
Pagi itu, Keenan mendatangi rumah adiknya. Keenan dan Nanang sedang mengatur siasat untuk menggagalkan rencana Risma yang berniat untuk mencelakai Jihan.
Untuk mengatur siasat, Nanang adalah ahlinya. Keenan hanya ahli dalam membayar tenaga orang yang dia suruh menjalankan tugasnya.
"Bagaimana? Apa kamu bersedia?" tanya Keenan pada Jihan.
"Aku takut kak! Aku nggak berani." Itu jawaban Jihan saat Keenan mengatakan tentang rencana mereka, Keenan dan Nanang saling bertukar pandang.
"Ada aku, sayang. Kenapa harus takut? Ada aku yang akan melindungimu," ujar Nanang.
Jihan nampak terdiam, dia sedang berfikir tentang tindakan apa yang harus dia ambil. Dia tidak mau menanggung resiko.
"Papa juga akan melindungimu, Nak." Pak Geri masuk ke ruangan itu, lalu duduk di samping Keenan.
"Yang di depanku ini seperti bukan Jihan adikku. Jihanku tidak pernah takut, dia seorang pemberani dan tidak pernah gentar pada siapa pun. Sebenarnya apa yang membuatmu takut?" tanya Keenan. Dia merasa ada yang aneh pada Jihan.
"Sebenarnya aku bisa saja melakukannya, tapi masalahnya ... "
"Ada apa sayang? Coba katakan!" Nanang mendesak Jihan, dia juga sama seperti Keenan, merasa aneh pada perubahan sikap istrinya itu.
"Aku hamil, aku takut ini bisa berbahaya pada kehamilanku." Jawab Jihan sambil memandang penuh cinta wajah suaminya.
"Ka-kamu serius? Kamu hamil?" tanya Nanang terbata-bata dan Jihan pun mengangguk.
Nanang hendak memeluk Jihan, tapi Keenan dan pak Geri menahannya.
"Sesuai peraturan alam, aku dulu yang harus memeluk Jihan. Karena aku kakaknya." Kata Keenan.
"Aku dulu, karena aku papanya. Aku sudah memeluknya sebelum dia lahir." Bantah pak Geri.
"Aku suaminya, apa kalian tidak menganggapku ada?" Nanang terlihat kesal dengan sikap kakak ipar dan papa mertuanya.
"Hei, Bung! Ingat, sebelum ada kamu, kami dulu yang pertama memeluknya. Dan di antara aku dan papa, aku orang pertama yang memeluk Jihan, sesaat setelah dia lahir." Ungkap Keenan yang langsung memeluk Jihan. Dia tersenyum karena sudah berhasil menjahili adik iparnya itu.
"Selamat ya sayang, akhirnya setelah beberapa tahun berjuang, kamu hamil juga. Sepertinya ada yang mencurigakan di sini," Ucap Keenan sambil memandang Nanang dan tersenyum menyeringai.
"Kakakmu benar, Jihan. Papa jadi berfikir, jangan-jangan sewaktu Nanang masih tinggal serumah dengan Risma, Nanang menanam semua benihnya di ladang Risma, sehingga kamu tidak kunjung hamil waktu itu." Pak Geri pun memperkeruh suasana.
__ADS_1
"Kalian bicara apa? Aku berani bersumpah, aku tidak pernah melakukkannya dengan Risma." Nanang membantah hasutan kakak ipar dan mertuanya itu.
"Sayang percayalah padaku, sungguh aku tidak pernah sekali pun melakukannya dengan Risma." Nanang berlutut di hadapan Jihan. Wajahnya terlihat sangat melas.
"Oh, Astaga! Aku jadi merindukan istriku," ucap Keenan yang langsung ke luar dari rumah adiknya. Begitu juga dengan pak Geri, dia pun memberi ruang pada anak dan menantunya untuk saling mencurahkan kebahagiaan.
Keenan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju ke rumahnya. Dia menghubungi beberapa orang anak buahnya untuk merubah rencana, dia tidak mungkin mengikut seratakan adiknya lagi.
"Pa-pa," sebut Angkasa saat melihat mobil Keenan memasuki pekarangan rumahnya.
"Iya, itu papa baru pulang." Kata mang Ateng yang sedang mengajak Angkasa bermain di teras.
Keenan memarkirkan mobilnya, lalu turun dari mobil. Senyumnya mengembang saat melihat Angkasa berjalan menuju ke arahnya.
"Anak papa kok nggak bobok siang sih," kata Keenan yang langsung menggendong putranya, Angkasa terlihat sangat senang.
"Salwa ke mana, Mang?" tanya Keenan.
"Ada di dalam, sedang mmbuat kue bersama bibik." Jawab mang Ateng.
"Ma, kok Angkasa nggak disuruh tidur siang sih." Ujar Keenan.
"Sebentar lagi, Pa. Mama masih tanggung nih," ujar Salwa tanpa menoleh.
"Bik, tolong pegang sebentar." Pinta Keenan sambil menyerahkan Angkasa pada bi Lilis, setelah itu dia mengangkat tubuh Salwa dan membawanya ke kamar.
"Lain kali, kalo suami ngomong, tolong diperhatikan." Kata Keenan sambil merebahkan tubuh Salwa di atas kasur.
"Maaf, Mas. Salwa hanya membuatkan Angkasa cemilan. Mas tahu sendirikan dia itu susah sekali kalo dikasih makan, semua ditolak. Sedangkan ASIku cuma sedikit, aku takut dia tidak kenyang." Tutur Salwa.
"Kamu tidak perlu capek-capek membuat itu semua, kamu bisa membelinya." Ujar Keenan sambil membelai rambut Salwa.
"Baiklah, mulai besok aku akan membelinya." Dan Keenan pun tersenyum mendengar perkataan Salwa yang terdengar patuh tersebut.
Keenan mengajak Salwa ke luar dari kamar, dia takut mang Ateng dan bi Lilis berfikiran macam-macam pada dirinya juga Salwa.
"Bik, malam ini tidak usah masak. Kita makan di luar saja," ujar Keenan pada bi Lilis.
__ADS_1
"Baik, Mas." Sahut bi Lilis.
Keenan menggendong Angkasa, lalu membawanya bermain di depan TV.
Kriiing, ponsel Keenan berdering. Keenan melihat layar ponselnya untuk mengetahui siapa yang menelponnya.
"Ma, tolong jaga Angkasa sebentar." Pinta Keenan lalu mengangkat telponnya dan masuk ke dalam ruang kerja.
Salwa merasa aneh pada sikap Keenan, tidak biasanya dia menjauh dari Salwa saat mengangkat panggilan di telponnya. Prasangka buruk mulai menghasut hatinya, mengajaknya berasumsi ke arah yang negatif.
"Kenapa bengong?" tanya bi Lilis sambil membawa botol susu milik Angkasa.
"Emmm, nggak ada apa-apa bik. Salwa cuma sedikit capek dan ngantuk," jawab Salwa.
"Kalo ngantuk, tidur saja. Angkasa biar bibik yang jaga," ujar bik Lilis.
"Nggak usah bik, Angkasa biar tidur sama Salwa aja." Tolak Salwa, lalu membawa Angkasa ke kamarnya.
"Salwa kenapa?" tanya mang Ateng.
"Astaga!" Bi Lilis memegang dadanya karena terkejut.
"Ayo kita kerjakan pekerjaan kita, jangan kepo sama urusan orang." Bi Lilis menarik tangan mang Ateng ke arah dapur.
Tidak lama kemudian, Keenan ke luar dari ruang kerjanya, melihat ke arah TV yang sudah tidak ada siapa-siapa di sana. Dia menuruni anak tangga satu persatu lalu menuju dapur. Sesampainya di dapur, Keenan juga tidak menemukan seorang pun di sana. Akhirnya dia putar haluan dan berjalan ke kamarnya.
"Sayang!" Keenan memanggil Salwa.
Salwa sudah tertidur di kasurnya sambil memeluk Angkasa. Terdengar deru nafas sangat teratur, menandakan jika Salwa sudah tertidur dengan nyenyak.
"Aku pun jadi mengantuk melihat kalian tertidur nyenyak," ujar Keenan lalu naik ke atas kasur.
Keenan membaringkan tubuhnya di samping Angkasa. Dia membelai pipi Angkasa dan juga Salwa.
"Selamat tidur kesayangan," ucap Keenan.
Perlahan Keenan memejamkan matanya dan mulai tertidur. Meskipun sebenarnya, dia tidak merasakan kantuk sama sekali. Dia bingung harus melakukan apa, mau bermain dengan Angkasa, tapi anaknya itu sudah tertidur.
__ADS_1