My Pilot My Husband

My Pilot My Husband
Bab 48


__ADS_3

Semua wajah terlihat bahagia saat melihat bayi mungil yang sedang terlelap di box bayinya. Terutama Nanang, di antara yang lain, dia yang paling terlihat bahagia hingga meneteskan air matanya.


Sesosok bayi mungil perempuan yang baru saja hadir di tengah-tengah keluarga mereka, membawa kebahagiaan terutama untuk Nanang dan Jihan.


"Bukannya waktu itu kamu bilang laki-laki ya?" tanya Salwa.


"Hehehe ... Itu hanya modus Nanang aja kak," jawab Jihan sambil cengengesan.


"Dasar kamu!" ujar Ibu sambil memukul pelan bahu menantunya.


"Biar jadi kejutan bu," kata Nanang.


Nenek membawakan segelas jamu untuk Jihan, jamu yang biasa diminum ibu pasca melahirkan.


"Minumlah! Jamu ini tidak kalah bagusnya dengan obat medis," ujar Nenek sambil menyodorkan jamu itu.


"Apa itu tidak bermasalah, Nek?" tanya Nanang.


"Bermasalah bagaimana? Lihat aku dan ibumu, masih hidup sampai saat ini. Kami juga minum jamu ini setelah melahirkan. Ibu-ibu yang lain terutama di daerah perkampungan juga minum jamu untuk memulihkan kembali tubuhnya," tutur Nenek.


"Salwa juga minum jamu setelah melahirkan Angkasa. Bik Lilis yang membuatkannya untukku," sambung Salwa.


Glek,, Jihan menelan ludah kasar sambil melihat ke arah jamu yang ada di tangannya.


Glek glek glek, Segelas jamu pun habis diminumnya. "Ternyata rasanya enak," ucapnya.


"Makanya sebelum tau tuh jangan protes," cetus nenek.


Beberapa hari kemudian,


Keenan kembali membawa anak dan istrinya pulang ke rumah pribadinya.


Mang Ateng dan bik Lilis sangat senang atas kembalinya Salwa dan Angkasa. Rumah yang semula sepi kini kembali ramai.


"Mas, boleh tanya nggak?" Salwa mendudukkan tubuhnya di kasur.


"Silahkan sayang," jawab Keenan.


"Beberapa bulan yang lalu, ada orang yang bernama Tito datang kemari dan berpesan bahwa dia akan mengucapkan ijab kabul, emangnya dia siapa? Kenapa ijab kabul harus memberi tahu mas terlebih dahulu?" tanya Salwa.


Keenan yang sedang berganti pakaian pun menoleh, " Tito adalah Kyang, suami Risma." jawab Keenan.


"Kenapa namanya banyak sekali?" tanya Risma lagi.


"Yah begitulah, terkadang kita perlu menyembunyikan identitas asli untuk melindungi diri." jawab Keenan sambil merebahkan tubuhnya di kasur.


"Berarti, sampai saat ini Risma belum tahu kalo ternyata Kyang atau Tito masih lajang saat menikah dengannya," ujar Salwa.

__ADS_1


"Biarlah dia memecahkan sendiri misterinya, yang paling penting menurut Kyang, Risma sudah jauh berubah." tutur Keenan.


"Syukurlah, kalo begitu." Ucap Salwa, dia merebahkan tubuhnya yang lelah di samping Keenan.


Perutnya semakin membesar, sebentar lagi akan melahirkan. Jarak kehamilan Salwa dan Jihan tidak terlalu jauh, hanya satu atau dua bulan saja.


Keenan memiringkan tubuhnya, melingkarkan tangan di perut Salwa. Hanya butuh waktu sebentar untuk mereka terlelap dan masuk ke dunia mimpi.


Angkasa tidak bersama mereka, ada bik Lilis dan mang Ateng yang menjaganya. Sepasang suami istri itu sangat menyayangi Angkasa, seperti mereka menyayangi anaknya sendiri.


Di lain tempat,


Hueeek .... Risma mengeluarkan semua isi perutnya, selepas makan malam tadi perutnya terasa tidak enak, melilit dan bagai diaduk-aduk.


"Mama sakit?" tanya Daniel.


"Tidak sayang, mungkin cuma salah makan saja. Sambal malam ini terlalu pedas," jawab Risma sambil mengelap mulutnya menggunakan tissu.


"Kita ke dokter ya," ajak Kyang, dia terlihat sangat cemas.


"Tidak perlu, aku masih punya stok obat." Tolak Risma dengan halus.


Risma berjalan ke arah ruang keluarga dengan langkah sempoyongan sambil memegangi perutnya.


"Arkhh ...!" Risma meringis, perutnya semakin terasa sakit.


"Risma!" teriak Kyang saat melihat Risma jatuh terkulai dan pingsan.


Kyang menggendong Risma dan membawanya ke mobil, Daniel duduk bersama Risma di bangku belakang.


Kyang menancap gas menuju ke rumah sakit, dia sangat mencemaskan keadaan istrinya.


Sesampainya di rumah sakit, Risma langsung ditangani oleh beberapa dokter.


"Ayah, apa mama baik-baik saja?" tanya Daniel, Kyang memeluknya. Mereka duduk di kursi tunggu yang ada di luar ruangan.


"Mama baik-baik saja," jawab Kyang.


Beberapa menit kemudian pintu ruangan terbuka dan dokter keluar dari ruangan itu.


"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Kyang.


"Tubuhnya lemah, sepertinya istri anda kekurangan cairan dan beberapa hari tidak makan. Itu sangat wajar dialami oleh ibu hamil di trimester pertama, tapi itu juga tidak baik untuknya." jelas dokter.


"Ibu hamil? Maksud dokter, istri saya sedang hamil?" tanya Kyang dan dokter menjawabnya dengan anggukan kepala.


Kyang masuk ke ruangan di mana Risma sedang terbaring, dia sudah sadarkan diri.

__ADS_1


"Apa yang kamu rasakan?" tanya Kyang.


"Hanya mual dan pusing," jawab Risma.


"Kenapa kamu tidak memberi tahuku kalo pusing dan mual? Kenapa kamu tidak makan? Kamu membuatku khawatir," cecar Kyang.


Risma hanya tersenyum menanggapi cecaran dari Kyang yang ditujukan padanya.


"Untung saja kamu tidak meminum obat lambungmu," imbuh Kyang.


Setelah menebus obat, Kyang membawa Risma pulang. Kyang menggendong tubuh Risma ala bridal style menuju kamarnya.


"Daniel mana?" tanya Risma sambil celingukan.


"Ada di bawah, dia meminta izin padaku untuk menonton TV." Jawab Kyang sambil mennyelimuti tubuh Risma menggunakan selimut.


"Apa perhatian dan kasih sayangmu akan berubah pada Daniel?" tanya Risma.


Kyang menghentikan aktivitasnya, dia menaruh bantal kembali ke tempatnya semula. Bantal yang tadinya akan dia tumpukkan agar Risma bisa berbaring dengan nyaman.


"Apa aku seburuk itu?" tanya Kyang lalu duduk di samping istrinya.


"Aku hanya bertanya," jawab Risma.


"Sejak awal aku tahu kalo kamu sudah punya anak. Menikahimu berarti menerima semua yang ada padamu, termasuk Daniel. Hamil atau tidaknya kamu, itu tidak akan merubah apapun." jelas Kyang.


"Istrimu?" tanya Risma, dia ingin memastikan bahwa dugaannya adalah benar. Kyang tidak punya istri selain dirinya.


Kyang tersenyum lalu meraih tangan Risma dan menggenggamnya, sesekali dia kecup tangan itu lembut dengan pandangan mata ke arah wajah istrinya.


"Kamu satu istriku, tidak ada yang lain." Ungkap Kyang.


"Kamu membohongiku!" Kyang kembali tersenyum, nada bicara Risma seakan mengulik informasi darinya.


"Berbohong demi kebaikan tidak ada salahnya, bukan?" Kyang membela diri.


Risma mengerucutkan bibirnya, "Mana ada bohong itu baik," ujarnya.


"Apa kamu mau tahu sesuatu?" tanya Kyang.


"Apa itu?" Risma balik bertanya.


Kyang tidak langsung menjawab, dia malah menciumi punggung tangan istrinya.


"Kyang," sebut Risma.


"Aku adalah sahabat Keenan. Dan atas izin darinya lah aku menikah denganmu," ungkap Kyang sambil menatap wajah Risma, melihat bagaimana respon dari istrinya itu setelah tahu kebenarannya.

__ADS_1


"Kak Ken," lirih Risma.


"Keenan menyayangimu, sangat-sangat menyayangimu. Dia tahu aku begitu mencintaimu sejak dahulu, karena itulah dia memberitahuku keberadaanmu dan memintaku untuk mengeluarkanmu dari tempat terkutuk itu." Kyang pun menceritakan semuanya, dari awal hingga akhir. Tidak ada yang dia tutupi, semua dia buka hari ini. Kyang ingin Risma sadar, jika orang yang sangat dia benci ternyata sangat menyayanginya lebih dari apapun.


__ADS_2