
"Salwa! Angkasa!" Bi Lilis terkejut saat melihat Salwa masuk ke dalam rumah sambil menggendong Angkasa.
Mang Ateng yang mendengar istrinya menyebut nama Salwa pun langsung berlari ke arah pintu masuk.
"Mas Keenan mana, Bik?" Suara Salwa terdengar bergetar dan lirih.
Mang Ateng dan Bi Lilis yang melihat ekspresi Salwa pun saling bertukar pandang. Sepasang suami istri itu belum tahu apa yang membuat Salwa begitu sedih.
"Mas Keenan belum kembali." Jawab Bi Lilis.
Mang Ateng membantu Salwa menaruh kopernya ke kamar, sedangkan bi Lilis membimbing Salwa untuk duduk di sofa.
"Kamu ke mana aja selama ini, Salwa? Kasihan Keenan seperti orang gila mencarimu." Bi Lilis mengusap punggung Salwa dengan lembut.
"Maafkan Salwa, bik. Salwa dan bi Eli ketakutan waktu itu. Apalagi bu Mala sempat mengancam akan memisahkan aku dengan Angkasa. Jadi aku lebih memilih pergi." Tutur Salwa.
"Sekarang semua sudah berlalu, semua sudah berubah. Tidak ada lagi yang perlu kamu takutkan," ujar Bi Lilis.
Salwa terdiam sekaligus heran, kenapa bi Lilis dan mang Ateng bisa setenang ini. Tidak ada rasa khawatir ataupun kesedihan, padahal Keenan belum ditemukan.
"Lebih baik kamu istirahat saja di kamar. Kasihan Angkasa, sepertinya dia lelah." Salwa pun mengangguk tanda setuju pada saran dari mang Ateng.
Bi Lilis mengantar Salwa hingga ke kamar, setelah itu dia kembali ke ruang tamu.
"Kenapa Salwa kelihatan sedih ya? Apa dia sedang ada masalah?" tanya bi Lilis pada mang Ateng.
"Kurang tau juga ya, bisa jadi sih." Jawab Mang Ateng.
Tidak lama kemudian mobil Keenan memasuki pekarangan. Mang Ateng dan bi Lilis langsung menghampirinya.
"Mas, Salwa ada di kamar. Tapi, sepertinya dia sedang ada masalah, wajahnya terlihat sangat sedih." Tutur Bi Lilis.
"Benarkah?" Keenan langsung berlari ke kamarnya.
Salwa dan Angkasa sudah tertidur di atas kasurnya. Mereka tertidur sangat nyenyak, mungkin karena kelelahan setelah menempuh perjalanan panjang.
Dengan perlahan Keenan naik ke atas kasur dan merebahkan tubuhnya di samping Salwa. Keenan memandangi wajah Salwa yang terlihat lebih kurus dari sebelumnya.
__ADS_1
"Apa kamu sangat menderita selama ini? Apa hidupmu tidak baik-baik saja selama pergi? Lihatlah sekarang, kamu sangat kurus dan pucat. Ke mana pipi cabimu yang biasa aku cubit." Keenan membelai lembut pipi Salwa.
Salwa perlahan membuka matanya saat merasakan belaian lembut di pipinya. Mata Salwa membulat sempurna saat melihat Keenan sedang berbaring di sampingnya dan sedang tersenyum padanya.
Plak ... Salwa menampar pipinya sendiri.
"Awh ... " Salwa merintih saat merasakan sakit bekas tamparannya.
"Ini bukan mimpi, ini nyata. Kamu ... " Salwa langsing memeluk Keenan dengan erat. Tangisan bahagianya pun pecah saat melihat Keenan dalam keadaan baik-baik saja.
"Kenapa menangis? Apa kamu tidak bahagia bisa bertemu kembali dengan suami tampanmu ini?" Keenan bermaksud menggoda istrinya.
"Kamu baik-baik saja? Apa ada yang sakit? Beri tahu aku, di mana yang sakit." Salwa memeriksa tubuh Keenan, dia takut suaminya terluka.
Sejenak Salwa terdiam saat menhendus bau harum di tubuh Keenan, wangi parfum. Bukan bau lumpur, keringat atau pun bau-bau yang mengarah ke kecelakaan.
"Kenapa?" tanya Keenan sambil tersenyum.
Salwa kembali memeluk Keenan, dia tidak peduli Keenan mana yang kecelakaan, yang penting Keenan miliknya sehat dan selamat.
"Pa ... pa." Terdengar suara Angkasa menyebut nama Papa.
"Pa ... pa." Angkasa menyebut kata itu lagi.
"Sayang, dia memanggilku papa." Keenan terlihat sangat bahagia sekali mendengar Angkasa memanggilnya Papa.
"Dia sudah mulai belajar bicara, tapi dia baru bisa menyebutkan satu kata saja yaitu papa. Bahkan dia belum bisa memanggilku Mama." Tutur Salwa.
Keenan menggendong Angkasa dan menghujani ciuman di wajah putranya itu. Keenan bahagia karena kini dia sudah berkumpul kembali bersama istri dan anaknya.
"Selamat ulang tahun sayang," ucap Keenan.
Salwa meminta Keenan untuk meletakkan Angkasa di kasur, karena Salwa akan memberinya ASI.
Keenan megusap kepala Angkasa dengan lembut saat Angkasa dengan lahap menyedot ASInya.
"Mas," sebut Salwa.
__ADS_1
"Ada yang ingin kamu katakan?" tanya Keenan.
"Bagaimana jika Mama dan Papa tahu aku kembali? Apa mereka akan mengusirku lagi?" tanya Salwa.
"Tidak ada yang akan mengusirmu. Lagi pula, wanita itu sudah bercerai dengan papa." Jawaban Keenan membuat Salwa terkejut.
"Bercerai, Mas?"
"Aku sempat menonton berita tentang bangkrutnya perusahaan papa, tapi aku tidak tahu jika mereka sampai bercerai." Ujar Salwa.
"Perceraian mereka tidak di publikasikan dan yang mas dengar sekarang bu Mala menjadi wanita penghibur di klub malam dan menjadi simpanan salah satu pengusaha." Tutur Keenan.
Salwa menutup mulut yang menganga menggunakan kedua telapak tangannya. Dia tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Beberapa bulan dia pergi ternyata banyak yang berubah.
"Risma yang sampai saat ini belum kita ketahui keberadaannya. Yang aku tahu dia jadi gelandangan." Kata Keenan lagi.
Salwa hendak berbicara tapi Keenan memotongnya. " Sudah malam, tidurlah. Kamu pasti lelah setelah berkendara cukup lama. Tidak perlu membahas tentang mereka, yang penting kamu dan Angkasa sudah kembali."
"Maafkan aku, Mas. Aku takut kala itu, aku takut bu Mala benar-benar menepati ucapannya." Ujar Salwa.
"Emangnya, selain mengusirmu dan mengatakan jika kamu tidak berarti, dia ngomong apa lagi?" tanya Keenan.
"Dia mengancamku dan akan memisahkan aku dengan Angkasa." Jawab Salwa.
Keenan mengangkat tubuh Angkasa yang sudah kembali terlelap. Dia meletakkan putranya dengan perlahan ke atas kasur milik Angkasa. Setelah itu dia kembali berbaring di samping Salwa.
"Aku merindukanmu, sangat merindukan kalian." Ucap Keenan lalu mengecup kening Salwa dengan lembut.
Salwa merasakan kerinduan yang mendalam dari kecupan bibir Keenan di keningnya. Cukup lama Keenan menempelkan bibirnya di sana, seolah sedang mentransfer kerinduan yang selama ini ditanggungnya.
"Aku juga merindukanmu, suamiku." Balas Salwa saat Keenan melepaskan kecupan di keningnya.
Keenan pun melanjutkan aksinya, mencurahkan seluruh kerinduan yang sudah lama terpendam. Salwa hanya bisa pasrah saat suaminya mulai melucuti satu persatu pakaian yang dia kenakan.
Salwa sangat menikmati perlakuan lembut suaminya. Suara seksinya ke luar tapi tertahan, dia takut suaranya akan membangunkan Angkasa dari tidurnya.
Keenan turun dari kasur lalu melangkah menuju saklar lampu dan mematikan penerangan di kamar itu. Agar jika nanti Angkasa terbangun, anak itu tidak melihat bagaimana proses sang papa dan sang mama sedang mengaduk adonan calon adiknya.
__ADS_1
Keringat pun mulai bercucuran membasahi tubuh keduanya. Ritme yang semula lambat kini berubah jadi semakin cepat. Salwa tidak bisa menahan suaranya karena sang suami menginginkan suaranya ke luar dengan lepas dan tidak ditahan. Tidak lama kemudian, tubuh keduanya pun menegang diiringi lenguhan yang panjang.