My Pilot My Husband

My Pilot My Husband
Bab 22


__ADS_3

"Mas, bangun. Angkasa nggak ada!" Salwa mengguncangkan tubuh Keenan dan berusaha untuk membangunkan suaminya.


"Mungkin dibawa Mama keluar." Keenan berbicara tanpa membuka matanya sedikit pun.


Salwa berlari keluar dari kamar dan bernafas lega saat melihat Angkasa berada dalam gendongan papa mertuanya.


"Maaf, Pa. Tadi Salwa ketiduran." Salwa merasa bersalah pada kedua mertuanya.


"Nggak apa-apa, sayang. Angkasa juga udah nggak rewel kok." Bu Mala yang membalas ucapan menantunya.


Keenan berjalan menuruni tangga sambil mengucek matanya. Sesampainya di sofa tempat istri dan kedua orang tuanya mengobrol, dia pun menghempaskan tubuhnya dan kembali tertidur.


"Berapa hari dia nggak tidur?" Pak Geri bertanya-tanya.


"Salwa juga nggak tahu, Pa. Mas Keenan kelihatan capek banget." Salwa menjawab pertanyaan pak Geri.


"Biar saja dia tidur, mungkin dia lembur beberapa hari ini." Bu Mala ikut nimbrung.


"Tapi, mas Keenan belum makan, Ma." Bu Mala tersenyum melihat Salwa yang begitu mengkhawatirkan Keenan.


"Keenan tidak akan merasa lapar kalo sedang capek dan lelah, Dia hanya butuh tidur. Seharusnya kamu tadi tidak keluar, kamu temani saja dia tidur." Bu Mala menjelaskan pada Salwa tentang kebiasaan Keenan jika sedang kelelahan.


"Salwa 'kan harus mengurusi Angkasa juga, Ma." Kata Salwa, dia tidak mungkin melalaikan tugasnya sebagai ibu.


"Angkasa biar mama sama papa yang urus."


Akhirnya Salwa mengajak Keenan untuk kembali ke kamar. Sesampainya di kamar, Keenan kembali tertidur.


"Gila ni orang! Bisa gitu ya?" Salwa menggelengkan kepalanya melihat kebiasaan suaminya yang menurutnya aneh.


Salwa tidak tau harus melakukan apa, akhirnya dia masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya.


"Salwa!" Bi Eli masuk ke kamar sambil membawa makan malam untuk Salwa.


Bi Eli meletakkan makanan di meja, kemudian dia ke luar dari kamar itu. Salwa tidak mendengar suara Bi Eli yang memanggilnya, karena dia menghidupkan kran air.


"Siapa yang mengantarkan makanan?" Salwa mengabaikan makanan itu lalu memakai pakaiannya, setelah itu dia mendekati Keenan.


"Kalo aku bangunin, kira-kira bangun nggak ya? " Monolog Salwa sambil melihat wajah suaminya.


"Duh, aku harus gimana dong? Kok ada sih orang punya kebiasaan aneh begini." Salwa terlihat sangat kebingungan. Akhirnya Salwa hanya bisa duduk diam di samping Keenan yang terlelap.


Jam sudah menunjukan pukul sembilan malam, Keenan belum juga terbangun dari tidurnya.

__ADS_1


Krucuuk ...


Perut Salwa berbunyi, cacing-cacing di dalam perutnya sudah berdemo. Mereka meminta Salwa untuk memberi makanan pada warga kampung tengah.


"Uh, perutku sangat lapar." Salwa turun dari kasur lalu berjalan menuju sofa. Dia mulai menyantap makanan yang sudah dingin.


Selesai makan Salwa membawa piring kotor ke dapur. Rumah terlihat sepi, tidak ada lagi aktivitas yang terlihat.


"Mama." Salwa mengetuk pintu kamar mertuanya.


"Ada apa, Nak?" Bu Mala membuka pintu kamarnya.


"Salwa mau ambil Angkasa dan membawanya ke kamar."


"Tunggu sebentar ya." Bu Mala masuk ke dalam kamar, tidak lama kemudian ke luar lagi sambil menggendong Angkasa yang ternyata belum tidur.


"Terima kasih ya Ma," ucap Salwa.


"Sama-sama sayang." Bu Mala mencium pipi Angkasa.


Salwa membawa Angkasa ke kamarnya dan Keenan belum juga terbangun.


"Kalo dia kelelahan di atas pesawat, gimana ya? 'Kan bisa bahaya." Salwa bergumam sambil meletakkan Angkasa di samping Keenan.


"Hai sayang!" Dengan suara serak Keenan menyapa Angkasa.


"Mas, ini beneran udah bangun?" tanya Salwa.


"Maksud kamu, mas mengigau?" Keenan malah balik bertanya.


"Yah ... siapa tahu aja." Salwa naik ke kasurnya lalu memberi ASI pada Angkasa.


"Duh, mata polosku ternodai." Keenan menutup mata menggunakan telapak tangan yang jarinya terbuka. Sehingga dia masih bisa melihat istri dan anaknya.


"Polos apanya? Mata di tutup, tapi tutupnya di buka. Sama aja bohong itu mah." Salwa memonyongkan mulutnya ke arah Keenan.


Keenan menggeliat untuk meregangkan otot-otot yang tegang, kemudian melihat jam yang terpasang di dinding, sudah hampir jam sepuluh malam.


"Ponsel Mas di mana ya?" Keenan celingukan untuk mencari ponselnya.


"Itu, di atas meja." Salwa menunjuk ke arah meja yang ada di sampin Keenan.


Keenan mengambil ponselnya dan melihat notif yang masuk.

__ADS_1


"Haiss ... Aku melewatkannya!" Keenan buru-buru masuk ke kamar mandi, mencuci muka dan menggosok gigi lalu mengganti pakaiannya, setelah itu dia menghampiri Salwa.


"Mas pergi dulu, jangan menunggu. Mas pulang telat." Keenan mencium kening istri dan anaknya lalu bergegas keluar.


Keenan masuk ke mobilnya dan mulai mengemudikannya menuju ke suatu tempat. Dia lupa kalau hari ini ada janji bertemu dengan seseorang.


"Maaf, aku ketiduran." Ternyata Keenan menemui Nanan di sebuah kafe.


"Aku tahu, dari dulu kamu kan selalu begitu." Sebagai teman Nanang sudah hafal kebiasaan Keenan.


"Ada apa?" tanya Keenan.


"Aku sudah tidak tahan menghadapi tingkah Risma, apa aku boleh menceraikannya sekarang. Aku juga bertengkar dengan Jihan." Nanang terlihat sangat sedih.


Terdengar Keenang menghela nafasnya dengan berat, sambil menatap tajam teman sekaligus adik iparnya itu.


"Baiklah, jika itu bisa membuatmu senang. Tapi, kamu jangan lupa, setelah ini pasti akan ada banyak masalah yang datang." Akhirnya Keenan memberi keputusan.


"Aku sudah tahu dan aku sudah mempersiapkan semuanya," tutur Nanang.


"Bagaimana dengan Jihan? Apa dia sanggup menghadapi masalah yang akan menghadang kita?" tanya Keenan.


"Aku rasa, kamu tidak lupa siapa Jihan." Ungkap Nanang.


Untuk berjaga-jaga, Keenan meminta Nanang untuk lebih berhati-hati. Dia juga memberi pengarahan pada Nanang agar saat nanti ada hal yang tidak terduga, Nanang sudah tahu cara untuk mengatasinya.


Kriiing ... Ponsel Keenan berdering,


Keenan merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya dari sana.


"Halo, sayang. Ada apa? Apa Angkasa rewel lagi?" tanya Keenan. Ternyata Salwa yang sedang meneleponnya.


"Apa Mas bisa pulang, rumah kita ada yang meneror. Papa sudah menelepon orang-orangnya, tapi mereka belum datang. Salwa takut mas." Suara Salwa terdengar bergetar seperti yang sedang ketakutan, Keenan juga mendengar suara Angkasa yang menangis dengan kencang.


"Sial!" Keenan mematikan ponselnya.


"Rumah Papa ada yang meneror. Ikut aku!" Keenan mengajak Nanang untuk ikut ke rumah orang tuanya.


Keenan menghubungi beberapa anak buahnya dan menyuruh mereka untuk segera datang ke rumah orang tuanya.


"Siapa mereka? Bagaimana bisa aku kecolongan." Keenan melaju dengan kecepatan penuh. Dia takut terjadi sesuatu pada keluarganya, terutama istri dan anaknya.


Nanang melakukan hal yang sama, dia menelpon beberapa temannya dan meminta mereka untuk datang ke rumah mertuanya.

__ADS_1


"Lihat saja Risma, setelah ini aku tidak akan mengampunimu. Aku sudah lelah menjadi suami bonekamu."


__ADS_2