My Secret Romance

My Secret Romance
Episode 34


__ADS_3

Hari sudah malam saat mereka sampai ke kediaman Rafa. Anin baru tahu kalau Rafa mempunyai rumah di Indonesia. Karena menurut informasi yang dia tahu dari Mia, Rafa kalau pulang ke Indonesia, dia akan menginap di hotel milik keluarga Anin dan biasanya kepulangannya ke Indonesia hanya beberapa hari dan paling lama seminggu.


Rumah Rafa sangat besar, berpagar tinggi dilengkapi dengan ukiran-ukiran yang elegan dan pasti sangat mahal.


Saat mereka tiba, mereka di sambut oleh beberapa orang pekerja rumah tangga dan bisa di bilang itu lumayan banyak untuk 1 orang yang harus di urus. Tapi mungkin karena rumahnya luas dan besar, sehingga membutuhkan tenaga orang yang lumayan banyak, dan bukan untuk mengurus sang tuan rumah.


"Ayo, Non Anin. Kita masuk ke dalam," ajak Mark begitu mereka tiba di sana.


Saat mereka masuk kedalam, yang mereka rasakan hanya rasa kagum betapa cantik dan luasnya rumah Rafa.


"Besar sekali rumahnya. Sepertinya banyak anggota keluarga yang tinggal disini," ujar Teguh terheran-heran.


"Pasti rumah ini sangat mahal," tambahnya lagi tanpa sadar.


"Hustt!!" ucap Bi Inah lalu memukul tangan Teguh.


"Ehh ehh, maaf saya tidak berniat jahat, kok."


Mark tersenyum melihat tingkah Teguh.


"Tidak apa-apa. Rumah Tuan Rafa memang sangat besar untuk ukuran pria yang tinggal sendiri dan belum punya istri. Jangankan punya istri, pacar saja Tuan kami tidak punya," jelas Mark bercanda dan membuat Bi Inah dan Teguh tertawa.


Tapi tidak dengan Anin. Dia malah bingung dengan penjelasan Mark.


"Ehm, bukankah dia sudah mempunyai tunangan?" ucap Anin dalam hati.


Anin berjalan dan mulai mengelilingi rumah itu.


"Bukankah Tuan Rafa sudah mempunyai tunangan?" tanya Anin penasaran.


"Iya, tapi itu dulu, Nona. 5 tahun yang lalu," jawab Mark.


Anin menatap poto yang terpampang tepat di depan matanya.


"Inikah orangtuanya?"


Anin memperhatikan setiap poto yang di pajang di dinding rumah Rafa. Ada poto mulai dia dari kecil sampai dia besar. Tapi poto Rafa yang sekarang tidak ada.


"Tuan Rafa jarang sekali kemari. Mungkin bisa dihitung pakai jari sejak orangtuanya meninggal. Disini hanya ada beberapa pekerja rumah tangga dan mereka semua tinggal disini,"


Mark menjelaskan setiap rincian orang yang tinggal dirumah Rafa. Dan tugasnya apa saja. Jadi mempermudah Anin dan keluarganya untuk meminta bantuan.


"Baiklah, kalau ada yang kurang jelas, kalian bisa bertanya kepada Pak Wawan, kepala pekerja rumah tangga disini. Semoga kalian nyaman tinggal disini, Nona ..." ucap Mark lalu memanggil Pak Wawan.


"Pak, saya serahkan mereka ke tangan anda. Buatlah mereka tinggal senyaman mungkin. Dan ingat, mereka adalah tamu istimewa Tuan Rafa." perintah Mark.


"Baik, Tuan. Saya mengerti"


Lalu Mark berpamitan kepada Anin, Bi Inah dan Teguh.


"Oh, iya. Tuan Rafa akan datang besok pagi kemari. Dia tidak bisa menemani kalian hari ini, karena dia sangat sibuk"


"Tidak apa-apa. Kami sudah sangat berterimakasih, Tuan Rafa sudah banyak membantu keluarga saya," jawab Bi Inah tersenyum.


"Baiklah, kalau begitu saya pergi dulu. Putri juga cucu Ibu sedang menuju kemari. Kalian untuk sementara akan tinggal disini dan Tuan Rafa yang akan menjelaskan sendiri apa alasannya," jelas Mark, lalu pergi meninggalkan mereka.


"Apa?? Mia dan Rafin juga kemari. Yeayy ..." teriak Anin bahagia.

__ADS_1


Lalu mereka pergi ke kamar masing-masing, setelah di jelaskan oleh Pak Wawan.


"Kenapa kita semua tinggal disini, Bu?" tanya Teguh penasaran.


"Ssst, Ibu juga tidak tahu, Nak. Kita jangan membahas itu sekarang," jawab Bi Inah setengah berbisik, lalu mereka beristirahat di kamar mereka masing-masing.


***


Di hotel MX.


Setelah Rafa merubah arah persembunyian pengacara Wong. Mereka akhirnya bertemu di Hotel MX, dan Rafa langsung menyediakan kamar hotel tempat pengacara wong menginap untuk sementara waktu.


"Tuan, bukankah lebih bahaya jika Tuan Wong menginap disini? Saya tidak yakin, staf disini semua bisa dipercaya," tanya Mark khawatir.


"Justru itu, akan lebih mudah buatku untuk melindungi dia disini daripada dia berada di luar sana. Dan jika di hotel ini ada "Musuh dalam selimut", kita akan lebih mudah mengetahuinya," jawab Rafa dengan tegas.


"Saya akan membiarkan dia menginap di kamar saya sebelum kamu mengantarkannya besok pagi berangkat ke tempat yang saya maksud. Dan semoga semuanya berjalan seperti apa yang saya harapkan," ucapnya lagi sambil menatap kosong langit di luar sana dan segala hiruk-pikuk dunia luar yang bisa dia lihat dari ruangannya.


"Baiklah kalau begitu, Tuan. Saya permisi dulu."


"Tunggu dulu, Mark. Bagaimana keadaan gadis itu? Apa mereka nyaman tinggal disana?" tanya Rafa penasaran.


"Saya baru menghubungi Pak Wawan, Tuan. Pak Wawan yakin mereka merasa sangat nyaman tinggal disana. Seperti yang Pak Wawan sampaikan tadi, mereka selalu tertawa dan sepertinya Nona Anin juga baik-baik saja."


"Saya sudah menyampaikan semua apa yang Tuan perintahkan untuk di lakukan oleh Pak Wawan, dan sepertinya dia berhasil melakukannya. Kalau Tuan masih penasaran, Tuan bisa memeriksanya lewat CCTV." jawab Mark setengah bercanda, lalu dia pun tertunduk karena Rafa sedang menatapnya dengan tatapan tajam.


"Maafkan saya, Tuan. Kalau begitu, saya permisi dulu"


Rafa mengangguk mengiyakan, dan Mark pun keluar dari ruangan Rafa.


"Ehm, Mark ada benarnya juga. Kenapa aku sampai lupa kalau aku sudah memasang CCTV di rumah itu," ucapnya dalam hati sambil tersenyum.


Dia melihat Anin sudah bisa tertawa lepas dan sudah bisa bercanda dengan yang lainnya. Lalu Anin memisahkan diri, berjalan sendiri menuju taman belakang. Rafa terus mengikuti kemana Anin pergi. Lalu Anin pun duduk sambil memandangi semua tananam yang ada disana.



"Sungguh, kamu memang cantik. Aku tidak akan melepaskanmu."


..................


Sebelumnya ...


Setelah Anin dan keluarganya di antar ke kediaman Rafa, mereka kemudian istirahat di kamar masing-masing, sampai akhirnya Mia dan Rafin datang.


"Mamiiiii .... Mami ..." teriak Rafin memanggil Anin.


"Nenek ... Nenek dimana? Mami dimana?" teriaknya lagi dengan suara kencang.


Anin yang langsung keluar dari kamarnya begitu mendengar suara Rafin. Dan ternyata benar, Rafin sudah berlari-lari mencari Anin dan Bi Inah.


"Sayaaaang!!"


"Mamiii!!"


Mereka berdua pun berpelukan. Entah sudah seperti apa rindu yang Anin rasakan kepada putranya itu.


"Mami, mami dalimana?" (*baca darimana)

__ADS_1


"Mami disini aja kok, sayang ... Rafin rindu gak sama mami?"


"Of coulse Mami. Apin lindu sama Mami"


Rafin mempererat pelukannya terhadap Anin. Dan kemudian tersenyum, lalu melepaskan pelukannya.


"Udah ah, Mam. Apin sesak napas," ucapnya sambil meniru orang yang sedang sesak napas. Padahal yang peluk erat kan dia juga. Tapi ya namanya anak-anak ya, teman? Ada aja tingkah lucunya.


Dan semua orangpun tertawa melihat tingkah lucu Rafin. Rumahpun seketika berubah menjadi ramai. Semua pekerja rumah tangga pun ikut tertawa melihat tingkah Rafin.


............


Besok Paginya Rafa datang menemui Anin dan keluarganya.


"Bagaimana mereka?" tanya Rafa begitu masuk kerumah, lalu duduk mendengarkan penjelasan Pak Wawan.


Bi Inah yang mendengar suara Rafa pun akhirnya keluar dari kamarnya, dan menemui Rafa.


"Selamat pagi, Tuan? Apa kabar? Tuan mau sarapan? Biar saya persiapkan semua." tanya Bi Inah canggung.


"Tidak usah, Bi. Saya tidak terbiasa sarapan pagi. Air putih saja cukup buat saya.


"Baiklah kalau begitu, Tuan." jawab Bi Inah tersenyum.


"Bagaimana dengan Anin, Bi? Dia baik-baik saja kan?"


"Anin baik-baik saja, Tuan. Terimakasih sudah membantu dan mengembalikan putri saya dari tidurnya," ucap Bi Inah sungguh-sungguh.


"Bukan karena saya. Itu semua berkat dokter dan doa Ibu juga. Yang terutama adalah niat dari Anin sendiri. Saya hanya membantu apa yang saya bisa," jawab Rafa.


Bi Inah tertunduk, lalu menghela napas panjang. Seperti hendak menanyakan sesuatu tapi ada rasa takut untuk bertanya.


"Kenapa, Bi?


"Itu, Tuan ... Bolehkah saya bertanya, mengapa anda membawa kami kemari dan bukannya kerumah kami sendiri? Ada masalah apa sebenarnya??"


"Bibi duduklah dulu. Saya akan menceritakan detailnya kenapa kalian lebih aman di rumah saya"


Lalu Rafa menceritakan segalanya, sampai membuat Bi Inah merinding ketakutan.


"Jadi, Pengacara Wong sudah berangkat pagi ini? Terimakasih sekali lagi Tuan karena sudah menyelamatkan satu-satunya saksi hidup kecelakaan Nyonya Atmaja dari Tuan Hendra yang sangat jahat itu"


"Saya yakin, Tuan Hendra akan berusaha menyingkirkan Pengacara Wong, sama seperti saat dia berhasil menyingkirkan orangtua Anin," ucap Bi Inah lagi dengan kesal.


Lalu ... PRAAAANG!!!


Gelas berisi air terlepas dari tangan Anin.


"A a a apa?? Pengacara Wong masih hidup? Paman Hendraaa??? Kematian orangtua saya?? Benarkah Paman pelakunya? Benarkah Paman tega membuat Mama mengalami kecelakaan itu?" tanya Anin, lalu tersungkur jatuh ke lantai.


"Aniiiinnn!!"


Rafa berteriak, lalu berlari mendekati Anin.


••••••••••


(Bersambung)

__ADS_1


Jangan lupa like dan votenya, ya?


Terimakasih ...


__ADS_2