My Pilot My Husband

My Pilot My Husband
Bab 26


__ADS_3

Keesokan harinya,


Mobil yang dikemudikan oleh mang Ateng melaju dengan kecepatan sedang. Keenan duduk di sampingnya sambil menatap keluar jendela. Hatinya belum bisa tenang, sebelum mengetahui titik permasalahan yang sebenarnya.


Hari ini dia meminta mang Ateng untuk mengantarkannya ke kediaman kedua orang tuanya. Keenan harus tahu penyebab istri dan anaknya pergi.


"Keenan!" Bu Mala terkejut saat mobil Keenan memasuki pekarangan rumahnya.


"Mama harus jujur sama Keenan, kalau tidak mama akan menanggung semua akibatnya." Ancam pak Geri.


"Papa kok tega sih sama mama. Mama 'kan cuma cari selamat aja tempo hari. Mama nggak nyangka kalo Salwa serius menanggapi omongan mama dan pergi meninggalkan Keenan." Bu Mala tetap membela diri dan tidak mau disalahkan atas kepergian menantu dan cucunya.


Keenan ke luar dari mobil lalu menghampiri kedua orang tuanya yang sedang duduk bersantai di teras.


"Keenan! Bagaimana kondisi Salwa dan Angkasa?" Bu Mala berbasa-basi.


"Jangan pura-pura nggak tahu, Ma. Mama 'kan yang menyuruh Salwa untuk pergi meninggalkan Keenan." Tanpa buang-buang waktu Keenan langsung ke inti pembicaraan.


"Enggak kok, mama nggak suruh Salwa pergi." Bu Mala berkilah.


"Baiklah kalau begitu, berarti Salwa pergi karena keinginannya sendiri." Keenan mengeluarkan ponsel dari saku celananya, lalu menghubungi seseorang.


"Cabut semua saham kita dari Sinar Cemerlang. Jangan sisakan sedikit pun." Perintah Keenan pada seseorang yang diteleponnya.


"Ken, kamu mau bikin kami bangkrut?" Pak Geri tidak percaya jika Keenan akan berbuat seperti itu.


"Bukankah kita impas. Kalian bangkrut dan pernikahanku juga hancur." Keenan berdiri lalu berjalan menuju mobilnya.


"Mama yang menyuruhnya pergi darimu juga dari keluarga kita," ungkap Bu Mala.


Keenan menghentikan langkahnya lalu berbalik.


"Mama melakukan itu karena terpaksa," ujar Bu Mala yang ketakutan karena Keenan menatapnya dengan tajam.


"Terima kasih," ucap Keenan lalu masuk ke mobilnya dan pergi.


"Kita ke rumah Risma." Perintah Keenan pada Mang Ateng.


"Baik, Mas." Sahut mang Ateng.


Keenan meghubungi Nanang, dan memintanya untuk segera menjalankan rencana yang pernah mereka buat.

__ADS_1


"Sudah kepalang tanggung, jika memang harus hancur maka biarlah hancur semuanya tanpa sisa." Gumam Keenan.


Mobil terparkir dengan sempurna di depan rumah Risma. Keenan turun dari mobilnya dan langsung masuk ke rumah Risma. Bahkan dia tidak mengucapkan salam sama sekali.


"Kak Keenan, tumben kemari. Ada apa kak? Nanang sedang tidak di rumah." Risma menyambut hangat kedatangan kakaknya.


"Ke luar dari rumahku sekarang juga." Dengan suara yang datar dan terkesan dingim, Keenan mengusir Risma dari rumah itu.


"Apa maksud kakak? Kenapa kakak mengusirku?" tanya Risma.


"Kamu mau tahu jawabannya? Karena ibumu sudah mengusir istriku dari rumah." Teriak Keenan.


"Hanya karena mama mengusir Salwa, sekarang kakak mau mengusirku. Iya? Di mana hati nurani kakak? Aku ini adikmu, sedangkan Salwa hanya istrimu yang bisa menjadi mantan kapan saja." Suara Risma tidak kalah tingginya dari Keenan.


HAHAHA ...


"Siapa yang bilang kamu adikku? Hah! Siapa? Kamu itu orang lain yang tidak punya hubungan apapun denganku. Salwa itu istriku, aku dengan sah menikahinya. Dia lebih berharga bagiku dari pada kamu." Perkataan Keenan membuat Risma syok.


"Kakak bercanda 'kan? Kakak cuma ngeprank Risma aja 'kan? Iya 'kan Kak?" tanya Risma secara beruntun.


"Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa tanyakan langsung pada ibumu. Yang terpenting sekarang, ke luar kau dari rumahku." Dengan kasar Keenan menarik tangan Risma hingga ke luar dari rumah.


"Apa? Tidak bersalah? Berencana ingin melenyapkan istriku, apa menurutmu itu bukan kesalahan? Risma ... Risma, kamu itu terlalu mudah untuk dibodohi. Kamu lebih percaya pada Zira dan berpihak padanya daripada padaku yang sudah memberimu kemewahan. Sekarang pergi dari hadapanku, dan jangan sekali-kali kamu muncul." Keenan mengarahkan jari telunjuknya ke arah pintu pagar.


"Kak, aku mohon. Jangan usir Risma," tangisan Risma pun mulai pecah.


"Kamu boleh kembali ke rumah ini jika kamu bisa membawa istri dan anakku pulang." Keenan masuk ke dalam rumah dan langsung mengkunci pintunya. Dia sama sekali tidak peduli pada Risma yang menggedor pintu dan terus memohon padanya.


"Daniel!" Keenan memanggil keponakannya.


Keenan melihat ke kamar, ternyata Daniel sedang tidur.


"Papamu sebentar lagi akan datang menjemputmu. Maafkan om yang sudah memisahkanmu dari ibumu, om tidak mungkin membiarkanmu diasuh olehnya." Keenan mengusap kepala Daniel dengan lembut.


Tidak lama kemudian, Nanang datang ke rumah itu dan langsung masuk ke kamar Daniel.


"Huft ... Aku kira Risma membawa Daniel pergi," ujar Nanang. Dia bernafas lega saat melihat Daniel ada bersama Keenan.


"Apa dia sudah pergi?" tanya Keenan.


"Mang Ateng bilang, dia pergi ke rumah Papa." Jawab Nanang.

__ADS_1


Mereka pun ke luar dari rumah itu setelah mengkunci seluruh pintunya. Keenan pergi entah ke mana, sedangkan Nanang membawa Daniel pulang ke rumah Jihan.


Di rumah orang tua Keenan,


"Mama! Ma!" Risma masuk ke rumah itu sambil berteriak.


"Ada apa, Nak? Kenapa kamu tiba-tiba datang dan berteriak seperti itu?" Tanya pak Geri.


"Mama mana, Pa? Mama mana?" tanya Risma disela-sela tangisnya.


"Mama di sini, ada apa? Kok kamu menangis?" tanya bu Mala yang baru saja datang menghampiri suami dan anaknya.


"Apa benar kalo Risma bukan anak kandung Nama dan Papa?" tanya Risma.


"Siapa yang berkata begitu? Kamu anak mama dan papa, sayang." Jawab bu Mala sambil mengelus rambut Risma.


"Bohong! Kak Ken mengusirku dari rumah dan mengatakan kalau aku bukan adik kandungnya." Tutur Risma.


Pak Geri dan bu Mala saling bertukar pandang.


"Keenan sudah keterlaluan." Bu Mala berkata sambil mengepalkan kedua tangannya.


"Kamu yang sudah keterlaluan. Bukankah kamu sendiri yang sudah menabuh genderang perang." Pak Geri meninggalkan ibu dan anak itu di ruang tamu.


"Ma, tolong jelaskan pada Risma. Sebenarnya Risma anak siapa?" tanya Risma sambil memohon pada Bu Mala.


"Duduklah, Nak." Bu Mala membimbing Risma untuk duduk di sofa.


Dia menatap wajah Rusma yang sedang menanti penjelasan darinya. Berkali-kali bu Mala menghela nafas panjang dan berat, tapi mulutnya tidak juga bersuara.


"Ma, katakanlah. Risma akan mendengarkan." Siap tidak siap Risma harus mengetahui jati diri yang sebenarnya.


"Mama tidak sanggup mengatakannya, Nak." Suara bu Mala terdengar bergetar karena sedang menahan tangis.


"Kenapa tidak sanggup? Mama tinggal bilang siapa orang tua kandung Risma, siapa namanya, serta di mana mereka tinggal. Beres 'kan!" Risma terus mendesak bu Mala untuk bercerita.


Bu Mala masih terdiam, tanpa sepatah kata pun yang ke luar dari mulutnya. Hanya air mata yang menetes membasahi pipinya.


"Ma, aku anak siapa? Anak wanita malam, anak tong sampah atau siapa Ma? Mama jangan diam aja dong." Desak Risma lagi.


"Kamu anak Mama, anak kandung Mama."

__ADS_1


__ADS_2