My Secret Romance

My Secret Romance
Episode 52


__ADS_3

Be happy and be healthy.


Happy reading ya teman-teman.


•••••••••••••••


"Hai, Paman??" sapa Anin tersenyum penuh arti.


"Haa haai, keponakanku. Ka kamuu darimana saja?? Paman sangat bersedih ketika paman tidak bisa menemukan keberadaanmu."


"Sungguh kah, Paman?? Saya pikir anda akan merasa sangat senang."


"Ten tentuu tidak!!" ujar Hendra lalu memeluk Anin.


Anin bisa merasakan betapa bej*dnya manusia yang sedang memeluknya itu. Hidupnya yang penuh kepalsuan dan kebohongan, bisa-bisanya dia juga bersandiwara di depan orang banyak.


"Karena Nona Anin sudah kembali, bukankah secara otomatis ahli waris berpindah kepada Nona Anin??" ujar Kris, membuat Hendra geram.


"Oh, ya benar sekali." ucap yang satu.


"Iya iya, kamu benar. Tanpa pemungutan suara pun, Nona Anin secara otomatis akan menggantikan posisi almarhum Tuan Atmaja," ucap yang lain juga.


Mereka saling mengeluarkan pendapat masing-masing. Dan keputusan terakhir adalah Nona Anin yang lebih berhak menggantikan posisi orangtuanya.


"Bagaimana Nona Anin??" tanya Kris kepada Anin.


Anin tidak menjawab apapun, karena jujur dia memang sama sekali tidak mengerti mengenai dunia perhotelan. Ditatapnya Rafa, seperti sedang meminta bantuan.


Rafa menganggukkan kepalanya dan tersenyum.


"Baiklah, terimakasih atas kepercayaan kalian kepada saya. Saya akan menerimanya dengan senang hati dan saya juga mohon bantuannya, karena ini akan menjadi pertama kalinya buat saya, terjun langsung di bidang ini!!"


Semua bertepuk tangan dan memberikan selamat kepada Anin.


"Tunggu dulu!!" ujar Hendra membuat ruangan seketika menjadi sepi.


"Saya rasa, Nona Anin belum benar-benar siap menerima tanggung jawab sebesar ini. Bukankah lebih baik, saya yang akan mengambil alihnya untuk sementara waktu, sampai Anin benar-benar mampu mempertanggung-jawabkannya."


"Kenapa harus menunggu, kalau bisa sambil belajar??" ujar Rafa memotong ucapan Hendra.


Ruangan kembali ramai, semua sibuk berpendapat masing-masing. Dan sebagian dari mereka sependapat dengan Hendra. Menyerahkan pertanggung-jawaban hotel kepada Anin masih terlalu dini.


"Bagaimana Nona Anin??" tanya Rafa, membuat Anin bingung.


"Ehm, itu anu ..."


Anin berdiri gemetaran, karena dia tidak pernah sama sekali di hadapkan pada situasi seperti ini.


Rafa berjalan mendekatinya dan merangkul pundaknya. "Saya yang akan membantunya!!"


Semua mata menatap ke arah mereka berdua. "Kalau Tuan Rafa turun tangan sendiri membantu Nona kita, saya yakin Nona Anin akan cepat belajarnya!!" ujar salah satu dari antara mereka.


"Betul!! Saya setuju!!" ujar yang lain menimpali.


"Saya juga!!"


"Saya juga!!"


"Saya percaya, di tangan Tuan Rafa semua akan berhasil. Ini bisa dilihat dari beberapa perusahaannya yang selalu menjadi pembicaraan hangat di dalam maupun luar negeri," bisik yang lain kepada temannya.


Dan akhirnya, mereka semua pun setuju dengan usul Rafa.


"Bagaimana Tuan Hendra??" tanya Rafa sambil tersenyum puas.


Hendra terdiam, dia kesal dan sangat emosi tapi berusaha di tutupinya. "Baiklah, kalau sudah Tuan Rafandra sendiri yang turun tangan, saya percaya keponakan saya ini pasti bisa menjadi pemimpin seperti papanya, kakak kandung saya." ujar Hendra, lalu bangkit dari duduknya dan menyuruh Anin untuk duduk disana.


Rafa menyuruhnya duduk, kemudian kembali ke tempat duduknya, begitu juga dengan Hendra.


**


Setelah semuanya kembali hening, Anin memperkenalkan dirinya secara resmi kepada semua yang hadir disana. Karena banyak sebagian dari mereka yang tidak mengenalinya.

__ADS_1


"Maaf, Nona?? Kalau boleh tau, kemana saja anda pergi selama ini??" tanya salah satu dari antara mereka.


Anin melirik Rafa, lalu menceritakan semuanya. Sampai kejadian hari ini pun tidak luput dari pembahasan.


"Apaaaa??" ucap yang lain spontan begitu mendengar penculikan yang baru terjadi pada Anin.


"Nona baik-baik saja kan??" tanya yang lain juga.


"Saya baik. Ini semua berkat Tuan Rafa. Kalau tidak?? Mungkin saya tidak akan bisa berdiri disini." ucap Anin menjelaskan kepada mereka.


2 jam berlalu, akhirnya semuanya selesai. Kejadian yang baru saja terjadi hari ini, benar-benar menguras tenaga Anin. Dia kelihatan pucat dan sangat lelah.


"Kamu baik-baik saja?? Maafkan paman yang tidak bisa menjagamu, sehingga kejadian seperti ini bisa terjadi." ujarnya mencoba mencuri kesempatan lagi untuk dikasihani.


Anin hanya tersenyum tidak menanggapinya. Dia tau, orang yang sedang berdiri di hadapannya itu sangatlah berbahaya.


"Tinggallah di rumah Paman. Paman akan merawat dan menjagamu mulai hari ini." pinta Hendra mencoba mencari muka.


"Tidak perlu, Tuan Hendra!! Saya yang akan menjaganya!!!" tolak Rafa lalu menggandeng tangan Anin keluar dari ruangan itu.


Hendra hanya bisa menatap mereka berdua sambil mengepal kedua tangannya.


"Awas kau Rafa!! Ini masih permulaan!! Kalian akan kuhabisi kali ini!!"


"Tuan, apa anda yakin kalau Rafa tidak mengetahui siapa dalang di balik ini semua??" ujar salah satu orang kepercayaan Hendra.


"Kau mau mati?????? Masalah begini saja kau tidak bisa mengatasinya!! Bunuh mereka semua, jangan sampai tersisa satupun. Aku yakin, si Rafa itu pasti sedang menyelidikinya!!"


"Ba baik, Tuan!!"


**


Rafa berjalan keluar bersama dengan Anin yang masih terlihat sangat kelelahan.


"Jangan khawatir!! Tidak ada yang akan menganggumu selama aku masih disini!!" ujar Rafa mencoa menenangkan Anin yang ketakutan. Rafa bisa merasakan tangannya yang gemetaran dan telapak tangannya dingin sekali.


"Panggil dokter Martin ke rumah, dan telepon Bi Inah untuk mempersiapkan kamar untuk Anin. Kita akan segera menuju kerumah." perintah Rafa kepada Mark.


"Baik, Tuan!!"


"Kamu melakukannnya dengan sangat baik," ucap Rafa sambil mengelus rambut Anin.


*


Flashback on.


Sebelumnya ... Didalam mobil perjalanan pulang setelah Anin ditemukan.


"Tuan, bagaimana dengan rapat anda?"


"Biarkan saja!! Biarkan dia merasakan posisi itu untuk sementara waktu sampau Anin bisa benar-benar pulih!!"


"Anda yakin??"


"Saya sangat yakin. Anin akan menduduki kembali posisi itu saat kondisinya benar-benar memungkinkan. Lebih baik kita fokus dalam penyembuhannya dulu. Ada hitam di atas putih, dan Hendra tidak akan berani bertindak lebih jauh, kecuali Anin benar-benar menghilang!!"


"Anda benar, Tuan!!


"Saya hanya berharap gadis ini bisa menggunakan akal sehatnya kali ini. Kalau dia mau hotel itu menjadi miliknya lagi, dia sendiri pun harus berjuang. Bukannya lemah seperti ini!!" ujar Rafa sedikit emosi sambil menatap Anin yang sedang tertidur pulas.


Tapi tiba-tiba ...


"Kamu tidak usah khawatir, bawa aku kesana sekarang juga," ucap Anin, membuat Rafa dan Mark kaget.


"Anin?? Are you okay??"


Anin menganggukkan kepalanya, dan tersenyum kepada Rafa.


"Masih banyak waktu. Kamu bisa kembali setelah kesehatanmu membaik."


"Aku tidak bisa menunggu lagi. Tolong bawa aku."

__ADS_1


"Kamu yakin?? Kamu tahu kan konsekuensinya setelah kamu muncul di hadapan semuanya, terlebih dihadapan Pamanmu setelah semua yang terjadi?? Dia tidak akan membiarkanmu hidup!!"


"Ada kamu, kenapa aku harus takut??"


"Baiklah kalau begitu!! Mark, putar kembali menuju hotel. Kita akan kagetkan mereka dengan kembalinya putri pemilih hotel itu, sang ahli waris yang sah!!" ujar Rafa tersenyum penuh arti.


"Baik, Tuan!!"


Flashback off.


***


"Ibuuuu, mereka datang, Bu!!!" teriak Mia memanggil ibunya.


Bi Inah yang sedang berada di kamar, setengah berlari keluar ingin melihat kedatangan putrinya itu.


"Aninnnn!!" teriaknya begitu melihat Anin yang di berjalan lemas sambil di gandeng oleh Rafa.


"Ibu!!"


"Sayang, maafkan ibu tidak bisa menjagamu dengan baik."


"Tidak, Bu. Ini semua salah Anin yang terlalu bodoh. Lagi dan lagi, Anin membuat kalian semua khawatir dan selalu dalam masalah," jawab Anin terisak.


"Sudah!! Sudah!! Sebaiknya kamu istirahat dulu!! Bi, kamarnya sudah siap??"


"Sudah, Tuan!!"


"Baiklah, Bi. Tolong bawakan makanan yang saya pesan tadi dan bawa ke kamar. Dan kalau nanti dokter Martin datang, suruh langsung menemui saya!"


"Baik, Tuan!!'


Rafa tiba-tiba menggendong Anin dalam pelukannya.


"Ah, lepaskan saya, Tuan," ucap Anin pelan mencoba menahan malu karena sekarang semua mata memandang ke arah mereka.


"Berisik!! Kamu itu sangat lambat!! Dan satu hal lagi, saya itu bukan tuanmu." jawab Rafa melirik Anin sebentar lalu berjalan sambil menggendong Anin menuju ke kamarnya.


"Tuaan, ini bu bukan kamar saya," ucapnya kaget, ketika Rafa membawanya masuk ke dalam kamar milik Rafa dan bukan miliknya.


"Iya!! Ini kamar saya, terus kenapa??"


"Itu, anu, Tuan ... maksud saya, saya lebih nyaman kalau saya tidur di kamar saya saja."


"Gak usah mikir aneh-aneh!! Saya juga tidak akan tidur disini. Kamar kamu itu di atas, saya hanya tidak ingin kamu kelelahan naik turun tangga dan bisa memperlambat kesembuhan kamu. Ingat!! Saat kamu sudah memutuskan untuk menunjukkan keberadaanmu tadi, setidaknya tolonglah sedikit saja, kamu harus punya keinginan untuk hidup dan jangan terlalu bodoh!! Supaya kamu bisa melawan mereka!!"


"Ishh!! Iya saya tau!! Tapi gak perlu juga menghina saya dengan sebutan bodoh!!"


"Terus saya harus menyebutmu apa?? Tol*l?? Dun*u?? atau idi*t?"


"Shhtfjkjhghk" jawab Anin seperti mengomel tapi tidak jelas.


"Istirahatlah ... Saya akan keluar sebentar!!"


"Tunggu, Tuan!!" pinta Anin sambil menarik tangan Rafa.


"Ada apa??"


"Bagaimana aku harus membalas semuanya?? Semua pertolongan yang sudah tuan berikan untukku dan keluargaku??"


"Bagaimana??"


Anin menganggukkan kepalanya penasaran.


"Menikahlah denganku!!"


•••••


Apakah Anin akan menerimanya?? Atau tidak??


Bagaimana kelanjutannya di episode berikutnya?? Tetap stay terus ya dengan novel saya.

__ADS_1


Happy reading, stay healthy dan terimakasih.


Bersambung.


__ADS_2