
(Sebelumnya)
Bi Inah lalu mengambilkan minuman untuk putrinya Itu. Lalu tiba-tiba Rafa masuk dengan tergesa-gesa. Dan semua mata memandang kepadanya.
***
Rafa terdiam dan mencoba mengatur kembali pernapasannya. Teguh tersenyum melihat seorang Rafandra Teague, berlari dengan napas terengah-engah hanya demi seorang gadis yang bernama Anin.
Teguh sangat yakin kalau itu semua pasti karena Anin. Karena begitu Anin sadar dari tidur panjangnya, Teguh langsung menguhubungi Rafa dan bisa di rasakan, betapa bahagianya Rafa sampai dia tidak sadar betapa lucunya reaksinya saat berbicara dengan Teguh di telepon.
"Anda baik-baik saja, Tuan?" tanya Bi Inah kepada Rafa.
"Ba baik, Bu." jawabnya lalu menatap Anin yang juga sedang menatapnya.
"Apa yang terjadi di luar sana? Kenapa anda berlari sampai berkeringat begini?"
Bi Inah memperhatikan Rafa dari ujung kaki sampai ujung kepala. Kemejanya basah dan napasnya sedikit tidak beraturan.
"Duduklah dulu, Tuan." ajak Bi Inah kepada Rafa.
"Tidak, Bi. Tidak perlu ... Saya kesini hanya ingin memastikan sesuatu, dan saya sudah menemukan jawabannya," jawab Rafa masih menatap Anin.
Bi Inah yang memperhatikan kemana mata Rafa memandang pun mengerti apa yang Rafa maksud sebenarnya.
"Baiklah, Bi. Saya pergi dulu. Masih banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan"
"Baiklah, Tuan. Terimakasih sudah datang kemari untuk melihat kondisi putri saya"
Rafa tersenyum, lalu menatap Anin dan pergi dari ruangan itu.
"Tunggu dulu!! Tuan Rafa, tunggu sebentar!" pinta Anin kepada Rafa.
Rafa lalu menoleh kepada Anin dan berjalan mendekatinya.
Teguh langsung berinisiatif mengajak Bi Inah keluar dari ruangan itu. Kini hanya tinggal mereka berdua dan suasana pun seketika menjadi sunyi.
"Terimakasih ..."
"Untuk apa??" tanya Rafa kebingungan.
"Sudah menyelematkan saya dan anak saya. Dan sudah sangat baik kepada keluarga kami"
Rafa tersenyum memandangi Anin. Baru kali ini dia bisa merasakan, kalau Anin benar-benar ingin berbicara dengannya dan tidak menghindarinya lagi.
"Kamu tidak perlu berterimakasih, itu semua saya lakukan karena saya ..."
Ucapannya terhenti dan Rafa terdiam sebentar.
"Itu semua saya lakukan karena keluarga kamu juga baik terhadap saya. Terutama mama kamu"
Anin memandangi Rafa tanpa ekspresi. Dan itu justru membuat Rafa semakin bingung.
"Astaga, apa aku mengatakan sesuatu yang salah?" ucap Rafa dalam hati.
Anin semakin merasa lucu dengan sikap Rafa dan tanpa sengaja dia pun tersenyum.
"Mengapa kamu tersenyum?
"Karena kamu bohong!!" ujar Anin dalam hati. Anin tau, kalau Rafa sedang berbohong. Karena selama Anin tidak sadarkan diri, hanya raganya yang tertidur, tapi dia masih bisa mendengar semua suara orang yang berada di ruangan itu.
"Terimakasih banyak"
"Pletakk!!
Rafa memukul kening Anin dengan. jarinya.
__ADS_1
"Awww!!" pekik Anin menahan rasa sakit di keningnya.
"Jangan berterimakasih terus. Cobalah mulai hari ini untuk lebih menghargai hidupmu. Banyak orang yang menyayangimu, dan kamu tidak sendirian!"
Rafa mencoba memberi nasihat kepada Anin. Karena dia tidak ingin, gadis yang mulai dia cintai ini terluka lagi.
Anin menganggukkan kepalanya. Perasaan yang sulit sekali untuk di jelaskan. Tapi ada perasaan senang saat Rafa mulai memperhatikan dirinya.
"Baiklah, terimakasih lagi karena sudah mengingatkan aku akan hal itu. Atau, apa perlu aku mulai besok mendaftarkan diri masuk dalam pelatihan taekwondo?" canda Anin, lalu mereka berdua pun tertawa.
Bi Inah dan Teguh yang tidak sengaja mendengarnya dari luar pun ikut tersenyum. Paling tidak, sekarang Anin tidak terlalu menghindari Rafa lagi.
"Baiklah kalau begitu, aku harus segera pergi. Banyak hal yang harus aku selesaikan dan aku juga harus kembali ke Singapura sore ini juga. Aku harap kamu bisa menjaga dirimu sendiri, supaya tidak terulang lagi hal begini."
Anin lagi-lagi memandangi Rafa. Pandangan yang selalu membuat Rafa salah tingkah.
"Apakah kamu akan kembali?" tanya Anin tiba-tiba.
"Entahlah, mungkin aku disana untuk beberapa hari atau beberapa bulan"
Suasana menjadi hening, mereka juga tidak tahu apa yang harus mereka katakan lagi.
"Apakah kamu ingin aku pulang secepatnya?"
Pertanyaan Rafa membuat Anin tersipu malu, dan baru sadar ternyata dia sudah sangat bersikap manis kepada Rafa.
"Astaga apa yang sudah aku lakukan?" gumam Anin dalam hati.
"Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaanku?"
"Tidak, aku hanya ingin supaya kamu juga menjaga dirimu baik-baik disana. Dan aku sungguh-sungguh berterimakasih karena kamu sudah sangat membantu aku"
Rafa menghela napasnya, seperti tersirat kekecewaan dalam hatinya karena jawaban Anin. Mungkin dia berharap jawaban yang lain yang sangat dia harapkan.
"Terimakasih juga atas nasehat kamu. Aku pergi dulu. Sampai bertemu kembali."
**
Bi Inah dan Teguh kemudian kembali ke kamar dan mereka berdua tersenyum menatap Anin.
"Ibu dan Mas Teguh kenapa?"
"Tidak ada apa-apa, sayang. Ibu sangat bahagia akhirnya kita bisa berkumpul kembali. Besok kamu sudah boleh pulang, tapi setelah paginya menjalani pemeriksaan kembali," ujar Bi inah menjelaskan.
"Kenapa harus di periksa lagi, Bu? Anin kan sudah tidak apa-apa"
"Tuan Rafa yang meminta Ibu melakukannya. Dokter tadi juga sudah memberitahu kepada Ibu. Sebaiknya kita menuruti saja apa yang mereka katakan. Bukankah begitu, Nak?"
Anin tersenyum mendengar penjelasan ibunya.
"Hem, dasar! Kamu melakukannya, tapi tidak mau mengakuinya!!" ucap Anin dalam hati.
"Baiklah, Ibu. Anin akan melakukan apa yag Ibu katakan"
"Putri Ibu memang terbaik! Sebaiknya sekarang kamu istirahat, ya? Supaya hasilnya semakin baik besok hari"
"Siap, Bos!!"
Teguh pun ikut tersenyum melihat tawa, senyum dan keceriaan akhirnya kembali lagi di keluarga mereka.
•••••
"Tuan, sepertinya Nona Anin sudah sadar dan kesehatannya membaik"
"Kamu yakin?"
__ADS_1
"Yakin sekali, Tuan. Saya percaya orang yang suruh itu tidak akan membohongi kita"
Hendra memukul meja dan mencoba menahan emosinya setelah mendengar kabar yang baru di sampaikan orang kepercayaannya itu.
"Siapkan mobil! Saya akan pergi ke suatu tempat!"
"Baik, Tuan!"
Lalu Hendra pun pergi menuju tempat yang dia maksud.
"Tolong percepat sedikit, saya sedang terburu-buru"
"Baik, Tuan"
Dia memandang Tuannya itu dari kaca spion mobilnya. Bisa di rasakannya, Hendra yang sedang panik seperti hendak menerkam sesuatu.
"Bolehkah saya tahu, kemana tujuan kita ini, Tuan?" tanyanya mencoba memberanikan diri.
"Peternakan milik keluarga Teague!"
Entah apa yang akan di lakukan Hendra disana, tapi dia tidak berani untuk bertanya lagi.
Tiba-tiba ...
"Berhenti!!"
Mobil yang mereka kendarain pun berhenti tiba-tiba.
"Ada apa, Tuan?"
"Coba kamu perhatikan orang itu? Sepertinya aku mengenali dia!" tanya Hendra sambil memperhatikan orang yang dia maksud.
"Pengacara Wong!!" jawab mereka berdua, dan mereka benar-benar yakin kalau itu adalah pengacara Wong.
"Bukankah dia sudah meninggal bersama kakak ipar saya dan yang lainnya dalam kecelakaan itu?"
"Benar, Tuan. Begitulah informasi yang mereka berikan kepada kita"
"Lantas, siapa dia??"
Mereka berdua bingung dan ragu karena ada seseorang yang mirip sekali dengan pengacara Wong. Padahal mereka sangat yakin, pengacara Wong sydah meninggal dalam kecelakaan yang terjadi beberapa tahun yang lalu.
"Ikuti dia, kita akan segera tahu siapa dia sebenarnya!" perintah Hendra.
Mereka akhirnya mengikuti pria itu dan lupa pada tujuan mereka sebelumnya.
*
"Tuan, sepertinya ada yang sedang mengikuti kita" ujar sang supir kepada Tuannya itu.
Pria itu melihat kebelakang dan mengenali plat mobil yang mengikuti mereka.
"Ah sial!!" Ucapnya lalu mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Tuuuut ... Tuuuut ... Tuuuut ..."
3 kali panggilan keluar dan tidak ada jawaban ...
....................
(Bersambung)
Bagaimana kisah selanjutnya?
Stay terus ya dengan ceritaku.
__ADS_1
Happy reading teman-teman!!