My Pilot My Husband

My Pilot My Husband
Bab 47


__ADS_3


Selamat hari raya idul fitri,


Minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan bathin🙏🙏.


Selamat membaca, maaf jika ceritanya tidak sesuai harapan teman-teman semua.


***


Drttt ... ponsel Keenan berdering, Kyang yang melakukan panggilan padanya.


Keenan menggeser ikon hijau di layar ponselnya, lalu menjawab panggilan dari adik iparnya itu.


"Hallo!" sapa Keenan pada Kyang.


"Kapan kalian kembali?" tanya Kyang dari seberang telepon.


"Aku belum tahu, mungkin setelah Jihan melahirkan." Jawab Keenan. "Apa ada hal penting yang ingin kamu sampaikan?" tanyanya.


Huft ... Terdengar suara helaan nafas dari arah Kyang. "Aku mau minta izin padamu juga Nanang, aku mau Daniel ikut denganku dan Risma." Ungkapnya.


Keenan menoleh pada Nanang yang kebetulan ada di sampingnya.


"Baiklah, kami tidak punya alasan untuk melarangmu. Risma ibunya, dia lebih berhak atas Daniel." Keenan mengatakan itu setelah melihat Nanang mengangguk tanda menyetujui permintaan Kyang.


"Tapi, satu hal ... Meskipun Nanang bukan ayah kandungnya, aku harap kamu masih mengizinkan Nanang dan Jihan untuk menemui Daniel." pinta Keenan.


"Kita adalah orang tua Daniel, kita rawat dan kita besarkan dia bersama-sama. Kapan pun Nanang ingin bertemu Daniel, pintu rumahku terbuka lebar untuknya." Tutur Kyang.


Setelah mendapat keputusan, Kyang mematikan ponselnya.


"Syukurlah, akhirnya Risma bisa mendapatkan suami yang tepat." Ucap Nanang.


"Kamu benar, bahkan Kyang lebih baik dari mantan suami Risma dulu." sindir Keenan sambil masuk ke dalam rumah.


"Hei, apa maksudmu? Jangan bilang aku tidak baik. Aku baik untuk Jihan!" seru Nanang dan Keenan hanya tersenyum saja.


Jihan yang baru keluar dari kamar bingung mendengar suaminya berteriak.


"Kenapa Nanang berteriak menyebut namaku?" tanya Jihan.


"Dia sedang latihan bermain drama," jawab Keenan asal.


Jihan tidak percaya begitu saja, dia berjalan ke teras samping untuk menemui suaminya.

__ADS_1


"Kenapa berteriak sih? Berisik tauk," oceh Jihan.


"Abangmu tu, masa bilang aku bukan suami yang baik." jawab Nanang.


"Benar kah?" tanya Jihan.


"Udah ah, ayo masuk! Sudah malam," ajak Nanang. Meski masih bingung, Jihan menuruti ajakan suaminya.


Keesokan harinya,


Keenan berpamitan pada keluarganya, dia harus kembali beraktivitas, bekerja mengendarai burung besinya.


Setelah Keenan pergi, Salwa ikut ibu berbelanja ke pasar. Angkasa tinggal bersama Jihan, dia sudah tidak bisa pergi-pergi lagi karena sedang menunggu hari lahir anak pertamanya.


Om Panji sudah kembali ke kotanya kemarin sore, setelah mendapat keputusan siapa yang akan menjadi penerus perkebunan.


Karena Keenan dan Jihan menolak, akhirnya dengan terpaksa Luis yang menjadi penerus.


"Ibu senang, akhirnya kalian bisa tinggal bersama ibu di sini, meskipun sebentar lagi kalian akan pulang." tutur ibu sambil berjalan menuju pasar.


"Terlalu jauh jika kami terus di sini bu, kasian Mas Ken kecapekan." kata Salwa.


"Iya, ibu mengerti. Jarak bandara ke sini cukup jauh dan memakan waktu. Bukan itu saja, butuh tenaga ekstra untuk sampai kemari." ujar ibu.


Sesampainya di pasar, ibu dan Salwa langsung membeli barang yang jadi kebutuhan mereka. Setelah dirasa cukup, mereka pun kembali ke rumah.


"Salwa, kamu tetap di rumah. Ibu akan menyusul mereka ke klinik," setelah mengatakan itu, ibu langsung pergi menggunakan motornya.


Salwa menyusun barang belanjaan ke lemari pendingin, sedangkan nenek mengolah sayur dan ikan untuk makan mereka hari ini.


Di sisi lain,


"Kamu tidak ke kantor?" tanya Risma saat melihat Kyang malah sibuk bermain bersama Daniel di halaman belakang rumahnya.


"Aku sengaja libur hari ini, biar Daniel ada teman bermain. Besok aku baru akan pergi bekerja," jawab Kyang.


Risma duduk di bangku panjang yang ada di halaman itu, melihat Daniel yang sedang bermain pasir. Entah apa yang sedang dilakukannya dengan pasir-pasir itu.


Risma sudah melarangnya agar tidak bermain kotor, tapi Kyang mengatakan pada Risma agar mengizinkan Daniel bermain apapun yang dia suka.


"Kita pantau saja dia, selagi permainan itu tidak membahayakan Daniel, biarkan saja. Jika kamu melarangnya, bagaimana dia bisa tahu kalo itu baik atau tidak untuknya." Begitu yang dikatakan Kyang pada Risma.


"Sayang, udah yuk mainnya. Kita mandi, lalu setelah itu kita makan." Ajak Kyang pada Daniel.


"Sebentar lagi, Ayah!" seru Daniel tanpa menoleh.

__ADS_1


"Daniel ... !" Perkataan Risma terpotong karena Kyang menahannya.


"Lima menit lagi ya," seru Kyang dan Daniel pun mengangguk.


Kyang memandang wajah Risma sambil tersenyum, "Beri dia kepercayaan, jangan patahkan semangatnya. Semakin kita larang, dia akan semakin memberontak. Semakin kita kekang, dia akan semakin liar. Memberinya kesempatan bukan berarti membebaskan dia, kita hanya memberinya ruang dan mengajarinya untuk menepati janjinya." tutur Kyang.


Kyang berdiri lalu menoleh ke arah Daniel, " Sudah lima menit!" serunya.


Daniel berdiri sambil menepuk-nepuk bagian tubuhnya yang terkena pasir. Dia berjalan menghampiri Kyang dan Risma.


"Ma, bolehkah Daniel mandi dengan ayah?" tanya Daniel.


"Boleh dong, apa sih yang nggak untuk anak ayah." Kyang menggandeng tangan Daniel hingga ke kamar mandi.


Risma menyiapkan pakaian ayah dan anak tersebut, lalu meletakkannya di aras kursi kecil yang ada di dekat tempat tidur.


Sudah setengah jam berlalu, kedua laki-laki beda usia itu belum juga ke luar dari kamar mandi.


Terdengar suara gelak tawa dari keduanya, entah apa yang sedang mereka lakukan di dalam sana.


Tok


Tok


Tok


Risma menoleh ke arah pintu, dia yakin pasti Khayrani yang mengetuk pintu kamarnya.


Benar saja, Khayrani yang tadi mengetuk pintu. Dia tampak berdiri di depan kamar Risma.


"Kyang mana?" tanya Khayrani.


"Sedang mandi bersama Daniel," jawab Risma sambil menoleh ke arah kamar mandi.


"Ya udah deh, titip pesan sama kakak aja. Aku ada pemotretan di luar kota, dan harus berangkat sekarang juga. Tolong sampaikan padanya jangan mengkhawatirkan aku, aku pergi bersama Oman." Setelah mengatakan itu, Khayrani meninggalkan Risma yang berdiri mematung di pintu kamarnya.


"Tunggu!" Risma mengejar Khayrani yang sudah lebih dulu menuruni anak tangga.


"Ada apa, Kak? Aku sudah terlambat." Khayrani menghentikan langkahnya.


"Siapa Oman?" tanya Risma.


"Kekasihku, calon suamiku, calon adik ipar kalian. Jangan khawatir, Kyang sudah mengenalnya." Tiba-tiba Khayrani memeluk Risma. " Aku bahagia, akhirnya Kyang menemukan wanita yang tepat sebagai pendamping hidupnya. Benar yang dikatakan oleh Kyang, kamu sangat mirip dengan mama." Khayrani melepaskan pelukannya lalu berlari keluar dari rumah.


"Hati-hati!" teriak Risma bersamaan dengan mobil yang ditumpangi oleh Khayrani bergerak pelan meninggalkan rumahnya.

__ADS_1


Khayrani hanya menekan klakson sebagai balasan pesan dari kakak iparnya itu.


__ADS_2