
Beberapa bulan kemudian,
Pak Geri sudah aktif lagi bekerja di kantor, karena Keenan sudah mengembalikan semua seperti semula. Semua yang terjadi waktu itu hanya siasat untuk menyingkirkan bu Mala dan Risma.
Keenan juga sudah bekerja seperti biasa, dan tetap melanjutkan pencarian. Sesekali Keenan mendatangi kampung Salwa, berharap Salwa pulang ke kampungnya. Walau berulang kali hasilnya sangat mengecewakan.
Sudah memuat di beberapa surat kabar bahkan berita di layar kaca, tapi pencarian belum juga menemukan titik terang. Salwa dan Angkasa menghilang bagai di telan bumi.
"Selamat ulang tahun, Angkasa. Selamat bertambah usia anakku. Semoga Tuhan selalu melindungi kalian, di mana pun kalian berada. Papa sangat merindukanmu juga mamamu, Nak." Gumam Keenan saat melihat langit di atasnya.
Yah, tepat hari ini Angkasa berulang tahun untuk yang pertama. Keenan hanya bisa mengucapkan selamat dan doa untuk anaknya lewat angin yang berhembus.
"Apa keberadaan Salwa belum juga diketahui, Mas?" tanya mang Ateng sambil menyuguhkan kopi untuk Keenan.
"Belum, Mang. Segala usaha sudah aku lakukan, tapi hasilnya tetap sama, nihil." Jawab Keenan, lalu menyesap kopinya secara perlahan.
"Apa mas Keenan sudah mencari data Salwa di dinas kependudukan? Biasanya di sana kita bisa mencari data seseorang." Keenan menoleh kaget mendengar perkataan mang Ateng.
"Kenapa aku nggak pernah kepikiran ya selama ini. Terima kasih Mang, aku pergi dulu." Keenan menyambar kunci mobilnya dan langsung pergi. Dia tidak sadar kalo hanya menggunakan celana pendek, meski begitu dia tetap terlihat gagah dan tampan.
Keenan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju kantor dinas kepandudukan, untung saja temannya ada yang bekerja di sana.
"Ken! Tumben kemari?" tanya teman Keenan, saat Keenan datang menemuinya.
"Aku ada perlu. Bisakah kamu menolongku?" tanya Keenan.
"Kalau aku bisa, pasti aku akan menolongmu." Jawab teman Keenan.
"Tolong carikan keberadaan istriku," pinta Keenan.
"Harusnya kamu ke kantor polisi, bukan kemari." Kata teman Keenan.
__ADS_1
Keenan pun menceritakan masalahnya pada orang itu. Dengan seksama teman Keenan mendengarkan dan mempelajari kasus Keenan.
"Aku tidak bisa bantu banyak, karena di sini tidak punya akses seperti itu. Tapi, jika kamu mau aku akan memberitahumu cara yang jitu. Itupun kalau kamu mau mengikuti saranku dan jika istrimu benar-benar mencintaimu." Tutur teman Keenan.
"Apa itu? Coba katakan!" Keenan berharap saran temannya bisa bermanfaat.
"Tadi pagi, terjadi kecelakaan pesawat dan berita sedang gencar-gencarnya menayangkan peristiwa tersebut, aku rasa kamu lebih tahu soal itu. Nama pilot belum diketahui karena pihak maskapai masih bungkam dan masih sibuk membantu tim SAR untuk mencari keberadaan pesawat itu. Kamu bisa memanfaatkan ini untuk mengundang istrimu muncul. Aku punya teman yang bekerja di salah satu stasiun TV, kita bisa meminta pertolongan padanya." Tutur teman Keenan.
Keenan pun akhirnya setuju, tapi dia tidak mau membuat kesalahan yang bisa merugikan banyak pihak. Dia menelpon seseorang di bandara dan meminta data penumpang yang ada di pesawat nahas tersebut.
Sepertinya, keberuntungan berpihak pada Keenan. Salah satu penumpang ada yang bernama sama dengannya.
Keenan dan temannya pun langsung pergi untuk menemui teman yang bekerja di salah satu stasiun TV.
Setelah bertemu dengan orang yang dimaksud dan menceritakan masalahnya, akhirnya pemilik stasiun itu setuju menyebutkan nama Keenan tanpa penyebutkan profesinya.
Lagi pula, sudah seharusnya mereka menyebut satu persatu korban walaupun tidak diminta.
"Kami akan tetap melakukan tugas kami dan menurut laporan, memang ada penumpang yang bernama Keenan Haryadi." Tutur orang dari stasiun TV tersebut.
"Bik, cepat sini." Salwa memanggil bi Eli yang sedang sibuk di dapur.
"Ada apa?" Bi Eli datang sambil tergopoh-gopoh.
"Pesawat mas Keenan kecelakaan, dan sampai saat ini belum ditemukan." Jawab Salwa sambil menangis.
"Kalo memang terjadi apa-apa pada Mas Keenan, kenapa Angkasa tidak merespon. Bukankah ikatan bathin antara orang tua dan anak sangat kuat. Atau karena mereka sudah lama tidak bertemu?" Bi Eli bergumam lirih.
"Bi, Salwa harus bagaimana?" tanya Salwa sambil menggoyangkan tangan bi Eli.
"Sekarang terserah sama kamu, bibi hanya bisa mendukungmu." Jawab bi Eli sambil menenangkan Salwa.
__ADS_1
Salwa mengemasi pakaiannya juga pakaian Angkasa, dia sudah membuat keputusan bahwa dia akan kembali.
"Maafkan mama, Nak. Jika kado ulang tahunmu tidak menyenangkan. Papa kecelakaan tepat di hari ulang tahunmu yang pertama." Ucap Salwa sambil memandang wajah Angkasa yang sedang bermain.
"Pa ... pa." Angkasa sudah mulai bisa berbicara dan kata yang pertama ke luar dari mulutnya adalah Papa.
"Iya sayang, kita akan segera bertemu papa." Hati Salwa terasa sangat sakit mengingat tentang apa yang sudah terjadi pada dirinya.
"Andai saja sejak dulu aku kembali, mungkin aku tidak akan sesakit ini." Salwa bergumam lirih.
Salwa sudah selesai berkemas dan tinggal menunggu travel menjemputnya. Bi Eli sudah membelikan tiket untuk Salwa saat keponakannya itu sedang berkemas.
"Apa tidak sebaiknya Angkasa kamu tinggal saja, bibi takut nanti Angkasa tidak ada yang mengurus." Saran bi Eli.
"Ada bi Lilis yang bisa menjaganya, bi. Salwa tidak mungkin meninggalkan Angkasa. Dia semangat dalam hidupku." Tolak Salwa dengan halus.
"Baiklah jika itu sudah keputusan kamu, bibi hanya bisa mendoakan semoga Keenan cepat ditemukan. Kamu yang tabah dan kuat ya, ingat ada Angkasa yang masih sangat membutuhkan kamu." Bi Eli membantu Salwa membawakan kopernya ke mobil.
"Salwa pergi dulu ya, bi." Pamit Salwa.
"Hati-hati ya, nak. Jika ada apa-apa, segera hubungi bibi. Jika Bu Mala menjahatimu, jangan takut, langsung lapor pada bibi atau pun mang Ateng." Pesan bi Eli pada Salwa.
"Iya, bi." sahut Salwa.
Salwa naik ke mobil dan sopir mobil itu pun langsung mengemudikan mobilnya.
Di sepanjang perjalanan, Salwa lebih banyak diam. Di dalam hati, dia tidak henti-hentinya memanjatkan doa, agar suaminya segera ditemukan dalam keadaan selamat.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota. Hati Salwa semakin tidak menentu. Sopir terlebih dulu mengantarkan penumpang yang lain. Karena rumah Keenan berada di pusat kota, maka Salwa menjadi penumpang terakhir yang turun.
Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Mobil masih berputar mengantarkan para penumpang dan masih jauh dari kediaman Keenan. Setelah semua penumpang turun, barulah sopir mengarahkan mobilnya ke rumah Keenan.
__ADS_1
Jantung Salwa berdetak lebih cepat, antara sedih, gelisah dan takut. Bagaimana jika ada pak Geri, bu Mala ataupun Risma di sana. Apakah mereka akan kembali mengusir Salwa.
Mobil perlahan mulai memasuki perumahan tempat Keenan tinggal. Tidak ada sedikit pun yang berubah, semua masih seperti yang dulu. Mobil berhenti tepat di depan pintu pagar. Salwa turun dan langsung masuk karena pagar tidak dikunci.