
•••••••
Anin langsung masuk kekamarnya, dan merebahkan tubuhnya yang benar-benar lelah belakangan ini.
"Bisakah kamu mengingatku? Atau semuanya harus menjadi rahasia yang harus aku simpan seumur hidupku??" batin Anin sambil menatap langit-langit kamarnya.
Tiba-tiba Rafin masuk kekamar Anin sambil membawa sesuatu.
"Mamiiii!!! Apin datang." teriaknya lalu memeluk dengan sangat erat.
"Hi, anak mami. Darimana saja selama ini?? Ini bawa apa coba??" tanya Anin lalu mencium kedua pipi Rafin.
"Apin dali lumah Ibu, Mami. Apin main telus. Apin suka disana, tapi Apin lindu sama mami," ucapnya penuh semangat. (ps: tulisannya sengaja saya buat ala anak-anak, ya)
"Mami juga rindu sama Rafin. Sini peluk mami yang kenceng!!" pinta Anin gemas dengan tingkah laku putranya itu.
Anin memandangi raut wajah Rafin, di usapnya pipi Rafin dengan lembut. "Sayang, kenapa begitu rumit masalah yang mami hadapi? Mami ingin sekali kamu memanggilnya papi" batin Anin sedih, ketika menyadari sampai sekarang dia masih belum bisa memperjuangkan apa yang seharusnya Rafin dapatkan.
**
"Rafinnn ... Rafinn!!" teriak Bi Inah mencari keberadaan Anin. Lalu Bi Inah langsung menuju ke kamar Anin. Bi Inah berpikir, pasti cucunya itu sudah berada disana.
Rafin tertawa saat dia tahu, neneknya akhirnya bisa menemukannya.
"Sayang makan dulu, yuk? Nenek masak ayam goreng sama sosis kesukaan Rafin. Bagaimana?? Mau gak??" ajak Bi Inah tersenyum kepada Rafin.
"Holee, mau dong, Nek. Ayam goleng, enak enak enak!!" teriaknya lalu memegang tangan Bi Inah.
"Kamu juga kebawah ya, Nak?? Hari ini Tuan Rafa ulang tahun."
"Tapi, Bu?? Anin merasa tidak nyaman. Apalagi ada tunangannya disana."
"Apa Ibu menyuruhmu pulang tidak ada maksud lain?? Mandilah! Lalu kamu ke bawah, kita makan malam bersama." pinta Bi Inah sambil tersenyum penuh arti.
"Tapi, Bu??"
Bi Inah tidak menggubris bantahan Anin dan berlalu pergi. Kali ini dia benar-benar tidak mengerti maksud tujuan ibunya itu.
**
Selesai mandi, Anin berjalan keluar dari kamarnya menuju ruang makan. Disana hanya ada Rafin yang sedang duduk menikmati makan malamnya.
"Hi, sayang? Nenek mana?? Kenapa Rafin sendiri aja??" tanya Anin penasaran.
Rafin hanya tersenyum sambil menunjukkan ke arah dapur. Mulutnya sama sekali tidak bisa berbicara karena penuh dengan ayam goreng kesukaannya.
"Ah ... Nenek disana, ya??" jawab Anin mengerti maksud dari Rafin. Lalu Anin langsung menuju dapur menemui Bi Inah.
"Ada yang bisa Anin bantu, Bu?" tanyanya begitu melihat Ibunya itu sibuk sekali dengan semua hidangan yang ada.
"Tidak usah, sayang. Ada mereka yang membantu Ibu. Kamu menemani Rafin saja, ya?? Sebentar lagi Tuan Rafa juga turun. Baru kita sajikan semuanya." jawab Bi Inah mengusap lembut pipi Anin.
Anin hanya mengangguk, lalu pergi menemui Rafin. Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti. Dia melihat Rafa sudah duduk disana, bercengkerama dengan Rafin.
"Hem, sejak kapan mereka sedekat itu??" batin Anin yang kaget melihat keakraban mereka.
__ADS_1
Anin berbalik mundur dan kembali ke dapur.
"Kenapa, Nak??" tanya Bi Inah kaget yang melihat Anin balik lagi ke dapur.
"Ehm, Anu, Bu. Tuan Rafa sudah duduk disana."
"Wah, iyakah?? Baiklah, kalau begitu kamu bantu Ibu membawa ini ke depan, ya?? Kita harus segera menyajikan ini." pinta Bi Inah.
Anin hanya bisa menyetujui permintaan Bi Inah, walaupun sebenarnya dia malas ketemu dengan Rafa.
"Ayo, Nak. Kamu kenapa masih berdiri saja disitu??" ajak Bi Inah melihat Anin masih tidak bergerak dari tempatnya berdiri.
"Ba baik, Bu."
**
Semuanya sudah disajikan. Bi Inah dan yang lainnya pun balik ke dapur.
"Kamu makan disini saja, sayang. Temani Rafin makan, ya??" pinta Bi Inah begitu melihat Anin hendak ikut bersamanya kedapur.
"Tapi, Bu??"
Anin sangat tidak ingin melihat Rafa karena di satu sisi, dia masih sangat membencinya.
Ucapan Anin membuat Rafa yang daritadi asik dengan makanannya pun kini menatapnya. Rafa seperti pernah mendengar suara itu, tapi dia lupa kapan, dimana dan siapa Anin.
"Kamu??"
Anin hanya menunduk, tidak berani menatap balik tatapan Rafa.
Anin duduk dan mengikuti apa yang Rafa suruh. Entah kenapa, tiap kali melihat Rafa, emosi Anin pun berubah tidak stabil.
Bi Inah yang melihat kebersamaan mereka bertiga dari dapur pun sempat mengabadikannya lewat ponsel miliknya. "Inilah tempatmu yang sebenarnya, Nak." batin Bi Inah sambil menahan airmatanya.
*
Sedangkan di sebuah airport, seorang gadis sedang menunggu dengan kesal karena kepulangannya tertunda 2 jam diakibatkan oleh cuaca buruk. Iya, dia adalah Cathy, yang baru akan pulang setelah ada pemotretan beberapa hari ini, dan dia harus meninggalkan Rafa.
"Ahh, shit!! Kenapa harus ada badai sih hari ini!!!"
Cathy mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Rafa. Tapi tidak ada tanggapan sama sekali, karena yang pasti Rafa sedang menikmati makan malamnya bersama Anin dan juga Rafin.
"Kamu kemana, sih??" ujar Cathy kesal lalu menghempaskan tasnya ke sebuah kursi di ruang tunggu bandara itu.
**
Di kediaman Rafa.
Rafa sedang asik bermain sambil menonton Tv dengan Rafin di ruang keluarga. Sedangkan Anin lebih memilih untuk membantu Ibunya di dapur.
"Bu??"
""Iya, sayang??"
"Sejak kapan Rafa dan Rafin sangat dekat seperti itu??"
__ADS_1
"Entahlah, sayang. Dulu sewaktu Tuan Rafa belum lupa ingatan seperti sekarang, bisa dibilang hubungan mereka sangat baik. Walau setelahnya Tuan Rafa lebih memilih tinggal di apartemennya, tapi dia suka sekali mengirim hadiah kepada Rafin. Dan anehnya, setelah kepulangannya waktu itu dari rumah sakit, kedekatannya dengan Rafin tidak berubah, walau Tuan Rafa tidak mengingat lagi siapa nama Rafin."
"Terus, Bu??"
"Yah, seperti yang kamu lihat sekarang ini. Mereka sangat dekat, dan hampir setiap hari mereka bermain walau hanya sebentar."
Anin menatap mereka dari kejauhan. Kehangatan yang tercipta diantara mereka memanglah hal yang sewajarnya, karena ikatan darah itu tidak akan pernah dibohongi. Tapi, lain halnya dengan yang terjadi sekarang. Lain hal kalau Rafa tau, Rafin adalah anaknya. Ini kan tidak?? Tapi mereka bisa sedekat?? Ah, semua memang rahasia Tuhan.
"Apalagi yang kamu pikirkan, Nak?? Kenapa kamu diam saja, sementara ada yang sedang berusaha mencuri posisimu?? Bagaimana dengan Rafin?? Cobalah pikirkan kembali untuk memperjuangkannya!!" ujar Bi Inah, justru membuat Anin semakin sedih.
"Dia sudah bertunangan, Bu!!"
"Dia single!! Tunangannya itu memiliki posisi hanya karena Rafa sedang hilang ingatan. Kenapa kamu tidak coba membantunya mengembalikan kembali ingatannya itu??"
"Anin tidak bisa, Bu!!"
"Anin!! Jadi kamu akan menyerah?? Membiarkan begitu saja Tuan Rafa menjadi milik orang lain??"
"Tapi, Bu. Kalau ingatannya kembali nanti, pasti dia akan mengingatku," ucap Anin mencoba untuk tetap tenang.
"Iya, tapi setelah Rafa menikah dan menjadi milik wanita itu."
"Apaaa?? Rafa akan menikah??"
"Iya, bulan depan. Dan kamu??"
Bi Inah sebenarnya juga tidak tega melihat Anin seperti ini. Tapi jika tidak berkata sedikit lebih tegas, Anin tidak akan pernah berani melakukan apapun, karena dia takut kecewa.
"Dokter bilang, ingatan Tuan Rafa bisa kembali ataupun tidak sama sekali tergantung kita, orang yang hidup dengannya. Sedangkan yang Ibu lihat, wanita itu sama sekali tidak berniat membuatnya untuk sembuh."
"Cobalah bantu dia untuk mengembalikan lagi ingatannya. Dan ini!!!" Bi Inah memberikan botol kecil yang berisi obat.
"Coba tanyakan ini kepada seseorang yang kamu kenal, tapi berhati-hatilah. Karena Ibu yakin, itu bukan obat untuk Tuan Rafa."
Anin menatap Bi Inah dengan ragu. Dia juga kaget, kenapa ibunya bisa tahu dengan sangat detail setiap yang terjadi dirumah itu.
"Ibu dapat darimana??"
"Kemarin sore, sehabis berolahraga Tuan Rafa meninggalkan itu di meja makan. Ibu tidak mengenali obat apa itu, karena sewaktu di rumah sakit, Ibu memperhatikan dengan sangat baik setiap jenis obat yang dia terima dari dokter untuk penyembuhan Rafa."
......
"Percaya sama, Ibu. Kamu sebaiknya melakukan hal yang tepat kali ini. Atau kamu akan menyesalinya seumur hidupmu!!"
Bi Inah mengelus rambut Anin dan menatapnya dengan lembut. Baru kali ini dia melihat Ibunya seperti itu. Tapi Bi Inah melakukan itu karena dia tidak ingin Anin melewatkan lagi kesempatannya kali ini.
Tidak ada kata terlambat, dan tidak boleh takut menghadapi kenyataan apapun yang akan terjadi, apalagi kita sama sekali belum mencobanya. Bagaimana Anin tahu, kalau Rafa akan marah dan menuduhnya dengan hal yang memalukan karena mengaku kalau Rafin adalah putranya, sedangkan Anin tidak pernah mencoba menyelesaikan permasalahannya, tapi malah terus melarikan diri??
"Ah, mungkin Ibu ada benarnya. Apapun nanti hasilnya, setidaknya aku harus berusaha. Tapi kali ini harus dimulai dengan mengembalikan ingatanmu, dan menyingkirkan wanita itu." ujarnya dengan mantap, lalu memeluk Bi Inah dengan sangat erat.
"Terimakasih, Bu!!"
••••
Bersambung.
__ADS_1