My Pilot My Husband

My Pilot My Husband
Bab 40


__ADS_3

Keenan menyeruput kopi moka yang ada di hadapannya, sepiring kue dan beberapa cemilan lain juga menemani waktunya bersantai.


Duduk sambil mengawasi putra pertamanya bermain adalah hal yang menyenangkan baginya di kala mengisi waktu luang. Jarang-jarang Keenan bisa bermain bersama Angkasa.


Pekerjaan yang semakin padat membuatnya jarang pulang, dia lebih sering beristirahat di kursi kemudinya atau pun di tempat yang biasa dia gunakan untuk melepas lelah.


Beberapa rencana yang dia susun, sudah berjalan sesuai harapan. Hanya tinggal beberapa rencana lagi yang belum membuahkan hasil. Tapi, itu tidak terlalu penting bagi Keenan. Karena yang paling utama adalah kebahagiaan istri dan anaknya.


"Mas, tadi ada orang yang datang, namanya Tito. Dia titip pesan, katanya malam ini dia akan melaksanakan ijab kabul." tutur Salwa lalu duduk di samping Keenan.


"Syukurlah kalau begitu, daripada berbuat dosa berkepanjangan." Ujar Keenan.


"Memangnya dia mau menikah sama siapa?" tanya Salwa penasaran.


"Ih, mama kepo," goda Keenan sambil mencolek hidung Salwa.


Hamil anak kedua, tubuh Salwa semakin gendut. Pipinya terlihat tembem dan bodynya semakin bohay.


"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Salwa pada Keenan yang menatap wajahnya lekat.


"Kamu semakin cantik," jawab Keenan.


"Nggak usah ngerayu deh, aku tu sekarang gendut dan nggak ada cantik-cantiknya." ujar Salwa.


Keenan merangkul bahu Salwa dengan satu tangan, dan tangan lainnya mengelus perut Salwa yang mulai terlihat menonjol ke depan.


"Mau gendut atau kurus, kamu tetap cantik di mataku. Paling cantik di antara semua yang tercantik," aku Keenan.


"Mas sehat 'kan? Nggak kejedot burung elang 'kan pesawatnya?" tanya Salwa sambil tersenyum dan menempelkan punggung tangannya di kening Keenan.


"Bukan kening atas yang panas, tapi kening yang bawah." Seloroh Keenan sambil membimbing tangan Salwa ke adik lanangnya.


Dengan refleks Salwa menarik tangannya dari genggaman Keenan, membuat Angkasa menoleh karena Keenan tertawa dengan sangat kencang.


Angkasa menghampiri kedua orang tuanya dengan wajah yang sangat lucu, ekspresi wajah yang terlihat sedang kebingungan.


"Kenapa?" tanya Angkasa dengan logat bicara yang belum terlalu jelas.


Keenan menghentikan tawanya dan mengangkat tubuh Angkasa, lalu mendudukkannya di pangkuan.


"Nggak apa-apa, mama lucu." jawab Keenan sambil menyusut peluh yang membanjiri wajah Angkasa.

__ADS_1


"Asa main apa sih, kok keringetnya ampe banjir begini?" tanya Keenan.


"Main lumput ( rumput )," jawab Angkasa, panggilan Asa sendiri ke luar dari mulut Angkasa yang belum pasih berbicara.


"Mas Keenan!" Mang Ateng datang sambil menyebut nama pria beranak satu itu.


"Ada apa mang?" tanya Keenan.


Mang Ateng menoleh sekilas ke arah Salwa, lalu kembali melihat ke arah Keenan.


"Di depan ada Ibu sama Nenek," jawab Mang Ateng yang terdengar seperti ragu.


"Ibu?!" Keenan sangat terkejut sangat mengetahui sang ibu sudah ada di rumahnya.


Keenan mengulurkan tangannya pada Salwa, lalu mereka pun berjalan beriringan ke ruang tamu untuk menemui ibu dan nenek.


Nampak dua orang wanita paruh baya sedang duduk menghadap ke arah mereka. Wajah mereka terlihat ramah dan bersahabat.


"Bu," sebut Keenan lalu mendudukkan Angkasa di sofa.Keenan memeluk sang ibu dengan tangan yang mengulur ke arah Salwa.


"Ini Salwa, Bu." Ujar Keenan memperkenalkan Salwa pada ibunya.


Ibu tersenyum lalu membelai pipi Salwa dengan lembut. "Putraku tidak salah memilihmu," ujar Ibu lalu memeluk Salwa.


"Cucu ibu," ujar Keenan sambil menggendong Angkasa.


"Mama," kata Angkasa.


"Bukan mama, tapi oma." Keenan mengenalkan Angkasa pada Ibu.


"Oma?" Angkasa nampak mengkerutkan keningnya.


Ibu mengambil Angkasa dari gendongan Keenan, tapi Angkasa menolaknya. Dia menelusupkan kepalanya ke dada Keenan.


Salwa duduk di samping Nenek, mereka terlihat sudah akrab. Ibu masih merayu Angkasa agar mau ikut dengannya.


Di tempat lain,


"Aku mau kita menikah, malam ini." Risma terkejut mendengar perkataan pria di hadapannya, pria yang sudah beberapa bulan terakhir ini menjadi kekasihnya.


"Menikah?" tanya Risma.

__ADS_1


"Kenapa? Apa kamu tidak mau? Bagiku tidak masalah, tapi saat anak kita lahir nanti maka seluruh data pribadinya akan memakai namaku juga istriku," tutur pria itu.


"Apa setelah aku melahirkan seorang anak untukmu, kamu akan menceraikan aku?" tanya Risma.


"Melahirkan seorang putra, bukan seorang anak. Selagi kamu belum memberiku satu anak laki-laki, jangan pernah berfikir untuk pergi dariku." Pria itu memberi penegasan.


Risma terlihat seperti sedang berfikir, mata indahnya menatap laki-laki itu dengan penuh tanya.


"Bagaimana jika istrimu tahu?" tanya Risma.


"Itu soal mudah, yang penting kamu mau menikah denganku. Maka aku akan menjadikanmu ratu," jawab pria itu.


"Jangan memberiku harapan palsu, bagaimana mungkin aku akan menjadi ratu, jika ada wanita lain yang masih berstatus sebagai istri sahmu." Tutur Risma dengan lesu.


"Kalau kamu mau dan memintaku untuk menceraikannya, maka aku akan menceraikan istriku saat ini juga." Terdengar keseriusan pada ucapan pria itu.


"Kalau begitu ceraikan dia, setelah itu baru aku mau menikah denganmu." Ujar Risma sambil menatap wajah pria itu.


"Baiklah, aku akan menceraikannya saat ini juga. Tapi, setelah kita menikah, aku mau kamu betul-betul menjadi seorang istri dan ibu. Aku tidak mau ada lagi dendam dan kebencian di hatimu, aku tidak mau lagi ada Risma yang jahat dan culas. Yang aku mau, istriku adalah perempuan yang baik." Pria itu mengajukan persyaratan pada Risma.


"Aku tidak akan ... "


"Hartaku semua akan menjadi milikmu, apa yang kamu mau akan kamu dapatkan, apa yang kamu minta akan aku penuhi." Pria itu memotong perkataan Risma.


"Deal!" Risma mengulurkan tangannya mengajak pria itu berjabat tangan.


"Jika kamu mengingkarinya, maka kamu harus membayar ganti rugi sepuluh kali lipat dari jumlah seluruh kekayaanku." Tanpa berfikir panjang Risma pun menganggukkan kepala tanda setuju.


"Kalau begitu, ayo kita membeli baju pengantin untuk kita nikah nanti malam." Ajak pria itu, membuat Risma mengkerutkan keningnya.


"Kamu mengajakku ke luar? Berdua?" tanya Risma.


"Iya. Kenapa?" tanya laki-laki itu.


"Bagaimana jika kita tidak sengaja bertemu dengan istrimu?" tanya Risma.


"Kenapa? Kamu takut? Bukankah aku sudah menceraikannya di hadapanmu barusan?" Pria itu langsung memeluk Risma.


Pria itu terus membujuk Risma, hingga akhirnya gadis itu pun mau pergi untuk membeli gaun pengantinnya.


Pria itu mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju sebuah butik langganannya, wajahnya tanpa ekspresi, hanya datar dan dingin.

__ADS_1


Sesampainya di butik, mereka langsung memilih baju yang cocok untuk mereka gunakan nanti malam.


Risma semakin bingung melihat tanggapan orang-orang yang ada di butik itu. Mereka mengenal pria yang akan menikah dengannya, tapi mengapa mereka masih bersikap ramah dan mendukung pernikahan yang akan berlangsung tidak lama lagi, hanya tinggal menghitung menit saja.


__ADS_2