My Pilot My Husband

My Pilot My Husband
Bab 25


__ADS_3

Mobil ke luar jauh dari pusat kota menuju ke sebuah perkampungan. Sesampainya di tempat tujuan bi Eli mengajak Salwa masuk ke sebuah rumah.


"Ini rumah siapa bik?" tanya Salwa.


"Rumah ini sudah lama ada, sejak ayahmu masih lajang. Ini rumah pertama yang dibeli oleh ayahmu sebelum ayah menikah dan pindah ke kampung ibumu." Jawab bi Eli sambil membawa koper milik mereka.


Salwa duduk di kursi sambil menggendong Angkasa yang sedang terlelap. Suasana kampung sangat sepi, karena saat sampai di kampung ini, hari sudah malam.


"Tidurlah di kamarmu, besok baru kita lapor ke pak RT." Bi Eli membuka sebuah pintu dan menyuruh Salwa untuk masuk.


Salwa menggendong Angkasa dan membawanya ke dalam kamar. Kamar sudah bersih dan rapi, sebelumnya bi Eli sudah meminta orang untuk membersihkan rumah ini.


"Jika kamu butuh sesuatu, bibi ada di kamar sebelah." Bi Eli menutup pintu kamar Salwa lalu masuk ke kamar lain yang ada di rumah itu.


Bi Eli duduk bersandar di kasurnya, raut kesedihan tergambar di wajahnya. Bi Eli masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Bu Mala sewaktu mereka di sekap.


Di kamar tempat disekapnya keluarga Haryanto malam itu,


"Wanita ini datang kemari untuk menjadi pembantu, lalu dia hamil dan Keenan menikahinya agar anak yang di dalam perutnya punya ayah saat lahir. Dia bukan siapa-siapa di keluarga Haryanto, dia nggak berarti sama sekali. Kalo kalian mau, bawa saja dia dan lepaskan aku." Tutur Bu Mala pada para penjahat yang menyekap mereka.


"Mama! Dia ini menantu kita, istrinya Keenan." Pak Geri angkat suara.


"Istri seperti apa yang selalu menimbulkan masalah, Pa? Kita menyayanginya, Keenan mencintainya. Tapi apa? Masalah terus saja datang. Semenjak Salwa muncul, kita jadi tidak tenang. Kita bertengkar, kita berdebat dan hubungan kita sama Risma juga renggang. Ini semua karena Salwa, Pa!"


"Bu, apa maksud ibu berkata begitu. Ini semua bukan salah Salwa." Bi Eli membela keponakannya.


"Aku tahu Pa, aku sudah salah membawa Risma masuk ke keluarga kita, aku sudah membuat Keenan terpisah dari Jihan. Tapi, sebelumnya Risma tidak pernah bertindak bodoh seperti ini. Semenjak ada Salwa dia berubah jadi brutal dan berbuat nekat."


"Cukup, Ma. Salwa ngerti, Salwa tahu apa yang Mama maksud. Salwa juga tahu kalo Risma hanya anak angkat di rumah ini. Mama membawa masuk Risma dan membuang Jihan. Dari awal Mama sudah mengatur semuanya dan ingin menikahkan Risma dengan Keenan 'kan? ." Penuturan Salwa membuat Bu Mala dan Pak Geri terkejut. Keenan tahu jika Risma bukan adik kandungnya, tapi Keenan tidak pernah tahu rencana bu Mala.


"Apa benar semua yang dikatakan oleh Salwa, Ma?" tanya Pak Geri.


"Enggak! Semua itu tidak benar Pa. Semua yang dikatakan oleh Salwa itu bohong. Dia pandai bersandiwara. Papa bisa lihat sekarang, dia itu seperti apa. Dia pandai berbicara dan membuat kita saling menyalahkan satu sama lain."

__ADS_1


Perkataan Bu Mala terputus karena anak buah Keenan masuk untuk menyelamatkan mereka.


"Pergi kamu dari Keenan dan kehidupan kami. Jika kamu ingin hidupmu dan anakmu selamat. " Bisik bu Mala saat melewati Salwa.


Huft ... Bi Eli menghembuskan nafasnya dengan berat.


"Sekian lama aku bekerja di keluarga itu, baru kali ini aku melihat bu Mala berkata kasar dan menyakitkan." Bi Eli bergumam lirih.


"Apa bibi juga mau menyalahkan aku?" Salwa masuk ke kamar bi Eli yang pintunya terbuka.


"Salwa, kenapa belum tidur?" bi Eli balik bertanya.


"Bibi belum jawab pertanyaan aku," ujar Salwa.


"Bibi tidak pernah menyalahkan kamu. Bibi cuma heran kenapa bu Mala bisa tiba-tiba berubah seperti itu." Jawab bi Eli dengan lembut.


"Mungkin ada yang mempengaruhinya bi, atau mungkin bu Mala takut kalau Salwa menguasai Mas Keenan." Salwa menerka-nerka perubahan sikap yang terjadi pada ibu mertuanya.


"Mungkin saja begitu," ucap Bi Eli.


Sesampainya di kamar, Salwa mengganti kartu ponselnya dengan kartu yang baru. Hanya nomor ponsel milik Keenan, Yono, dan Dini yang dia simpan di ponselnya.


Di tempat lain,


Keenan masih berada di bandara, mengecek nama para penumpang yang hendak pergi ke luar kota bahkan ke luar negeri.


"Tidak ada penumpang yang bernama Salwa dan Angkasa, Pak." Tutur pegawai Bandara.


"Ke mana kalian pergi," gumam Keenan.


Keenan sudah mengerahkan seluruh anak buah yang dia punya, mencari ke setiap terminal. Tapi, hasilnya nihil, tidak ada penumpang yang bernama Salwa.


"Kenapa tidak kamu cek saja CCTV yang ada di rumahmu, kita bisa tanyakan pada supir travel ke mana dia mengantarkan Salwa." Nanang memberi saran.

__ADS_1


"Kamu benar. Ayo!" Keenan mengajak Nanang dan juga orang suruhannya untuk ikut ke rumahnya.


Setelah sampai di rumah Keenan, mereka langsung menuju ruang monitor.


"Cari mobil dengan plat tersebut!" Perintah Keenan sambil menunjuk ke arah layar yang sedang memutar ulang kejadian saat Salwa pergi.


"Baik, Bos!" Seluruh anak buah Keenan pun langsung pergi untuk menjalankan perintah.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Nanang.


"Aku belum tahu pasti, tapi sepertinya ini semua ada hubungannya dengan Mama." Jawab Keenan.


"Pasti perkataan Mama menyinggung dan menyakiti hati Salwa," ujar Nanang.


"Aku rasa tidak. Salwa bukan tipe orang yang mudah tetsinggung. Pasti mama yang menyuruhnya pergi." Tutur Keenan.


"Kamu ingat tidak, waktu Risma bercerita tentang Zira pada Salwa, istrimu itu langsung tersinggung dan menjaga jarak denganmu. Aku rasa ini hanya salah paham." Nanang mencoba untuk tetap berpikir positif.


"Jika benar begitu, kenapa bi Eli juga pergi? Seharusnya dia bisa membujuk Salwa untuk tetap tinggal." Perkataan Keenan membuat Nanang bungkam seribu bahasa.


"Aku pergi dulu. Nanti aku akan coba untuk mencari tahu. Bersabarlah!" Nanang menepuk bahu abang iparnya, lalu pergi.


Keenan keluar dari ruang monitor, lalu pergi ke dapur untuk mencari bi Lilis.


"Apa mas Keenan mau makan?" Bi Lilis bertanya saat melihat Keenan ada di dapur.


"Nggak bik, Keenan masih kenyang." Jawab Keenan.


"Bik, apa bi Eli mengatakan sesuatu sebelum pergi?" tanya Keenan.


"Tidak. Bi Eli tidak mengatakan apapun. Dia hanya berpamitan dan meminta maaf saja." jawab bi Lilis.


Setelah mendengar jawaban bi Lilis, Keenan pun pergi ke kamarnya. Dia merebahkan tubuhnya yang terasa lelah. Bukan lelah karena bekerja, tapi lelah memikirkan apa yang sedang terjadi pada keluarganya.

__ADS_1


"Sebenarnya apa yang Mama katakan, hingga Salwa meminta pisah. Salwa tidak mungkin melakukan itu hanya karena dia tersinggung oleh ucapan mama. Aku tahu Salwa seperti apa, tapi aku juga sangat mengenal Mama." Keenan pun dilema. Karena terlalu lelah dan mengantuk akhirnya dia pun tertidur.


__ADS_2