My Secret Romance

My Secret Romance
Episode 38


__ADS_3

Anin masih saja menatap Rafa dengan tatapan yang sangat sulit di artikan. Lalu Anin berdiri dari duduknya, dan pergi meninggalkan Rafa.


Rafa pun berdiri lalu mengejar Anin. Rafa menarik tangan Anin, hingga membuat langkahnya terhenti.


"Lepaskan aku!!"


"Ada apa?? Apa yang salah dengan ucapanku??"


Anin melepaskan genggaman tangan Rafa ...


"Tidak ada yang salah denganmu. Hanya aku merasa diriku sangat kasian, setelah semua yang terjadi dan kamu menyukaiku karena rasa iba, rasanya duniaku runtuh seketika!!"


Rafa menatap Anin dengan tajam, dan ...


"Muaahh ..."


Rafa mengecup bibir Anin dan membuat Anin mematung kaget tanpa perlawanan.


"Aku tulus, bukan karena rasa iba. Apa aku perlu membuktikannya lagi di depan semua orang???"


Anin seketika sadar dan melihat sekelilingnya. Dan ternyata banyak mata yang memandang ke arah mereka.


"Tidak perlu!!"


Anin lalu berlari meninggalkan Rafa. Dan Rafa hanya bisa tersenyum melihat sikap Anin yang kekanakan. Lalu dia mengambil ponselnya dan mulai mengetikkan sesuatu.


"Terserah kamu mau menjelaskan bagaimana, tentang apa yang terjadi disini kepada kekasihmu itu. Aku akan menunggu kabar darimu. Dan satu hal lagi yang ingin ku jelaskan kepadamu, aku tidak pernah main-main saat menyukai seseorang, jadi jangan anggap rasa sukaku hanya sebatas rasa iba - Rafa"


Setelah dia selesai mengirimkan pesan itu kepada Anin. Rafa lalu menghubungi Mark dan menyuruhnya untuk tetap berada di samping Anin. Dan Rafa pun kembali bekerja meninggalkan mereka disana.


"Ah, dasar bajin*an!!" umpat Rafa saat melihat sebuah mobil yang mengikutinya dari kantor tempatnya bekerja sampai di apartemen ini, ternyata masih berada disana.


Rafa kemudian menghubungi Mark kembali.


"Berhati-hatilah, perintahkan Anin untuk segera menyelesaikan urusannya dengan kekasihnya itu. Dan minta dia untuk tidak keluar selama saya masih belum kembali"


"Baik, Tuan!! Akan saya sampaikan kepada Nona Anin"


"Dan tolong kamu tambah penjagaan untuk Anin dan di rumah, tapi dia atau siapapun tidak ada yang mengetahuinya kecuali kita berdua!" perintah Rafa lagi lalu mengakhiri panggilan teleponnya dan pergi keluar dari apartemen itu.


•••


Di kediaman Rafa ...


"Ibu, apa yang akan terjadi dengan kita??" tanya Mia panik.


"Tidak akan terjadi apapun, Nak. Ada Tuan Rafa yang akan melindungi kita. Kamu jangan khawatir."


"Tapi, Bu?? Sepertinya Tuan Rafa marah karena sikap Anin tadi pagi. Tuan Rafa pasti akan menyuruh kita keluar dari sini," jawab Mia sedih.


"Tidak akan! Anin pasti bisa menyelesaikan semua ini. Dan kalaupun itu bakal terjadi, kamu, Ibu, Teguh, Anin dan Rafin akan saling menjaga satu sama lain. Kita bisa kok melewati semuanya."


Bi Inah memeluk putrinya itu, dan menguatkannya, kalau semua akan baik-baik saja.

__ADS_1


"Kamu jangan terlalu banyak pikiran. Pikirkan kesehatanmu dan bayimu. Biarkan masalah ini Ibu yang menyelesaikannya."


"Baik, Bu. Maafkan Mia, membuat Ibu khawatir."


Ibu dan anak itu saling berpelukan. Dan tiba-tiba terdengar suara berisik dari dalam dapur. Semua pekerja rumah tangga dan pak Wawan pun ikut berlarian ke depan rumah. Bi Inah yang penasaran dengan apa yang terjadi pun mengikuti mereka.


"Wahhh, tampannya," ujar yang satu kepada yang lain.


"Astaga ... boleh dibungkus gak sih ini??" celoteh yang lainnya.


Pekerja rumah tangga wanita memuji-muji pemandangan indah yang berada di hadapan mereka. Dan pekerja rumah tangga yang pria hanya bisa tersenyum-senyum dan menggelengkan kepala.


Bi Inah yang penasaran pun ikut berdiri bersama pekerja yang lain.


"Ada apa, Pak?" tanya Bi Inah kepada Pak Wawan.


"Itu, Bu. Sepertinya Tuan yang mengirim mereka. Tidak biasanya seperti ini," jelas Pak Wawan sambil menunjuk beberapa pria yang sedang berdiri di sana.



"Untuk apa??" tanya Bi Inah bingung.


"Saya juga tidak tahu, Bu. Nanti akan saya tanyakan kepada Tuan."


Lalu Bi Inah kembali, duduk bersama Mia.


"Bubaaaar!! Bubaaaar!! Bungkuss! Bungkuss!! Di pikir mereka ikan asin apa, pakai di bungkus segala!!" ujar Pak Wawan bercanda, dan membuat semua orang tertawa.


*


"Banyak satpam di sana"


"Satpam?? Untuk apa, Bu??"


"Untuk lebih jelasnya, Ibu juga tidak tahu, Nak? Tapi sepertinya, Tuan Rafa mengirim mereka untuk melindungi kita. Nanti kita tanyakan saja ketika dia balik kerumah ini. Semoga Ibu tidak ke ge-er an."


Mia pun penasaran dengan apa yang di ceritakan oleh Ibunya, lalu pergi memastikan sendiri keadaan di luar sana.


Mia pun tertawa. "Itu bukan satpam, Bu. Itu namanya bodyguard," ucap Mia menjelaskan.


"Ah, Ibu taunya cuma satpam. Ibu mana ngerti apa itu bodyguard," jawab Bi Inah malu-malu.


Lalu Teguh datang dan bergabung bersama mereka.


"Apa yang terjadi, Bu? Sepertinya ramai sekali barusan?"


"Iya, ada banyak pria berbaju hitam berbaris di depan rumah. Sepertinya Tuan Rafa yang memerintahkannya. Dan terjadilah kehebohan," jelas Bi Inah.


"Termasuk Ibu kan??" canda Mia.


"Ibu hanya penasaran!" jawab Bi Inah lagi malu-malu. Lalu mereka semua tertawa.


••••••

__ADS_1


Di sebuah villa ...


Seorang pria paruh baya yang sedang terbaring sakit, hanya bisa menatap betapa indahnya pemandangan di luar sana lewat sebuah jendela.


Lalu seorang perawat masuk dan melakukan pemeriksaan terhadap pria itu.


"Bagaimana keadaan saya?"


"Semuanya membaik, Tuan. Anda hanya perlu beristirahat lebih lama lagi, dan sebaiknya anda tidak berpikir terlalu banyak. Fisik anda tidak cukup kuat untuk menerima kondisi seperti itu."


Setelah menjelaskan semuanya, perawat itu pun keluar dari ruangan itu. Lalu dia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Halo, Tuan. Selamat sore!"


"Iya, ada apa?"


"Saya hanya ingin menjelaskan apa yang anda minta pada saya tadi siang. Semuanya baik, Tuan. Hanya pasien sedikit mengalami kelelahan dan terlalu banyak berpikir. Tadi saya sudah memberinya vitamin, supaya kesehatannya cepat membaik"


"Baiklah, lakukan semua yang terbaik untuk dia. Dan saya harap kamu bisa bekerja sama dengan baik. Jangan pernah berpikir untuk mengecewakan saya. Kamu tidak akan selamat!!"


Lalu obrolan mereka pun berakhir. Pria paruh baya itu adalah Wiliam Wong.


Rafa menyembunyikannya di sebuah villa pribadi miliknya. Dan tidak ada yang mengetahui tempat itu, kecuali Mark dan Rafa sendiri.


Setelah insiden beberapa hari yang lalu, pengacara Wong terpaksa mendapat perawatan karena beberapa luka yang di deritanya. Tapi bukan itu yang terpenting. Ketakutan dan rasa trauma yang di alami pengacara Wong, adalah fokus penyembuhan untuk saat ini.


••


Rafa mengambil ponselnya lalu menghubungi Mark.


"Mark, kamu sudah cari secara detail informasi tentang perawat yang menjaga Pengacara Wong, kan??"


"Sudah, Tuan. Anda tidak perlu khawatir, dia adalah teman sepupu saya. Saya bisa pastikan dia tidak akan mengecewakan anda!!"


"Baiklah kalau begitu!! Saya mau malam ini, saya sudah bisa mengakses semua CCTV yang terpasang di sana. Kamu mengerti??"


"Mengerti, Tuan!!" jawab Mark, dan obrolan mereka pun berakhir.


Rafa duduk dan menyandarkan kepalanya pada sebuah sofa.


"Kamu kemana?? Kenapa belum juga membalas pesanku dan tidak memberiku kabar apapun??"


Rafa hanya bisa menunggu dengan kesal karena Anin tidak juga membalas pesannya.


•••


Di apartemen X ...


Anin yang baru membuka dan membaca pesan dari Rafa, hanya bisa menatapnya dengan ekspresi sedih.


Rei yang melihat perubahan sikap kekasihnya itu, hanya bisa melihatnya dari kejauhan. Rei sadar, pasti sudah terjadi sesuatu. Dia tidak ingin bertanya apapun, sampai Anin sendiri yang menceritakannya.


"Kenapa?? Saat kamu mengatakan kalau kamu menyukai aku, bukannya bahagia, aku malah semakin takut dengan kenyataan. Apakah semuanya akan semudah yang aku bayangkan. Atau akan semakin memburuk apalagi saat kamu tau, Rafin itu adalah anakmu??"

__ADS_1


*****


(Bersambung)


__ADS_2