
•••••••
Terjadi kepanikan luar biasa di kediaman Rafa.
Setelah kepergiannya pagi itu, Anin tidak juga pulang dan ini sudah 2 hari.
"Maafkan saya, Tuan. Saya pikir Anin hanya pergi sebentar dan akan kembali secepatnya. Itulah kenapa saya tidak langsung memberitahu kepada anda," jelas Bi Inah yang ketakutan membayangkan bagaimana nasib putrinya itu.
"Sudah kamu akses nomor panggilan terakhir yang masuk ke ponsel Anin??"
"Sudah, Tuan!! Dan saya sudah melacak keberadaan si penelepon tersebut. Tapi ..."
"Tapi apa??"
"Ponselnya mati dan kami tidak tahu lagi sekarang dimana posisinya!!"
"Bedeb*ah!! Tapi kalian sudah mencatat posisi terakhir ponsel itu sebelum di matikan kan??"
"Sudah, Tuan!!"
"Pergi kesana sekarang juga!! Minta bantuan Sayap Timur!! Karena mereka pasti tahu keadaan di daerah sana. Dan satu hal lagi!! Segera pastikan lokasi terakhir taksi itu membawa Anin!!"
"Siap, Tuan!! Tapi, bagaimana rapat penting untuk hari ini??"
Ya, hari ini akan diadakan rapat penerus hotel peninggalan keluarga Anin. Hendra sudah mengaturnya sedemikian rupa. Karena Anin tidak pernah menampakkan dirinya kepada setiap pemegang saham di hotelnya itu, otomatis posisi akan jatuh dengan sendirinya ke tangan Hendra.
"Saya akan mengulur waktu, sampai Anin benar-benar di temukan!!"
"Oke baiklah kalau begitu, Tuan!! Saya pastikan nona Anin akan segera di temukan!!"
**
Semua sibuk dengan tugas masing-masing untuk mencari Anin. Kali ini Rafa terpaksa meminta bantuan para kelompok mafia "Sayap Timur" yang dekat dengannya.
Bi Inah hanya bisa menangis, membayangkan kejadian dulu akan terulang kembali.
"Bu, jangan menangis lagi. Anin pasti ditemukan. Kita berdoa saja semoga Anin tidak kenapa-kenapa."
Mia memeluk ibunya, mereka berdua berusaha saling menguatkan. Tiba-tiba Rafin berlari menuju Rafa yang sedang sibuk berbicara dengan ponselnya.
"Om??" panggil Rafa sambil menarik baju Rafa.
Rafa melirik Rafin yang berusaha menarik perhatiannya.
"Baiklah, nanti hubungi saya lagi!!" ujar Rafa lalu mengakhiri percakapannya di ponsel.
"Om??"
"Iya??"
"Tolong cali mami Apin, ya??"
Bi Inah yang melihat interaksi keduanya, tersenyum penuh arti.
"Andai hidupmu sesederhana itu, Nak. Pasti status Rafin akan semakin jelas," ucapnya sambil menitikkan airmata.
*
"Pasti om cari!! Kamu tenang saja!! Oh, ya nama kamu tadi siapa?? Maaf om lupa."
"Namaku Apin, Om"
"Apin??"
Rafin menggelengkan kepalanya. "Terus siapa dong??"
"Apin, Om!!" teriak Rafin kesal dengan wajah imutnya.
Bi Inah tertawa melihat kelakuan cucunya itu. Di dekatinya mereka, berusaha membantu Rafin menjelaskan siapa namanya.
"Dia Rafin, Tuan"
"Oh, Rafin ... nama kamu bagus." puji Rafa membuat Rafin tersenyum puas.
"Iya, Tuan. Nama yang bagus, pemberian orangtuanya. Perpaduan dari nama orangtuanya" jelas Bi Inah kepada Rafa.
"Orangtuanya?? Bukankah nama mereka??"
__ADS_1
Rafa tahu kalau orangtua Rafin adalah Mia dan Teguh suaminya.
"Gabungan nama mereka?? Tapi kok, Rafin??"
Rafa masih saja penasaran dengan asal mula nama Rafin.
"Tapi, kok beda, Bi??"
"Ehm itu anu, Tuan. Maksud saya itu .... Eh, maafkan saya Tuan. Saya permisi dulu." ucap Bi Inah terputus, karena sudah pamit pergi mengejar Rafin yang berlarian di tangga.
Rafa masih saja berpikir keras. "Ah, mungkin nama tengah kedua orangtuanya," ucapnya tersenyum sambil memandangi Rafin yang berlari kesana kemari.
*
Sementara itu di hotel MX.
"Apa lagi yang kita tunggu?? Semua sudah berkumpul kan disini??" tanya Hendra tidak sabaran dengan keputusan yang akan mereka ambil.
"Permisi, Tuan. Tapi pemilik saham terbesar di hotel ini, pewaris satu-satunya perusahaan YONDA belum juga hadir. Kita harus menunggunya," ucap Kris sebagai penanggung jawab penuh di hotel itu, saat Rafa ataupun Mark tidak ada.
"Kita tidak perlu menunggunya. Saya pemilik sah dan ahli waris satu-satunya dari hotel ini. Kalian sudah baca kan kertas yang saya berikan?? Itu tulisan dan tanda tangan kakak saya sendiri. Karena putrinya tidak ada disini, hak waris otomatis jatuh ke tangan saya!!" jelas Hendra dengan sombongnya.
"Tapi saya dengar-dengar, menurut kabar yang tersebar, putri dari keluarga Atmaja ada di Indonesia. Dan sepertinya keberadaannya sudah di temukan." ujar salah seorang pemilik saham, dengan tatapan sinisnya.
Dia adalah Trisno, sahabat dekat dari almarhum papa Anin.
"Bukankah kalau benar informasi yang beredar, dialah yang menjadi satu-satunya ahli waris yang sah untuk hotel ini??"
"Kau?? Kabar yang anda dengar itu hanyalah isapan jempol semata. Bahkan sampai sekarang, aku pamannya saja tidak pernah melihatnya. Mana mungkin kalau dia masih hidup, dia tidak menghubungiku??" ujar Hendra mulai sedikit emosi.
"Mungkin karena sesuatu tapi aku akan tetap menunggu Tuan Rafandra!!" sindir Trisno lagi lalu menatap Hendra dengan tajam.
"Ya, mungkin lebih baik kita menunggunya! Tidak salah menunggu 30 menit lagi." ujar yang lain, dan mereka pun menyetujuinya.
Terlihat amarah yang coba di redam oleh Hendra. "Ah, sial!! Tapi lihat saja!! Sampai 2 jam pun kalian menunggu, aku akan tetap menjadi satu-satunya ahli waris dari hotel ini." umpatnya dalam hati, dengan senyuman menyeringai di pipinya.
**
"(Tuan, sepertinya kami sudah menemukan keberadaan Nona Anin!!)" jelas Rafa lewat panggilan teleponnya.
"Baiklah, lakukan seperti yang saya katakan. Jangan ada sedikitpun kesalahan!! Saya akan menyusul kalian sekarang," ucap Rafa mengakhiri percakapan mereka, lalu buru-buru pergi.
"Bibi tenang saja!! Semua akan baik-baik saja."
Bi Inah mengangguk tersenyum. Lalu Rafa segera meluncur ke lokasi tempat Anin di temukan.
**
"Bagaimana??" tanya Mark kepada bos dari kelompok mafia yang sudah membantu mereka di lokasi tempat kejadian.
"Aman!! Dan gadis yang anda maksud juga sudah kami bawa ke dalam mobil di ujung sana!!" jelasnya sambil menunjuk salah satu mobil sedan berwarna hitam.
"Baiklah, terimakasih banyak!! Kami akan membalas semua kebaikan kalian suatu hari nanti."
"It's okay. Selama ini Tuan anda juga sangat membantu kami. Kami hanya saling bertukar hadiah. Dan ini saatnya saya memberikan hadiah yang bagus untuk Tuan anda!!"
Mark dan bos mafia itu pun saling berjabat tangan, dan senyuman penuh arti terukir di wajah mereka masing-masing.
Mark mendekati mobil sedan berwarna hitam tersebut. Di lihatnya Anin yang sedang tertidur kelelahan. Mukanya pucat dan pipinya lebam.
"Dasar bajing*an!! Kalau Tuan Rafa sampai melihat ini semua, kalian pasti mati!!" umpat Mark kesal, ketika melihat keadaan Anin yang sangat memprihatinkan.
**
Tak lama kemudian, Rafa tiba dengan beberapa bodyguard yang selalu setia menemaninya.
"Tuan!!"
"Dimana gadis itu??"
"Disana, Tuan!! Nona Anin sudah ditangani oleh dokter Martin sesuai perintah anda!!!"
Rafa tidak menggubris ucapan Mark, langsung berlari menuju mobil tempat Anin beristirahat.
Dan dilihatnya Anin sudah tertidur lelap dengan perban di kepalanya. Mukanya lebam, dan Anin kelihatan lelah sekali!!
"Sudah berapa lama dia tertidur??"
__ADS_1
"Sudah 1 jam lebih, Tuan!!"
"Panggilkan dokter Martin!"
"Baik, Tuan!!"
Tak lama kemudian dokter Martin datang dan menjelaskan mengenai kondisi Anin.
"Kamu yakin dia tidak apa-apa kan??"
"Untuk sementara ini hasil diagnosa saya, Nona ini mengalami dehidrasi dan kelelahan karena di kurung di ruangan sempit seperti itu. Dan sepertinya, mereka sengaja mengulur waktu dengan menyiksanya perlahan. Tapi untuk lebih jelasnya, sebaiknya kita bawa segera Nona ini ke rumah sakit, untuk penanganan yang lebih baik." jelas dokter Martin panjang lebar.
"Tidak!! Tidak bisa!! Saya harus membawanya ke suatu tempat"
"Tapi, Tuan??"
"Mark!!" panggil Rafa sedikit emosi.
"Siap, Tuan!!"
"Bawa mobil itu kemari, saya akan memindahkan Nona Anin. Dan kamu, ikut saya ke suatu tempat!!" perintah Rafa kepada dokter Martin dan Mark.
"Mark!! Pastikan kamu membereskannya tanpa jejak sedikitpun. Saya tidak ingin permasalahan ini sampai ke pihak yang berwajib. Saya akan menyelesaikan permasalahan ini dengan cara saya sendiri!!"
"Baik, Tuan. Akan saya laksanakan!!"
Lalu Rafa pun pergi meninggalkan tempat itu bersama beberapa bodyguard dan orang-orang kepercayaan Rafa.
**
"Sudah 1 jam lebih berlalu. Saya pikir, tidak ada yang perlu di tunda untuk saat ini. Sekarang juga kita akan adakan pengambilan suara!!"
Semua yang hadir di ruangan itu pun hanya bisa menyetujui keputusan Hendra. Karena setelah Rafa, Hendra adalah pemilik saham terbesar nomor 2 di hotel milik keluarga Atmaja. Entah bagaimana caranya, semua saham milik Anin berpindah tangan menjadi miliknya.
"Tuan, sepertinya Tuan Rafa sedang menuju kemari." bisik seseorang kepada Kris.
"Tidak apa-apa. Kita akan melaksanakan pemungutan suara sambil menunggu beliau," jawab Kris.
Dan pemungutan suara pun berlangsung. Hampir semua setuju memilih Hendra sebagai pengganti Tuan Atmaja, bermodalkan sebuah kertas yang di tulis sendiri dan ditanda-tangani langsung oleh Tuan Atmaja, membuat niat Hendra pun berjalan dengan lancar.
"Selamat datang kami ucapkan kepada Tuan Hendra Atmaja, sebagai direktur utama Hotel MX, semoga hotel ini semakin sukses dan Berjaya!!" ujar Kris memberi sambutan atas terpilihnya Hendra.
Tiba-tiba!!
"(Braaaak!!)"
Rafa masuk dan membuat semua orang kaget, terlebih lagi Hendra yang sangat tidak mengharapkan kehadiran Rafa.
"Tunggu! Kenapa begitu terburu-buru???" sindir Rafa lalu menatap Hendra dengan tajam.
Rafa bergabung dan duduk dengan santainya. Kris mendekatinya, dan membisikkan kalau Hendra lah yang terpilih sebagai hasil rapat.
"Selamat Tuan Hendra!! Ehm, ini ucapan harus saya katakan sekarang atau nanti setelah anda melihat kejutan hadiah dari saya??"
"Terserah anda! Sekarang ataupun nanti, hasilnya akan tetap sama!!"
"Anda yakin?? Mark, bawa dia masuk!!"
Semua mata menatap ke arah pintu, penasaran dengan siapa yang akan datang ke ruangan itu.
Dan tiba-tiba ...
"Nona Anindya???" teriak Trisno tidak percata dengan apa yang baru saja dilihatnya.
"Nona Anindya?? Maksud anda, putri pemilik hotel ini??" tanya yang lain seakan tidak percaya dengan ucapan Trisno dan Trisno pun mengangguk mengiyakan.
Mendadak ruangan rapat itu pun menjadi ramai. Tidak banyak dari antara mereka yang mengenali Anin. Karena Anin memang tidak pernah ikut ambil bagian dengan pekerjaan orangtuanya.
Anin memasuki ruangan rapat ditemani Mark yang selalu setia berdiri di sampingnya. Dia berjalan menuju ke arah Hendra, yang sudah kelihatan sangat ketakutan.
"Hai, Paman??" sapa Anin sambil tersenyum kepada Hendra.
Dan Hendra pun hanya bisa terdiam. Hanya rasa takut dan kesal yang kini menyelimuti pikirannya.
••••
Bagaimana kisah selanjutnya?? Jangan lupa follow, like dan comment ya??
__ADS_1
Terimakasih.
Bersambung ...