
"Kalau memang Risma anak kandung mama, kenapa kak Ken bilang kalo aku bukan adiknya?" Risma masih bingung.
"Karena Mama hanya ibu tiri untuk kakakmu." Pengakuan bu Mala cukup mengejutkan bagi Risma.
Bu Mala mulai meneteskan air mata saat melihat Risma terkejut mendengar pengakuan darinya. Dia mencoba mendekati putrinya itu dan memeluknya dalam tangis.
"Maafkan Mama, Nak. Ini semua salah Mama." Ucap bu Mala.
"Kalo Risma adalah anak tiri, di mana dan siapa papa kandung Risma?" tanya Risma, rasa ingin tahunya semakin besar.
"Mama tidak tahu," jawab bu Mala.
"Mama menikah dengan papanya Keenan saat kamu masih kecil, beberapa tahun setelah mama kandung dan papa Keenan bercerai. Saat mereka bercerai, ibu Keenan sedang hamil. Tapi, mama nggak tau adik Keenan laki-laki atau perempuan. Yang mama tahu, Keenan memperkenalkan Jihan sebagai adiknya." Bu Mala mulai bercerita.
"Kekayaan yang kita nikmati, bukan milik papa Geri, melainkan milik Keenan. Semua harta yang ada saat ini itu semua berkat Keenan, harta dari ibu kandungnya." Tutur Bu Mala.
"Apa mama tahu di mana adik perempuan dan ibu kandung Keenan berada saat ini?" tanya Risma.
"Adik Keenan bekerja sebagai sekretaris di kantor tempat Nanang dan soal ibu kandungnya, Mama tidak tahu." Jawab bu Mala.
"Jihan selingkuhan Mas Nanang, adik kandung Kak Ken?" Risma terkejut mendengar jawaban bu Mala.
"Bukan Jihan, tapi kamu yang menjadi orang ketiga. Kamu ingat, Nanang menikahi kamu hanya karena untuk menutupi aib keluarga ini. Kamu hamil tanpa suami, membuat semua rencana mama gagal." Bu Mala terlihat kesal.
"Rencana gagal? maksud mama?" tanya Risma.
"Mama berencana menjebak Keenan, lalu menikahkanmu dengannya. Tapi, kamu malah menghancurkan rencana mama dan bermain gila dengan kekasihmu itu. Kamu yang seharusnya menjadi Ratu, sekarang malah jadi keset kaki dan kotoran." Bu Mala beranjak dari duduknya lalu memandang wajah Risma dengan tajam.
"Pergi kamu dari sini! Jangan sampai kehadiranmu di sini membahayakan posisi mama." Bu Mala pun masuk ke kamar, meninggalkan Risma yang masih berada di ruang tamu.
Risma menghampiri kamar bu Mala dan langsung menggedor pintunya. Dia ingin tahu, di mana Ayah kandungnya.
"Ma, buka pintunya. Risma harus ke mana Ma, aku sudah nggak punya apa-apa. Aku nggak punya uang dan tempat tinggal. Tolong Risma, Ma. Risma mohon!" Risma memelas di depan kamar bu Mala.
Pintu kamar terbuka,
Bu Mala berdiri di depan pintu sambil menatap wajah Risma. Tidak ada tatapan iba atau pun belas kasih, yang ada hanya raut marah dan emosi yang terpencar dari mata bu Mala.
__ADS_1
"Ambil uang ini dan pergi jauh dari sini." Bu Mala mengusir anak perempuan satu-satunya.
Risma menggelengkan kepalanya, tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Ibu kandungnya tega mengusir anak sendiri, hanya karena takut posisinya terancam.
"Ayah kandung Risma di mana, Ma?" Dengan suara bergetar Risma menanyakan soal keberadaan ayahnya.
"Mama tidak tahu," jawab bu Mala dengan ketus.
"Aku yakin, Mama pasti tahu. Mama bohong sama Risma." Dia tetap kekeh.
"Aku tidak tahu siapa ayah kandung kamu, Risma. Mama nggak tahu," jawab bu Mala dengan lirih.
"Apa maksud mama?" tanya Risma.
"Mama dulu wanita pekerja malam, tidak cuma satu laki-laki yang tidur sama Mama. Jadi, mama tidak tahu siapa ayah kandung kamu." Jawab bu Mala.
"Mama mohon, pergilah. Mama tidak mau jadi gelandangan lagi, sudah cukup dulu kamu membuatku menderita." Bu Mala menutup pintu kamarnya lalu menangis sambil bersandar di pintu.
Risma terpaksa ke luar dari rumah itu, rumah yang pernah menjadi tempat ternyaman untuknya.
Di tempat lain,
Keenan benar-benar membuktikan perkataannya. Dalam waktu sekejap, Sinar Cemerlang pun bangkrut. Seluruh perusahaan yang ikut andil dalam naungan Sinar Cemerlang dibuat tumbang oleh Keenan.
"Nak, papa mohon, jangan tarik saham dari perusahaan papa. Itu milik papa satu-satunya." Pak Geri sedang berada di kantor milik Keenan.
"Bawa kembali istri dan anakku, maka semua akan kembali seperti semula." Balas Keenan dengan nada dingin.
"Papa tidak tahu Salwa dan Angkasa pergi ke mana. Yang mengusir Istri dan anakmu adalah mama bukan papa." Tutur Pak Geri.
"Dia bukan mamaku, karena sampai kapan pun mamaku tetap mama Aurel. Tidak ada satupun yang bisa menggantikan mama di hati Keenan."
"Apa kamu lupa, siapa yang sudah merawat dan membesarkanmu, Keenan? Mala yang sudah merawatmu." Ujar Pak Geri.
"Bibi yang merawatku, bahkan ketika aku sakit dan sekarat sekali pun. Istri papa tidak pernah peduli padaku, yang dia mau hanya uangku saja. Sudah cukup aku menderita selama ini, Pa. Aku tidak ingin merasakannya lagi." Keenan pun pergi dari ruangan itu, meninggalkan banyak penyesalan di hati pak Geri.
"Kakak!" Seorang perempuan cantik datang menghampiri Keenan dan langsung memeluknya.
__ADS_1
"Kapan kamu kembali?" tanya Keenan pada Jihan.
"Aku baru saja mendarat dan langsung ke sini," jawab Jihan.
Keenan merangkul pundak Jihan dan mengajaknya ke parkiran. Semua mata membelalak melihat kemesraan Keenan dan Jihan. Tidak satu pun dari mereka yang tahu, jika Jihan adalah adik kandung Keenan. Mereka hanya tahu jika Jihan adalah simpanan Nanang.
"Bagaimana kabar Mama, apa malaikatku itu baik-baik saja?" tanya Keenan.
"Dia sedang sakit," jawab Jihan.
Keenan terkejut dan terlihat sangat khawatir. Dia tidak bisa mendengar ibunya sakit.
"Sakit apa? Apakah penyakitnya parah?" tanya Keenan.
"Dia sakit malarindu," jawab Jihan sambil tertawa karena berhasil menjahili kakaknya.
"Kau!" Keenan pun mengelitik Jihan hingga adiknya kegelian dan minta ampun.
"Mama meminta kakak untuk membawa kak Salwa dan Angkasa. Dia ingin bertemu dengan istri dan anak kakak." Mendadak wajah Keenan berubah murung.
Jihan yang belum mendengar kejadian malam itu, menjadi bingung melihat perubahan wajah kakaknya.
"Ada apa kak?" tanya Jihan.
"Mala mengusir Salwa dan Angkasa," jawab Keenan lirih.
Keenan pun menceritakan tentang malam kejadian pada Jihan, dia menceritakan semua yang dia ketahui.
Jihan mengepalkan kedua tangannya. Dia bisa diam saat Mala meminta Nanang untuk menikahi Risma, tapi kali ini dia tidak akan membiarkan Mala melakukan hal yang sama pada kakaknya.
"Aku akan menemui Mala,"ujar Jihan.
"Untuk apa? Jangan buang-buang tenaga untuk hal yang tidak penting. Kita tunggu saja kabar beritanya, berapa lama Papa sanggup berada dalam kemiskinan, berapa lama wanita itu sanggup bertahan dalam penderitaan." Keenan memandang wajah Jihan sambil tersenyum sinis.
"Aku yakin dia tidak akan mampu." Jihan pun menyeringai.
Mungkin tidak ada yang tahu seperti apa sifat asli Jihan, tapi sebagai kakak, Keenan sangat mengenal watak adiknya itu. Bahkan Jihan bisa melakukan apa yang tidak bisa dilakukan oleh Keenan.
__ADS_1