My Secret Romance

My Secret Romance
Episode 54


__ADS_3

Anin berlari meninggalkan Rafa dengan wajah merah seperti tomat.


"Dasar pria mesum!! Bisa-bisanya setelah apa yang terjadi, dia hanya bersikap biasa saja!!" Ahhh!" umpat Anin, berlari semakin kencang dan pergi menuju ruangannya.


Sesampainya disana, Anin sudah melihat Rafin dan Mia yang sedang duduk sambil menikmati makan siang mereka.


"Mamiiiiii!!" teriak Rafin berlari memeluk Anin begitu melihatnya masuk ke dalam ruang kerjanya.


"Sayang lagi makan, ya?? Makan apa nih anak mami??"


"Apin makan pizza, tadi di beliin sama om ganteng."


"Iya udah, makan yang banyak ya, sayang? Mami mau melanjutkan pekerjaan mami dulu. Rafin main sama ibu dulu, ya?? Baru kita pulang sama sebentar lagi. Okay??"


"Okay, Mami!!" teriaknya bersemangat.


Mia menatap Anin penuh arti. Anin mengerti arti tatapan sahabatnya itu, tapi Anin tidak memperdulikannya.


"Ehemm ehemm!!" suara deheman Mia, membuat Anin malu dan mencari kesibukan sendiri dengan memeriksa pekerjaannya.


Tiba-Tiba suara ponsel Anin berdering. "Rafaaa??? Ah, mau apalagi sih, nih anak!!"


Anin tidak memperdulikannya, sebanyak 3 kali panggilan tidak terjawab, sampai terdengar suara pesan yang masuk di ponsel Anin.


"(Kenapa tidak mengangkatnya?? Apa perlu aku kesana dan menciummu lagi??)"


"Dasar pria sinting!!" umpat Anin tersenyum.


Mia yang bisa melihat tanda-tanda kebahagiaan dari sahabatnya itu pun hanya bisa tersenyum.


Lagi dan lagi ponsel Anin berdering. Tapi kali ini Anin tidak mengangkatnya, karena takut Rafa akan datang menemuinya ke ruangannya.


"Halo??"


"Iya, ada apa??"


"Kamu mau makan apa?? Kita keluar yuk makan??"


"Ehm, maaf. Aku sudah pesan makanan tadi, kebetulan Rafin dan Mia masih disini. Kamu makan aja dulu. Atau mau aku pesankan bawa ke ruangan kamu??"


"Rafin masih disana?? Baiklah, tunggu aku." ujar Rafa lalu mengakhiri percakapan mereka.


Anin bingung apa maksud ucapan Rafa tadi. "Aku disuruh menunggu?? Maksudnya, aku pesankan makanan terus menunggu disini, atau dia datang kesini mau ngajak makan diluar??"


Anin menggaruk-garuk kepalanya kebingungan. "Au ah, masa bodoh!! Terserah dia mau makan disini atau dimanapun!!!


Tak lama kemudian, Rafa datang bersama Mark membawa banyak sekali makanan dan juga mainan.


"Hallo, Rafinn??"


Rafin berlari mendekati Rafa dan memeluk kakinya. "Halo, Om??" jawabnya tersenyum sambil memamerkan wajahnya yang imut.



"Ini om bawakan sama makanan kesukaan, Rafin. Makan sama om, ya??"


Rafin mengangguk dan sangat penurut. Rafin memang terkenal memiliki kepribadian yang ramah dan tidak pernah membantah.


Rafa menatap Anin yang sedari tadi melihat interaksi antara mereka berdua. Anin berpikir, mungkin ibunya ada benarnya. Menikahlah saja dulu dengannya, seiring berjalannya waktu, semua pasti ada jalan keluarnya.


Lagian kalaupun Anin harus tetap jujur, Rafa bukanlah orang sejahat itu, apalagi Rafin adalah putranya. Mungkin kenyataannya tidak seburuk seperti yang dia pikirkan selama ini.


"Hem, sejak kapan dia mengetahui makanan kesukaan Rafin??" tanya Anin dalam hati.


"Mami mamii!! Apin punya mainan. Look look." pamer Rafin sambil menunjukkan mainannya.


"Iya, sayang. Mainlah dulu ... Nanti kalau pekerjaan mami sudah selesai, mami temani Rafin main, ya??"


Rafin menganggukkan kepalanya sambil menunjukkan wajah manisnya.


"Sayang, kita main di luar saja, yuk?? Biarkan mami kerja dulu. Nanti sehabis main kita beli es krim."


"Yeay, yeay!! Beli es klim, beli es klim" teriak Rafin kegirangan sambil melompat kesana kemari.


"Om juga ikut, ya?" pinta Mark, lalu mereka bertiga pun keluar dan meninggalkan Anin dan Rafa disana.


Anin Mencoba tidak peduli dengan kecanggungan yang terjadi. Apalagi setelah kejadian di ruang rapat tadi.


"Dasar ini anak!! Setelah apa yang terjadi tadi, masih bisa-bisanya dia makan dengan tenang disini," ucap Anin pelan sambil menatap Rafa yang sedang asik makan.


"Kenapa kamu memandangiku seperti itu??" ujar Rafa membuat Anin kaget dan langsung mengalihkan perhatiannya pada laptop miliknya.


"Heii?? Kenapa tidak menjawabku??" ujarnya lagi, lalu berjalan mendekati Anin.


Anin mencoba tidak peduli, tapi tidak bisa di pungkiri kalau dia gemetaran. Jantungnya berpacu dengan cepat, sampai-sampai tangannya menjadi dingin dan keringatan.


"Anindya Putri Atmaja!!"


"Apa??"

__ADS_1


"Kapan kamu akan bersedia menikah denganku??"


"Tunggu lebaran monyet!!


"Duhh, kamu ...!!"


Tiba-tiba ponsel Rafa berdering. "Baiklah, saya akan segera kesana." jawabnya lalu menutup panggilan teleponnya.


"Ah, syukurlah!!" teriak Anin dalam hati.


"Awas kamu nanti!! Sebaiknya kamu secepatnya menjawab pertanyaan saya tadi, atau ..."


"Atau apa??"


Rafa hanya tersenyum, lalu pergi meninggalkan Anin dengan raut wajah kesal.


*


Malam itu, laju mobil yang dibawa oleh Mark tidak seperti biasanya.


"Kenapa Mark??"


"Saya juga tidak tahu, Tuan!! Ada yang aneh dengan mobil ini. Tadi sebelum di service, perasaan semuanya baik-baik saja." jawab Mark bingung.


"Kamu berhentikan saja dulu!!" perintah Rafa yang mulai ikut panik melihat mobil mereka melaju dengan sangat cepat.


"Mark hentikan!!"


"Tidak bisa, Tuan!!"


Dan ...


"(Baaaaam!!)"


Sebuah kecelakaan terjadi!! Mobil Rafa menabrak pembatas jalan, menyebabkan mobil mereka rusak parah.


Seketika orang ramai berkumpul mengelilingi mobil Rafa hendak menolong mereka.


Dan tidak berapa lama, akhirnya ambulans pun datang dan langsung membawa mereka ke rumah sakit.


"Kasihan pria tampan itu, sepertinya kakinya terluka parah." ujar warga yang satu saat melihat korban yang baru saja di evakuasi ke dalam mobil.


"Iya, syukur yang satunya tidak separah temannya", ucap yang lainnya lalu bergerombol mengelilingi mobil yang hancur itu.


**


Di kediaman Rafa.


Bi Inah berlari keluar menemui pak Man yang sedang berdiri dengan napas tersengal-sengal.


"Ada apa, Pak??"


"Itu Bi, anu, Tuan Rafa ..."


"Ada apa, Pak??"


"Tuan Rafa kecelakaan dan sekarang sedang menuju rumah sakit."


"Apaaaaa??"


Bi Inah terduduk lemas begitu mendengar kabar yang di sampaikan oleh Pak Man.


"Baa baiikkk, Pak. Terimakasih informasinya. Kami ... Kami akan segera kesana."


Anin berlari keluar, dan mendengar ibunya yang berteriak dan berbicarabdengan seseorang.


"Siapa, Bu??"


"Anu, Tuan Rafa, Nak."


"Kenapa dengan Rafa, Bu??"


"Tuan Rafa kecelakaan."


"Apaa???"


Seketika kaki Anin terasa lemas. Pikirannya melayang entah kemana.


"Nak?? Anin??"


Panggilan Bi Inah membuyarkan lamunan Anin.


"Eh, iya, Bu!!"


"Ayo kerumah sakit sekarang, Nak. Ibu ambil ponsel sama tas dulu."


"Ah, iya, Bu. Anin tunggu disini." jawab Anin dengan kaki gemetaran.


*

__ADS_1


"Sayang, dirumah dulu sama Ibu, ya?? Nenek sama mami ada urusan sebentar. Nanti sepulang dari sana, nenek belikan es krim buat Rafin, ya??"


Rafin mengangguk dan memeluk Bi Inah juga Anin secara bergantian.


*


Kurang lebih 30 menit, akhirnya Bi Inah dan Anin sampai di rumah sakit.


"Selamat malam, suster. Saya ingin bertanya tentang pasien yang baru saja datang, karena kecelakaan."


"Oh, iya, Bu. Ada dua pasien yang baru saja tiba, dan mereka sedang berada di ruang ICU. Ruangannya di sebelah sana. Kalau boleh tau anda siapa?? Kami perlu meminta konfirmasi data pasien."


"Kami keluarganya dan saya ... saya ibunya."


"Baiklah, anda silahkan mengisi data-data ini terlebih dahulu."


"Oke, baiklah. Ibu mengisi data ini terlebih dahulu, ya?? Kamu duluan saja kesana." ujar Bi Inah kepada Anin.


Anin mengangguk, meninggalkan Bi Inah dan langsung berlari menuju ruangan ICU.


*


Hampir 3 jam lebih Rafa berada di ruangan operasi. Luka yang Rafa terima cukup parah di bandingkan dengan Mark. Sehingga Rafa memerlukan penanganan yang lebih ekstra, sedangkan Mark tidak.


Saat kecelakaan, di detik terakhir sebelum terjadi insiden yang menyeramkan itu, Mark masih berusaha membuat Tuannya itu untuk tetap aman dan selamat, dengan membantingkan setirnya ke ke kanan dan menabrak sebuah pohon.


Tapi naasnya, setelah mobil menabrak sebuah pohon, dari depan malah muncul mobil dengan kecepatan tinggi. menabrak sisi kiri mobil, dimana Rafa duduk disebelah itu. Yang ada, mobil menghantam kuat sisi sebelah kiri mobil Rafa. Karena setengah bagian kiri dari mobil Rafa, berada di tengah jalan. Hantaman itu membuat Rafa terluka hebat, dan bagian kepalanya terbentur sangat keras ke bagian jendela, sehingga menyebabkan kepalanya terluka parah.


Mark hanya mengalami cedera kaki, karena terhimpit sebuah pohon yang mereka tabrak.


*


"Bagaimana, Dok??" tanya Anin begitu melihat para dokter keluar dari ruang operasi.


"Untuk saat ini, semuanya masih membaik. Tapi akan kami pantau ke depannya, semoga tidak terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan. Karena luka kepala yang di alami pasien sangat parah."


"Baiklah, Dok. Terimakasih."


*


"Sudah, Nak. Kamu istirahat dulu. Kita berdoa saja semoga Tuan Rafa dan Mark selalu dalam keadaan baik. Dan semoga Tuan Rafa cepat sadar juga."


"Iya, Bu. Amin ... Anin berharap semua akan segera membaik." jawab Anin dengan penuh kecemasan.


**


2 hari berlalu, Anin menghabiskan waktunya bermain game di ponselnya sambil menunggu Rafa di sampingnya.


Anin memutuskan untuk mengurus Rafa. Karena setelah semua yang sudah Rafa lakukan untuknya, Anin merasa kali ini adalah waktu yang tepat untuk membalasnya.


"Kamu, cepatlah bangun. Apa tidak bosan tidur terus??" ujar Anin sambil menatap wajah Rafa yang sangat pucat.


Tiba-tiba Rafa menggerakkan tangannya, dan matanya terbuka. "Kamu bangun?? Akhirnya!! Thanks God ..."


Refleks Anin melompat-lompat dan berlari keluar, memanggil Bi Inah dan juga dokter.


Lalu mereka pun masuk bersamaan bersama dokter dan juga para perawat.


"Selamat sore, Tuan Rafa??"


"So soo soree, Dok. Dimana ini?? Aww, kepalaku sakit sekali!!" rintihnya sambil memegang kepalanya.


"Anda sekarang berada di rumah sakit. Anda sebaiknya jangan banyak bergerak dulu. Karena luka yang anda derita cukup serius!!"


"Apa di rumah sakit??"


*


Anin berjalan mendekati Rafa, dan berdiri di sampingnya. "Dokter Benar, Tuan. Sebaiknya anda istirahat saja. Tidak usah banyak bergerak dan bicara dulu, sampai anda benar-benar pulih." jawab Anin, lalu mengambilkannya segelas air minum.


Rafa menatap geram ke arah Anin dan langsung menyingkirkan tangan Anin yang sedang memegang sebuah gelas berisi air minum yang hampir terjatuh.


"Siapa kamu?? Jangan coba-coba menyentuhku!"


"Mana Cathy??? Mana dia??"


(Duaaaaar!!!)


Bola mata Anin membesar seketika, kaget dengan apa yang barusan di ucapkan oleh Rafa. Anin berjalan mundur, dan tidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar.


•••••••


Apa yang terjadi dengan Rafa? Dan bagaimana nasib Anin selanjutnya??


Jangan lupa stay tune terus dengan kelanjutan novel aku, ya??


Perbanyak comments dan kritik. Karena ini sangat membantu dalam kelangsungan karya saya ini.


Terimakasih 🙏🙏

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2