My Pilot My Husband

My Pilot My Husband
Bab 33


__ADS_3

"Aku mau, kamu menghabisi wanita ini!" Kata Risma sambil menunjukkan foto Jihan pada orang yang dia temui sore ini.


"Apa yang aku dapat jika aku berhasil menghabisinya?" tanya orang itu.


"Sepuluh juta, tunai." Jawab Risma.


"Sepuluh juta dan tubuhmu di muka, bagaimana?" Orang itu memberi penawaran.


"Apapun itu," jawab Risma sambil tersenyum.


Sentuhan dari laki-laki yang berbeda bukanlah hal baru bagi Risma. Selagi dia bisa mendapatkan apa yang dia mau, dia rela melakukan apa saja, termasuk melayani napsu si hidung belang.


Bertahun-tahun menikah dengan Nanang, sekalipun mereka tidak pernah melakukannya. Risma yang haus akan belaian dan kasih sayang itu, akhirnya mengambil jalan yang salah. Dendam pada Keluarga Keenan dan juga ibu kandungnya, membuat dia mengambil jalan pintas.


"Jika dengan begini aku bisa kaya dan banyak uang, tidak ada salahnya bukan?" Risma mematutkan diri di cermin sebelum pertempurannya dengan orang tadi dimulai.


"Ayolah sayang, tunggu apa lagi, aku sudah tidak tahan. Lihatlah, juniorku sudah berdiri dengan sempurna." Kata laki-laki itu sambil memainkan miliknya sendiri.


Risma merangkak naik ke atas kasur dan langsung memasukkan benda itu ke mulutnya.


Lelaki itu menikmati setiap permainan yang dilakukan oleh Risma, begitu juga sebaliknya. Setelah sama-sama puas, barulah mereka berhenti.


Lelaki itu ke luar terlebih dulu dari kamar tersebut, sebelum ada yang memergokinya.


"Hahaha ... Dasar perempuan yang otaknya kurang setengah, mau aja dikibulin." Kata orang tadi sambil tertawa lepas.


"Sepertinya ada berita bagus, sehingga kamu bisa tertawa lepas begitu." Ujar Nanang. Ternyata orang yang bercinta dengan Risma tadi adalah suruhan Nanang.


"Tentu saja aku sangat bahagia, bos. Aku dapat uang juga kepuasan." Tutur orang tersebut.


"Dasar kamu." Nanang pun ikut tertawa setelah mendengar penuturan orang tersebut.


"Jadi, bagaimana bos? Wanita gila itu memintaku untuk menghabisi istri bos."

__ADS_1


Nanang terdiam sejenak untuk berfikir, kemudian senyum tipis mengembang di bibirnya.


"Jika kita mau memancing ikan, bukankah harus memakai umpan?" Tanya Nanang, membuat orang suruhannya bingung.


"Maksudnya apa bos?" tanya orang itu.


"Ternyata goa berbulu Risma mampu membuatmu menjadi bodoh. Jangan-jangan kamu sudah tertular penyakit bodoh darinya." Ujar Nanang.


"Ah si bos, bisa ajah." Ujar orang itu malu-malu.


Nanang pun mengutarakan rencananya kepada orang suruhannya itu. Mereka terlihat sangat serius dan merancang rencana dengan matang. Terlihat sesekali perdebatan di antara mereka di saat terjadi ketidak cocokan ide.


"Baiklah, aku akan melakukannya, mengatakan pada wanita itu tentang rencana kita." Kata orang itu dengan semangat.


"Halah, bilang saja kamu ketagihan main dengannya." Ledek Nanang.


"Tidak ada salahnya kan Bos, lagipula aku pria bebas. Tidak punya istri, tidak punya anak. Jika ada yang memberikannya secara gratis, kenapa harus ditolak. Pamali menolak rezeki." Tuturnya.


Di sisi lain,


Seorang perempuan yang sudah tidak lagi muda sedang duduk di sebuah kursi, menghisap sebatang rokok dan segelas minuman berada di genggamannya.


Make up tebal untuk menutupi kulitnya yang mulai keriput, kulit kisut dan bergelambir karena kurang olahraga.


Dia adalah bu Mala, tempat favoritnya adalah klub malam. Selain dia tidak perlu membayar kamar tidurnya, dia juga bisa mendapatkan uang di sana. Meski tarifnya lebih rendah dibandingkan dengan teman-teman yang usianya jauh lebih muda. Bu Mala tetap bertahan, karena hanya itu yang bisa dia perbuat.


"Malam ini sepi ya mbak, tidak terlalu banyak pengunjung yang datang." Tutur teman Bu Mala.


"Mungkin mereka semua dirantai oleh istri sahnya," ujar bu Mala sambil tersenyum geli.


"Hahaha ... mbak Mala bisa saja. Atau mungkin uang mereka sudah habis," balas teman Bu Mala dan mereka pun tertawa bersama.


Begitulah yang selalu mereka lakukan. Orderan sepi semenjak ada penari muda masuk ke klub itu. Entah dari mana datangnya gadis itu, dan entah apa yang membuatnya langsung menjadi primadona. Karena sejak dia masuk, semua pelanggan berlomba-lomba membokingnya dengan harga tinggi.

__ADS_1


"Lihatlah Angel, baru datang langsung dapat pelanggan dan bayaran tinggi. Sedangkan kita yang sudah karatan di sini, tarifnya segitu-gitu aja. Dapat uang untuk makan saja kita sudah beruntung." Kata teman Bu Mala dengan lesu.


"Kita sudah tua dan sudah tidak menarik lagi, wajar jika lelaki hidung belang lebih memilihnya. Walaupun wajah Angel tidak cantik, tapi tubuhnya menggiurkan. Lihat saja dua bola di dadanya, baju saja sampai tidak mampu menutupi benda itu, karena terlalu montok dan besar." Tutur bu Mala.


Sudah pukul tiga pagi, tapi bu Mala belum dapat pelanggan satu orang pun. Para pengunjung yang datang lebih memilih wanita muda untuk dijadikan teman kencan.


"Hai! Boleh aku duduk?" Seseorang datang menghampiri Bu Mala.


"Silahkan." Bu Mala acuh tak acuh.


Lelaki itu memesan segelas minuman, lalu memantikkan api ke rokoknya.


"Mau menemaiku? Aku akan memberimu bonus lebih jika kamu mau." Laki-laki itu memberikan penawaran.


"Ini sudah pagi, sebentar lagi tempat ini akan tutup." Tolak bu Mala secara halus.


"Aku membokingmu, dua hari. Aku akan pergi liburan, dan aku mau kamu yang menemaniku." Tutur laki-laki itu.


"Aku sudah tua, aku rasa umurku jauh di atasmu.Apa yang membuatmu menginginkan aku untuk jadi temanmu?" tanya Bu Mala.


"Aku tahu, umurku baru tiga puluh tujuh. Tapi, asal kamu tahu saja, aku lebih suka wanita berumur, karena mereka lebih berpengalaman." Kata laki-laki itu.


Terjadi sedikit perdebatan antara Bu Mala dan pria itu, namun pada akhirnya bu Mala mau menjadi wanita penghibur untuk laki-laki itu.


Pria itu menepati perkataannya, dia benar-benar membawa bu Mala berlibur. Lelaki itu membawa bu Mala ke sebuah villa yang ada di tepi pantai. Sesampainya di villa, mereka pun beristirahat sejenak sebelum akhirnya melakukan ritual yang mantranya berupa desahhan seksi yang ke luar dari mulut Bu Mala.


Pria itu tersenyum puas, karena dia tidak salah pilih. Dari banyak wanita tua yang sudah menjadi teman ranjangnya, baru bu Mala lah yang mampu membuatnya melakukan pelepasan berulang kali.


"Oh sayang, permainanmu luar biasa sekali, aku menyukainya." Ujar pria itu sambil menghamburkan uang di atas tubuh bu Mala yang masih terbaring di atas ranjangnya.


"Aku bisa memberimu lebih dari ini, jika kamu bersedia menemaniku setiap aku memintanya." Tambah pria itu sambil merangkak naik ke atas kasur.


"Tentu saja aku mau," ujar bu Mala, dan mereka pun akhirnya kembali tenggelam dalam lautan kenikmatan.

__ADS_1


__ADS_2