My Pilot My Husband

My Pilot My Husband
Bab 6


__ADS_3

"Tolong bawa makanan ini ke meja, sebentar lagi pak Geri dan keluarganya akan makan malam." Pinta Bi Eli pada Salwa.


Salwa menuruti permintaan bibinya, dia membawa semua makanan dan menghidangkannya di atas meja. Setelah pekerjaannya selesai, diapun kembali ke dapur.


"Minumannya, jangan lupa!" Bi Eli mengingatkan Salwa.


Salwa menepuk keningnya, lalu cepat-cepat membawa minuman ke meja makan.


Seperti kata pepatah, 'Asam di gunung, garam di laut, dalam belanga bertemu jua'. Kata itu tepat untuk Salwa dan Keenan. Saat Keenan menuruni tangga dan hendak menuju ke ruang makan, dia tidak sengaja melihat gadis yang selama ini dicarinya. Bibirnya pun melengkung mengulas senyum manis.


"Pantas saja aku cari kemana-mana nggak ketemu, ternyata kamu di sini." Keenan mengurungkan niatnya, dia malah duduk di ruang keluarga.


"Kamu gak makan?" tanya Pak Geri.


"Papa aja duluan, Keenan masih kenyang." Jawab Keenan.


"Kamu kenapa? Mama lihat kamu senyum-senyum sendiri dari tadi." Bu Mala duduk di samping suaminya.


"Tidak ada apa-apa Ma, aku hanya senang saja karena bisa pulang." Tentu saja Keenan berbohong, dia tidak mau membuat papa dan mama menghancurkan rencana yang baru dirancangnya.


Atas desakan kedua orang tuanya, akhirnya Keenan pun makan malam. Selesai makan, papa dan mama masuk ke kamar, begitu juga dengan Keenan. Dari kamarnya, dia bisa melihat kamar Salwa dengan leluasa.


"Akhirnya, aku menemukanmu." Senyum Keenan pun mengembang.


Malam semakin larut, semua penghuni rumah sudah tertidur. Diam-diam Keenan keluar dari kamarnya, lalu berjalan menuju kamar Salwa yang ada di rumah bagian belakang. Keenan menyelinap masuk ke kamar gadis itu, lalu berbaring di sampingnya.


"Ternyata benar, kamu sedang hamil. Anak yang pintar, dia tidak mau membuatmu menderita sendiri, dia membuatku merasakan semua yang kamu rasakan." Keenan mengelus perut Salwa yang sudah mulai membuncit.


Merasa ada yang memeluknya, Salwa pun terbangun. Dia terkejut saat ada tangan yang memeluk dan mengusap perutnya. Keenan membekap mulut Salwa ketika menyadari gadis itu hendak berteriak.


"Ini aku," ujar Keenan.


"Kau!" Salwa membulatkan matanya saat mendengar suara Keenan.


Keenan menyalakan lampu kamar, lalu tersenyum seraya memandangi wajah Salwa.


"Kamu terlihat sangat kurus, apa ini karena ulah anakku?" Tanya Keenan dengan lembut.


"Kenapa kau ada di sini?" Bukannya menjawab, Salwa malah balik bertanya. Wajah tegangnya perlahan kembali normal saat melihat senyum Keenan.


"Apa ada yang salah? Ini rumah kedua orang tuaku, tentu saja aku ada di sini." Jawab Keenan.


"Keluarlah! Nanti ada yang melihat." Salwa meminta Keenan untuk meninggalkan kamarnya.

__ADS_1


"Aku akan keluar setelah aku bertemu dengan anakku." Keenan mengusap perut Salwa lalu menciumnya.


"Aku tidak hamil!" Salwa berkilah.


"Tidak perlu bohong dan menutupinya, aku tahu kamu sedang hamil." Keenan memandang wajah Salwa dengan tatapan yang sulit diartikan, "Anak ini butuh seorang bapak dan aku akan menikahimu. Aku akan bertanggung jawab atas apa yang sudah aku lakukan padamu malam itu."


Keenan bangkit dari duduknya, lalu berjalan ke arah pintu keluar. "Selamat malam!" Ucap Keenan lalu keluar.


Sepeninggalan Keenan, Salwa jadi gelisah. Dia takut pak Geri dan bu Mala marah padanya. Dia takut majikannya akan memecat dia juga bik Eli. Salwa tidak bisa tidur sampai pagi, hingga tubuhnya lemah dan demam.


"Kok bibi yang hidangkan makanan, Salwanya mana?" tanya Bu Mala pada bi Eli.


"Sepertinya Salwa demam buk, wajahnya terlihat pucat." Jawab bi Eli.


Keenan beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju kamar Salwa. Bu Mala dan pak Geri bingung melihat tingkah putranya.


"Keenan! mau kemana? Sarapan dulu." Teriak bu Mala.


"Mau lihat anakku." Keenan membalas teriakan mamanya.


"Anak? jangan-jangan?" Bu Mala memandang wajah pak Geri dan bik Eli secara bergatian, lalu mereka bertiga berlari menuju kamar Salwa.


Keenan sedang mengompres kening Salwa dengan alat seadanya, tubuh gadis itu sangat panas.


"Papa benar! Dia gadis yang selama ini aku cari." Keenan memotong perkataan pak Geri.


Bu Mala duduk di tepi kasur, lalu mengusap air mata yang mengalir di pipi Salwa.


"Apa benar yang dikatakan oleh Keenan?" tanya bu Mala dan Salwa pun mengangguk.


"Kamu nggak salah orang 'kan, Salwa!" Bi Eli meninggikan suaranya.


"Maaf bik, tapi laki-laki ini memang orang yang sudah memperkosah Salwa." Salwa menundukan kepalanya.


"Kalian harus menikah, sebelum semua orang tahu dan perut Salwa semakin membesar." Tegas pak Geri.


"Tapi, Pak"


"Kita akan menikah, bukankah aku sudah mengatakan padamu semalam." Keenan menatap tajam wajah Salwa.


"Bawa Salwa ke kamarmu!" Perintah pak Geri.


"Tapi, pak. Mereka belum sah menikah," protes bik Eli.

__ADS_1


"Apa bedanya hari ini dan esok, toh mereka sudah pernah melakukannya hingga Salwa hamil." Tegas pak Geri lalu mengajak istrinya untuk keluar dari kamar Salwa.


"Buatkan Salwa bubur dan antar ke kamarku." Keenan menggendong Salwa ala bridal style dan membawa gadis itu ke kamar miliknya.


"Bik eli benar, kita tidak boleh tidur dalam satu kamar. Kita belum sah menikah, tidak baik dilihat orang." Salwa membuka mulutnya setelah sampai di kamar Keenan.


"Nanti malam kita akan menikah, papa sudah mengurusnya." Keenan menutupi tubuh Salwa dengan selimut lalu keluar dari kamar.


"Papa sudah memanggil penghulu dan beberapa saksi. Sesuai peraturan, kamu tidak boleh menidurinya sampai dia melahirkan dan kalian menikah ulang." Tutur Pak Geri.


"Emang kuat?" Bu Mala menyindir putranya.


"Aku akan terbang dan kembali saat dia melahirkan nanti." Keenan menatap wajah kedua orang tuanya secara bergantian.


"Bukan begitu maksud Mama,"


"Aku mulai menyukainya sesaat setelah kejadian malam itu. Aku takut tidak bisa menahan diri, jika harus berdekatan dengannya." Ujar Keenan.


"Terserah kamu saja, papa dukung apapun itu keputusan kamu." Kata pak Geri.


Malam pun tiba, acara ijab kabul pun dimulai. Dengan satu tarikan nafas, Keenan mengucapkan janji sucinya dan kini Salwa sudah sah menjadi istrinya.


"Aku harus kembali, aku tidak bisa menemanimu. Aku akan pulang saat anak kita lahir" Pamit Keenan seraya memandang wajah Salwa.


"Apa aku boleh tau, apa pekerjaanmu?" tanya Salwa.


"Aku seorang Pilot," jawab Keenan.


Keenan menarik kopernya. Pergi di malam pengantinnya bukanlah hal yang tepat, tapi dia harus melakukan itu. Salwa terdiam, dia tidak tau harus melakukan apa. Ingin mencegah, tidak mungkin. Keenan pergi karena tuntutan pekerjaan.


"Hei!" Salwa berlari menuruni tangga.


"Namaku Keenan, bukan hei." Keenan memasukkan kopernya ke dalam mobil, Salwa berdiri di sampingnya.


"Selamat bertugas!" Salwa membungkukkan sedikit tubuhnya pada Keenan.


"Hemmm." Keenan berdehem saja lalu masuk ke dalam mobil.


Perlahan mobil mulai bergerak meninggalkan Salwa beserta semua yang ada di sana. Supir mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju Bandara, Keenan duduk bersandar di bangkunya. Sesekali terdengar suara nafas yang begitu berat.


"Mas tidak mencintainya?" tanya supir.


"Aku hanya bertanggung jawab dengan apa yang sudah aku perbuat." Jawab Keenan.

__ADS_1


__ADS_2