My Pilot My Husband

My Pilot My Husband
Bab 17


__ADS_3

Seperti maling yang ketangkap basah, Risma menjadi salah tingkah. Dia hendak lari keluar, tapi diurungkannya ketika melihat kedua orang tuanya sudah berdiri di pintu kamar Keenan.


Saat di kamar mandi tadi, Keenan menghubungi kedua orang tuanya dan memintanya untuk datang.


"Papa ... Mama!" Risma terkejut bukan kepalang melihat kehadiran orang tuanya.


Wajah pak Geri merah padam, mata tajamnya menatap Risma.


Bu Mala yang selama ini selalu membelanya, kini sudah tidak bisa lagi membendung amarahnya. Dengan perlahan dia melangkah mendekati Risma.


Plakk


Plakk


Dengan segenap tenaga yang dia punya, dia menampar pipi putrinya itu.


"Sudah cukup aku bersabar selama ini melihat tingkah liarmu. Tapi, kali ini aku sudah muak. Berani-beraninya kamu menyiksa menantu dan cucuku. Kamu sudah keterlaluan Risma!" Dengan suara gemetar bu Mala meluapkan amarahnya.


"Kenapa mama membela pembantu ini, harusnya mama membela Risma. Semenjak kak Ken mengenal dan menikah dengan dia, sikap kakak berubah. Perlu papa dan mama tahu, dia sudah menghasut kak Ken untuk mencabut fasilitas yang selama ini kak Ken berikan pada Risma." Dengan suara tinggi dan kencang, sambil menunjuk ke arah Salwa, Risma menuduh Salwa macam-macam.


"Risma, cukup! Atas dasar apa kamu menuduh Salwa? Apa kamu punya bukti kuat atas tuduhanmu itu?" tanya Pak Geri.


"Apa kamu sudah tanyakan soal ini pada Nanang?" tanya Keenan.


"Nanang tidak mungkin berani melakukan itu." Risma menyangkalnya.


Keenan hendak bicara, tapi Salwa menahannya. Dia menggelengkan kepala pada Keenan, agar suaminya tidak kebablasan.


"Risma, aku pinta sama kamu, keluar dari rumah anakku, atau bila perlu kamu keluar dari keluarga Haryanto." Bu Mala mengarahkan telunjuknya ke arah pintu. Dia palingkan mukanya saat mengatakan itu.


"Maksud mama?" tanya Risma.


"Kamu itu bukan ... "


"Mama!" Keenan, Salwa dan Pak Geri berseru secara bersamaan.


Salwa berjalan menghampiri ibu mertuanya tersebut, lalu menggenggam kedua tangannya.


"Jangan Ma, jangan katakan itu." Salwa memohon agar bu Mala tetap bungkam.


"Belum saatnya," bisik Keenan.


Risma berlari keluar kamar sambil menangis, dan dia pun meninggalkan rumah Keenan.

__ADS_1


Salwa membimbing bu Mala ke arah sofa yang ada di kamarnya. Meraka duduk saling berhadapan.


"Kamu sudah tahu soal Risma, Salwa?" tanya Bu Mala.


"Kemaren Salwa ikut Keenan saat bertemu dengan Nanang." Keenan yang menjawab pertanyaan mamanya.


"Apa Jihan juga ikut?" Wajah bu Mala yang tadinya muram berubah jadi ceria.


"Tidak, Ma. Jihan pergi karena ada meeting dengan klien." Keenan menjawab dengan jujur.


"Mama sama papa juga tahu kalo Nanang selingkuh?" Salwa dibuat terkejut oleh ketiga orang di depannya. Bagaimana bisa, mereka mendukung suami dari keluarganya berselingkuh.


"Nanti kamu akan tahu," ujar Pak Geri.


Keenan mengajak istri dan kedua orang tuanya turun ke lantai bawah. Sudah waktunya makan malam, mereka pun akhirnya makan bersama. Angkasa tidur manis di pangkuan Salwa, Keenan yang berperan jadi tangan yang menyuapkan makanan ke mulut Salwa.


"Aku bisa sendiri, mas. Tidak perlu disuapin." Lagi-lagi wajah Salwa merah merona.


"Sudah, nggak usah malu. Anggap saja mama dan papa hanya patung penghias rumah." Bu Mala sangat bahagia melihat kemesraan anak dan menantunya.


"Habis makan, kita jual patungnya. Kita bisa untung banyak sayang." Keenan berseloroh.


Plak


Satu pukulan pun mendarat di tubuh Keenan.


"Habisnya kamu sih sembarangan kalo ngomong. Nggak takut kualat kamu." Bu Mala pun mengomel.


"Nggak pa-pa dong Ma kualat juga, kan dapet banyak duit. Lihat tuh, patung yang ada di atas, sekecil itu saja harganya ratusan juta. Nah kalo besarnya se Mama, bisa laku milyaran Ma, bahkan mungkin bisa mencapai satu triliun." Dengan santai dan tanpa rasa bersalah, Keenan membalas ocehan mamanya.


Melihat Keenan yang sudah mulai mau bercanda, pak Geri pun tersenyum. Bu Mala menautkan kedua alisnya, bingung melihat suaminya yang sedari tadi senyum-senyum sendiri.


"Ken, rumahmu nggak ada hantunya 'kan?" Pertanyaan bu Mala membuat Keenan merinding.


"Apaan sih Ma, nggak banget deh pertanyaannya." Keenan memegangi tengkuknya.


"Bisa saja kan rumah ini berhantu, rumah ini kan sudah bertahun-tahun tidak di tempati." Pak Geri menoleh pada istrinya, saat sang istri mengatakan itu.


"Hantu apaan sih?" pak Geri terlihat seperti orang kebingungan.


"Papa dari tadi senyum-senyum sendiri, mama kira kemasukan hantu penunggu rumah ini." Bu Mala menjelaskan.


Keenan dan Salwa pun tidak bisa menahan tawa melihat kelucuan kedua orang tua mereka.

__ADS_1


Setelah selesai makan, mereka duduk santai di ruang tengah. Bu Mala terus mengoceh dan mengajak Angkasa bercengkrama.


"Aku mengkhawatirkan Risma, bagaimana dia sekarang. Coba mas telpon dia, aku takut terjadi apa-apa padanya." Terlihat kekhawatiran di wajah Salwa.


"Kamu tidak perlu khawatir, Risma baik-baik saja. Papa berani jamin," ujar Pak Geri dan Salwa pun hanya manggut-manggut saja.


Jarum jam menunjukan ke arah angka sembilan. Pak Geri dan bu Mala berpamitan untuk pulang.


Keenan menggendong Angkasa masuk ke kamarnya, sedangkan Salwa kembali ke dapur untuk mengambil cemilan. Semenjak melahirkan dan menyussui, dia jadi mudah lapar.


Keenan tidak pernah lupa membelikan istrinya cemilan. Jika dia sedang tidak di rumah, dia selalu meminta mang Ateng atau bi Lilis yang membeli cemilan untuk Salwa.


Salwa masuk ke dalam kamarnya sambil membawa toples berisi kue kering. Dia duduk di sofa tepat di samping Keenan.


Angkasa sudah tidur dan sudah diletakkan di kasur miliknya.


"Mas, sepertinya aku gendutan ya." Salwa memperhatikan tubuhnya yang terasa semakin melebar ke samping.


Keenan yang sedang fokus menonton TV pun menoleh dan menelusuri tubuh Salwa dari atas hingga ke bawah.


"Coba berdiri," pinta Keenan dan Salwa pun menurut.


Keenan mengetuk-ketukan jari telunjuknya di dagu.


"Mas belum tahu pasti, gendutan atau nggak. Karena mas belum lihat secara keseluruhan. Kalo Mas lihat-lihat sih, sepertinya kali ini memang sedikit berisi dibanding dengan tubuhmu satu tahun lalu." Keenan mengungkapkan pendapat sekaligus menggoda istrinya.


"Mas, Salwa serius nih." Salwa memasang wajah cemberut.


Keenan menarik Salwa dan mendudukan di pangkuannya.


"Mas sudah lupa, soalnya udah setahun lebih nggak pernah lihat." Perkataan Keenan membuat pipi Salwa kembali merona.


"Belakangan ini aku lihat pipimu sering memerah, apa kamu demam?" tanya Keenan.


"Aku baik-baik saja." Salwa pun memalingkan wajah ke arah lain.


Ada yang keras dan menegang, tapi bukan sifat atau watak. Salwa bisa merasakan benda keras itu menggesek bokhongnya.


Perlahan Keenan menarik dagu Salwa, dan mendekatkan wajahnya.


"Jangan buang muka saat mas sedang bicara," ujar Keenan sambil tersenyum.


"Aku malu." Salwa menundukan kepalanya.

__ADS_1


Keenan tidak bisa lagi menahan napsunya yang sudah tertahan selama setahun ini. Dengan lembut, dia membawa Salwa ke pelukannya. Kejadian setahun lalu pun akhirnya kembali terulang. Semua cinta dan hasrat yang terpendam pun tercurah malam ini.


Kali ini, mereka melakukannya dengan sadar dan penuh cinta. Cinta yang perlahan tumbuh dan berbunga. Mereka tenggelam dalam lautan cinta yang memabukkan.


__ADS_2