My Pilot My Husband

My Pilot My Husband
Bab 21


__ADS_3

Salwa menggendong Angkasa yang rewel dan terus merengek. Sudah beberapa hari ini putra pertama Salwa dan Keenan demam, sudah dua dokter yang menanganinya, tapi panas suhu tubuh Angkasa tidak juga turun.


"Apa mungkin dia merindukan papanya? Makanya dia rewel." Bu Mala terlihat sangat khawatir sambil mengusap puncak kepala Angkasa.


"Salwa udah coba untuk menghubungi mas Keenan, tapi ponselnya mati. Mungkin Mas Keenan belum mendarat atau mungkin mas Keenan sedang bertugas ke luar." Meski suaminya tidak bisa dihubungi, Salwa tetap senang dan tidak terlalu khawatir. Kedua mertuanya sangat peduli padanya juga Angkasa.


"Kamu pegel dari tadi gendong Angkasa, sini gantian, biar Mama yang gendong. Kamu makan dulu gih, dari pagi kamu belum makan apa-apa. Nanti kalo kamu sakit, gimsna?" Bu Mala mengambil alih Angkasa dari gendongan Salwa.


"Terima kasih Ma," ucap Salwa.


"Sama-sama, sayang." Bu Mala tersenyum membalas ucapan menantunya.


Salwa terlebih dulu merilekskan tubuhnya, melemaskan otot-otot yang tegang. Sedari pagi dia menggendong Angkasa. Mungkin karena demam, Angkasa yang biasa diam dan anteng, menjadi rewel dan merengek setiap kali diletakkan di atas kasur.


salwa menuju ruang makan, bi Eli sedang menyiapkan makanan untuknya. Bi Eli mengambilkan Salwa nasi beserta lauknya.


"Makanlah dulu, nanti maagmu kambuh." Bi Eli menyuguhkan makanan untuk keponakannya itu.


"Bi, Salwa bisa ambil sendiri. Bibi nggak perlu melayani Salwa seperti ini." Salwa memegang tangan bi Eli dan memandang wajah bi Eli dengan lembut.


"Bibi kasihan melihatmu semalaman tidak tidur, dan sedari tadi terus menggendong Angkasa. Kamu pasti capek." Salwa sangat terharu mendengar perkataan bi Eli yang sangat memperhatikannya.


"Terima kasih bi, Salwa sayang bibi." Salwa langsung memeluk orang yang menjadi pengganti orang tuanya tersebut.


"Bibi juga menyayangimu." Bibi mengusap punggung Salwa dengan lembut.


Bi Eli membimbing Salwa untuk duduk dan menyuruhnya untuk segera makan.


Salwa baru saja menyantap makanannya beberapa sendok, dia mengunyah makanannya dengan cepat ketika mendengar suara Angkasa yang menangis. Setelah itu dia berlari kecil untuk menghampiri putranya.


"Mas." Salwa terkejut saat melihat Keenan sedang berdiri sambil menggendong Angkasa dalam dekapannya. Keenan masih memakai seragam tugasnya, bahkan topinya belum sempat dia lepaskan dari kepalanya.


"Apa kau mengunyah makananmu dengan baik? Kalo tidak, nanti bukan hanya Angkasa tapi kamu juga akan sakit." Keenan tersenyum lalu mengecup kening Salwa.


"Maaf ya," ucap Keenan.

__ADS_1


Salwa mengerutkan kening mendengar ucapan permintaan maaf dari Keenan.


"Maaf untuk apa, Mas?" Salwa tidak mengerti.


"Karena mas tidak memberimu kabar dan juga tidak mengaktifkan ponsel. Mas sibuk belakangan ini, hingga mas tidak pulang dalam waktu yang lama." Keenan memberi penjelasan.


"Yang terpenting sekarang mas sudah pulang," balas Salwa.


Keenan menggenggam tangan Sawa dan mengajaknya ke ruang makan. Makanan Salwa masih berada di atas meja, makanan itu baru sedikit yang tersentuh.


"Makanlah, Angkasa biar Mas yang jaga." Keenan menyuruh Salwa duduk dan meneruskan makannya.


"Mas istirahatlah, Mas pasti capek."


"Apa kamu lupa, kalian adalah obat capek bagiku." Keenan berisik di telinga Istrinya.


"Gombal." Salwa memberanikan diri mencium pipi Keenan.


Keenan tersenyum bahagia saat melihat reaksi istrinya. Wajah yang merona sambil tersenyum malu dan mengalihkan wajahnya ke arah lain, membuat Keenan gemes.


"Kenapa mas duduk di sini?" Salwa bertanya dengan wajah yang masih bersemu merah.


"Apa aku tidak boleh makan? Atau sekedar menemanimu makan pun aku tidak boleh?" Keenan berpura-pura terkejut mendengar pertanyaan istrinya.


"Bu-bukan begitu maksudnya, maksudnya ... emm." Salwa menjadi gugup dan salah tingkah.


Keenan berdiri kemudian mencondongkan tubuhnya ke arah Salwa. Keenan paling suka menggoda istrinya.


"Sudah, tidak perlu dijelaskan. Mas tahu maksudmu berbicara begitu, kamu ingin aku memakanmu, bukan? Aku akan menunggumu." Keenan mengedipkan sebelah matanya pada Salwa kemudian meninggalkan Salwa di meja makan.


Salwa membulatkan mata melihat tingkah suaminya yang sangat suka berbuat usil.


Salwa melanjutkan lagi makan yang tadi sempat tertunda. Selesai makan dan mencuci piringnya, Salwa menyusul suami dan anaknya yang sudah pergi ke kamar sedari tadi.


"Akhirnya dia tidur juga." Salwa bernafas lega saat melihat Angkasa sudah terlelap di atas kasur.

__ADS_1


"Benar kata papa dan mama, Angkasa merindukanmu, Mas." Salwa duduk di teoi kasur sambil melihat wajah damai putranya.


"Hanya Angkasa?" pertanyaan Keenan lagi-lagi membuat pipi Salwa kembali memerah.


Keenan yang baru saja selesai berganti pakaian menghampiri Salwa, lalu berjongkok dengan ujung jari kaki menjadi tumpuannya.


"Apa wajahmu alergi setiap mendengar perkataanku? Aku melihat pipimu memerah setiap kali aku bicara." Keenan tidak berhenti menggoda istrinya.


"Tidak! Aku tidak alergi apapun itu yang mas katakan." Salwa membantah perkataan Keenan.


Keenan berdiri lalu merebahkan tubuhnya di kasur. Sebenarnya tubuhnya terasa sangat lelah dan mengantuk, tapi dia menutupi itu semua dari Salwa.


Salwa memutar tubuhnya dan melihat ke arah Keenan yang sedang tersenyum padanya.


"Seharusnya mas mandi terlebih dahulu, setelah itu baru tidur. Agar saat terbangun nanti tubuh Mas kembali segar." Salwa tahu jika Keenan sedang menahan kantuknya.


Sedikit pun Keenan tidak beranjak dari kasurnya, membuat Salwa merasa kasihan melihatnya. Salwa ikut berbaring di kasur lalu melingkarkan tangannya di atas perut Keenan.


"Ternyata aku benar, kalau mamanya Angkasa juga merindukan papa Angkasa." Dalam keadaan mengantuk dan lelah, Keenan masih sempat menggoda istrinya.


"Sudahlah, jangan bicara lagi. Cepatlah tidur." Salwa mengeratkan pelukannya, lalu memejamkan matanya yang juga sangat mengantuk.


"Baiklah, aku akan menemanimu tidur." Keenan membalas pelukan istrinya kemudian dia pun tertidur.


Karena terlalu lelah, hingga Salwa dan Keenan tidak mendengar Angkasa yang menangis.


Bu Mala langsung berlari menuju kamar anaknya dan mengambil cucunya yang menangis. Bu Mala membawa Angkasa keluar kamar, agar tangisannya tidak mengganggu papa dan mamanya yang sedang tertidur.


"Kasihan Salwa dan Keenan, sepertinya mereka sangat kelelahan." Ucap Bu Mala sambil mencoba menenangkan Angkasa.


"Wajar jika Salwa lelah, dari kemaren dia tidak cukup istirahat. Bahkan papa dengar Angkasa menangis dan rewel semalaman. Pasti Salwa tidak tidur karena Angkasa yang terus minta digendong." Pak Geri memberi penjelasan.


"Bagaimana kalo kita cari babbysitter untuk Angkasa? Biar ada yang menjaganya dan Salwa tidak terlalu capek." Bu Mala meminta pendapat pada suaminya.


"Kita bahas ini nanti saja, kita harus menanyakan ini pada Salwa dan Keenan. Mereka lebih berhak untuk mengambil keputusan." Dan bu Mala pun mengangguk sebagai tanda setuju dengan apa yang dikatakan oleh suaminya.

__ADS_1


Bu Mala duduk di sofa dan meletakkan cucunya yang sudah kembali tertidur. Melihat wajah Angkasa, bu Mala jadi teringat wajah Keenan sewaktu kecil dulu. Mereka bagai pinang di belah dua, sama persis.


__ADS_2