
Pagi hari yang sejuk membuat Anin hanya bisa menganguminya dari balik tirai kamarnya.
Setelah semalaman tidak bisa tidur, Anin akhirnya memutuskan bangun pagi sekali dan pindah ke kamarnya.
Entah kenapa pikirannya melayang kepada Rei. "Kamu apa kabar??" gumamnya dalam hati, lalu mengambil ponselnya dan mulai berselancar di akun media sosial milik Rei.
"Ehm, tidak ada postingan semenjak hari itu. Apa yang terjadi denganmu??" ujar Anin sambil menatap sedih setiap foto milik Rei yang tersimpan disana.
Cukup lama Anin memperhatikan akun media sosial milik Rei, lalu dia teringat dengan Leni, temannya disana.
"Ah, apa sebaiknya aku bertanya kepadanya saja, paling tidak dia pasti lebih tau keadaan Rei, dan aku juga harus memberitahu kalau aku sudah pulang. Jadi dia tidak perlu lagi mengirim pesan kepada ibuku," ucap Anin lalu mulai menghubungi Leni.
"(Halo ...)"
"Halo, Len. Apa kabar?? Ini aku Anin."
"(Hai, Nin?? Akhirnya aku bisa mendengar suara kamu lagi. Aku baik, Nin. Kamu apa kabar??)"
"Baik juga. Oh, ya Len. Ini aku mau kasih tau ke kamu, kalau aku sudah balik ke rumah. Dan terimakasih banyak, sudah mau membantuku selama ini."
"(Ah, syukurlah, Nin. Akhirnya kamu bisa balik dengan kewarasan kamu lagi,)" ucap Leni menyindir Anin dan mereka berdua pun akhirnya tertawa.
"Len?"
"(Iya, kenapa Nin?)"
"Bagaimana kabar Rei?? Apa kamu mengetahuinya??" tanya Anin gugup.
"(Kamu belum membaca berita kemarin sore. Nin?)"
"Berita apa, Len?? Kenapa Rei masuk berita??" tanya Anin penasaran, justru membuat jantungnya berdetak semakin cepat.
"(Duh, gak usah banyak tanya. Kamu lihat saja sendiri, siapa Rei sebenarnya. Kamu tidak tahu kan, Rei akan menikah pagi ini!! Kamu kemana aja sih, Nin?? Berita sepenting ini aja kamu bisa gak tau!!)"
"Apaaaa?? Dengan siapa??"
Lagi dan lagi, Anin merasa dunianya kembali hancur. Rasa sayang dan cinta yang masih dia miliki untuk Rei, kini akan benar-benar hanya menjadi sebuah kenangan.
"Rei?? Tidak!! Tidak mungkin!! Secepat itu kah??" teriak Anin dalam hati, dan membuat airmatanya kembali jatuh untuk kesekian kalinya.
"(Nin?? Anin?? Kamu masih disana??)" panggil Leni khawatir, takut terjadi sesuatu kepada Anin.
"Eh iya, Len. Aku tutup dulu sebentar, ya?? Nanti aku hubungi kamu lagi," ucap Anin lalu menutup panggilan teleponnya.
Di bukanya kabar berita luar negeri untuk pagi ini, dan benar adanya. Ada berita tentang pernikahan Rei dan akan berlangsung pagi ini.
"Reiki Alterio Savian, selamat berbahagia!!"
Tak terasa airmatanya kembali mengalir. Kali ini Anin menangis sejadi-jadinya. Perasaan yang berusaha dia pendam selama ini, akhirnya keluar juga.
"Kenapa, Nak??" tanya Bi Inah yang tiba-tiba masuk dan mengagetkan Anin.
"Tidak apa-apa, Bu," ucap Anin berusaha menutupi kesedihan hatinya.
Bi Inah tau, pasti sudah terjadi sesuatu dengan putrinya itu. Dipeluknya Anin dengan erat. Dia berharap semuanya akan segera membaik.
**
"(Dubraaaak!!)"
Seseorang memaksa masuk ke dalam ruangan Rafa. Membuat Rafa dan Mark yang sedang berada di dalam pun kaget.
"Rafaaa!!!"
Rafa berdiri dan melihat Hendra setengah berlari menuju ke arahnya, dan ...
__ADS_1
"(Baaaaam!!)"
Sebuah pukulan mendarat tepat di wajah Rafa dan membuat darah segar mengalir melalui pelipis matanya.
"Tuan!!" teriak Mark refleks lalu membalas pukulan Hendra, dengan sebuah tendangan tepat di perut Hendra.
"Awww!!"
Hendra terlempar tidak jauh dari tempat dia berdiri dan tersungkur jatuh tepat di samping meja.
"Sudah!! Cukup!!" perintah Rafa ketika Mark akan mengulangi hal yang sama. Rafa tidak ingin Mark mengotori tangannya dengan meladeni orang seperti Hendra.
"Apa maumu??" tanya Rafa emosi.
Hendra mencampakkan sebuah berkas tepat di kaki Rafa. Mark mengambilnya, membukanya dan memberikannya kepada Rafa.
"Apa ini??"
"Tidak usah pura-pura tidak tahu. Kamu sengaja membalasnya kan?? Kamu pikir itu akan mempengaruhiku??"
Rafa tertawa keras, seperti sedang menertawakan kebodohan Hendra.
"Tidak mempengaruhimu?? Terus kedatanganmu kesini untuk apa??"
Hendra terdiam, karena sudah mempermalukan dirinya sendiri.
"Aku tidak akan pernah memungut kembali barang yang sudah pernah aku buang!!"
Hendra menatapnya kesal, membanting pintu, lalu pergi meninggalkan Rafa.
"Mark??"
"Siap, Tuan??"
"Awasi kegiatan Nona Anin. Aku yakin manusia seperti Hendra tidak akan pernah tenang sebelum tujuannya tercapai."
"Baik, Tuan." jawab Mark, lalu pergi dari ruangan Rafa.
**
"Mami???" panggil Rafin, lalu menarik-narik tangan Anin.
"Iya, sayang??"
"Apin mau es klim"
"Nanti kita minta tolong Pak Man saja, ya?? Kata Nenek kita gak boleh keluar rumah." ujar Anin menjelaskan.
"Apin mau sekalang, Mi??" rengek Rafin yang tidak peduli dengan larangan Bi Inah.
"Hem, kita minta ijin Nenek dulu, yuk?? Mami takut nanti kita kena marah." jelas Anin, lalu membawa Rafin menemui Bi Inah di kamarnya.
*
"Neneeek??" teriak Rafin berlari memeluk Bi Inah.
"Ya, sayang??"
"Apin mau beli es klim, tapi mami gak mau, Nek!!" ujarnya dengan wajah cemberut.
Bi Inah menatap Anin yang tersenyum melihat kelakuan putranya itu.
"Iya, Mami benar. Diluar udara tidak bagus, sayang. Nanti Rafin sakit, lho??"
"Gak mau!! Gak mau!!"
Di tengah rengekan Rafin, tiba-tiba ponsel Anin berdering. "Nomor siapa ya ini??" gumamnya dalam hati.
"Bu, Anin angkat telepon dulu, ya?" ujar Anin lalu keluar dari kamar Bi Inah.
__ADS_1
*
"Halo?"
"(Anindya??)"
"Iya, saya sendiri. Ini siapa??"
"(Kamu tidak perlu tahu saya siapa. Kamu masih ingat dengan pengacara Wong? Pengacara keluarga Atmaja, sekaligus sahabat dari Ibumu??)"
"Ya, saya masih ingat. Kenapa dengan pengacara Wong??"
"(Dia sekarang berada di tangan saya. Dan hidup matinya sekarang berada di tangan kamu. Kalau kamu ingin dia selamat, datanglah kemari!!)"
"Aa aapa?? Mana mungkin!! Kamu berbohong!!"
"(Kalau kamu tidak percaya, dengar ini!!)"
Si penelepon lalu memperdengarkan suara seseorang.
"Pa pa paman Wong?? Benarkah itu anda??" ujar Anin ketakutan. Dia merasa seperti pernah mendengar suara itu dan sudah tidak asing baginya.
"(Tolong paman, Nin!!)" pinta seseorang dari sana, yang mengaku sebagai pengacara Wong.
"Pamaaaan??"
"(Halo? Sekarang kamu sudah percayakan?? Kalau kamu ingin satu-satunya saksi kematian orangtuamu hidup, kamu datang kemari.)"
"Tapi??"
"(Terserah kamu mau datang atau tidak. Tapi yang pasti kamu akan tahu bagaimana nasibnya kalau kamu tidak datang. Saya akan memberimu alamat, dan rahasiakan ini dari siapapun. Kalau smapai ada yang tau, aku akan membunuhnya!!)" perintah si penelepon, lalu mengakhiri percakapan mereka.
Tak lama kemudian ada pesan masuk di ponsel milik Anin. Sebuah alamat yang baru saja di kirim oleh si penelepon tadi.
"Anin pergi dulu ya, Bu??"
"Kemana sayang?? Jangan keluar!! Bahaya!!!" teriak Bi Inah yang melihat Anin berlari keluar, tapi tidak di gubris oleh Anin.
Anin menghentikan sebuah taksi dan meluncur menuju alamat yang di berikan si penelepon tadi.
*
"Aduh, kemana kamu, Nak??" ucap Bi Inah dalam hati.
Bi Inah takut terjadi apa-apa dengan Anin seperti kejadian waktu dulu.
"Ah, apa langsung ku beritahu kepada Tuan Rafa??"
Bi Inah berjalan mondar-mandir seperti orang kebingungan.
"Ah, tidak!! Pasti nanti dia balik juga. Aku tidak ingin merepotkan Tuan Rafa lagi," ucap Bi Inah berusah menenangkan dirinya sendiri.
*
Sesampainya di alamat yang di tuju.
"Sepi, gak ada orang??"
Anin berjalan berkelliling, lalu tiba-tiba kepalanya seperti di hantam oleh sebuah benda yang sangat keras, dan dia pun terjatuh tidak sadarkan diri ke tanah.
•••••••
Bagaimana kisah selanjutnya?? Stay tune terus, yah dengan kelanjutan novel aku ini.
Tetap jangan lupa kritik, saran dan masukannya lewat komen, karena ini sangat penting bagi pemula seperti saya.
Be healthy and be happy ...
Terimakasih.
__ADS_1
"Bersambung."