My Pilot My Husband

My Pilot My Husband
Bab 35


__ADS_3

Malam harinya, Keenan beserta keluarganya pergi untuk makan malam. Seperti yang dikatakannya pada bik Lilis tadi siang, dia akan mengajak mereka untuk makan malam di luar.


Langit cerah malam ini, rembulan dengan cantiknya memancarkan sinar terang, sang bintang pun ikut menghiasi langit malam. Lampu-lampu jalanan kota, berderet berwarna-warni, menambah keindahan malam ini.


Di restoran,


Keenan sengaja mengambil tempat duduk lesehan di taman belakang, agar Angkasa yang sedang aktiv bisa bermain dan berjalan dengan bebas. Lampu kerlap-kerlip memantul ke kolam yang berada tidak jauh dari tempat mereka duduk.


Keenan memesan banyak makanan, agar lidah Salwa, bi Lilis dan mang Ateng termanjakan malam ini. Mereka langsung menyantap makanan yang ada di hadapan mereka.


Selesai makan, Bi Lilis dan mang Ateng lebih memilih bermain bersama Angkasa, berkejar-kejaran dengan bocah yang baru belajar berjalan itu. Bocah yang sangat aktif dan tidak mau diam, kecuali sedang tidur.


"Lihatlah mereka, begitu sangat berbahagia sekali bermain bersama Angkasa." Ujar Keenan sambil menunjuk ke arah mang Ateng dan bi Lilis, Keenan duduk bersandar lalu merangkul bahu Salwa.


Salwa hanya menoleh sekilas sambil tersenyum pada Keenan, kemudian kembali memperhatikan putranya yang sedang bermain.


"Sedari tadi kamu diam saja, apa kamu sakit?" tanya Keenan.


"Aku baik-baik saja, mas." Jawab Salwa.


"Apa kamu yakin?" tanya Keenan lagi. Sedari tadi wajah Salwa terlihat murung tak berseri.


"Aku yakin, aku hanya merasa sedikit pusing." Jawab Salwa.


Keenan menarik bahu Salwa hingga tubuh sang istri bersandar di dadanya.


"Mungkin kamu terlalu capek, apalagi Angkasa begitu aktif. Apa perlu aku carikan babysitter khusus agar kamu bisa punya banyak waktu untuk istirahat," ujar Keenan yang langsung memijat kepala Salwa dengan lembut.


Salwa menikmati pijatan tangan suaminya, dia memejamkan matanya sejenak. Pusing di kepalanya pun sedikit berkurang.


"Mama pusing, jangan-jangan adiknya Angkasa mulai mendekam di perut Mama. " Kata Keenan dengan lembut dan wajahnya terlihat sangat bahagia.


"Apa iya? Kok nggak mual sama sekali." Kata Salwa.


Keenan menghentikan pijatannya, "Kan tidak semua bayi punya ciri yang sama. Setiap kehamilan punya bawaan beda-beda. Ada yang mual ada juga yang tidak. Terkadang antara anak pertama dan berikutnya membawa ciri khasnya sendiri." Tuturnya.

__ADS_1


"Angkasa masih terlalu kecil untuk punya adik, Mas. Berjalan saja dia belum begitu lancar, lagi pula aku belum puas memanjakannya." Ujar Salwa.


Terlihat Mang Ateng menggendong Angkasa menuju ke arah Salwa dan Keenan, bi Lilis mengikuti dari belakang.


"Sudah puas mainnya? Kita pulang ya, ini sudah malam." Ajak Keenan sambil mengambil Angkasa dari mang Ateng.


Mereka pun pulang dalam keadaan perut kenyang dan hati senang.


"Mas, ponselnya bunyi tu." Kata Salwa pada Keenan, sejak tadi ponselnya berdering tapi Keenan tidak juga menjawab panggilan di ponselnya.


"Biarin aja, nggak penting." Keenan terlihat cuek dan tetap bermain dengan Angkasa.


"Sebenarnya siapa yang menelpon mas Keenan? Tidak biasanya mas Keenan mengabaikan panggilan di ponselnya," monolog Salwa dalam hati.


Mang Ateng memarkirkan mobil di depan pintu masuk.


"Bawa Angkasa masuk ya," pinta Keenan lalu ke luar dari mobil. Menjawab panggilan di ponselnya dan berjalan menjauh dari rumah.


Salwa membawa Angkasa masuk ke rumah dan langsung menuju ke kamarnya. Dari balkon kamarnya Salwa bisa melihat Keenan yang sedang berbicara di telpon, raut wajah Keenan terlihat sangat bahagia dan sesekali dia tertawa.


Salwa menaruh curiga, jangan-jangan Keenan punya wanita simpanan. Kecurigaannya bertambah saat Keenan mencium layar ponselnya.


Pintu kamar terbuka, Keenan masuk dan menghampiri Salwa. Dia memeluk istrinya dari belakang, lalu mencium puncak kepala ibu beranak satu tersebut.


"Besok pagi, mas sudah kembali bertugas. Mungkin seminggu baru pulang. Kamu dan Angkasa, baik-baik di rumah ya." Tutur Keenan yang menopangkan dagunya di bahu Salwa.


"Iya, Mas." Sahut Salwa singkat.


Keenan memutar tubuh istrinya dan menatapnya dengan tajam. " Kenapa murung lagi? Apa kepalamu sakit?" tanyanya.


"Kepalaku sudah baikan," jawab Salwa.


Salwa masuk ke kamarnya dan langsung naik ke atas kasur. Direbahkannya tubuh itu di samping Angkasa, kemudian matanya pun dipejamkan.


"Kok Angkasa tidur di sini, Ma? Apa dia sakit?" tanya Keenan yang langsung berinisiatif memegang kening Angkasa.

__ADS_1


Keenan memindahkan Angkasa ke kasurnya, setelah itu barulah dia berbaring di samping Salwa.


Esok harinya,


Keenan berpamitan pada Salwa dan Angkasa. Keenan mencium kening anak dan istrinya kemudian masuk ke dalam mobil.


"Papa pergi dulu ya, Nak." Pamit Keenan dari kaca mobil yang terbuka.


"Hati-hati Papa," ucap Salwa sambil memegang tangan Angkasa dan melambaikannya ke arah Keenan.


Mang Ateng segera mengemudikan mobilnya dengan perlahan ke luar dari area rumah Keenan, sesampainya di jalan barulah mang Ateng menancap gasnya menuju Bandara.


"Mang, mungkin minggu ini aku tidak pulang. Tolong perketat penjagaan." Pinta Keenan saat mereka tiba di bandara.


"Baik, Mas." Kata mang Ateng.


Keenan berjalan memasuki Bandara, kemudian menghilang diantata banyaknya pengunjung tempat itu.


Di sisi lain,


"Apa Keenan jadi datang, sayang?" tanya wanita tua pada seorang wanita cantik yang sedang duduk sambil merajut.


"Tentu saja dia akan datang, Bu. Dia begitu menyayangiku." Jawab wanita itu.


Wanita yang dipanggil ibu itu lalu duduk di samping putrinya. Dia merasa kasihan dengan anak semata wayangnya itu.


"Kamu yakin, Keenan bisa menutupi tentang kamu dari istrinya?" tanya Ibu.


"Keenan berjanji padaku akan memperkenalkanku pada istrinya. Untuk saat ini, Keenan belum berani berterus terang, karena menurut Keenan istrinya sering lelah dan capek. Kemungkinan Salwa sedang hamil anak Kedua Keenan," jawab wanita itu.


Ibu berdiri lalu memandang ke atas, melihat pesawat yang sedang melintas di kumpulan awan yang putih.


"Ayahmu dulu seorang pilot, aku mempercayainya, aku percaya dia setia. Hingga akhirnya aku tahu, ternyata dia berselingkuh dengan wanita pelayan restoran yang ada di bandara. Hatiku hancur saat itu, aku marah, tapi tidak ada yang peduli. Ayahmu lebih memilih wanita itu dari pada ibu dan kamu. Waktu itu kamu baru berusia sekitar tiga tahun. Ayah menceraikan ibu dengan alasan ibulah yang selingkuh. Alasan itu dia pakai agar gugatan cerainya diterima." Ibu terkenang akan kisah masa lalunya.


"Ibu takut jika Keenan akan seperti itu?" tanya sang anak.

__ADS_1


"Entahlah, ibu hanya khawatir." jawab ibu.


"Keenan laki-laki setia, Bu. Percayalah padaku! Nyatanya, hingga sekarang cintanya padaku tidak pernah terbagi," ujar wanita itu sambil terus merajut.


__ADS_2