
(Sebelumnya)
"Tuuuut ... Tuuuut ... Tuuuut ..."
3 kali panggilan keluar dan tidak ada jawaban ...
••••••••••••••
"Kecoh dia, kita masuk ke jalan yang biasa!!"
"Baik, Tuan"
Dan ternyata itu benar, seseorang yang Hendra kenali dan dia lihat tadi adalah pengacara Wong.
Pengacar Wong bolak balik menghubungi Rafa, namun tidak ada tanggapan.
"Ah, kemana dia?" ucapnya panik sampai berkeringat dingin.
"Bagaimana ini, Tuan? Dia semakin mendekat. Saya takut kita tidak akan bisa menjauh darinya," ujar sang supir panik.
Mereka mulai berpikir, bagaimana cara untuk menghindari Hendra.
**
Di sisi lain ...
"Cepaat!! Kejar sampai dapat!! Aku yakin itu dia. Kalau sampai dia lolos, matilah Kita!"
"Baik, Tuan!!"
Hendra benar-benar yakin itu adalah pengacara Wong. Dan dia yakin, dengan hidupnya pengacara Wong, pasti akan membuat hidupnya dalam bahaya.
Sang supir melajukan mobilnya sangat kencang, di tengah hiruk pikuk jalan kota yang mulai macet.
**
Tiba-tiba Rafa menelepon ...
"Ada apa, Pak Wong? Saya sangat sibuk sekarang!" ucap Rafa terburu-buru karena memang sebentar lagi dia akan mengadakan rapat dengan semua pemegang saham di hotel milik Anin yang sedang dia kelola.
"Tu Tuaan, jangan ditutup dulu. Tolong saya, Tuan. Tolong saya!" pintanya dengan suara gemetaran.
"Ada apa?? Anda sedang berada dimana?" tanya Rafa yang mendengar suara berisik dari sana.
"Saya sedang berada diluar. Tuan, tolong saya. Hendra sedang mengikuti saya. Saya mohon ..." ucapnya lirih berusaha mengontrol kepanikannya.
"Baiklah, berikan ponsel anda kepada Erik. Erik adalah supir pengacara Wong, salah satu orang kepercayaan Rafa juga yang memang sengaja Rafa tugaskan untuk mengawal dan melindungi pengacara Wong.
Pengacara Wong memberikan ponselnya kepada Erik.
"Baik, Tuan. Baik, saya akan melakukannya " jawab Erik lalu menutup panggilan teleponnya.
"Ba bagaimana? Apa yang akan kita lakukan??" tanya Pengacara Wong penasaran.
"Tuan, tolong pakai seatbelt anda dan apapun yang terjadi nanti, anda harus segera keluar dari mobil saya. Pergilah ke alamat yang Tuan Rafa berikan kepada anda nanti dan Tuan Rafa akan menunggu anda disana!"
"Ta ta tapiii ..."
Belum juga pengacara Wong menyelesaikan ucapannya. Tiba-tiba mobil mereka menabrak mobil pengendara lain, dan ...
"Braaaaamm!!!"
Mobil mereka menghantam sebuah mobil sedan warna merah dan menyebabkan kekacauan yang luar biasa parah. mobil banyak berhenti dan menyebabkan kemacetan disana sini.
"Keluaaaar!!" bentak Erik.
Lalu pengacara Wong keluar dan lari menjauh dari mobil Erik dan menghentikan sebuah taksi lalu pergi meninggalkan Erik disana sendirian.
*
Mobil Hendra pun ikut berhenti mendadak.
"Aw!! Shht!! Apa-apaan ini???" tanya Hendra kesal kepada supirnya.
"Maaf, Tuan. Mobil mereka mengalami kecelakaan dan menabrak kendaraan lain"
Hendra melihat mobil yang ditumpangi pengacara Wong tadi di kerumuni banyak orang. Dan melihat Erik tersenyum mengejek kepada mereka.
__ADS_1
"Ahhhhhh!!! Bangs*at!! Keluar!! Cari pengacara itu. Kita sudah di bodohi!"
Mereka lalu keluar dan mencari pengacara Wong tapi tidak menemukannya.
"Ahhh sial!!!" umpat Hendra kesal dan membanting ponsel miliknya.
**
Pengacara Wong yang masih panik sampai tidak sadar ternyata dari kepalanya mengucur darah segar, membuat sang supir pun ketakutan.
"Tuan, maaf. Apakah tidak sebaiknya kita kerumah sakit segera?"
Pengacara Wong bingung kenapa sa g supir menyuruhnya ke rumah sakit.
"Ada apa?"
"Itu, anu itu, Tuan. Kepala anda ... berdarah"
Pengacara Wong pun memegang kepalanya dan melihat tangannya berlumuran darah.
"Tidak perlu! Tapi bisakah anda lebih cepat sedikit, Pak? Saya sedang terburu-buru." jawab pengacara Wong, lalu menutupi kepalanya yang berdarah dengan sapu tangannya.
"Ba baik, Tuan"
Lalu mobil pun melaju dengan sangat kencang. Lalu tiba-tiba ada panggilan masuk dari Rafa.
"Halo, Tuan Rafa ..."
"Halo Pengacara Wong, anda sudah dimana?
"Saya masih di daerah Timur, Tuan"
"Anda berbalik sekarang juga dan kembali menuju Hotel MX. Saya menunggu anda disini. Sepertinya ada yang melacak anda. Tapi saya tidak tahu siapa"
"Baik, Tuan"
Dan kemudian pengacara Wong menyuruh sang supir memutar balik arah dan berganti haluan menuju Hotel MX.
••••
Di Rumah sakit ...
Bi Inah menatap Teguh yang kelihatan ketakutan.
"Siapa itu, Nak? Apakah Tuan Rafa? Apa yang terjadi?"
"Tidak apa-apa, Bu. Ada yang ingin saya bicarakan. Sebaiknya kita bahas di luar saja," ucap Rafa sambil memandang Anin yang sedang tertidur.
Lalu mereka berdua pun keluar.
"Ada apa, Nak? Pasti terjadi sesuatu, kan?" tanya Bi Inah penasaran.
"Iya, Bu. Tuan Rafa menyuruh kita segera keluar dari rumah sakit ini"
Teguh menarik napas panjang. "Ibu masih ingat dengan pengacara wong kan? Dia masih hidup dan baru saja Hendra mengetahui keberadaannya dan mengejarnya, Bu" lanjut Teguh menjelaskan.
"Astaga ..."
Bi Inah hanya bisa terduduk lemas mendengar penjelasan Teguh. Bi Inah tau, dengan diketahuinya keberadaan Pengacara Wong, hidup Anin juga pasti dalam bahaya.
Teguh memperhatikan mertuanya itu yang terlihat sangat ketakutan dan tidak terkejut dengan informasi yang dia jelaskan. Teguh yakin, ibu mertuanya itu mengetahui keberadaan pengacara Wong sudah lama.
"Ada apa, Bu? Apa Ibu tau kalau Pengacara Wong masih hidup?" tanya Teguh penasaran.
Bi Inah mengangguk mengiyakan. Yang keluar dari mulutnya hanyalah helaan napas yang berat. Ada ketakutan yang tersirat dari wajahnya.
"Kapan Ibu mengetahuinya?"
Lalu Bi Inah menceritakan semuanya, pertemuannya dengan pengacara Wong dan kecelakaan yang menimpa Anin.
"Astagaaaa, kalau begitu Anin dan kita semua bisa saja mengalami hal yang sama lagi"
Teguh pun terduduk lemas dan menatap kosong langit-langit rumah sakit sore itu.
"Terus apa yang harus kita lakukan sekarang, Bu?" tanya Hendra.
"Sekarang kira bersiap-siap pulang dan meninggalkan rumah sakit terlebih dahulu, setelah itu kita akan diskusikan lagi apa yang harus kita lakukan" jawab Bi Inah.
__ADS_1
"Tapi, Bu ... Bagaimana kita menjelaskannya kepada Anin?"
"Tenang saja, Ibu yang akan menjelaskan kepada Anin," jawab Bi Inah lalu mereka kembali ke kamar tempat Anin di rawat.
Anin sudah bangun dari tidurnya begitu mereka kembali ke kamar.
"Ibu dan Mas Teguh dari mana?" tanya Anin kepada mereka berdua.
"Kami hanya berbincang saja di luar, sayang. Kamu kan butuh istirahat, jadi kami ingin memberimu suasana yang tenang" jawab Bi Inah tersenyum.
Bi Inah memandang Teguh. "Nak, sebaiknya kamu segera menemui dokter dan urus kepulangan kita sore ini."
Teguh pun mengiyakan lalu pergi keluar dan menemui dokter dan bagian administrasi untuk izin kepulangan mereka.
"Kenapa buru-buru harus sore ini, Bu?" tanya Anin bingung.
"Tidak buru-buru kok. Dokter bilang, lebih cepat lebih baik kamu pulangnya. Lebih nyaman di rumah kan daripada disini? Atau kamu lebih nyaman disini, karena banyak dokter tampan?" canda Bi Inah membuat Anin tertawa.
"Ibuuu ... apa-apaan, sih?" jawab Anin malu-malu.
"Tapi sebelum pulang, kita lakukan pemeriksaan dulu, ya? Tapi Ibu yakin putri Ibu baik-baik saja"
Bi Inah mendekati Anin dan memeluk putrinya itu. Walau Anin bukan anak kandungnya, kasih sayangnya kepada Anin sudah seperti kasih sayang Ibu dan anak. Karena dari Anin masih kecil, Bi Inah yang merawat dan menyediakan segala kebutuhannya. Jadi sudah tak asing baginya memeluk dan bercanda seperti itu dengan Anin.
"Ibu, apa Tuan Rafa tadi kemari?"
Bi Inah mengernyitkan alisnya dan melirik tersenyum kepada putrinya itu.
"Ah, Ibu. Bukan begitu maksud Anin. Anin hanya ingin berterimakasih kepada dia. Dia sudah sangat baik kepada Ibu dan Anin."
"Tidak, Nak. Sepertinya hari ini dia sangat sibuk. Tadi hanya menghubungi Teguh dan menanyai keadaan kamu," jawab Bi Inah lalu tersenyum.
"Ah, iya. Iya sudah, tidak apa-apa. Nanti saja kita berterimakasihnya," ucap Anin malu-malu.
Lalu Teguh masuk dan melihat Anin dan Bi Inah sedang berbincang. "Sepertinya Ibu sudah bisa mengatasi masalah ini," ucap Teguh dalam hati.
"Mas Teguh!"
Anin yang melihat Teguh masuk, menyapanya dengan gembira.
"Bagaimana, Mas Teguh? Apa semuanya sudah beres?"
Teguh tersenyum. "Sudah, Nin. Sepertinya Tuan Rafa ternyata sudah mengurus semuanya. Kamu hanya tinggal melakukan pemeriksaan sekali lagi kata dokter, dan kita sudah boleh pulang."
"Semua sudah di urus Tuan Rafa?" tanya Bi Inah bingung.
"Iya, Bu. Dokter bilang tadi, semua biaya administrasi dan mobil untuk kepulangan, semuanya menjadi tanggung jawab Tuan Rafa," jawab Teguh menjelaskan.
Anin terdiam mendengarkan penjelasan Teguh, dan Bi Inah bisa melihat kegundahan hati putrinya itu.
"Tidak apa-apa, nanti setelah Anin membaik, kita akan menemuinya secara langsung untuk berterimakasih. Bagaimana, Nin?"
Anin tersenyum. "Baik, Bu. Begitu juga lebih baik," jawabnya dengan bahagia.
"Baiklah sekarang kita bersiap-siap dulu, sebentar lagi dokter akan datang memeriksa Anin." ajak Teguh kepada mereka berdua.
Setelah selesai, dokter pun datang memeriksa Anin. Dan semuanya dalam keadaan baik dan tidak ada yang perlu di khawatirkan.
Sorenya Anin, Bi Inah dan Teguh meninggalkan rumah sakit bersama dengan Mark, yang di perintah oleh Rafa untuk menjemput mereka.
"Kita mau kemana, Nak?" tanya Bi Inah bingung melihat arah jalan yang berbeda.
"Ini kan bukan ke arah rumah kita, Bu?" tanya Anin juga kebingungan.
Mark tersenyum ...
"Kita akan menuju ke kediaman Tuan Rafa, Nona. Tuan Rafa memerintahkan saya untuk membawa Nona dan keluarga Nona kesana," ujar Mark menjelaskan.
Mereka bertiga saling memandang. "Baiklah, Nak." ucap Bi Inah, lalu menatap dan menggenggam tangan Anin, memberi ketenangan kepada putrinya itu. Percayalah semuanya akan baik-baik saja.
•••••••••
(Bersambung)
Hi Readers, terimakasih untuk selalu mendukung karya saya ini.
Jangan lupa like dan komennya ya?
__ADS_1
Happy reading ... 💕