
"Kenapa kamu mengusik perusahaan milikku?" tanya Bu Aurel, ibu kandung Keenan.
Di hadapannya sudah ada seorang lelaki paruh baya yang usianya tidak berbeda jauh dengannya. Lelaki itu terlihat memohon agar Bu Aurel memulihkan kembali perusahaan miliknya yang sedang di ambang kehancuran.
"Rel, aku mohon padamu, itu semua ulah anakku. Bukan aku yang mengusik Sinar Cemerlang. Lagi pula, siapa yang tahu kalo Sinar cemerlang adalah perusahaan milikmu." tutur lelaki itu.
"Aku sudah lama berhenti dari dunia bisnis, semua aset milikku sudah aku serahkan pada anak-anakku. Jadi, aku tidak ada urusan lagi dengan segala apa yang terjadi." Bu Aurel menjelaskan.
Lelaki itu tidak kehabisan akal, dia terus merayu ibu kandung Keenan.
"Maaf, itu bukan urusanku." Bu Aurel beranjak dari duduknya lalu pergi.
Di sisi lain,
Salwa sedang duduk santai di teras belakang rumahnya. Angkasa sedang berlarian sambil berusaha menangkap burung merpati peliharaan mang Ateng. Anak berusia satu tahun lebih itu terlihat sangat bahagia, ketika mang Ateng datang sambil membawa seekor merpati di tangannya.
"Mang, di luar ada orang. Coba lihat dulu siapa, bibi takut." Ujar bi Lilis.
"Emangnya siapa?" tanya mang Ateng.
"Kata penjaga pagar, dia adalah orang yang mau bekerja jadi baby sitternya Asa," Jawab bi Lilis. Asa adalah panggilan untuk Angkasa.
Mang Ateng meninggalkan Angkasa bersama burung-burungnya, dia berjalan menuju pagar depan rumah itu.
"Ada perlu apa?" tanya Mang Ateng dengan tatapan mata penuh selidik.
"Em ... saya yang ditugaskan oleh pak Keenan untuk bekerja jadi pengasuh putranya," jawab wanita berambut pendek berwarna pirang itu.
"Tapi, kami tidak sedang mencari baby sitter, mbak." tutur Mang Ateng.
Mang Ateng meninggalkan wanita itu di luar pagar.
"Hei, kenapa kamu tidak membuka pintu pagarnya?" teriak wanita itu.
"Karena kamu bukan yang kami cari," jawab mang Ateng yang terus melangkah masuk ke dalam rumah.
Mang Ateng kembali ke halaman belakang, mengajak Angkasa kembali bermain bersama burung-burung peliharaannya.
"Loh, mana baby sitternya, mang?" tanya Salwa.
__ADS_1
"Ada di depan, mamang biarkan saja dia tetap berada di luar." Jawab mang Ateng.
"Kok nggak disuruh masuk?" tanya Salwa lagi.
"Dia bukan orang suruhan Keenan, jadi tidak perlu di suruh masuk." Jawab mang Ateng dengan santai.
"Mungkin ... "
"Bawa Angkasa masuk, sudah sore. Sudah waktunya dia mandi," titah mang Ateng, memotong perkataan Salwa.
Bi Lilis membawa Angkasa masuk ke dalam rumah, Salwa mengikutinya dari belakang. Salwa masuk ke kamarnya, sedangkan Angkasa di bawa oleh bi Lilis ke kamar pribadi Angkasa.
***
Prang ... Bunyi benda berjatuhan dan pecah.
"Aaaa ... Sial, awas kau Ateng, kamu sudah berani menolak dan mencampuri urusanku. Lihat saja nanti, bagaimana aku menyingkirkanmu." Risma melampiaskan amarahnya dengan memecahkan benda apa saja yang ada di dekatnya.
Nafas memburu dan tatapan mata yang tajam penuh amarah, keringat bercucuran membasahi sekujur tubuhnya.
"Sial!" umpatnya sekali lagi sambil membuka rambut palsu yang di pakainya.
"Sejak kapan kamu berada di kamarku?" Risma balik bertanya.
"Ini rumahku, ini milikku, aku bebas masuk kapan pun aku mau." Jawab laki-laki itu lalu duduk di tepi kasur.
"Aku mendengar jika Keenan sedang mencari baby sitter untuk anaknya, aku menyamar dan datang ke sana. Tapi apa, Ateng sialan itu menolakku mentah-mentah. Bahkan aku tidak diberi kesempatan sedetik pun untuk masuk," tutur Risma.
Hahaha ... lelaki itu tertawa dengan keras, lalu turun dari kasur dan menghampiri Risma.
"Bukan begitu caranya balas dendam, sayang. Kamu harus merencanakan siasat dengan matang, bukan langsung datang ke sana. Bukan kamu yang berhasil balas dendam, tapi kamu yang akan mati terperangkap di sarang musuh." Ujar lelaki itu panjang lebar.
Risma terdiam, memikirkan perkataan lelaki yang selama ini sudah memberinya uang dan kemewahan. Bahkan lelaki itu juga sudah memberikan apa yang tidak dia dapatkan dari Nanang dulu.
"Menurutmu, aku harus bagaimana?" tanya Risma.
Lelaki itu memegang kedua pundak Risma dan menatap wajahnya penuh kelembutan.
"Kamu cukup diam, aku akan meminta anak buahku untuk memantau setiap pergerakan di rumah itu dan semua aktifitas mereka." Jawab pria itu.
__ADS_1
"Apa kamu bisa aku percaya?" tanya Risma.
"Tentu saja, kamu bisa mempercayaiku sepenuhnya. Bahkan jika kamu mau, aku bisa merebut putramu dari tangan mantan suamimu." Lelaki itu mencoba untuk meyakinkan wanita yang ada di hadapannya.
"Aku tidak peduli pada anak haram itu, dia hanya buatku pusing dan repot." ujar Risma.
"Bagaimana kalo kita bikin satu milik kita, anak kita?" Lelaki itu membelai pipi Risma dengan lembut.
"Kita hanya saling membutuhkan, aku memberimu kepuasan dan kamu memberiku kemewahan. Tidak ada diperjanjian aku harus mengandung anakmu," ujar Risma.
"Iya memang awalnya tidak ada perjanjian itu, aku baru saja memikirkannya." kata lelaki itu.
Risma menepis tangan pria itu lalu berjalan ke arah kasur dan duduk di tepi kasurnya.
"Aku belum siap," ucapnya.
"Kapan kamu akan siap? Aku sudah tua dan istriku tidak bisa memberiku anak. Aku berharap kamu bisa mengabulkan keinginanku ini atau aku akan mencari wanita lain." Ancam lelaki itu.
"Silakan saja kamu cari wanita yang lain," ujar Risma tanpa memperhitungkan resikonya.
Lelaki itu pun menyeringai, duduk di pinggiran meja sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Apa kamu sudah siap menjadi gelandangan lagi?" tanya lelaki itu, membuat Risma mengerutkan keningnya.
"Apa maksudmu?" bukannya menjawab pertanyaan lelaki itu, Risma malah balik bertanya.
"Maksudku adalah aku akan menarik semua kemewahan yang sudah kuberikan padamu. Aku akan mencari wanita lain yang mau memberiku seorang anak. Simpel saja, aku tidak mungkin menghidupi orang yang tidak tahu membalas budi." Jawab Lelaki itu dengan santai.
Risma pun diam, mempertimbangkan setiap perkataan dari lelaki itu. 'Aku tidak mungkin kembali menderita lagi, menjadi bahan hinaan orang di luaran sana. Aku harus menerimanya, asalkan aku tetap bisa hidup mewah,' bathin Risma.
"Baiklah, satu anak saja." kata Risma dengan matap.
Lelaki itu melangkah mendekati Risma, lalu mencondongkan tubuhnya ke arah gadis pemuas napsunya itu.
"Berikan aku anak laki-laki, atau aku akan terus membuatmu hamil sampai kamu memberiku seorang putra penerus keturunanku." Tegas lelaki itu.
"Bagaimana jika aku melahirkan seorang bayi perempuan? Apa kamu akan membuangnya?" tanya Risma.
"Tentu saja tidak, aku bukan ayah yang jahat, dia tetap anakku. Tapi, aku pastikan aku akan membuatmu hamil lagi, hingga kamu melahirkan seorang putra untukku." jawab lelaki itu sambil menyeringai.
__ADS_1