My Pilot My Husband

My Pilot My Husband
Bab 28


__ADS_3

Bu Mala berulang kali jatuh pingsan saat beberapa pihak Bank datang ke rumahnya dan menyegel rumah itu beserta isinya.


Tidak ada yang boleh dibawa, kecuali pakaian. Sedikitpun bu Mala tidak boleh membawa perhiasan atau pun uang. Semua kartu rekening dan lain-lain sudah dibekukan.


Pak Geri hanya bisa diam menatap rumah yang sudah puluhan tahun ini dia tempati. Banyak kenangan yang tercipta di rumah tersebut.


"Ayo kita pergi," ajak pak Geri pada bu Mala.


"Pergi saja sendiri. Sudah susah masih mau ngajak aku. Dasar nggak berguna." Bu Mala menyeret kopernya ke luar dari pekarangan rumah yang pernah memberinya keteduhan dan kebahagiaan.


Pak Geri menarik nafasnya dalam-dalam, lalu mengeluarkannya dengan perlahan.


"Apa yang bukan milikku, maka selamanya tidak akan pernah aku miliki." Pak Geri menarik kopernya dengan perlahan ke luar dari area rumahnya.


Sebuah mobil berhenti tepat di samping pak Geri. Kaca mobil terbuka dan mempersilahkan pak Geri untuk masuk.


"Om mau ke mana? Ayo masuk! Biar Zira antar." Zira menawarkan bantuan.


"Tidak. Terima kasih, nak Zira." Tolak pak Geri dengan halus.


"Nggak pa-pa kok Om, ayo." Zira sedikit memaksa.


"Permisi, Tuan. Mari ikut kami," anak buah Keenan sudah berada di sana dan mengajak pak Geri untuk ikut dengannya.


"Sial!" Zira terlihat kesal saat rencananya gagal.


"Jangan berfikir untuk menculik pak Geri, Nona. Bos kami cukup berbaik hati tidak memenjarakan anda atas kasus yang terjadi beberapa waktu yang lalu," tutur anak buah Keenan yang tiba-tiba sudah berdiri di samping mobil Zira.


Zira cepat-cepat pergi sebelum anak buah Keenan benar-benar menangkapnya. Dia menancap gas mobilnya, hingga dalam sekejap sudah menghilang dari pandangan.


"Ke mana kalian akan membawaku?" tanya pak Geri.


"Ikut saja, Tuan. Jangan banyak tanya."


Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah Keenan yang lama. Rumah itu akan dijadikan tempat tinggal sementara untuk pak Geri.


Sesampainya di rumah itu, anak buah Keenan membawa pak Geri masuk ke dalam rumah. Keenan dan Jihan sudah menunggu di ruang keluarga.

__ADS_1


"Selamat datang, Papa!" Keenan dan Jihan menyambut kedatangan pak Geri.


"Kalian?" Pak Geri terkejut melihat Jihan ada di hadapannya.


"Duduklah, Pa. Sepertinya papa sangat lelah juga syok karena baru mengetahui sifat asli istri kebanggaan papa." Keenan menyuruh pak Geri untuk duduk.


"Sebenarnya siapa kalian? Kenapa aku sebagai ayah tidak bisa mengenali kalian dengan benar." Pak Geri duduk dan tersirat kesedihan di wajahnya.


Keenan dan Jihan duduk di kiri dan kanan pak Geri, kemudian memeluknya.


"Maafkan kami, Pa. Kami terpaksa melakukan ini," ucap Keenan dan Jihan bersamaan.


"Iya, Pa. Keenan minta maaf, karena belakangan ini bersikap kasar dan kurang ajar sama Papa.Ini semua Keenan lakukan demi papa." Tutur Keenan.


"Tidak apa-apa Nak, Papa ngerti dan sekarang papa baru tahu sifat asli Mala." Kata pak Geri.


"Kami sayang Papa," ucap Keenan dan Jihan.


"Papa juga sayang kalian," balas pak Geri dan akhirnya mereka pun berpelukan.


Jihan membimbing pak Geri ke kamar dan menyuruhnya istirahat. Setelah pak Geri merebahkan tubuhnya, Jihan menarik selimut dan menutupi separuh tubuh pak Geri.


"Ada yang ingin papa tanyakan?" Bicaralah!" Jihan duduk di tepi kasur tepat di samping pak Geri.


"Apa kakakmu sudah mendapat kabar tentang istri dan anaknya?" tanya pak Geri.


"Belum, Pa." Jawab Jihan sambil menggelengkan kepala.


Pak Geri mendudukkan diri di samping Jihan, dia merasa bersalah atas kepergian menantu dan cucunya. Dia tidak bisa mencegah Mala saat mengatakan perkataan yang menyinggung hati Salwa.


"Papa sungguh menyesal nak, papa tidak bisa mendidik istri papa dengan baik." Ucap Pak Geri.


"Sudah, jangan terlalu dipikirkan, nanti papa sakit. Lebih baik sekarang papa istirahat." Jihan mengusap tangan pak Geri kemudian keluar dari kamar itu.


Keenan masih duduk di sofa, duduk bersandar dengan mata terpejam. Wajahnya terlihat sangat kelelahan dan begitu pucat. Sudah beberapa hari sejak kepergian istri dan anaknya, dia kurang tidur. Bahkan banyak penerbangan yang dia lewatkan begitu saja, hingga dia mendapat surat teguran dari atasannya.


Jihan kasihan melihat kakaknya. Andai saja dia tahu keberadaan Salwa, mungkin dia sudah menjemputnya. Tetapi, dia tidak terlalu mengenal kakak iparnya, jadi dia tidak bisa banyak membantu Keenan.

__ADS_1


"Kak, Jihan pulang dulu ya. Takutnya Daniel menangis dan mencari Jihan." Pamit Jihan pada Keenan.


"Apa kamu tidak berniat memiliki momongan sendiri? Bukankah Daniel sudah cukup besar dan sudah bisa diberi adik." Keenan membuka matanya saat merasakan pergerakan dari Jihan yang duduk di sampingnya.


"Akan Jihan pikirkan, setelah masalah ini selesai." Ujar Jihan.


Keenan merubah posisi duduknya dan menghadap ke arah Jihan. Diambil kedua tangan adiknya, lalu menggenggamnya.


"Ini masalah kakak, biar kakak yang menyelesaikannya sendiri. Kamu fokus saja pada keluarga kecilmu. Kasihan Nanang, dia sangat ingin punya anak darimu. Kakak tidak menolak kalian untuk membantu, tapi kakak ada anak buah yang bisa diandalkan. Percayalah, Salwa akan segera ditemukan dan kembali pada kita." Tutur Keenan.


"Baiklah kalau begitu, nanti Jihan akan membicarakan hal ini pada Nanang." Ujar Jihan dan Keenan pun mengangguk tanda setuju.


Keenan mengantar Jihan sampai ke mobilnya, setelah Jihan pergi Keenan kembali masuk ke dalam rumah.


"Ke mana aku harus mencari kalian? Kenapa tidak satu pun nomor ponsel kalian yang aktif?" Keenan terlihat lemah semenjak kepergian istrinya.


Di sisi lain,


Salwa sedang mencoba menenangkan Angkasa yang terus menangis. Sudah beberapa hari semenjak tinggal di rumah ini, Angkasa sangat rewel. Padahal sebelumnya, dia sangat pendiam dan anteng.


"Salwa, lihat ini." Bi Eli menunjuk ke arah TV yang sedang menayangkan berita bangkrutnya Sinar Cemerlang dan penyitaan seluru aset dan harta kekayaannya.


"Kok bisa bik?" tanya Salwa.


"Lihat siapa yang bikin mereka bangkrut," kata bi Eli lagi.


"Siapa pemilik Biru Langit, bik?" tanya Salwa, dia tidak tahu jika itu nama perusahaan milik Keenan.


"Punya papanya Angkasa," jawab Bi Eli.


Angkasa terdiam saat mendengar suara berita di TV. Di berita tersebut menjelaskan, bahwa pemilik Biru Langit melakukan itu karena istri dari pemilik Sinar Cemerlang sudah membuat masalah yang tidak bisa dimaafkan oleh pemilik Biru Langit.


Di situ sangat jelas disebutkan, bahwa semua terjadi karena adanya masalah keluarga. Berita tentang hancurnya keluarga pemilik Sinar Cemerlang hanya dijelaskan secara sekilas.


"Jadi, bu Mala bukan ibu kandung Mas Keenan?" tanya Salwa.


"Bukan, dia hanya ibu tiri." Jawab bi Eli.

__ADS_1


"Di mana ibu kandung Mas Keenan, Bik?" tanya Salwa lagi.


"Bibi juga tidak tahu, karena saat bibi bekerja di rumah itu, bu Mala sudah menjadi nyonya rumah." jawab Bi Eli.


__ADS_2