My Secret Romance

My Secret Romance
Episode 24


__ADS_3

(Sebelumnya).


Pengacara Wong juga berlari menghampiri Bi Inah.


"Ada apa, Bi?"


"Anin dan cucu saya kecelakaan, Tuan."


***


Rafa terduduk lemas mendengar penuturan Bi Inah. Tubuhnya seketika terasa tidak berdaya.


"Sekarang mereka dimana, Bi?" tanya Rafa.


"Mereka menuju Rumah Sakit di dekat daerah rumah saya Tuan," jawab Bi Inah.


"Tuan, maaf saya harus segera pergi. Mereka membutuhkan saya." ucap Bi Inah menahan tangisnya lalu pergi meninggalkan Rafa dan Pengacara Wong.


"Tunggu, Bi!! Kita pergi bersama saja. Saya akan mengantarkan Bi Inah." ajak Rafa pergi kemudian di ikuti oleh Bi Inah.


"Antarkan Pengacara Wong ke kediamannya dengan selamat. Saya harap kamu tau apa yang harus kamu lakukan" perintah Rafa kepada Mark kemudian mereka pergi meninggalkan tempat itu.


**


Di Rumah Sakit Mitra Husada, Anin terbaring tidak sadarkan diri. Luka yang dia derita sangat serius. Bi Inah yang baru saja tiba, langsung berlari menuju ruang ICU tempat Anin di rawat.


Dia melihat Mia sudah berada disana dengan tatapan kosong.


"Sayang, mereka bagaimana?" ucap Bi Inah kepada Mia, begitu melihat Mia mondar-mandir di depan ruangan ICU.


Mia langsung memeluk Ibunya


"Belum tau, Bu! Tapi kata Dokter tadi, luka yang Anin derita sangat serius."


"Terus bagaimana dengan Rafin??" tanya Bi Inah.


"Rafin mengalami luka sobek di kepalanya. Tapi kata Dokter Rafin tidak apa-apa. Setelah sadar, akan di lakukan penanganan selanjutnya untuk Rafin, sekedar memastikan tidak ada efek samping dari luka sobek yang dia alami, Buk" jawab Mia dengan suara gemetaran.


Bi Inah terduduk lemas mendengar apa yang Mia katakan. Dia menangis sesenggukan, meratapi keadaan putri dan cucunya. Walau Rafin akan segera membaik, anak sekecil itu pasti mengalami trauma setelah kejadian ini.


"Ibuuu, jangan begini. Mereka butuh Ibu, kita harus kuat, Bu!!" ucap Mia berusaha menguatkan Ibunya.


Rafa yang muncul dan melihat Bi Inah menangis sesenggukan, terenyuh merasakan sakit di hatinya. Bagaimana tidak, memori masa lalu yang selama ini sangat membuat Rafa sedih kini hadir kembali. Ibu Rafa juga meninggal dalam kecelakaan. saat itu Rafa berusia 12 tahun. Masih lekat dalam ingatannya, tangis ayahnya kala itu. Kesedihan yang sulit. buat dia lupakan, kini hadir lagi di tempat yang sama.


Rafa berjalan mendekati Bi Inah dan Mia.


"Bagaimana keadaan mereka?".


"Aaa anu, Tuan. Anin mengalami luka paling parah, tapi Rafin hanya mengalami luka sobek. Dan sebentar lagi dia juga akan sadar," jawab Mia.

__ADS_1


Rafa terdiam mendengar ucapan Mia.


"Bisakah kita berbicara disana sebentar?" ajak Rafa, mengingat keadaan Bi Inah yang sangat terpukul. Rafa tidak ingin membicarakannya di depan Bi Inah.


"Ada apa, Tuan?" tanya Mia.


"Saya sudah mendengar dan mengetahui apa yang terjadi kepada mereka. Saya ingin meminta tolong sesuatu kepada kamu."


"Apa itu, Tuan?" tanya Mia.


"Saya akan memindahkan Anin dan anak kamu ke Rumah Sakit milik keluarga saya. Tapi sebelum itu terjadi, saya meminta kamu untuk membantu saya. Apabila Paman Anin menanyakan keberadaan mereka, saya minta kepada kamu untuk mengatakan bahwa mereka baik-baik saja." jawab Rafa.


"Boleh saya tau ada apa, Tuan?" tanya Mia.


"Saya yakin semua ini ada hubungannya dengan dia. Kamu bisa menanyakan kepada Ibumu apa yang terjadi sebenarnya." jawab Rafa kemudian pergi meninggalkan Mia.


Mia menatap Rafa pergi dengan penuh tanda-tanya. Dia tidak percaya Rafa yang di kenal sangat arogan dan kejam bisa seperhatian ini kepada Anin dan Rafin.


"Andai Tuan tau, Rafin adalah putra Tuan dengan Anin" ucap Mia dalam hati. Lalu kembali pergi menemui Bi Inah.


*


"Mark, apa semua sudah selesai??" tanya Rafa kepada Mark.


"Sudah, Tuan. Nona Anin sudah bisa dipindahkan. Saya juga sudah menyediakan mobil untuk pemindahan Nona Anin dan juga keponakannya itu." jawab Mark.


"Baiklah" jawabnya mengakhiri panggilannya lalu pergi menemui Bi Inah.


Rafa mengambil ponselnya, lalu menghubungi Bi Inah.


"Iya, Tuan. Ada apa?"


"Bi, Hendra sepertinya sudah mengetahui keberadaan Anin dan sedang menuju kesana. Jika dia bertanya tentang Anin, bilang saja kalau dia baik-baik saja. Ulur waktu selama mungkin. Saya akan menyusul kesana." jawab Rafa.


"Baik, Tuan!!"


Rafa lalu pergi menemui Dokter dan menghubungi Mark untuk datang menemani Bi Inah.


**


"Bi Inah!!" sapa Hendra dengan nada sedikit keras.


"Ii ii ya Tuan!!" jawab Bi Inah gelagapan.


Seketika rasa takut itu muncul saat dia mengingat perlakuan jahat yang sudah di lakukan Hendra. Dan Bi Inah yakin kecelakaan kali ini, pasti ada sangkut pautnya dengan pria yang sekarang berdiri di hadapannya itu.


"Bagaimana kabar keponakanku sekarang? Bisa-bisanya kau tidak memberitahukan kepadaku kalau Anin sekarang tinggal bersamamu." Tanya Hendra dengan pandangan jahat.


"Itu.. aaa aa anu, Tuan" jawab Bi Inah dengan ketakutan.

__ADS_1


"Sudah-sudah!! Sekarang kalian pergilah dari sini. Mulai hari ini, biar aku yang menjaganya!!" usir Hendra, menatap Bi Inah dan Mia dengan tatapan tajam.


"Tidak, Tuan! Waktu Nyonya masih hidup, saya pernah berjanji akan menjaga Anin dengan nyawa saya. Saya tidak akan meninggalkan dia sampai saya mati!!" ucap Bi Inah dengan tegas.


"Saya yang lebih berhak menentukan apa yang terbaik untuk keponakan saya!! Bukan pembantu sepertimu!!"


Hendra berjalan mendekati Bi Inah. Hendra tau, wanita yang berdiri di hadapannya itu bukanlah wanita sembarangan.


"Terserah apa kata Tuan, tapi saya tidak akan meninggalkannya!! Dan saya pikir, kalaupun Anin ada disini sekarang juga, yang paling tidak ingin dilihatnya adalah wajah anda Tuan!!" jawab Bi Inah dengan lantang.


Seketika emosi Hendra memuncak.


" Lancang, kau!!"


Hendra mengayunkan tangannya ingin menampar Bi Inah, lalu tiba-tiba Mark muncul dan mendorong Hendra jauh sampai dia terjatuh.


"Ka kaauu!!" bentaknya dengan wajah penuh amarah. Lalu Hendra bangkit kembali ingin memukul balik Mark, tapi Rafa muncul bersama Dokter dan beberapa Security.


"Maaf, Tuan. Disini bukan tempatnya untuk saling pukul-memukul. Disini pasien butuh istirahat. Dan kalian sebaiknya segera keluar dari Rumah Sakit ini." kata Dokter Bram, Kepala Rumah Sakit Mitra Husada.


Begitu mendengar ucapan Dokter Bram, Mark langsung pergi meninggalkan mereka setalah di beri kode oleh Rafa. Sekarang tinggallah Rafa, Bi Inah, Mia, Dokter Bram, Hendra dan anak buahnya.


"Maaf, Tuan. Anda juga sebaiknya pergi dari sini." ucap Dokter Bram kepada Hendra dan anak buahnya.


"Saya tidak akan pergi dari sini, Dok. Pasien yang ada di dalam ruangan ini adalah keponakan saya. Saya yang lebih bertanggung jawab daripada mereka semua" jawab Hendra menyindir dengan penuh percaya diri.


"Benar dia adalah keponakan anda. Tapi selama dia masih di Rumah Sakit, dia adalah tanggung jawab saya. Kalau keberadaan anda disini hanya membuat gaduh, sebaiknya anda keluar" ucap Dokter Bram dengan raut wajah serius.


"Baik saya akan pergi setelah mengetahui bagaimana keadaannya sekarang" jawab Hendra penuh emosi.


"Dia baik-baik saja, semua dalam keadaan stabil. Anda tidak perlu khawatir, kami akan merawatnya dengan baik."


"Sekarang anda boleh pergi Tuan Hendra, kami akan memastikan keponakan anda akan membaik secepatnya," ucap Rafa, membuat Hendra emosi dan pergi meninggalkan mereka.


Setelah melihat Hendra akhirnya pergi dari sana, Bi Inah sedikit bernapas lega. Dia tidak tau apa yang akan terjadi tadi, kalau Rafa tidak membantunya.


"Dokter terimakasih saya ucapkan atas bantuan, Dokter." ucap Rafa berterimakasih.


"Kamu tidak perlu berterimakasih, sudah saatnya saya membalas kebaikan orangtuamu ketika mereka masih hidup. Kalau bukan karena mereka, saya tidak akan bisa seperti ini" jawab Dokter Bram tersenyum memandang Rafa.


"Sebaiknya kalian segera pergi dari sini, bawa gadis itu ke Rumah Sakit keluargamu. Disana dia akan mendapatkan penanganan lebih baik daripada disini. Saya yang akan bertanggung jawab atas perpindahannya" tambah Dokter Bram lagi.


"Terimakasih banyak, Dok. Seandainya mereka memecat anda, Rumah Sakit saya selalu terbuka untuk anda" canda Rafa lalu mereka berdua pun tertawa.


Kemudian Dokter Bram pun pergi meninggalkan mereka.


"Bi, bersiaplah. Semua sudah saya selesaikan. Kita akan membawa Anin dan cucu Bibi ke Rumah Sakit yang lebih baik" suruh Rafa kepada Bi Inah.


"Terimakasih Tuan. Terimakasih banyak." ucap Bi Inah tersenyum bahagia.

__ADS_1


Lalu merekapun bersiap dan membawa Anin juga Rafin menuju Rumah Sakit yang di maksud.


(Bersambung).


__ADS_2