My Secret Romance

My Secret Romance
Episode 28


__ADS_3

Rafa masih terduduk lemas di dinginnya lantai kamar rumah sakit tempat Anin dirawat.


Perlahan dia pun bangkit berdiri dan berjalan menuju Anin yang sedang terbaring tidak sadarkan diri.


"Apakah aku sudah terlambat? Apakah tidak ada lagi kesempatan bagiku untuk memilikimu?"


Entah apa yang membuatnya begitu terpukul, tapi panggilan telepon tadi benar-benar membuat Rafa kehilangan kesadaran. Dia terus memandangi Anin, dan tidak sedetikpun mengalihkan pandangannya.


Rafa kemudian duduk di sebelah Anin, menggenggam tangannya.


"Nin, sadarlah. Banyak orang yang sedang menunggumu." Rafa tersenyum memandangi wajah Anin yang cantik walaupun sedang tidak sadarkan diri.


"Cantik, kamu cantik" gumamnya dalam hati. Rafa sadar, hanya saat Anin tertidur seperti ini, Rafa bisa memandangi Anin sepuasnya. Mungkin setelah Anin bangun, melihatnya saja, adalah peristiwa langka yang pasti sangat sulit dia dapatkan. Karena setiap kali melihatnya, Anin pasti selalu menghindarinya. Dan sampai sekarang, Rafa sendiri bingung apa alasan Anin, kenapa dia menghindari Rafa.


Rafa terus memandangi Anin. Entah kenapa setiap kali memandangi gadis itu, Rafa merasakan kenyamanan yang tidak bisa dia jelaskan.


"Muach"


Sebuah ciuman mendarat di kening Anin. Entah apa yang merasuki Rafa, hingga dia bisa berbuat senekad itu. Sesaat tubuh Rafa mematung. Sontak dia menutup mulutnya.


"Astaga, aku apa-apa an sih? Ya ampun, kenapa aku malah mengambil kesempatan saat dia sedang tidak sadarkan diri? Rafa ... Rafa ... dasar kamu pria mesum. Memangnya kamu pikir ini dongeng putri tidur."


Begitu banyak pertanyaan yang terlintas dipikirannya. Rafa pun merasa lucu dengan tindakannya barusan.


"Ah masa bodo!! Itu karena aku menyukaimu!! Bukan salahku, kamu yang terlalu lama tidur, dan membiarkan aku memandangimu!!"


Rafa terus saja meracau tanpa henti. Jelas-jelas dia yang salah, malah menyalahkan orang yang sedang tidak sadarkan diri.


Rafa kemudian bangkit berdiri dan meninggalkan Anin di kamar itu dengan senyuman yang sulit di artikan. Dia merasa malu-malu sendiri, mengingat apa yang baru saja dia lakukan. Padahal, tidak ada juga yang melihat, selain Anin yang sedang tidak sadarkan diri.


•••••••


Di kediaman Hendra.


"Bagaimana kabar gadis itu?"


"Dia sedang di rawat di rumah sakit milik keluarga Teague, Tuan!! Dan sepertinya, kita tidak bisa bebas mendapat informasi mengenai gadis itu, karena anak pemilik rumah sakit itu sendiri sudah mengatur semuanya. Dan mereka semua bungkam, sehingga saya tidak bisa mendapatkan informasi apapun!!"


"Sialan kau Rafandra Teague!!!! Lihat saja nanti, kau akan menanggung akibatnya!!"


Hendra emosi lalu melemparkan gelas minuman yang ada di hadapannya!! Cathy yang terkejut kemudian keluar dari kamarnya dan berlari menuju Hendra.


"A a ada apa ini?" tanya Cathy penasaran, dia melihat gelas yang pecah berserakan di lantai.


"Oh, bagus kau datang!! Mantan tunanganmu itu!! Rafandra Teague!! Lihat saja, sebentar lagi akan kubuat dia tidak bernyawa lagi!!"

__ADS_1


"A a apa maksudnya?"


Hendra berjalan mendekati Cathy, kemudian memeluknya dari belakang.


"Aku akan membunuh mantan tunanganmu!!!."


Hendra melepaskan pelukannya dan tertawa mengejek, lalu pergi meninggalkan Cathy yang terduduk lemas, setelah mendengar apa yang Hendra katakan.


"Rafa, maafkan aku," ucap Cathy sambil menangis.


•••••••


Bi Inah yang kembali dari taman bersama Rafin, bingung melihat kamar Anin yang sepi. Hanya ada penjagaan yang super ketat di luar kamar Anin.


"Rafin duduk disini dulu, ya?," ucap Bi Inah lalu pergi mengambilkan air minum untuk Rafin.


"Nek, kapan Mami bangun? Apin mau beli es klim sama Mami," celoteh Apin yang melihat Anin masih saja tertidur dengan lelapnya.


"Sebentar lagi ya, sayang? Nanti kita bangunkan Mami sama-sama. Sekarang biarkan Mami tidur dulu, ya? Mami kelelahan, jadi Mami harus tidur dulu biar nanti bisa beli es krim sama Rafin," ucap Bi Inah mencoba memberi penjelasan kepada Rafin.


Bi Inah mencoba mencari kesibukan buat Rafin, supaya dia tidak bertanya terus tentang keadaan Anin. Dan tidak berapa lama, dia sudah sibuk dengan mainan yang Bi Inah berikan.


Bi Inah kemudian menghubungi Mia. Bi Inah hampir lupa memberi kabar kalau Rafin sudah membaik dan boleh pulang.


"Ibuuuuu, kemana saja? Daritadi Mia menghubungi Ibu," tanya Mia begitu mendapat panggilan telepon dari ibunya.


Mia yang mendengarnya pun bingung harus bahagia atau sedih. Di satu sisi Rafin bisa selamat, bahkan sehat dan boleh pulang, itu adalah sebuah keajaiban. Tapi di sisi lain, sampai detik ini juga, Anin belum sadar dari tidur panjangnya.


"Terimakasih, Tuhan. Sekarang Ibu jangan bersedih. Anin adalah gadis yang kuat. Dia pasti sedang berjuang demi Rafin" ucap Mia berusaha menenangkan ibunya. Walau dia sendiri berusaha menyembunyikan kesedihan dihatinya.


"Sayang, kamu bisa kan menjemput Rafin kemari? Ibu tidak mau dia berlama-lama di rumah sakit ini. Daritadi dia terus bertanya tentang keadaan Anin. Tidak baik baginya melihat kondisi Anin yang seperti ini"


"Baik, Bu. Nanti Mia kesana bersama Mas Teguh. Ibu jaga kesehatan juga, biar bisa jaga Rafin dan Anin."


"Baik, sayang. Kamu tenang saja. Kalian hati-hati, ya? Sampai ketemu nanti disini" ucap Bi Inah lalu mengakhiri panggilan teleponnya.


*


Suara ponsel Anin membuat Bi Inah terkejut.


"Halo, selamat sore."


"I i iya, selamat sore. Ini siapa? Maaf, bolehkah saya berbicara dengan Anin?"


"Maaf, saya ibunya. Anda siapa?"

__ADS_1


"Maaf, Bu. Perkenalkan saya Rei, kekasih Anin, putri Ibu."


Bi Inah terkejut mendengar penuturan seorang pria yang mengatakan kalau dia adalah kekasih Anin. Karena selama ini Bi Inah tidak mengetahui dengan pasti apakah Anin sudah punya kekasih atau belum.


"Kekasih Anin?"


"Iya, Bu. Mungkin Anin belum memberitahukan kepada Ibu, karena memang kami baru saja menjalin hubungan."


Bi Inah berpikir, mungkin Anin memang belum ingin menceritakan mengenai hubungannya karena masih baru terjalin. Kalau di rasa sudah saatnya, pasti Anin akan cerita kepada Bi Inah.


"Ibu, bolehkah saya berbicara dengan Anin? Sudah beberapa hari ini saya tidak bisa menghubunginya. Ada hal penting yang ingin saya bicarakan dengannya"


Bi Inah terdiam, Bi Inah bingung bagaimana dia akan menjelaskan kondisi Anin kepada kekasihnya itu. Beberapa hari ini ponsel Anin memang mati karena baterainya habis dan baru tadi pagi Bi Inah mengisinya dan ponsel Anin bisa nyala kembali.


"Ah, a a anuu. Itu tadi Anin, eh maksud saya beberapa hari lalu Anin pergi ke kampung karena ada urusan penting. Dan baru tadi dia balik dan sekarang sedang berbelanja ke Alf*mart. Nanti Ibu akan suruh dia menghubungi kamu lagi." ucap Bi Inah gemetaran, bingung harus mengarang cerita apa.


"Baik, Bu. Terimakasih"


"Sama-sama, Nak," ucap Bi Inah lalu mematikan sambungan teleponnya.


Sesaat Bi Inah terdiam mematung, memikirkan apa yang baru saja dia lakukan. "Apa yang aku lakukan tadi itu benar? Bagaimana kalau Anin tidak juga menelepon dan dia balik menelepon kesini? Alasan apalagi yang harus aku katakan.?"


Rafa yang tiba-tiba masuk, heran melihat ekspresi wajah Bi Inah seperti orang baru melihat hantu saja.


"Ada apa, Bi?"


"A a anu,Tuan. Itu anu tadi anu Tadi Anin ..." jawab Bi Inah terbata-bata.


"Anu apa, Bi? Anin kenapa?" tanya Rafa khawatir lalu berlari menghampiri Anin dan memeriksa keadaan Anin. Di lihatnya semua masih normal seperti semula.


Rafa lalu menatap Bi Inah yang masih terlihat bingung.


"Bibi duduk dulu. Ambil napas panjang. Terus coba jelaskan kepada saya apa yang baru saja terjadi."


Bi Inah duduk dan mencoba mengatur pernapasannya. Lalu mulai menceritakan yang baru saja terjadi.


"Tidak apa-apa, Bi. Yang Bibi lakukan sudah benar. Kita belum tahu, itu benar kekasih Anin atau tidak. Biarkan Anin yang menceritakannya sendiri nanti setelah dia sadar. Sekarang kita banyak berdoa saja menunggu keajaiban datang, dan Anin cepat siuman."


Bi Inah mengangguk dan memandang Rafa dengan penuh arti. Rafa yang sadar dengan pandangan Bi Inah kemudian berkata, "Tidak apa-apa, Bi. Saya mengerti apa yang Bibi pikirkan. Kalau Anin memang jodoh saya, dia akan tetap menjadi milik saya walaupun sekarang dia masih memiliki kekasih".


Rafa memandang langit-langit kamar itu. Walaupun dia berusaha kuat di depan Bi Inah, tapi jujur ada sedikit kekhawatiran kalau dia tidak akan bisa memiliki Anin.


Tapi balik lagi, rejeki, jodoh dan maut ada di tangan Tuhan pastinya, dan di tangan Author juga, kan??


Intermezzo. 😃😃

__ADS_1


••••


(Bersambung.)


__ADS_2