
Keenan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Setelah selesai makan di restoran tadi, Salwa langsung tertidur di bangkunya. Rasa lelah dan pegal terasa di sekujur tubuhnya. Keenan tersenyum bahagia melihat wajah damai istrinya yang sedang berpetualang di dunia mimpi.
Sesampainya di rumah, Keenan tidak tega membangunkan istrinya yang tertidur sangat nyenyak. Dia pun menggendong Salwa hingga ke kamarnya. Setelah itu, dia kembali ke mobil untuk mengambil barang-barang belanjaannya. Segala kebutuhan istri dan calon bayinya, dia beli semua.
"Mang Ateng." Keenan memanggil orang yang selama ini dia percaya untuk menjaga rumah beserta isinya.
"Saya, Mas." Mang Ateng datang dengan tergopoh-gopoh.
"Duduk, Mang." Keenan meminta mang Ateng untuk duduk.
Mereka duduk di ruang keluarga, biar terasa lebih santai dan nyaman.
"Sepertinya ada hal penting yang ingin Mas bicarakan," ujar Mang Ateng.
"Mamang benar, ini sangat penting. Menyangkut keselamatan dan kenyamanan istri dan calon anakku." Keenan menegaskan.
"Memangnya ada apa, Mas?" tanya Mang Ateng.
"Aku mau, besok pagi, kalian bawa Salwa pindah dari rumah ini. Rumah ini sudah tidak aman untuk istri dan anak yang dikandungnya." Jawab Keenan.
"Kenapa begitu?" tanya mang Ateng lagi.
"Zira kembali, dia mengancam akan mengganggu dan menghancurkan pernikahanku dengan Salwa. Aku bisa melawan Zira, tapi tidak dengan Salwa, dia terlalu lemah." Jawab Keenan.
"Baik, Mas. Besok pagi-pagi sekali, kita akan pindah dari sini." Mang Ateng pun pamit undur diri, setelah pembicaraan mereka selesai.
Keenan melangkahkan kakinya menuju lantai dua, lantai dimana kamarnya berada.
"Sayang." Keenan memanggil Salwa, karena dia tidak melihat sang istri di kasurnya.
"Aku di sini," sahut Salwa yang baru keluar dari kamar mandi.
Keenan menghampiri istrinya lalu memeluk wanita itu dengan erat.
"Ada apa,Mas?" tanya Salwa, dia takut terjadi sesuatu pada suaminya.
"Tidak ada apa-apa. Aku pikir kamu pergi meninggalkanku," jawab Keenan.
Keenan melonggarkan pelukannya, lalu memandang wajah Salwa dengan penuh cinta. Meski malu, Salwa membalas pandangan mata suaminya.
Keenan mendekatkan wajahnya ke wajah Salwa, lalu mencium bibir manis istrinya dengan sekilas.
__ADS_1
"Mas." Sebut Salwa, dia takut Keenan melebihi batas.
"Kenapa? Apa kamu takut?" tanya Keenan.
Salwa menunduk, dia tidak tau harus menjawab apa.
"Aku tidak akan melebihi batasanku, walau sebenarnya aku boleh melakukannya." Tutur Keenan sambil tersenyum.
"Ayo kita tidur, karena besok pagi-pagi sekali kita harus pindah." Keenan menggandeng tangan Salwa dari depan kamar mandi hingga kasur.
"Pindah kemana, Mas? Kenapa harus pindah?" tanya Salwa.
"Karena Mas tidak ingin terjadi sesuatu padamu juga anak kita," jawab Keenan.
Salwa terdiam, mencoba mencerna setiap perkataan yang keluar dari mulut suaminya. Setelah menemukan jawabannya, diapun mendongak, menatap wajah tampan suaminya.
Lagi-lagi Keenan menciumnya, kali ini durasinya lebih lama. Salwa diam, tidak membalas ciuman itu. Hingga Salwa kehabisan nafas, barulah Keenan melepaskan sesapannya.
"Lain kali bernafas saat aku menciummu," ujar Keenan sambil mengelap bibir basah Salwa akibat ulahnya.
Wajah Salwa merona seperti tomat matang. Keenan semakin gemes melihat wajah istrinya. Keenan menggendong Salwa dan merebahkannya di kasur.
"Sudah sampai di kasur, tidak perlu digendong." Ujar Salwa dengan nada manja dan bibir yang mengerucut.
"Kalo ada barang yang kurang, katakan. Kita bisa membelinya besok sepulang dari kontrol kehamilanmu." Tutur Keenan.
"Sepertinya, semua yang kita butuhkan sudah cukup. Tinggal nunggu hari persalinannya saja." Kata Salwa.
Keenan mencium puncak kepala istrinya dengan lembut, kemudian mereka pun tidur dengan posisi Keenan memeluk Salwa.
Pagi harinya,
Bi Lilis dan mang Ateng sudah bersiap-siap untuk pindah. Semua barang yang akan mereka bawa, sudah tersusun rapi di mobil. Keenan dan Salwa sudah pergi terlebih dulu. Bukan perkara sulit untuk Keenan membawa istrinya pindah, karena dia punya beberapa rumah kosong yang bisa mereka tempati.
Sesampainya mereka di rumah baru, Keenan meminta Salwa untuk masuk ke dalam kamar. Karena ruangan yang lain masih kotor dan berdebu.
"Tunggu di sini ya, Mas mau pergi beli sarapan dulu." Kata Keenan.
"Apa aku boleh membantu bi Lilis bersih-bersih rumah?" tanya Salwa, tatapan matanya pada Keenan menunjukkan dia sedang memohon.
"Tidak, sayang. Kamu diam, dan duduk manis di kamar ini." Jawab Keenan.
__ADS_1
"Baiklah." Salwa memasang wajah cemberut, lalu duduk di tepi kasur.
"Jangan ngambek dong, ini semua demi kamu dan bayi kita. Kalo kamu ikut bersih-bersih, nanti debu dan kotoran bisa terhirup bersama nafas yang kamu ambil dan itu sangat berbahaya." Keenan menjelaskan.
"Iya, Mas." Salwa patuh.
Keenan mengacak rambut Salwa lalu mencium bibir manis istrinya dengan sekilas.
"Kebiasaan deh, main nyosor aja." Salwa mengelap bibirnya.
"Bibirmu rasanya manis, aku suka." Ujar Keenan, lalu pergi meninggalkan Salwa di kamarnya.
"Semoga kamu akan begini terus selamanya, mas." Gumam Salwa.
Salwa melihat seisi kamar, hanya ada kasur dan lemari saja. Tidak ada sofa dan mejanya, tidak ada TV dan juga tidak ada apa-apa seperti yang ada di kamar lama.
Salwa menarik kopernya dan membawanya ke lemari. Dia membuka lemari itu, ternyata di dalamnya sudah ada beberapa helai baju yang tersusun rapi. Dilihat dari bentuknya, sepertinya itu baju milik Keenan.
Salwa membersihkan rak dalam lemari yang masih kosong, lalu mulai menyusun bajunya di sana. Entah kapan baju-baju miliknya bisa ada di dalam koper dan sudah berada di kamar itu.
"Sudah beres." Seru Salwa dengan wajah berbinar.
Keenan membuka pintu kamar lalu masuk sambil membawa dua bungkus makanan.
"Sarapan dulu yuk, setelah itu mandi dan pergi ke rumah sakit." Ajak Keenan.
Salwa duduk di lantai yang beralaskan karpet tipis. Keenan membuka bungkusan dan mulai menyuapi Salwa.
"Aku bisa makan sendiri." Salwa menolak dengan halus.
"Aku yang ingin menyuapimu." Keenan tetap kekeh, hingga Salwa tidak bisa menolaknya.
"Besok aku kembali bekerja," ujar Keenan disela-sela sarapannya.
"Bukannya seminggu, baru dua hari mas di rumah." Protes Salwa dan dia tidak menyadari itu.
"Awalnya memang seminggu. Tapi, mengingat kembali bahwa sebentar lagi kamu akan melahirkan, mas memutuskan untuk kembali bekerja besok dan bisa mengambil cuti saat kamu melahirkan nanti, lagipula tahun ini mas belum mengambil cuti sama sekali. Jadi, mas bisa menemani kamu saat kamu berada dalam masa nifas." Keenan menjelaskan.
"Emangnya bisa, Mas?" tanya Salwa.
"Bisa dong. Apalagi mas sudah bekerja cukup lama," jawab Keenan.
__ADS_1
Mereka melanjutkan lagi sarapannya, baru setelah itu bersiap-siap untuk pergi cek kehamilan ke rumah sakit. Salwa tidak tahu jika suaminya sedang mengajukan surat pindah tugas.