My Pilot My Husband

My Pilot My Husband
Bab 23


__ADS_3

Keenan berhenti di ujung jalan yang menuju ke rumah orang tuanya. Dia sedang menunggu kedatangan anak buahnya.


Keenan tidak berani bergerak sendirian, dia takut perbuatannya akan membahayakan seluruh keluarganya.


Salwa mengirimkan pesan suara dan mengatakan kalo orang itu membawa senjata. Salwa tidak mau Keenan menyelamatkan dengan nyawanya.


"Aku dan Angkasa masih membutuhkanmu, Mas." Kata-kata Salwa masih terngiang di telinga Keenan.


"Salwa benar, mereka bawa senjata dan berjumlah lebih dari lima orang. Aku bisa saja masuk, aku bisa saja melawan mereka. Tapi, aku takut mereka bertindak nekat dan mencelakai anak dan istriku." Keenan bermonolog sambil memperhatikan keadaan sekitar.


Tok


Tok


Tok


Terlihat seorang mengetuk kaca mobil Keenan.


"Anggota kita sudah mengepung rumah Pak Geri, Bapak sudah bisa masuk." Selain orang suruhannya, Keenan juga memanggil polisi, agar masalah ini tidak berlarut-larut nantinya.


Keenan mengemudikan mobilnya secara perlahan dan mulai memasuki pekarangan rumah orang tuanya.


Dia melirik ke sekitar, ternyata orang tadi benar, banyak orang bersenjata yang sudah bersiap siaga.


Keenan memasuki rumah itu, dengan tenang. Dia tidak mau kedatangannya menimbulkan keributan.


Rumah terlihat sepi, Keenan melihat ke setiap ruangan. Orang tua, istri dan anaknya tidak juga terlihat.


"Sayang! Mama! Papa! Angkasa! Bi Eli!" Keenan memanggil satu persatu penghuni rumah itu.


"Di mana mereka menyekap keluargaku?" Monolog Keenan.


"Mereka ada di belakang, Bos. Jangan khwatir, kami tidak akan menyakiti mereka. Asal Tuan bisa kami ajak bekerja sama." Keenan dikejutkan oleh dua orang yang tiba-tiba muncul di belakangnya.


"Siapa kalian? Kenapa kalian menyerang keluarga kami?" Keenan sudah mengambil ancang-ancang. Kalo cuma menghadapi dua orang saja, itu sangat mudah bagi Keenan.


"Selow Bos, jangan takut. Kita nggak bakal mencelakai bos dan keluarga Bos." Seru salah satu dari mereka.


Dak!!


Gubrak!!


Keenan melayangkan tendangan pada kedua orang itu, lalu meringkus salah satunya.

__ADS_1


"Siapa kalian? Siapa yang menyuruh kalian untuk mengganggu ketentraman keluargaku." Keenan menelungkupkan orang itu dan memelintir tangannya. Sedangkan yang satu lagi sudah lari ke arah belakang.


"Kamu pikir, aku mau memberitahumu. Itu tidak akan terjadi Tuan Keenan yang terhormat." Tutur Orang itu sambil menyeringai.


Krak!!! Aaaaa!!!


Terdengar suara tulang yang patah diiringi suara jeritan.


"Baiklah, kalo kamu tidak mau memberi tahuku . Selamat membusuk di penjara." Keenan melihat ke arah luar. Beberapa anggotanya sudah berdiri di sana, mereka bersiap siaga menunggu perintah.


"Bawa dia!" Keenan memberi perintah pada orang-orangnya.


Keenan bukan Mafia ataupun penguasa. Tapi, sebagai seorang pembisnis dan pengusaha, dia harus punya anak buah. Jaga-jaga untuk melindungi Keenan dari serangan musuh, seperti sekarang ini.


"Mas!" Salwa muncul dari arah belakang. Pisau menempel di lehernya.


"Kau!" Wajah Keenan memerah saat melihat seseorang menyandra istrinya.


Penampilan Salwa berantakan. Mata memerah, pipi basah dan rambut awut-awutan.


"Lepaskan anak buahku, atau aku akan menyiksa istrimu." Ancam si penyandera Salwa.


Keenan menatap Salwa dan memberi kode pada istrinya menggunakan bola mata.


Salwa tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Keenan, tapi dia tetap mengangguk pelan.


Bukan hanya penyandera, tapi Salwa pun terkejut mendengar perkataan Keenan.


"Apa maksud kamu, Mas?" Suara Salwa bergetar, tidak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan oleh suaminya.


Keenan tetap tenang saat penyandera membawa Salwa ke hadapannya. Leher Salwa mengeluarkan darah segar karena tersayat pisau yang diletakkan oleh penyandera sebagai ancaman.


Keenan menatap wajah Salwa. Tatapan mereka pun bertemu. Dari tatapan itu Salwa akhirnya tahu, Keenan sedang mengajaknya bersandiwara.


"Kamu pikir bisa membodohiku?" tanya penyandera.


"Untuk apa aku membodohimu, karena sebenarnya kamu memang sudah bodoh. Buang waktu saja." Keenan bangkit dari duduknya, membuat penyandera sedikit bergetar.


"Aku tahu siapa yang sudah menyuruhmu. Aku juga tahu kalian hanya diperbudak oleh wanita berhati iblis. Apa kamu pikir, setelah mengganggu keluargaku, kehidupanmu akan tenang? Tidak kawan. Karena aku akan membuat keluargamu lebih menderita dari apa yang sudah kamu lakukan pada keluargaku." Keenan terus berjalan mendekati penyandera itu.


Brugh ... Tubuh penyandera tiba-tiba ambruk karena telah dipukul dari arah belakang oleh salah satu anak buah Keenan.


"Kamu tidak apa-apa, sayang?" Keenan sangat khawatir.

__ADS_1


"Aku takut, Mas." Salwa langsung menghambur ke dalam pelukan suaminya. Akhirnya dia tahu apa arti lirikan mata Keenan tadi.


"Sandiwaramu cukup bagus, sayang." Keenan membelai rambut istrinya.


"Aku tahu, Mas tidak mungkin benar-benar mengatakan itu."


"Bos." Seorang anak buah Keenan datang sambil menggendong Angkasa.


"Putra anda sangat lemah, dan dia juga demam. Tubuhnya sangat panas."


Keenan mengambil alih Angkasa, "Kita bawa dia ke rumah sakit." Keenan menuntun Salwa ke luar dari rumah. Mereka pergi ke rumah sakit memakai mobil yang di kemudikan oleh anak buah Keenan.


"Siapa mereka? Apa hubungannya dengan kita? Apa mereka orang suruhan Zira?" Keenan menodong anak buahnya dengan banyak pertanyaan.


"Belum tahu, Bos. Mereka belum buka mulut." Jawab anak buahnya.


"Nanang di mana?" tanya Keenan.


"Ada bersama kedua orang tua Anda."


Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Malam mulai mendekati pagi ketika mereka sampai di rumah sakit.


Keenan dan Salwa langsung membawa Angkasa ke ruang dokter. Keenan sama sekali tidak melepaskan genggaman tangan pada Istrinya.


"Istirahatlah. Kamu pasti mengantuk dan lelah." Keenan meletakkan Angkasa di brankar pasien, setelah tadi Dokter memeriksanya.


"Aku takut, mas." Suara Salwa masih terdengar bergetar. Luka di lehernya sudah di perban.


"Mas akan tetap di sini untuk menemanimu. Tidurlah." Keenan membimbing Salwa menuju brankar dan menyuruhnya untuk tidur.


Dengan lembut dia membelai rambut Salwa yang masih ketakutan. Tangan Salwa tidak terlepas dari genggaman Keenan, dia menggenggam tangan suaminya dengan erat.


Tidak butuh waktu lama, Salwa pun sudah tertidur.


Keenan mengeluarkan ponselnya, lalu menghubungi anak buahnya yang masih berada di kediaman kedua orang tuanya.


"Bagaimana?" Keenan bertanya pada orang yang di teleponnya.


"Masih bungkam bos, sepertinya dugaan kita benar. Tuan Nanang mengenali salah satu dari mereka. Tapi, orang itu berhasil melarikan diri." Orang di seberang telepon memberi laporan.


"Aku sedang menemani istri dan anakku di rumah sakit. Kamu bantu yang lain menyelesaikan masalah ini. Aku percayakan semua ini padamu." Keenan memberi perintah pada orang kepercayaannya.


"Para peneror sudah diamankan, Bos. Mereka sudah digelandang ke kantor polisi. Kita hanya tinggal mencari dalangnya saja."

__ADS_1


Keenan mematikan ponselnya, lalu merebahkan tubuhnya di samping Salwa. Angkasa tertidur dengan nyenyak, obat yang tadi diminumnya memberi efek ngantuk.


Perlahan Keenan memejamkan matanya, tertidur sambil memeluk orang tercinta adalah hal yang paling menyenangkan dan membahagiakan baginya.


__ADS_2