
(...)
"Baiklah, akan kulakukan. Tapi berjanjilah padaku, ibuku akan baik - baik saja."
"Asal kau melakukan apa yang aku perintahkan, semua akan tetap pada jalurnya."
Hendra tersenyum licik. Harapannya akan segera terkabul lewat tangan Cathy. Dia tidak perlu bersusah payah lagi untuk menyingkirkan Anin.
Cathy berjalan keluar dengan langkah gontai.
"Sebaiknya kau menyelesaikan dengan cepat, sayang." ucap Hendra sambil menunjukkan ekspresi yang menjijikkan.
"Ikuti semua dia dan pantau semua apa yang dia lakukan. Jika dia berani macam - macam, bunuh dia dan ibunya!!" perintah Hendra pada Miko asistennya.
.
.
"Kamu darimana saja, sayang?"
Rafa yang sedari tadi menunggu kedatangan Cathy dengan rasa cemas, langsung berjalan mendekatinya.
"Ah, oh iya maaf. Tadi tiba-tiba ada telepon penting soal pemotretanku untuk besok. Aku lupa pamit, karena aku lihat kamu juga masih istirahat."
"Tak apa, sayang."
Mereka berdua lalu duduk di sofa ruang tamu.
"Setelah kita menikah, aku ingin kamu istirahat saja dirumah. Aku tidak ingin kamu terlalu lelah. Urus aku saja dan anak kita nanti. Bagaimana?" goda Rafa dengan nakal, membuat Cathy malu.
Cathy hanya bisa tersenyum menatap Rafa. Di kecupnya kening pria yang sedang berada di hadapannya itu.
"Kenapa, sayang?? Aku masih tampan kan??" tanya Rafa menggoda kekasihnya itu.
Cathy hanya menganggukkan Kepalanya. "Ah, andai waktu bisa di putar, aku tidak akan pernah menyia-nyiakanmu." batin Cathy.
"Aku tidak akan pernah melepaskanmu, sayang." ucapnya lalu mencium bibir Rafa dengan lembut.
Cathy berjanji dalam dirinya, tidak akan melepaskan Rafa. Dia akan melakukan apapun supaya pria itu tetap menjadi miliknya.
...
Bi Inah yang bisa melihat pemandangan itu dari dapur hanya bisa menarik napas dengan berat.
"Ah, semoga semuanya kembali secepatnya."
.
.
Di Hotel MX.
"Hem, aku memang harus mengembalikan ingatanmu secepatnya." batin Anin miris, mengingat kembali apa yang sedang terjadi dalam hidup nya.
lewat sambungan teleponnya ...
"Mark, bantu aku mengembalikan ingatan Rafa. Bisakah kau atur agar dia segera kembali kesini. Aku ingin dia membantuku bekerja disini. Tolong aku, dengan alasan apapun."
"Baik, Non. Saya akan lakukan apa yang nona mau."
"Baiklah, segeralah kembali kesini. Ada sesuatu yang aku berikan kepadamu."
"Baik, Non."
Anin lalu memutuskan sambungan teleponnya dan menatap obat yang diberikan ibu nya kemarin.
"Semoga ini bukan obat yang membahayakan kamu."
Anin menutup matanya, menyandarkan kepalanya pada sofa miliknya. Lelah ... hanya itu yang dia rasakan saat ini.
...
...
Hari-hari Anin berlalu begitu saja. Dia juga sudah mulai bisa beradaptasi dengan pekerjaannya tanpa bantuan Mark.
Pergi pagi, pulang malam. Kadang dia berpikir apakah waktunya cukup untuk mengembalikan ingatan Rafa.
.
"Nak??"
__ADS_1
Panggilan ibunya itu membuat Anin tersadar. Di hadapannya sekarang ada Cathy dan juga Rafa, yang tidak dia ketahui kapan datangnya.
Anin hanya melemparkan senyum pada mereka berdua.
"Selamat pagi, Nin."
"Selamat pagi, Tuan."
Cathy yang tidak suka dengan basi-basi antara mereka berdua mencoba mengalihkan perhatian Rafa dengan menggenggam tangan kekasihnya itu.
"Sayang, aku mau itu ... " rengeknya menempel pada bahu Rafa.
"Baiklah, sayang." Rafa mengiyakan dan mereka pun saling tersenyum.
Cathy merasa menang kali ini. Cathy juga sudah tau kalau Rafa sebelum kehilangan ingatannya, dia sudah jatuh hati pada gadis yang di hadapannya itu.
Anin yang merasa sedih, kecewa dalam hatinya karena pemandangan yang di lihatnya itu, memilih meninggalkan mereka.
"Sampai bertemu di kantor, Tuan." ucap Anin sebelum pergi.
Rafa hanya mengangguk lalu tersenyum.
"Kamu sudah mulai bekerja lagi sayang??" tanya Cathy heran, karena tidak mengetahui rencana Rafa untuk. kembali aktif bekerja.
"Iya, sayang. Aku akan kembali aktif bekerja. Aku hanya kehilangan ingatanku, bukan berarti aku harus meninggalkan pekerjaanku." jawabnya.
"Tapi ... "
"Ssst, tenang aja. Aku pastikan, waktuku untuk kamu tidak akan terganggu karena pekerjaan. Bagaimana nanti aku akan menghidupimu, kalau aku tidak bekerja??"
Rafa mencoba menenangkan kekasihnya itu.
"Kita percepat saja pernikahan kita. Bagaimana sayang??"
Cathy takut waktunya tidak akan cukup untuk memiliki Rafa. Apalagi setelah dia kembali bekerja, dan bersama gadis itu.
Cathy berpikir, tak apa ingatan Rafa kembali asal ingatan itu kembali setelah mereka menikah.
"Setelah ingatanmu kembali, dan kita sudah menikah. Kamu tidak mungkin meninggalkan aku." pikir Cathy saat ini.
Rafa tertawa ...
"Iya ... Aku ingin secepatnya memilikimu. Aku ingin secepatnya menjadi istrimu, dan ibu dari anak-anak kamu." jawab Cathy dengan lembut.
"Baiklah kalau begitu, kita lakukan minggu depan. Bagaimana??"
"Serius??"
"Serius lah ... "
"Aku-aku mau ... "
Cathy langsung mencium bibir Rafa, "Terimakasih, sayang."
Kebahagiaan membuncah dalam hati Cathy. Sebentar lagi, Rafa akan menjadi miliknya seutuhnya. Dia tidak peduli kalau ingatan Rafa kembali nanti. Toh, dia juga akan menjadi istrinya.
"Ah, aku akan memperlambat ingatanmu kembali sampai kita menikah." batin Cathy.
"Aku akan bersiap-siap dulu. Kamu istirahatlah." ujar Rafa.
"Baiklah, sayang."
Mereka berdua pun meninggalkan ruang makan menuju kamar masing-masing.
Bi Inah yang mendengar semua apa yang mereka katakan, lalu mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
...
"Halo, Bu??"
"Pernikahan mereka dipercepat, Nak. Minggu depan ... "
"Apa???"
"Sebaiknya cepat lah, ibu ingin kamu juga bahagia."
Anin menghembuskan napasnya dengan berat.
"Baiklah, Bu."
Setelah percakapan itu, Anin hanya bisa pasrah. Dia tidak tau lagi harus berkata apa. Tubuhnya lemas seketika, dan bibirnya kelu.
__ADS_1
"Tuhan, bantu aku. Berikan aku sedikit keajaibanmu." pinta Anin menutup matanya dengan kedua tangannya.
.
.
.
"Siang, Non."
"Siang, Mark. Masuklah ... "
Mark menyerahkan amplop kecil berwarna putih.
"Apa ini???"
"Hasil tes mengenai obat yang nona berikan tempo hari??"
Anin membuka amplop itu dan mulai membacanya.
"Sepertinya itu obat untuk memperlambat ingatan tuan Rafa, Non."
"Kamu yakin??"
"Yakin sekali, dokter yang memeriksanya adalah dokter kepercayaan keluarga Teague."
"Kamu yakin rahasia ini aman, kan??"
Mark mengangguk, dan kembali menyerahkan sebotol obat kepada Anin.
"Dokter itu mengatakan, sebaiknya obat ini diberikan kepada tuan Rafa. Kita harus mengganti semua obat-obatan tuan Rafa. Kalau dia tetap meminum obat berbahaya itu, bisa dipastikan bukan saja ingatan tuan yang tidak akan pulih, tapi obat itu bisa merusak sel-sel otak."
Mark menjelaskan panjang lebar. Anin tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
"Sungguh wanita itu sangat jahat!!"
"Benar, Nona. Sebaiknya nona juga berhati-hati dengannya. Dan ... tuan akan kembali bekerja hari ini."
"Baiklah, terimakasih Mark. Kamu sudah bisa kembali bekerja."
Mark mengangguk, lalu menunduk hormat dan keluar dari ruangan Anin.
Anin menatap jenis obat yang ada di hadapannya itu.
Tak lama kemudian ...
(Tok-tok)
"Masuk ... "
Rafa masuk lalu tersenyum menatap Anin.
Anin seketika terpaku menatap Rafa yang berjalan mendekatinya.
"Anin??"
"Nona Anin??"
(Degh)
Lamunan Anin buyar seketika.
"Maaf ... Maaf, Tuan. Apa tadi anda memanggil saya??"
(Pletak)
Rafa memberikan sentilan kecil pada kening Anin.
"Berusahalah untuk fokus."
Anin yang tidak percaya dengan apa yang dia lihat barusan, memegang keningnya mencoba mengembalikan lagi kesadarannya.
"Apa ingatannya sudah kembali??"
Anin merasa aneh melihat Rafa melakukan hal-hal jahil sama seperti yang dia lakukan sebelum Rafa kehilangan ingatannya.
"Apakah dia tidak menyadarinya??"
"Apakah cara ini akan berhasil?? Apapun itu, jika kebersamaan kita bisa membuat ingatanmu kembali, aku terus berada disisimu."
Begitu banyak pikiran berkecamuk dalam kepala Anin. Tapi satu hal yang pasti, dia harus bertarung dengan waktu. Karena Rafa akan menikah minggu depan.
__ADS_1