentari lalu membawanya masuk ke dalam rumah.
"Surprise!!!" pihak keluarga sudah berkumpul di sana termasuk nenek, om Panji, dan Luis. Mereka menyambut kedatangan Salwa dan bayinya dengan penuh suka cita.
"Bibik," sebut Salwa lalu menghambur ke pelukan bik Eli.
"Selamat ya kak," ucap Jihan.
"Selamat untuk kelahiran putrinya," ucap Risma.
"Terima kasih karena kalian sudah hadir," balas Salwa pada kedua adik kembarnya.
Salwa fokus pada perut Risma dan tubuh Risma yang terlihat semakin berisi.
"Kamu hamil ya?" tanya Salwa.
"Iya kak, sudah masuk empat bulan." jawab Risma seraya tersenyum.
"Benarkah? Selamat ya!" ucap semua yang hadir di sana.
"Dijaga kandungannya, jangan banyak pikiran." ujar Ibu.
"Iya bu, terima kasih." balas Risma.
__ADS_1
Kebahagiaan terpancar di wajah-wajah mereka. Semua tersenyum dan tertawa bersama.
Salwa tidak menyangka bahwa akan mendapatkan kebahagiaan seperti ini.
"Kenapa nangis?" tanya Keenan sambil merangkul pundak istrinya.
"Aku bahagia mas, bisa berkumpul seperti ini. Keluarga kita terasa lengkap dan sempurna. Lihatlah, papa, ibu, dan ayah Panji. Mereka terlihat akrab tanpa dendam. Coba Mas lihat Jihan dan Risma, tersenyum lepas seolah tidak pernah terjadi permusuhan antara keduanya. Mereka tersenyum tulus, bukan dibuat-buat." Tutur Salwa.
"Kamu benar, sayang. Akhirnya kini keluarga kita bisa bersatu kembali, tanpa dendam dan kebencian. Semoga saja ini bukan hanya sementara, tapi untuk selamanya." Ucap Keenan.
Bi Lilis dan bik Eli memanggil seluruh anggota keluarga dan menyuruhnya untuk makan siang. Karena di ruang makan hanya ada enam kursi dan tidak bisa menampung mereka semua, akhirnya mereka membentang karpet di lantai dan makan ala lesehan.
"Aku suapin ya," tawar Keenan.
"Aku bisa makan sendiri, Mas. Mas makan saja, agar momen kebersamaan kita benar-benar kita rasakan," tolak Salwa dengan halus.
Suasana pun kembali ramai setelah Om Panji mengakhiri doanya.
"Untung baby sedang tidur, jadi kamu bisa puas memakan semua yang ada." Nanang menggoda istrinya. Semenjak melahirkan, Jihan tidak pernah menjaga pola makan, dia memakan semuanya karena dia sedang menikmati hari-harinya menjadi seorang ibu.
"Ah kamu benar sayang, aku bisa memakan semuanya dengan gratis." Balas Jihan, semua yang mendengar gurauan sepasang suami istri itu pun tertawa.
"Risma nggak mual atau muntah ya?" tanya Salwa.
"Enggak kak, semua bisa aku makan." jawab Risma.
__ADS_1
"Wah, inimah bakal seru! Bumil dan busui akan lomba makan!" celetuk Luis.
"Menang yang busui dong," ujar Keenan.
"Kita buktikan," timpal Kyang.
Dan lsgi-lagi mereka pun tertawa lepas.
"Kamu tidak berniat untuk menikah lagi, Gery?" tanya om Panji setelah selesai makan. Mereka duduk santai di gazebo yang ada di belakang rumah.
"Aku masih trauma, aku takut salah pilih untuk yang kedua kalinya." jawab Papa Gery.
"Tidak ada yang namanya salah pilih, kita yang gagal mendidik istri kita. Mamanya Luis dulu juga begitu, aku tidak menyalahkannya, karena aku yang salah. Tidak bisa membimbingnya ke jalan yang benar. Tapi, aku tidak trauma sepertimu. Aku menikahi Aurel dan ternyata dia wanita yang baik. Aku sangat beruntung." cetus Om Panji.
"Yah, kamu benar. Dia wanita baik, mataku buta untuk melihat semua kebaikannya." ujar Papa Gery, terdengar ada sedikit penyesalan dari nada bicaranya.
"Belum terlambat untuk membenahi diri, bersabarlah." Om Panji menepuk bahu Papa Gery dengan lembut.
Para istri sudah beristirahat di kamarnya masing-masing, kecuali Ibu dan Nenek. Mereka sedang ngobrol di ruang keluarga bersama Kyang dan Risma.
Keenan dan Luis sudah pergi, Keenan mengajak abang tirinya tersebut untuk melihat-lihat kantor miliknya.
Setelah dari kantor milik pribadi Keenan, barulah mereka pergi ke perusahaan milik ibu yang dijalankan oleh papa Gery.
Merasa usianya sudah tua, papa Gery meminta Luis untuk meneruskan perusahaan. Karena perusahaan itu juga masih milik Ibu sampai saat ini.
__ADS_1
Papa mengutarakan niatnya, ingin menghabiskan masa tua di kampung. Hidup sederhana menggunakan uang tabungan yang tersisa.
Keputusan sudah bulat, sehingga pihak keluarga hanya bisa mendukungnya.