
Mia seketika terdiam seperti patung hidup setelah Rei, kekasih Anin meneleponnya.
"Ada apa, Nak?"
"Anu, Bu. Ini ini ..."
"Siapa?"
Lalu Bi Inah mendekati Mia dan mengambil telepon dari tangan putrinya itu.
"Halo ..."
"Halo Ibu ...Saya Rei"
Bi Inah pun seketika terdiam, dia yakin pria ini akan menanyakan keberadaan Anin.
"Iya, Nak. Kamu yang menelepon ke ponsel Anin kemarin kan?
"Iya, Bu. Saya menunggu kabar dari Ibu. Maaf saya mengganggu lagi, karena saya khawatir dengan Anin. Tidak biasanya dia seperti ini ..."
Bi Inah berpikir, mungkin ini adalah waktu yang tepat untuk menjelaskan kepada Rei tentang keadaan Anin yang sebenarnya.
"Nak, sebenarnya Anin ..."
Lalu Bi Inah pun menceritakan semua peristiwa yang menimpa Anin, dan bagaimana keadaan Anin sekarang.
"Nak, Rei??"
Tak ada jawaban dari Rei, yang ada hanya keheningan yang bisa Bi Inah rasakan dari sana.
"Nak???"
Rei hanya bisa terdiam, setelah mendengar apa yang baru saja di ceritakan Bi Inah. Dia merasa dunianya baru saja runtuh, tapi dia bahkan tidak bisa melakukan apapun untuk kekasihnya itu.
"Bu, saya akan segera datang kesana. Bisakah Ibu mengirimkan alamat Ibu kepada saya, dan alamat rumah sakit tempat Anin di rawat?"
Bi Inah tersenyum setelah mendengar penuturan dari Rei. "Baiklah, Nak. Ibu akan mengirimkannya. Dan Ibu berterimakasih sekali kepada kamu, Anin juga pasti senang kamu ada disini ..."
Lalu obrolan mereka pun berakhir. Mia memandang ibunya dengan harap-harap cemas.
"Bagaimana, Bu? Apa yang dia katakan??"
Bi Inah tersenyum. "Dia akan segera datang ..."
*
Dokter masuk dan memeriksa Anin.
"Bagaimana keadaannya, Dok?" Tanya Teguh.
"Keadaannya baik, Pak. Tidak ada yang perlu di Khawatirkan"
"Terus mengapa sampai saat ini dia masih belum bangun juga?"
"Hem, saya juga kurang mengerti, Pak. Kami sudah melakukan pemeriksaan secara menyeluruh, dan hasilnya semuanya baik. Hanya menunggu keajaiban, dan yang paling utama adalah niat dari si pasien untuk segera bangun dari tidur panjangnya."
"Apa yang kamu pikirkan, Nin? Jangan khawatir, ada kami semua disini," ucap Teguh dalam hati.
"Terimakasih, Dok."
Dokter mengangguk, lalu keluar dari ruangan itu.
Teguh mengambil ponselnya, kemudian menghubungi seseorang.
"Halo, Nak"
__ADS_1
'Halo, Ibu"
"Bagaimana keadaan Anin pagi ini? Ada perubahan??"
"Masih seperti kemarin, Bu. Kita hanya bisa menunggu."
Bi Inah hanya bisa memejamkan matanya. "Baiklah, sebentar lagi Ibu kesana bawakan kamu makanan. Apakah Tuan Rafa masih disana?"
"Tidak, Ibu. Tadi pagi-pagi sekali dia sudah pergi, karena hari ini dia ada rapat penting dan banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan"
"Baiklah, Sayang. Bantu Ibu jaga Anin, ya?"
"Ibu tenang saja, kita adalah keluarga. Dan Anin sudah menjadi tanggyng jawab saya, Bu"
Bi Inah tersenyum bahagia, dia merasa hidupnya sudah sangat sempurna. Memiliki putri-putri yang cantik dan baik, menantu yang bisa di andalkan, sekaligus bonus cucu yang sangat tampan dan pintar.
"Baiklah, Ibu tutup dulu, ya. Ibu mau bersiap-siap dulu, biar jangan kelamaan sampai disana," ucap Bi Inah, lalu mengakhiri obrolannya mereka.
**
"Tuan, utusan dari perusahaan YU telah tiba," ujar Mark mengangetkan Rafa dari lamunannnya.
"Ehm, baiklah. Saya akan kesana segera" jawab Rafa lalu bersiap-siap untuk rapat, lalu tiba-tiba ponselnya berdering.
"Halo ..."
"Halo ... Ini siapa?" tanya Rafa yang bingung dengan nomor asing yang bisa tahu nomor ponsel pribadinya.
"A a a aku, Cathy. Maaf kalau aku menganggumu" ucap si penelepon, yang tak lain adalah Cathy, mantan tunangannya.
"Ya, kau memang sangat menganggu. Aku tidak ada waktu untuk berbicara denganmu!!" jawab Rafa emosi.
"Kauuu ... Sangat kasar ..." ucapnya lirih. Cathy sadar, pria yang dulu sangat mencintainya ini sudah sangat berubah. Rafa yang dulu sangat lembut kepadanya, berubah menjadi Rafa yang di kenal banyak orang, punya perangai buruk dan sangat kejam.
"Kau lebih tau dan lebih mengenal aku. Kalau tidak ada yang penting, aku akan segera mengakhiri obrolan ini. Terimakasih!!"
Rafa mengernyitkan alisnya penasaran. Dia tidak tahu harus percaya kepada mantan tunangannya itu atau tidak.
"Percaya padaku. Aku hanya ingin membantumu. Tidak ada yang lain," ujar Cathy berusaha meyakinkan Rafa, karena Cathy tau, Rafa bukanlah orang yang gampang percaya dengan orang.
"Baiklah, kirimkan saja alamat dan jam berapa. Aku rasa cukup sampai disini, masih banyak hal penting yang harus kulakukan," ucap Rafa lalu mematikan ponselnya.
Tersirat kesedihan dari wajah Cathy. "Kau sudah benar-benar berubah, Rafa."
Cathy kembali mengingat kenangan mereka. Yang dia ingat, saat menelepon seperti tadi, Rafa tidak akan pernah mau mengakhiri obrolan mereka secepat itu. Rafa selalu bilang, dia tidak bisa hidup kalau tidak mendengar suara Cathy lama-lama. Tapi kenyataannya sekarang, bahkan untuk 10 menit saja Rafa tidak ingin mendengar suaranya.
"Aku menyesal, aku sangat menyesal," ucapnya lirih, lalu menangisi setiap kesalahan yang dia perbuat dengan meninggalkan Rafa.
**
Di rumah sakit tempat Anin di rawat ...
Bi Inah baru saja sampai dan langsung masuk ke kamar Anin di rawat. Dia. melihat Teguh yang sedang bekerja melalui laptop miliknya.
"Nak ..."
"Ibu, kenapa tidak bilang kalau sudah sampai? Saya bisa membantu Ibu membawa ini semua" ucap Teguh kepada Bi Inah begitu melihat banyak sekali barang yang Bi Inah bawa.
"Tidak apa-apa, Nak. Ini cuma sedikit. Hanya makanan dan pakaian gantimu. Ada buah dan makanan ringan juga, supaya kamu tidak lapar kata Mia," jawab Bi Inah bercanda, membuat Teguh tersenyum malu.
"Ibu istirahat saja dulu. Keadaan Anin semuanya baik. Dokter baru saja memeriksanya tadi, Bu."
"Tidak apa-apa, Nak. Ibu hanya ingin duduk di samping dia," jawab Bi Inah sambil mendekati Anin.
Di pandanginya wajah putrinya itu. Tersirat banyak kesedihan yang tersimpan dari wajah Anin.
__ADS_1
"Sayang, apa yang kamu khawatirkan? Ada Ibu disini, ada Mia, Teguh dan putramu Rafa. Apapun yang terjadi, kami akan selalu ada untukmu. Bangun, Nak."
Bi tak kuasa menahan airmatanya. Dia memeluk erat tubuh Anin sambil sesenggukan menahan tangisnya.
"Sudah, Bu. Jangan menangis lagi. Anin pasti sedih melihat Ibu seperti ini, hanya berdoa yang bisa kita lakukan untuk saat ini, supaya Anin segera bangun," ucap Teguh berusaha menguatkan mertuanya itu.
Teguh merangkul Ibu mertuanya itu dan membantunya duduk di sofa untuk beristirahat.
"Ibu ... Ibu ..."
Bi Inah samar-samar mendengar seseorang memanggil "Ibu". Teguh menatap Bi Inah seolah-olah merasakan hal yang sama. Lalu mereka kompak berjalan mendekati Anin.
"Sayang??"
Bi Inah tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya dan menangis memeluk putrinya itu. Ya, Anin sudah bangun. Teguh juga merasakan hal yang sama. Lalu dia berlari memanggil Dokter.
"Terimakasih Tuhan, terimakasih putriku. Kamu sudah kembali," ucap Bi Inah memeluk erat Anin.
Anin tersenyum memandangi wajah Bi Inah yang sudah seperti ibu kandungnya itu. Menjaga dan merawatnya seperti putrinya sendiri.
"Sayang, mana yang sakit? Kepala kamu bagaimana? Kaki kamu?" tanya Bi Inah tidak sabaran, lalu memeriksa semua tubuh Anin.
Anin tersenyum melihat sikap Bi Inah. Anin sangat mencintai wanita yang sedang berdiri hadapannya ini.
Lalu dokter dan beberapa perawat datang bersama Teguh.
"Ibu, bisakah keluarganya keluar sebentar? Saya akan melakukan pemeriksaan menyeluruh"
"Ayo, Ibu. Kita tunggu diluar saja", ucap Teguh lalu mengajak ibu mertuanya itu keluar.
Di luar mereka menunggu dengan harap-harap cemas. Teguh melihat kegundahan hati ibu mertuanya itu.
"Ibu, tenang saja. Anin pasti dalam keadaan baik," ucapnya lalu merangkul Ibu mertuanya itu.
"Amin, Nak"
Lalu dokter dan beberapa perawat keluar dari kamar tempat Anin di rawat.
"Bagaimana, Dok? Bagaimana putri saya?"
Dokter tersenyum dan mengenggam tangan Bi Inah, "Semuanya baik-baik saja, Bu. Ibu tenang saja. Kalian sudah boleh melihatnya. Tapi tolong, sebisa mungkin biarkan dia beristirahat dulu, supaya kesehatannya lebih membaik."
"Ba baik, Dok. Terimakasih banyak," ucap Bi Inah lalu mereka pergi menemui Anin.
••
Anin tersenyum melihat Bi Inah mendekatinya. Dia tahu, ibunya itu pasti sedang cemas sekarang.
"Ibu, Anin sehat, kok. Anin baik-baik saja," ujar Anin berusaha menyemangati Ibunya itu.
"Sudah-sudah, Iya Ibu tau kamu baik-baik saja. Kamu jangan banyak berbicara dulu. Sekarang istirahat, besok kita baru bercerita."
Anin mengangguk tersenyum kepada Bi Inah.
"Kamu mau Minum, Nak? Biar Ibu ambilkan"
"Iya, Ibu. Anin haus sekali"
Bi Inah lalu mengambilkan minuman untuk putrinya Itu. Lalu tiba-tiba Rafa masuk dengan tergesa-gesa. Dan semua mata memandang kepadanya.
******
(Bersambung)
Hi readers, jangan lupa vote dan comment nya ya,
__ADS_1
Terimakasih tetap mendukung karya saya. Semoga kalian tetap dalam keadaaan sehat dan jangan lupa tetap patuhi protokol kesehatan.
😊😊