My Secret Romance

My Secret Romance
Episode 49


__ADS_3

•••••••


Malam harinya ...


"Duh, aku harus bilang apa nih ke Arum dan yang lainnya??"


Anin terus saja mondar-mandir sambil berpikir apa yang harus dia katakan kepada teman-temannya.


Tiba-tiba Rafa masuk, tapi Anin sama sekali tidak menyadarinya.


"Dasar gadis aneh!!" umpat Rafa begitu melihat Anin yang berjalan mondar-mandir sambil komat-kamit.


"Duduk!!" perintah Rafa membuat Anin kaget.


"Astaga, kamu masuk kok seperti maling, bikin kaget saja!!" ujar Anin sedikit emosi.


"Kamu saja yang tidak mendengar. Makanya kalau punya telinga dipakai!! Coba tadi benar-benar maling yang masuk, pasti kamu sudah tinggal nama."


"Ish, jangan jahat mulutnya!! Kalau ngomong itu jangan sembarangan!!" jawab Anin masih saja lanjut dengan omelan panjangnya.


Rafa tidak menggubrisnya malah asik sibuk makan sambil memeriksa pekerjaannya lewat ponselnya.


"Rafa!!!"


"Hmm ..."


"Shhhhh!!" umpat Anin kesal, lalu ikut makan sambil berbicara tidak jelas.


"Sudah selesai??"


"Sudah!!" ujar Anin lalu membereskan piring dan makanan sisa yang ada di meja.


"Bukan itu maksud aku."


"Terus??"


Rafa menatap Anin dengan kesal. "Ah, oh iya Arum. Ehm, itu habis ini akan kuberitahu," ucap Anin terbata-bata lalu pergi meninggalkan Rafa.


••••


Di bandara.


Anin dan Rafa bersiap untuk check-in. Keberangkatan pesawat mereka terjadwal pukul 10 pagi.


"Ah, sebegitu menariknya perjalanan hidupku. Sampai aku harus terjebak dan bertemu lagi dengan dia," ucap Anin dalam hati sambil melirik Rafa yang sedang berdiri di sampingnya.


"Ada apa??" tanya Rafa yang sedari tadi sadar kalau Anin sedang menatapnya.


"Tidak ada!!" jawab Anin, lalu duduk dan mengambil ponselnya.


Anin mencoba mengalihkan perhatiannya agar tidak terlihat kaku duduk berdua dengan Rafa di ruangan VIP itu.


"Apakah Ibuku sudah tahu kalau aku akan pulang bersamamu??" tanya Anin tiba-tiba memecah kesunyian diantara mereka.


"Keluargamu tidak ada yang tahu, Bukankah lebih baik kamu sendiri yang menjelaskannya??" tanya Rafa sambil menatapnya dengan tajam.

__ADS_1


Anin menundukkan Kepalanya tidak berani lagi menatap Rafa. "Ah, apa yang harus aku katakan kepada Ibu dan Mia??" ujarnya dalam hati.


"Jangan coba-coba berbohong lagi!!" bentak Rafa membuat Anin kaget. Anin hanya terdiam menatap Rafa, yang bisa membaca apa isi hati Anin.


**


"Anin kemana??" tanya Dimas, teman kerja Anin di kantor milik Arum, yang heran melihat Anin belum juga muncul padahal jam kantor sudah menunjukkan pukul 8.


"Dia gak datang." jawab Erin santai.


"Loh, kenapa? Sakit??"


"Dia berhenti bekerja!" jawab Erin lagi.


"Kenapa??"


"Kenapa!! Kenapa!! Mana aku tahu!! Tanya sendiri sana." jawab Erin kesal, lalu meninggalkan Dimas yang cemberut dengan jawaban Erin.


Erin dan Shasa memang berjanji untuk tidak menceritakan masalah Anin kepada orang lain. Kemarin malam Anin menghubungi mereka berdua dan menceritakan permasalahan yang sebenarnya kepada Erin dan Shasa yang sudah dianggapnya sebagai keluarganya selama dia bekerja di perusahaan Arum.


**


Di ruangannya, Arum masih sibuk dengan pekerjaannya. Tiba-tiba Bima masuk dan langsung buru-buru duduk di hadapan Arum.


"Benar Anin pulang??" tanya Bima tidak sabaran.


"Iya, benar."


"Kenapa?? Kapan??"


"Tadi pagi, katanya dia ada urusan mendadak di rumahnya. Dan dia terpaksa pulang."


Belum sempat Bima menyelesaikan ucapannya, Arum langsung memotongnya dan menatapnya sambil tertawa.


"Duh, udah seperti kereta api aja, jalan terus gak ada remnya! Kalau mau tahu, tanya sendiri sana. Malu?? Terus kapan dapatnya dong??" sindir Arum tersenyum, lalu melanjutkan pekerjaannya.


"Gak asik!! Dasar nenek tua!!" ujar Bima kesal, lalu pergi meninggalkan Arum.


**


Sore itu, mendung menyelimuti kota B saat Anin dan Rafa baru saja tiba dari perjalanan mereka, yang lumayan cukup jauh.


Sesampainya di pintu keluar, Mark sudah menunggu mereka, dan mereka langsung meluncur menuju ke kediaman Rafa.


"Mark, berhenti di depan sana. Nanti kamu antarkan Non Anin sampai kedepan rumah saya." perintah Rafa di tengah perjalanan.


"Loh, kenapa?? Kamu tidak pergi bersama saya??" tanya Anin bingung dengan sikap Rafa.


"Tidak. Kamu selesaikan masalah kamu sendiri dan belajarlah bertanggung jawab!"


"Tapi??"


"Tidak ada tapi-tapi an! Ada atau tidaknya saya disana, permasalahan itu juga harus kamu yang menyelesaikannya sendiri. Lagian saya masih ada pekerjaan." jawab Rafa, lalu turun dan meninggalkan Anin berdua bersama Mark.


"Baiklah, Non. Kita berangkat," ucap Mark, dan Anin pun mengangguk menyetujuinya.

__ADS_1


Rafa menatap mobilnya yang melaju di derasnya hujan sampai menghilang. "Maafkan, aku. Aku hanya tidak ingin masuk terlalu jauh lagi ke dalam kehidupanmu." ujarnya lalu pergi masuk ke dalam sebuah restoran.


**


Bi Inah yang sedang asik menemani Rafin bermain, tiba-tiba di kagetkan dengan suara Isah, pembantu di rumah itu. Yang teriak-teriak memanggil nama Bi Inah.


"Bi Inah!! Bi Inah!!" teriaknya dengan suara yang hampir habis karena berlari sambil memanggil nama Bi Inah.


"Kenapa, Sah??"


"Itu anu, itu loh, Bi ..."


Belum sempat Isah menyelesaikan ucapannya, Anin tiba-tiba muncul membuat Bi Inah hanya bisa terdiam dan menangis.


"Anin????" ujarnya lalu berlari memeluk putrinya itu.


"Maafkan Anin, ya Bu??"


"Tidak perlu meminta maaf, sayang. Apapun itu, Anin tetap putri Ibu," ucap Bi Inah, dan mereka pun berdua menangis sambil berpelukan.


Rafin yang melihat maminya itu pulang pun langsung berlari memeluknya. Mereka bertiga akhirnya bisa melepas rindu yang selama ini tertahan.


*


"(Tok ... tok ... tok)"


"Masuklah ..."


Anin mengintip dari balik pintu, dan melihat ibunya yang sudah berbaring hendak tidur, sambil memeluk Rafin.


"Bu?? Bolehkah Anin tidur disini??" pinta Anin sambil tersenyum.


"Ayo, masuklah, Nak." jawab Bi Inah memperbolehkan Anin tidur bersamanya.


Anin merebahkan tubuhnya di samping Rafin. Kasur di kamar Bi Inah memang lumayan besar, sehingga walau dengan tambahan Anin, mereka sama sekali tidak merasa sempit.


Anin menatap wajah ibunya yang kelihatan lelah. "Ibu?? Anin benar-benar minta maaf, ya??". Anin masih saja merasa bersalah atas kebohongan yang sudah dia lakukan selama ini kepada ibunya. Dan setelah menceritakan kejadian sebenarnya kepada Bi Inah dan juga Mia tadi sore, justru membuat rasa bersalah Anin semakin besar.


Dia akhirnya paham, keluarga adalah jalan pulang satu-satunya saat kita mulai tersesat. Tempat yang tidak akan pernah menolak kita, saat kita melakukan sebuah kesalahan.


"Tidurlah, sayang. Jangan meminta maaf terus. Sekarang kamu sudah pulang. Itu yang paling penting buat ibu." jawab Bi Inah tersenyum sambil menggenggam tangan putrinya itu.


"Terimakasih, Bu"


Bi Inah mengangguk, dan membelai lembut pipi Anin. "Tidurlah, sudah malam. Kamu pasti lelah sekali."


Mereka bertiga pun akhirnya tertidur sambil di temani rintik hujan, yang tidak juga berhenti semenjak Anin tiba di kota itu.


•••


Terimakasih untuk kritik dan juga komen teman-teman demi kemajuan novel saya ini.


Semoga ke depannya, menjadi lebih baik dan jangan pernah bosan untuk tetap like, follow dan comment novel aku ini, ya??


Be healthy and be happy.

__ADS_1


Bye ... bye!!


Bersambung.


__ADS_2