
Keenan membawa banyak oleh-oleh untuk Salwa, oleh-oleh yang dititipkan ibu padanya. Setelah seminggu bertugas di luaran, hari ini Keenan pulang.
Dengan senyum mengembang, Keenan masuk ke dalam rumahnya, tidak satu pun orang yang terlihat. Padahal ini bukan waktunya untuk tidur siang.
"Salwa ke mana, bik?" tanya Keenan pada bi Lilis yang sedang memasak untuk makan malam.
"Ada di kamar," jawab bi Lilis.
Keenan melangkahkan kakinya ke arah kamar, dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan anak dan istrinya.
"Sayang, aku pulang!" Seru Keenan sambil membuka pintu dan masuk ke dalam kamar.
Salwa masih tergeletak di atas kasurnya, sedangkan Angkasa bermain di lantai.
"Kamu pucat sekali, sayang. Apa kamu sakit?" tanya Keenan yang terlihat sangat khawatir.
"Aku baik-baik saja," jawab Salwa sambil berusaha untuk duduk.
Salwa memegangi kepalanya yang terasa pusing.
"Kamu sakit tapi kenapa nggak bilang?" Keenan semakin khawatir.
Keenan membantu Salwa untuk duduk bersandar di sandaran kasurnya.
"Aku takut mengganggumu," ujar Salwa lirih.
"Mengganggu? Kamu bicara apa, sayang? Kamu istriku, tidak mungkin aku anggap sebagai pengganggu." Ujar Keenan.
Keenan merapikan rambut Salwa yang menutupi wajahnya dan menyelipkannya ke belakang telinga.
"Mas bawa kamu ke rumah sakit ya, Mas ganti pakaian dulu. Tunggu sebentar." Keenan turun dari kasur hendak menuju lemari, tapi Salwa menarik tangannya dengan cepat.
"Kita tidak perlu ke rumah sakit, Mas. Obat apapun tidak akan mampu menyembuhkan sakit kepalaku, kecuali memang sudah waktunya untuk sembuh." Tutur Salwa.
Keenan memandang wajah Salwa, ada ke khawatiran di sana.
"Emangnya kamu sakit parah? Sakit apa, sayang? Katakan! Jangan bikin mas khawatir." Desak Keenan.
Salwa meraih tangan Keenan dan menempelkannya ke atas perut yang masih rata.
"Aku sakit karena ini," ujar Salwa membuat mata Keenan membulat sempurna.
__ADS_1
Keenan duduk di hadapan Salwa dengan tangan yang mengusapi perut istrinya itu. Perlahan buliran bening jatuh dari sudut matanya.
"Ka-kamu hamil?" tanya Keenan dengan suara bergetar.
"Iya mas, aku hamil." Jawab Salwa.
Keenan mengucap syukur dan langsung memeluk tubuh lemah istrinya. Tubuhnya bergetar karena menangis sesenggukan.
"Aku menelponmu hari itu dan ingin mengatakannya, tapi sepertinya kamu sedang sibuk. Aku mengurungkannya dan berniat memberitahumu saat kamu pulang." Tutur Salwa.
Keenan menghapus air matanya lalu memandang wajah istrinya. 'Jika aku katakan sekarang, apa Salwa akan baik-baik saja? Tapi, jika aku tidak mengatakannya, ini akan mengganggu pikiran Salwa dan itu sangat berbahaya untuk anak yang sedang di kandungnya.' Bathin Keenan.
"Kenapa mas? Apa mas tidak suka jika aku hamil?" tanya Salwa, membiyarkan lamunan Keenan.
'Aku harus mengatakannya, aku tidak mau dia salah paham dan pergi lagi meninggalkanku. Aku tidak sanggup jika harus berpisah dengannya lagi,' ujar Keenan dalam hati.
"Mas!" Salwa mengibaskan tangannya di depan wajah Keenan.
"Kenapa sayang?" Keenan bertanya sambil gelagapan.
"Harusnya aku yang bertanya kenapa, kok tiba-tiba mas diam. Apa mas tidak suka kalo aku hamil lagi?" Salwa mengulangi pertanyaannya.
"Tentu saja aku sangat bahagia, sayang. Aku bahagia sekali," jawab Keenan.
Angkasa sudah tidak ada di kamar itu, mungkin bi Lilis atau mang Ateng sudah membawanya ke luar.
"Ada yang ingin aku bicarakan, tapi aku harap kamu tidak kaget." Ujar Keenan.
'Apa dia akan mengatakan tentang wanita itu? Atau orang yang membuatnya menjauh di saat sedang melakukan panggilan di telpon?' Salwa menduga-duga dalam hati.
"Katakanlah, Mas! Jangan ada kebohongan sedikit pun di dalam hubungan kita." Salwa membenahi posisi duduknya lalu memandang wajah Keenan.
"Sebenarnya wanita yang kemarin bersamaku saat kamu menelponku adalah ibu, ibu kandungku. Orang yang menelponku dan aku menjauh saat menjawab telponnya, itu juga ibu." Ungkap Keenan sambil melihat ekspresi wajah Salwa.
"Kenapa harus menjauh?" tanya Keenan.
"Aku takut kamu tidak bisa menerima ibuku," jawab Keenan.
"Seburuk itukah aku di matamu? Beri aku satu alasan kenapa aku harus menolak ibumu." Ujar Salwa.
"Aku takut kamu syok saat mengetahui jika bu Mala ternyata bukan ibu kandungku," ujar Keenan.
__ADS_1
Keenan turun dari kasur dan mengambil oleh-oleh dari ibu yang dititipkan padanya.
"Ini semua dari ibu untukmu," ujar Keenan.
Salwa membuka bungkusan yang ada di hadapannya, ada beberapa lembar pakaian untuknya juga Angkasa. Ada sebuah kotak kecil di dalamnya, kotak berwarna coklat.
Salwa membuka kotak itu dan melihat banyak foto anak laki-laki yang usianya sekitar tiga tahunan, wajahnya sangat mirip dengan Angkasa.
"Ini foto masa kecilmu, ya mas?" tanya Salwa.
Keenan kaget melihat foto itu. "Kenapa ibu membawakan foto ini, ah aku 'kan jadi malu." Jawab Keenan dengan konyol.
"Kenapa malu? Lihatlah wajahmu, begitu mirip dengan Angkasa." Kata Salwa.
Keenan melihat satu persatu foto yang ada di kotak itu, benar saja apa yang dikatakan oleh Salwa, wajahnya dan Angkasa bagai pinang di belah dua.
"Ada cincin," kata Keenan saat menemukan sebuah cincin yang ada di bagian paling bawah, tertutup oleh lembaran foto-foto tersebut.
Cincin emas bertaburan mutiara berwarna ungu terlihat sangat usang.
"Mungkin ibu nggak sengaja meletakkan cincin itu di kotak ini," ujar Salwa.
"Ini cincin yang biasa dipakai oleh ibu, ini bukan cincin sembarangan. Ini cincin turun temurun dari keluarga besar ibu," Keenan menjelaskan.
"Maksudnya apa?" tanya Salwa.
"Cincin ini akan diberikan pada menantu tertua di keturunan selanjutnya. Besok jika Angkasa besar dan menikah, maka cincin ini harus kamu pakaikan ke jari istrinya Angkasa." Tutur Keenan sambil memakaikan cincin itu ke jari Salwa.
Keenan melihat cincin indah yang sudah tersemat di jari manis istrinya. Dia raih tangan itu kemudian mengecupnya dengan lembut. Keenan memegang kepala Salwa bagian belakang, menariknya dengan lembut kemudian mencium kening istrinya itu.
Keenan menggenggam kedua tangan istrinya, dan lagi-lagi dia menciumnya dengan mata yang memandang penuh cinta ke arah Salwa.
"Terima kasih sudah bersedia menjadi istriku dan ibu dari anak-anakku. Maafkan aku yang belum bisa memberikanmu banyak waktu untuk bersama, maafkan aku yang belum bisa menjadi suami yang baik untukmu dan ayah yang baik untuk Angkasa." Ucap Keenan.
Salwa menitikkan air mata bahagia mendengar ucapan tulus dari Keenan. Sungguh dia merasa bodoh selama ini karena sudah berprasangka buruk pada suaminya itu.
"Aku mencintamu, mas." Ucapan cinta dari Salwa membuat Keenan terkejut tidak percaya.
"Bisa ulangi sekali lagi," pinta Keenan.
Salwa menarik nafasnya dalam-dalam, lalu mengeluarkannya dengan perlahan. Ditatapnya wajah yang sudah beberapa tahun ini mengisi ruang hatinya.
__ADS_1
"Aku Salwa Fatiya, sangat mencintaimu mas, sangat-sangat mencintaimu." Ucap Salwa lagi.
"Aku juga mencintaimu," balas Keenan dan langsung memeluk erat tubuh istrinya.