
Pagi Hari ...
(Tok!! Tok!! Tok!!).
"Non!! Non ... Bangun, Non." ujar Bi Inah membangunkan Anin.
Tapi tak ada juga tanggapan dari dalam kamar Anin. Bi Inah mengetuk pintu lagi ...
"Non aninnn ... Bangun, Non. Non anin ..." ucapnya lagi kali ini dengan nada yang sedikit lebih keras.
Anin mendengar sayup sayup suara Bi Inah lalu melirik ponselnya.
"Hoaaaammm ... ada apa sih, Bi? Pagi-pagi gini udah berisik. Ini masih jam 6 pagi lho," ucap Anin tersadar dari bangunnya, lalu bangkit dan membukakan pintu.
"Nyonya tadi berpesan, Non Anin harus segera bergegas mandi, sarapan lalu di antar Pak Man ke tempat Nyonya." jawab Bi Inah dengan wajah yang sedikit panik.
"Memangnya mama kemana, Bi? Masih jam segini mama udah keluar rumah. Apa yang terjadi?" tanya Anin dengan sedikit kebingungan dan rasa khawatir.
"Saya juga kurang tau, Non. Nyonya tadi cuma berpesan begitu dan pergi dengan terburu buru" ucap Bi Inah memberi penjelasan.
"Oh iya, tadi Bibi lihat Nyonya pergi dengan Pengacara Wong dan beberapa orang yang dulu biasa kerumah ini Non, waktu Tuan, papanya Non masih hidup" tambah Bi Inah lagi, tapi malah membuat Anin bertambah khawatir.
"Hmmmm ada apa ya? Kenapa feelingku malah gak enak." gumam Anin dalam hati.
"Oke deh Bi, Anin siap-siap dulu ya. Nanti Anin sarapan di mobil aja. Tolong Bibi buatin Anin sandwich ya, Bi" ucap Anin kepada Bi Inah.
"Baik, Non" jawab Bi Inah lalu pergi meninggalkan Anin.
*
"Anin pergi dulu ya, Bi. Terimakasih sandwichnya," ucap Anin lalu meninggalkan Bi Inah. Kemudian Anin pergi bersama Pak Man menuju tempat yang di maksud oleh mamanya.
Disepanjang perjalanan Anin terus memikirkan ada apa sebenarnya. Apa yang terjadi. Kenapa pengacara Wong dan orang-orang kepercayaan papa pergi bersama mamanya.
"Pak Man, tahu gak Anin mau di antar kemana?" tanya Anin kepada Pak Man dengan khawatir.
"Maaf Non, Bapak juga gak tau nama tempatnya apa. Bapak cuma dikirimin alamat sama nyonya. Disuruh nganterin Nona," jawab Pak Man dengan tenang.
"Okay deh Pak Man, tolong bangunin Anin ya kalo udah sampai. Anin ngantuk banget" pinta Anin kepada Pak Man. Anin merasakan kantuk yang luar biasa, ini di karenakan pagi-pagi sekali Anin harus bangun.
Setengah jam berlalu, akhirnya mereka sampai ke tempat yang di maksud.
"Non ... kita sudah sampai" ucap Pak Man membangunkan Anin dari tidurnya.
__ADS_1
Anin memandang keluar, ada rumah kecil dengan halaman luas dan banyak bunga di sekelilingnya. Banyak pohon besar dan ada kolam ikan. Membuat rumah kecil itu terlihat mewah.
"Ahhhhhh segarnya! Ditengah kota begini masih ada juga ya rumah dengan halaman luas begini," gumam Anin dalam hati, lalu bergegas turun dari mobil.
Dia menatap jauh, menikmati pemandangan yang sangat sulit di temukan di kota besar tempat tinggalnya.
"Ahhhhh ... tempat ini sungguh indah. Andai tempat ini menjadi milikku" ucapnya dalam hati, menikmati keindahan alam yang terpampang jelas di depannya.
"Sungguh, ini anugrah terbesarmu Tuhan, aku baru tau ada tempat seindah ini," gumam Anin dalam hati.
"Non ... ayo masuk!!" ajak Pak Man membuyarkan lamunan Anin.
"Ehh iya Pak, saya hampir lupa tujuan kita kemari" canda Anin membuat Pak Man tersenyum.
**
Di dalam rumah sudah menunggu mama Anin, dan beberapa orang yang Anin kenal dan beberapa orang yang tampak Asing bagi Anin.
Nyonya Atmaja langsung memeluk putrinya itu, saat Anin memasuki ruang tamu.
"Uhmmm gadis kecil mama. Mama udah rindu aja padahal gak ketemunya baru beberapa jam ya sayang," ucap Nyonya Atmaja membuat Anin sedikit penasaran.
"Ihh apaan si mama, kayak gak ketemu Anin udah lama aja. Malu di liat semua orang," ucap Anin melepas pelukan mamanya, lalu melirik kesemua orang yang ada di ruangan itu.
"Sayang maafkan mama udah bikin Anin harus bangun pagi-pagi. Ada yang harus mama bilang sama Anin. Anin pasti udah cukup dewasa untuk mengerti apa yang akan mama dan Om Wong jelaskan nanti" jelas Nyonya Atmaja membuat Anin semakin penasaran.
"Hmmm..iya Ma, sebenarnya ada apa ini? Jangan buat Anin bingung dong" ujar Anin melihat mamanya dan pengacara Wong bergantian.
Nyonya Atmaja mengajak Anin duduk. "Sayang maafin mama. Mama tidak bisa selamatkan semua hasil jerih payah papamu selama ini."
"Ini semua karena pamanmu. Pamanmu mengambil alih semua perusahaan papa, hotel dan restoran usaha milik kita." jelas mama lagi lalu memeluk Anin.
Anin semakin bingung dan tidak tau harus berkata apa. "Ma, jelasin dari awal kenapa ini bisa terjadi?" tanya Anin kepada mamanya.
Nyonya Atmaja menjelaskan sedetail mungkin kepada putrinya tentang permasalahan yang terjadi.
"Apaaaaa?? Terus sekarang kita harus bagaimana? Kenapa paman jahat sekali? Apa tidak ada cara yang bisa kita lakukan supaya semuanya balik ke keluarga kita?" tanya Anin sambil menahan tangis.
"Mama juga tidak tau apa cara yang Om Wong katakan bisa berhasil sayang. Entah bagaimana caranya, pamanmu bisa mendapatkan tanda tangan papamu. Dan semua dokumen hak milik itu sah adanya. Karena memang benar, ada tanda tangan papamu disana " jelas Nyonya Atmaja lagi sambil mengenggam tangan putrinya.
"Iya tidak ada pemalsuan tanda tangan disana. Semuanya sah dan semua hak milik papamu berpindah posisi menjadi hak milik pamanmu" ujar Pengacara Wong berusaha membantu Nyonya Atmaja memberi penjelasan kepada Anin.
__ADS_1
Anin tidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar. Tangisnya pun mulai memenuhi ruangan itu.
"Terus, tidak adakah lagi yang tersisa untuk kita Ma?" tanya Anin kemudian.
"Ada sayang, Hotel MT, villa dan restoran kita yang di bali, rumah lama kita dan rumah ini!" jelas nyonya Atmaja berusaha menjawab pertanyaan Anin.
"Hanya itu? Terus rumah kita??" tanya Anin tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Rumah kita juga menjadi milik pamanmu sayang ..." jawab Nyonya Atmaja sambil terisak.
Anin terduduk lemas, ada kegetiran dalam hatinya. Entah kenapa cobaan tak henti-hentinya menghampiri keluarga mereka.
"Maafin mama sayang gak bisa berbuat apapun. Andai mama mengerti tentang bisnis Papamu, gak akan Mama biarkan ini semua terjadi" ujar Nyonya Atmaja menenangkan putrinya.
"Anin yang salah, coba waktu itu Anin mau belajar buat bantu Papa. Mungkin ini semua gak perlu terjadi," ucap Anin lalu menangis sekuat kuatnya.
Nyonya Atmaja memeluk putrinya, di usapnya lembut kepala putrinya itu. Dia tau, pasti berat bagi Anin untuk menghadapi semuanya ini.
Suara ponsel milik Nyonya Atmaja pun berdering. Diliriknya ada panggilan masuk dengan nama Hendra.
Nyonya Atmaja menatap pengacara Wong.
"Angkat saja Dev, tapi on speaker ya??" suruh Pengacara Wong kepada Nyonya Atmaja. Nyonya Atmaja sudah lama berteman dengan Pengacara Wong, itu sebabnya dia memang santai dan lebih nyaman memanggil nama Nyonya Atmaja tiap kali mereka berbicara.
Nyonya Atmaja mengangkat telepon adik iparnya itu. "Ada apa lagi Hen? Sungguh kamu tidak tahu malu meneleponku, setelah semua yang kamu lakukan?" sindir Nyonya Atmaja menahan emosinya.
" Ho hooooo ... santai dulu kakak iparku tersayang. Semua kartu matimu ada di tanganku. Apa lagi yang perlu kamu sombongkan ? Aku punya segalanya!!" ucap Hendra tidak tahu malu lalu tertawa kuat kencang menyindir kakak iparnya itu.
"Aku mau kakak datang sekarang ke alamat yang akan aku kirim nanti. Bila perlu bawa pengacara bodohmu itu dan orang orang kepercayaanmu itu!!" ucapnya lagi dengan sinis penuh percaya diri.
"Kenapa aku harus kesana? Kamu tidak perlu mengatur aku harus kemana!! Dasar kamu penipu tidak tahu malu!!!" maki Nyonya Atmaja dengan penuh amarah.
Hendra tertawa lagi, lalu melanjutkan kata-katanya.
"Datang saja tidak usah banyak tanya, kalau kakak tidak mau kehilangan semua harta milik suami kakak. Sebaiknya kakak segera kemari," ucap Hendra dengan suara lantang dan tegas.
Nyonya Atmaja menatap pengacara wong lalu di balas anggukan oleh sahabatnya itu.
"Baiklah!! Kirim saja alamatnya aku akan datang!!" ucap Nyonya Atmaja lalu mematikan sambungan teleponnya.
(Bersambung).
*******
__ADS_1
Hi Readers, mohon dukungan untuk kesempurnaan novel saya ini ya.
Terimakasih buat supportnya.