
Hari-hari yang di jalani oleh Salwa kini tanpa keraguan. Dia percaya sepenuhnya pada Keenan, dan Keenan pun selalu membuktikan kesetiaannya.
Meski banyak pramugari baru yang mencoba mengambil perhatian Keenan, lelaki berusia tiga puluh lima tahunan itu tetap cuek, tidak merespon sedikit pun. Tidak banyak dari mereka yang sering mengambil cara ekstrim agar bisa mendapatkan Keenan.
Hari ini Keenan libur, dia menghabiskan waktu seharian di rumahnya. Sebenarnya dia ingin mengajak keluarganya untuk pergi jalan-jalan, tapi keadaan Salwa yang masih lemah membuat dia mengurungkan niatnya.
Kriiing, ponsel milik Keenan berdering. Keenan yang sedang bermain bersama Angkasa pun memilih untuk mengabaikan panggilan itu.
"Mas, angkat dulu tu, siapa tau aja penting." Ujar Salwa.
"Emang siapa yang telpon?" tanya Keenan yang tetap bermain.
Salwa melihat ke ponsel yang tergeletak di meja.
"Macan satu, namanya." Jawab Salwa.
"Tunggu sebentar ya nak, papa angkat telpon dulu." Keenan melangkah ke meja lalu mengambil ponselnya.
Keenan duduk di sofa sambil berbicara dengan si penelepon. Sambil berbicara dia merangkul pundak istrinya lalu mencium kening wanita yang sangat dia cintai tersebut.
"Mas ke luar bentar ya, ada perlu." Sekali lagi Keenan mencium kening Salwa sambil berpamitan.
"Asa, Papa pergi dulu ya nak. Asa main sama mama dan nenek ya," dan Angkasa pun mengangguk.
"Hati-hati, mas." Pesan Salwa pada Keenan.
"Oke, sayang." Keenan pun melangkah ke luar rumah tanpa mengganti pakaiannya yang hanya menggunakan kaos oblong dan celana pendek saja.
Keenan mengemudikan mobilnya ke sebuah tempat, sepertinya ada info penting yang mengharuskan dia datang ke tempat itu. Beberapa anak buahnya sudah menunggu di sana.
"Ada informasi apa?" tanya Keenan setelah sampai di lokasi.
"Perusahaan Sinar Cemerlang goyah, sudah beberapa hari ini. Mala dibantu oleh kekasihnya yang membuat keuangan di perusahaan milik orang tua anda anjlok," jawab salah satu anak buah Keenan.
"Siapa kekasih Mala?" tanya Keenan.
"Anak dari pemilik Sinar Pagi," jawab orang itu lagi.
__ADS_1
Keenan hanya tersenyum mendengar nama perusahaan yang sudah berani menggoyah perusahaan milik pak Geri.
"Berapa besar aset mereka di perusahaan kita?" tanya Keenan.
"Cuma delapan persen, bos." Jawab yang lain.
Lagi-lagi Keenan tersenyum penuh misteri. Dia menyulut api rokok lalu menghisapnya. Dia hanya merokok ketika sedang berkumpul dengan kelompoknya.
"Apa kalian sanggup untuk menggulingkan mereka?" seluruh anak buah Keenan pun mengangguk.
"Sanggup, Bos!!" jawab mereka secara serempak.
Setelah pembicaraan selesai, mereka pun memesan makanan dan minuman. Mereka menikmati hidangan mereka sambil bercanda ria, tanpa menyinggung soal pekerjaan sedikit pun.
Ponsel Keenan berdering, anak buahnya yang lain yang menelponnya.
"Datanglah ke Kafe Bintang Kejora, kami sedang berkumpul di sini bersama macam satu." Tutur Keenan pada orang yang menelponnya.
Di sisi lain,
"Terima kasih sayang, kamu sudah mau membantuku." Ucap Mala sambil bergelayut manja di lengan pria yang sudah beberapa waktu belakangan ini menjadikan dia sebagai wanita pemuas napsu.
"Sebenarnya siapa pemilik Sinar Cemerlang grup?" tanya pria itu pada bu Mala.
"Geri Haryanto, mantan suamiku." Jawab bu Mala dengan mata yang menyalakan dendam dan kebencian.
"Geri Haryanto? Aku baru mendengarnya," ujar pria itu.
"Perusahaan itu milik mantan istrinya yang berhasil dia rebut dan itu semua karena aku yang mendukungnya. Tapi, setelah dia berjaya, dengan mudah dia membodohiku dan berpura-pura bangkrut." Tutur Bu Mala.
"Siapa nama pemilik asli Sinar Cemerlang?" tanya pria itu.
"Aurel Nugroho," jawab Bu Mala.
"What!!! Kamu nggak salah nama 'kan?" Pria itu terlihat syok saat mendengar nama asli ibu kandung Keenan.
"Aku tidak pernah lupa nama wanita itu. Emangnya kenapa? Kok kamu kelihatan kaget dan syok gitu?" Bu Mala balik bertanya.
__ADS_1
Belum sempat pria itu menjelaskan, ponselnya mendadak berdering. Dia mengangkat panggilan di ponselnya.
"Hallo!!" sapanya pada si penelpon.
"Apa yang kamu lakukan? Hah!! Kenapa semua investor menarik sahamnya di perusahaan kita? Kalo begini terus kita bisa bangkrut." Orang di seberang telpon marah-marah pada pria simpanan bu Mala.
"Aku tidak melakukan apa-apa, Pi. Mungkin mereka saja yang bodoh karena termakan hasutan orang." Pria itu mengelak.
"Dasar anak tidak berguna! Kamu dan ibumu sama saja, Djalang!" Panggilan pun terputus.
Aarrrgggg .... pria itu berteriak. "Ini semua gara-gara kamu! Bukan Sinar cemerlang yang tumbang, tapi perusahaan keluargaku yang bangkrut." Pria itu mengarahkan telunjuknya ke arah wajah Bu Mala.
"Kenapa aku yang salah? Aku tidak tahu kalau Aurel Nugroho itu berpengaruh di dunia bisnis." Bu Mala mendekati prianya untuk merayu.
Pria yang tadinya emosi pun luluh, dia melemah saat bu Mala menggrayangi tubuhnya. Apalagi saat jari-jari lentik bu Mala mengelus daerah sensitifnya, dia pun menggila.
"Bagaimana aku bisa marah padamu, jika kamu selalu bisa mengambil hatiku." Ujar pria itu sambil meremas gundukan kenyal milik bu Mala.
"Aku takut kalau kamu marah. Jangan marah ya," pinta bu Mala dengan tubuh yang meliuk dan nada bicara yang seksi.
"Aku tidak akan marah, urusan papi biar aku yang menanganinya." Kata pria itu lalu menyesap liar bibir merah delima bu Mala.
Suasana tegang pun mencair dan berganti dengan hawa panas yang membara. Tanpa berpindah dari sisi jendela hotelnya, mereka bermadu kasih. Pria itu melahap gundukan kembar milik bu Mala dengan lahapnya, seperti bayi yang sedang kehausan.
Suara yang tadi sempat menegang dan penuh amarah, kini berganti suara-suara seksi penuh damba. Desahaan dan erangan memenuhi setiap sudut ruangan itu.
"Ssshhh ... Mala," Desis pria itu saat bu Mala memainkan lolipop miliknya, memasukkan benda itu ke dalam mulut Bu Mala hingga tandas.
Pria itu memutar tubuh bu Mala dan menghadapkanya ke dinding.
"Kamu mau menghukumku?" tanya Bu Mala.
"Tentu saja, aku akan puas jika sudah menghukummu." Jawab pria itu yang langsung menggrayangi punggung bu Mala menggunakan lidah mautnya.
Permainan yang hebat dan panas pun dimulai. Dengan kasar sang pria menghujamkan tongkat keramatnya ke dalam mulut goa yang menelan habis miliknya itu.
Suara berisik penuh kenikmatan terus ke luar seiring pompaan di tubuh mereka. Hingga kemudian tubuh mereka menegang diiringi oleh lenguhan yang panjang.
__ADS_1
Pria itu menggendong bu Mala dan membawanya ke kasur, bermain lewat belakang sepertinya belum membuat dirinya puas. Dia pun kembali menggempur bu Mala di atas kasur, hingga kasur berteriak, berderik karena ulah dua anak manusia yang sedang dikuasai oleh napsu sesaat. Untuk ke sekian kalinya mereka melenguh penuh kenikmatan dan pertempuran pun usai.