
Hubungan Keenan dan Salwa semakin hari semakin erat saja. Mereka tidak peduli dengan tanggapan orang terhadap keluarganya. Keenan berhasil meyakinkan Salwa, jika dia serius membina rumah tangga dan semua yang dikatakan oleh Risma hanyalah bohong belaka.
Setelah Salwa melewati masa nifasnya, Keenan kembali mengucapkan janji sucinya di hadapan kedua orang tuanya dan beberapa orang saksi.
Semua nampak bahagia, kecuali Risma. Walaupun dia terlihat tertawa dan tersenyum manis, itu hanyalah sandiwara.
"Ken, kita sudah pernah berjanji untuk tidak mengungkitnya." Bu Mala memohon pada Keenan setelah semua tamu sudah pulang.
"Kalau begitu, tolong mama ingatkan putri kesayangan mama itu untuk menjauh dan tidak mengusik ketenangan keluargaku. Jika dia tetap bersikeras, jangan salahkan aku jika memberinya sedikit pelajaran." Tutur Keenan dengan tegas.
"Bagaimana pun dia tetap adikmu, Ken. Jangan terlalu keras padanya." Bu Mala mengingatkan.
"Bukan aku yang terlalu keras, tapi mama yang terlalu lembek dan terlalu memanjakannya." Bu Mala pun terdiam mendengar perkataan Keenan.
"Sudah malam, ayo kita pulang. Keenan butuh istirahat." Pak Geri melerai percekcokan antara istri dan anaknya.
"Ingat, Ma. Semua yang dinikmati oleh Risma adalah milikku. Aku bisa mengambilnya kapan saja, termasuk mendepak suaminya keluar dari perusahaan." Keenan berdiri lalu berjalan menuju kamarnya, meninggalkan papa dan mamanya di ruang keluarga.
"Pa ..."
"Ayo pulang, hati Keenan sedang tidak baik. Jangan mengajaknya berdebat, atau semua bisa berantakan." Pak Geri memotong perkataan istrinya.
Mereka pun memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Sepanjang perjalanan, bu Mala dilanda gelisah.
"Kenapa? Kamu takut Keenan benar-benar mencabut fasilitas yang ada pada Risma?" tanya Pak Geri.
"Bukan itu, Pa. Wajar jika Keenan mengambilnya, karena Risma sudah menikah dan semua kebutuhan Risma menjadi tanggung jawab suaminya. Yang bikin mama gelisah, jika Keenan benar-benar mencabut fasilitas yang ada pada Risma, anak itu akan semakin membenci Salwa, pasti dia berpikir bahwa Salwa lah penyebab semua itu." Bu Mala pun mengungkapkan kegelisahannya.
"Keenan tidak sebodoh itu." pak Geri yakin Keenan pasti punya rencana lain.
Selain seorang pilot, Keenan juga merupakan seorang pengusaha. Dia punya beberapa usaha kecil yang dijalankan oleh beberapa orang kepercayaannya termasuk yang dipegang oleh suami Risma saat ini.
Di sisi lain,
Risma sedang berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya. Entah apa yang membuatnya sangat gelisah.
"Kamu kenapa?" tanya Nanang, suami Risma.
"Nggak kenapa-kenapa," jawab Risma sekenanya.
__ADS_1
Nanang mengerutkan keningnya, bingung melihat tingkah istrinya.
"Jangan bilang kamu bikin ulah lagi dan bikin kak Ken marah." Nanang tahu betul seperti apa sifat istrinya itu.
"Kamu bisa diem nggak sih, Mas. Jangan bikin aku makin pusing." Risma tidak sadar jika dia sudah membentak suaminya.
"Risma Risma, dari dulu gak pernah berubah. Selalu bikin masalah." Nanang mengambil jaket di lemari lalu keluar dari kamar.
"Mau kemana kamu, Mas?" Risma mengejar Nanang hingga ke dekat mobil.
"Kamu pikir aja sendiri, aku mau ke mana. Suami mana yang betah di rumah, jika istri selalu uring-uringan dan berkata kasar." Nanang membuka pintu mobilnya tapi ditahan oleh Risma.
"Jangan macam-macam kamu, Mas. Aku bisa melaporkanmu pada kak Keenan." Risma mengancam Nanang.
"Kamu pikir aku takut, hah. Dan apa kamu yakin Keenan akan membelamu setelah apa yang kamu lakukan pada istrinya. Sadar Risma, kamu bukan siapa-siapa." Nanang langsung menutup mulutnya agar tidak terlalu jauh berbicara.
"Apa maksud kamu, Mas?" tanya Risma.
"Ah sudahlah, awas." Nanang menyingkirkan Risma dari mobilnya.
Nanang mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju tempat favoritnya. Tempat dia bisa menenangkan hati dan menghilangkan rasa lelah di tubuhnya.
Keenan duduk di ruang kerjanya, ruang yang Salwa tidak pernah tau itu ada.
Keenan termenung sambil menatap foto pernikahannya dengan Salwa. Senyum manis terpahat di bibirnya saat dia teringat wajah malu-malu Salwa sore tadi. Keenan kembali melamarnya sesaat sebelum ijab kabul dimulai.
"Kini kamu sudah jadi milikku seutuhnya, aku berjanji akan selalu menjagamu. Aku tidak akan membiarkan orang menyakitimu, bahkan jika itu keluargaku sendiri." Keenan bermonolog.
Suara detak jarum jam semakin jelas terdengar, suasana malam terasa sangat hening dan sunyi. Keenan keluar dari ruang kerjanya saat mendengar suara tangisan dari arah kamarnya.
"Angkasa kenapa?" tanya Keenan setelah sampai ke kamarnya. Salwa sedang berdiri sambil mengayun Angkasa dalam pelukannya.
"Mungkin dia bermimpi buruk, karena tiba-tiba saja dia menangis dengan keras. Aku sudah memberinya susu, tapi dia tidak mau." Wajah Salwa terlihat sangat lesu karena mengantuk.
"Sini, biar mas yang gendong. Kamu tidur saja," ujar Keenan.
Keenan mengambil Angkasa lalu menggendongnya. Dengan lembut dia mengusap punggung anaknya itu hingga kembali tertidur.
"Letakkan lagi di kasurnya, Mas. Dia sudah tertidur." Salwa berbicara sangat pelan agar tidak membangunkan Angkasa.
__ADS_1
"Tidurnya belum nyenyak, kalo kamu ngantuk tidurlah lebih dulu. Angkasa biar mas yang jaga." Salwa benar-benar lelah dan mengantuk, diapun menuruti perkataan Keenan.
Keenan membawa Angkasa keluar dari kamar. Keenan duduk di ruang keluarga lalu menyalakan TV dengan suara pelan.
Keenan meletakan Angkasa di sofa, tangannya terasa pegal karena menggendong terlalu lama.
Pagi harinya,
"Mas," Salwa mencari Keenan dan Angkasa, karena saat terbangun dari tidur kedua orang itu tidak ada di kamarnya.
"Mereka di ruang TV, masih tidur." Perkataan bi Lilis membuat Salwa kaget.
"Mas Keenan gak kerja, bik?" Salwa buru-buru ke ruang TV, dan benar saja suami dan anaknya ada di sana.
Sungguh pemandangan yang sangat indah. Keenan tertidur dalam posisi duduk sambil memangku Angkasa.
Salwa memandangi wajah Keenan yang terlihat sangat tampan saat tidur.
"Apa kami baru sadar, kalo aku sangat tampan." Salwa seperti orang yang ketahuan mencuri, dia terlihat gugup dan salah tingkah karena tiba-tiba Keenan terbangun.
"Mas tidak kerja?" Salwa bertanya untuk menutupi kegugupannya.
"Apa kamu lupa, kita baru saja menikah dan aku libur hari ini." Keenan menggoda Salwa.
"Benarkah? Aku lupa." Salwa berkilah.
"Kamu lupa kalau sudah menikah?"
"Bu-bukan itu maksudnya, Mas. Aku lupa kalo hari ini hari libur." Salwa gagap.
"Aku akan membantumu untuk mengingatnya." Bisik Keenan membuat bulu segala bulu milik Salwa merinding.
Tanpa permisi dan mengucap salam, Keenan langsung menyesap bibir Salwa dengan lembut. Salwa ingin menghindar, tapi tidak bisa. Keenan menahan kepalanya dan tidak memberi celah sedikit pun pada Salwa.
Angkasa tidak terganggu oleh kegiatan orang tuanya. Dia seolah tahu jika papa dan mamanya saling memendam rasa rindu yang mendalam.
Keenan melepaskan sesapannya saat Salwa hampir kehabisan nafas. Dengan ibu jari tangannya, dia mengelap bibir basah Salwa karena ulah perbuatannya.
"I love you." Ucapan Keenan semakin membuat wajah Salwa merona malu dan Keenan sangat menyukai itu.
__ADS_1