My Secret Romance

My Secret Romance
Episode 36


__ADS_3

(Sebelumnya)


Anin lalu menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Rafa.


"Ada apa lagi???"


"Tunggu dulu, aku akan mengantarmu!"


*


"Tidak perlu!! Aku masih sadar dan tau jalan kesana"


Anin yang masih kesal dengan sikap Rafa, terus saja berjalan meninggalkan Rafa. Rafa mengejarnya dan menarik tangannya.


"Stop it!! Jangan kekanakan dan egois!!"


Rafa menarik tangannya dan mengajaknya masuk kedalam mobilnya. Anin hanya bisa pasrah karena tenaga Rafa lebih kuat darinya.


"Kamu tidak perlu mengantar aku!"


Rafa terus saja menyetir tanpa memperdulikan Anin. Anin merasa tidak senang karena dia merasa di acuhkan oleh Rafa.


"Aku kan lagi ngomong, hargai dong. Jawab apa gitu!" ucap Anin sembarangan.


Rafa tiba-tiba menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Lalu menatap Anin dengan tatapan tajam.


"Aku harus jawab apa untuk setiap celotehanmu yang tidak penting itu??? Dengar!! Aku mengantarkanmu, bukan berarti aku berbaik hati kepadamu. Aku hanya memikirkan Ibumu, kakakmu, suaminya dan juga keponakanmu!! Mungkin kamu kebanyakan bermimpi saat kamu tertidur tidak sadarkan diri, sehingga membuat kepalamu sampai saat ini bisa berpikir dengan baik!!"


Rafa menghentikan ucapannya dan melanjutkan perjalanannya lagi untuk mengantar Anin ke bandara. Anin yang masih saja tidak senang dengan perlakuan Rafa, menatap keluar jendela mobil dengan wajah yang penuh emosi dan Rafa bisa melihatnya.


"Berhenti bersikap kekanakan begini! Cobalah untuk bersikap lebih dewasa, diluar sana ada seseorang yang berusaha menghancurkanmu dan keluarga barumu. Aku hanya berusaha membuat kalian tetap aman, tapi kamu?? Apakah pernah kamu berpikir sekali saja untuk keselamatan mereka?? Apa kamu tidak penasaran dengan apa yang pamanmu. lakukan terhadap orangtuamu dulu?? Dan apa kamu tidak punya niat untuk memberinya sekali saja pelajaran, dan tunjukkam kepadanya kalau kamu itu tidak lemah!!"


"Sekarang, aku akan mengantarmu!! Bukan karena kamu, tapi karena aku memikirkan keluargamu. Aku hanya memberikan bantuan sebatas yang aku bisa ke kamu. Kalau kamu tidak mau menerimanya, kamu bisa pergi dan bawa mereka semua. Lakukan apa yang kamu mau, tapi aku tidak akan bertanggung jawab untuk apa yang akan terjadi setelah itu," ucap Rafa lagi, lalu menghentikan mobilnya.


"Kenapa berhenti?" tanya Anin lalu menatap Rafa.


Untuk sesaat mata mereka saling memandang, Tapi dengan cepat Rafa membuang mukanya dan menatap jauh ke depan, ke dalam keramaian ibukota.


"Pergilah. Maaf, kalau aku memaksa untuk mengantarmu tadi. Sekarang kamu bebas kemana saja. Dan siang nanti, aku akan menyuruh Mark mengantar keluargamu balik kerumah kalian sendiri," jawab Rafa acuh tanpa memandang Anin.


Anin terdiam seketika, seperti kena tamparan, sakit dan tidak berdarah. Dia sadar kalau dia sudah sangat egois. Di satu sisi, rasa rindunya kepada kekasihnya itu, ternyata membuatnya tidak bisa berpikir dengan jernih atas konsekuensi apa yang akan dia dapat setelahnya. Anin sadar, hanya pria yang berada disampingnya itu, yang bisa membantu dan melindunginya, juga keluarganya.


"Maafkan aku, Tuan!! Aku salah ..." ucapnya lirih.


Rafa masih saja tidak mengacuhkan Anin. Dia menyandarkan kepalanya di kursi mobil miliknya, lalu menutup matanya.


Tiba-tiba ponsel Anin berdering, tapi Anin tidak mengangkatnya. Ponselnya berdering cukup lama, tapi Anin tidak memperdulikannya.


"Angkatlah!!" perintah Rafa.


"Hem, tapi ...?"


Rafa menatap Anin dengan lembut.


"Angkatlah ..."


Lalu Anin pun mengangkatnya, dan ternyata itu telepon dari Rei.


"Halo ..."


"Halo, sayang. Kamu dimana?? Aku sudah menunggumu lama disini"


"Maafkan aku, sayang. Aku masih di jalan. Macet sekali dimana-mana"


"Baiklah, aku tunggu. Cepat ya, sayang?'

__ADS_1


"Baiklah, sebentar lagi aku sampai!"


Rafa yang mendengar percakapan mereka, hanya bisa menutup matanya. Kepalanya bersandar pada kursi mobil miliknya dan sesekali terdengar hembusan napas yang berat dari mulutnya.


"Tuan ..."


"Ya, ada apa?


"Aku harus menemuinya kali ini. Bukan karena aku tidak memikirkan keselamatan keluargaku, tapi karena setelah perjalanan jauh yang dia tempuh, tidak mungkin aku tidak menemuinya"


"Lalu??"


"Hem, lalu ... Lalu setelah itu aku akan menyuruhnya kembali ke Paris. Tapi mungkin tidak hari ini. Aku akan menyuruhnya pulang besok"


Anin menatap Rafa yang masih saja menutup matanya. Mencoba memohon ijin atas setiap ucapan yang baru saja dia katakan.


"Baiklah, temui dia. Akan aku atur tempat dia beristirahat untuk malam ini. Mark akan menemui kita di bandara nanti, dan dia yang akan mengantar kalian kesana"


"Ehm, anda mau kemana??"


Rafa membuka matanya lalu menatap Anin.


"Masih banyak yang harus aku kerjakan."


Lalu mereka pun melanjutkan perjalanan mereka. Setelah 30 menit akhirnya mereka tiba di bandara dan Mark ternyata juga sudah ada disana.


Mark menemui Rafa, setelah itu Rafa menyerahkan semua urusan Anin di bawah kendali Mark. Lalu Rafa pergi dan meninggalkan mereka berdua disana. Anin menatap Rafa dari kejauhan, tatapan yang sulit di artikan, tapi Anin terus menatap mobil Rafa sampai menghilang di jalanan.


"Nona??"


"Hem, eh iya? Maafkan saya. Bisakah kamu menunggu saya sebentar disini. Saya akan menjemput kekasih saya di dalam??"


"Saya akan menemani anda, kemanapun anda pergi. Maaf, Nona. Itu perintah Tuan Rafa"


"Baiklah kalau begitu."


"Sayang???"


Anin berlari memeluk Rei begitu melihatnya.


"Maafkan, aku sudah membuatmu menunggu lama. Ayo kita keluar dulu dari sini, nanti di mobil aku akan cerita"


Rei menatap Anin bingung, lalu mengambil koper miliknya dan merekapun keluar dari bandara.


"Dia siapa, sayang??" tanya Rei penasaran dengan pria yang sedari tadi berdiri di sebelah Anin.


"Dia?? Ehm, dia sepupuku, Mark"


Mark kaget, lalu menatap Anin dengan bingung.


"Oh, ya?? Kenapa kamu tidak memperkenalkannya dari tadi. Hello, Mark?? Perkenalkan saya Rei," ucap Rei memperkenalkan diri sambil menyodorkan tangannya.


Anin lalu menatap Mark dan tersenyum kepadanya. Anin menyatukan kedua tangannya, memohon bantuan kepada Mark untuk mengikuti alur cerita yang Anin mainkan.


"Saya, Mark," jawab Mark menyambut tangan Rei dan mereka pun berkenalan.


"Baiklah, kita sebaiknya pergi," ucap Anin kepada keduanya. Lalu mereka pun bertiga meninggalkan bandara dengan menumpangi mobil Mark.


••••••••


"Kamu dimana??"


"Saya di bandara KK, Tuan"


"Kamu menemukannya??"

__ADS_1


"Iya benar, saya menemukan gadis itu, Tuan. Sepertinya dia sudah pulih dan sadar"


"Apakah kamu yakin itu dia??"


"Saya yakin, Tuan!"


"Apakah pria itu bersamanya?"


"Tidak, Tuan. Hanya orang kepercayaannya yang menemani gadis itu"


"Baiklah, pantau terus kemana mereka pergi. Kabari saya semua hal yang kamu lihat dan apa yang sedang dia lakukan!!"


"Siap, Tuan!!


••••••••


Di dalam mobil ...


"Baiklah, Tuan Rafa!! Saya akan melakukannya!" ucap Mark lalu menutup panggilan teleponnya.


"Ada apa, Mark?" tanya Anin penasaran.


"Tidak apa-apa, Nona"


Rei menatap tingkah mereka berdua yang aneh sedari tadi.


"Nona?? Kenapa kamu memanggil sepupumu sendiri Nona??" ucap Rei bercanda, tertawa lalu menepuk pundak Mark.


"Ahh, itu. Dia biasa bercanda seperti itu sejak kami masih kecil. Dia juga kadang memanggilku dengan sebutan lain. Bukan begitu, Mark??" jawab Anin tertawa.


"Eh, iya Nona. Ehm, itu maksud saya Anin. Saya juga sering memanggilnya nenek sihir, nenek gayung, nenek ngesot," jawab Mark bercanda, malah membuat Rei makin tertawa.


"Ishhh apa-apaan itu. Sekalian aja nenek beranak dalam kubur!!" ucap Anin kesal, yang justru malah membuat Mark dan Rei malah makin tertawa karena ucapan Anin.


"Awas aja kamu, Mark!!" umpat Anin dalam hati, lalu tersenyum dan mengalihkan pandangannya pada keramaian kota di luar sana.


"Ah, sepertinya aku baru menyadari ternyata keramaian itu seperti ini!"


********


(Bersambung)


Happy reading ...


Have fun ...


Jangan lupa like dan komennya, tetap ikuti update an karya saya, ya??










__ADS_1


Oh, ya. Vote nya juga.


Terimakasih.


__ADS_2