My Secret Romance

My Secret Romance
Episode 27


__ADS_3

Pagi itu ...


Bi Inah tertidur sambil menggenggam tangan Rafin. Bi Inah memang sangat menyayangi Rafin, walaupun Rafin bukan cucu kandungnya.


Tiba-tiba Bi Inah terbangun. Telinganya sayup-sayup mendengar Rafin memanggil namanya.


"Nek ... Nenek ..." panggil Rafin begitu membuka matanya.


Bi Inah tersenyum bahagia melihat cucu kesayangannya sudah bangun dari tidurnya. Tak terasa airmata membasahi pipinya.


"Nenek kenapa nangis?" ucap Rafin bingung melihat neneknya menangis.


"Tidak apa-apa, sayang. Mata nenek ada debunya." jawab Bi Inah lalu memeluk erat Rafin. Airmatanya tidak bisa berhenti mengalir. Ada rasa bahagia yang tidak bisa dia ungkapkan. Bi Inah takut sekali kehilangan Rafin, karena dari Rafin masih bayi, Bi Inahlah yang mengurusnya.


"Syukurlah Rafin baik-baik saja. Nenek takut sekali kalau Rafin sakit. Nanti siapa yang menemani nenek beli es krim?" canda Bi Inah berusaha membuat cucunya itu tersenyum.


"Apin sehat, Nek. Lihat?? Apin bisa berdiri." ucap Rafin lalu berdiri dengan bangganya.


Bi Inah tertawa melihat tingkah laku cucunya itu.


"Sudah, sudah!! Lihat itu tangan Rafin nanti sakit. Rafin duduk lagi, ya?" bujuk Bi Inah kepada Rafin, takut tangannya yang sedang di infus terluka.


Rafin melihat tangannya, kemudian kembali duduk dan tersenyum kepada Bi Inah.


"Maafkan Apin, Nek"


"Tidak apa-apa sayang" ucap Bi Inah lalu berdiri mengambil air minum untuk Rafin.


Sesaat sorot mata Rafin menangkap sosok wanita yang dia kenal, sedang terbaring tidak sadarkan diri.


"Mamii ...??"


Bi Inah terkejut mendengar Rafin memanggil "Mami". Dia lupa kalau Anin juga berada di kamar yang sama dengan Rafin.


"Mami lagi tidur siang, sayang. Nanti kita bangunin, ya? Sekarang Rafin minum dulu terus habis itu mau makan apa, nanti nenek belikan." ucap Bi Inah berbohong, karena dia tidak ingin cucunya itu sedih melihat keadaan Anin yang masih belum sadarkan diri.


Raut wajah Rafin pun akhirnya berubah bahagia. Dia pikir kalau maminya itu memang sedang tidur siang.


"Apin mau makan ayam goreng buatan nenek, ya?"


Bi Inah tersenyum mendengar celotehan cucunya, kemudian mengangguk mengiyakan permintaan cucunya itu.


Rafin tersenyum bahagia, dia membayangkan sebentar lagi dia bisa makan ayam goreng kesukaannya


Lalu tiba-tiba pintu terbuka, Rafa masuk dan terkejut melihat bocah kecil itu sudah bangun dari tidurnya.

__ADS_1


"Tu tuan ..."


"Dia baru bangun, Bi?" tanya Rafa penasaran melihat bocah kecil itu sudah bermain dengan sangat ceria.


"Iya, Tuan. Baru beberapa menit yang lalu. Saya berniat ingin memberitahukan kabar ini kepada anda setelah saya memberinya minum dulu. Tapi Tuan sudah tahu duluan. Maafkan saya, Tuan" ucap Bi Inah merasa bersalah kepada Rafa.


"Tidak perlu meminta maaf, Bi. Syukurlah kalau dia sudah bangun. Saya akan memberitahukan dokter dulu. Bibi disini saja jaga cucu Bibi baik-baik" jawab Rafa lalu pergi meninggalkan Bi Inah untuk menemui dokter.


"Ada apa, sayang? tanya Bi Inah yang melihat Rafin terus saja memandangi Rafa sampai menghilang di balik pintu.


"Paman es klim, Nek" jawab Rafin


Bi Inah bingung dengan jawaban Rafin.


"Rafin mau es krim? Biar nenek belikan."


Rafin menggeleng, kemudian dia kembali asik bermain dengan mainannya.


Bi Inah tersenyum melihat tingkah Rafin. Dia bahagia bisa melihat kembali senyum cucunya itu. Satu doanya sudah terkabul. Sekarang tinggal menunggu keajaiban datang pada Anin.


Bi Inah menatap Anin yang masih saja asik dengan mimpinya. Dia sudah sangat merindukan tawa dan candaan Anin.


"Cepat bangun, Nak. Kami semua merindukanmu." ucap Bi Inah dalam hati.


Tak lama kemudian, Rafa masuk bersama dokter. Dokter memeriksa keadaan Rafin, dan melepas infus yang terpasang di tangan mungil Rafin. Kemudian dia menjelaskan keadaan Rafin yang semuanya sudah membaik dan sudah boleh pulang hari itu juga.


"Lalu bagaimana dengan putri saya, Dok?" tanya Bi Inah kepada Dokter Wijaya, yang menangani kesembuhan Anin.


Dokter Wijaya menatap Rafa kemudian kembali menatap Bi Inah.


"Kita hanya menunggu keajaiban dari Tuhan, Bu. Benturan keras di kepalanya akibat hantaman pada saat kejadian, membuat putri Ibu sulit sekali tersadar dari tidurnya. Kita hanya berharap, putri Ibu juga punya kemauan untuk sembuh. Selebihnya, biarlah Tuhan yang berkehendak." jelas Dokter Wijaya membuat tubuh Bi Inah seketika lemas taj berdaya


Rafa juga merasakan hal yang sama setelah mendengar penjelasan Dokter Wijaya.


"Bi, saya dan semua dokter yang ada di rumah sakit ini, akan berusaha memberikan yang terbaik untuk pengobatan Anin. Bibi jangan khawatir!!" ucap Rafa mencoba menenangkan Bi Inah.


Rafin yang melihat Bi Inah menangis pun ikut menangis. Seketika Bi Inah tersadar, ada Rafin yang harus dia jaga perasaannya.


Bi Inah lalu berdiri, kemudian memeluk Rafin.


"Maafkan nenek, sayang. Rafin jangan menangis lagi. Nanti kita beli es krim, ya?"


Lalu Bi Inah pergi keluar membawa Rafin bersamanya. Bi Inah sadar, kalau terus berada di kamar itu, pasti dia tidak akan bisa membendung kesedihannya.


"Terimakasih, Dok. Bantu saya menyembuhkan gadis ini secepat mungkin." ucap Rafa kemudian.

__ADS_1


"Jangan khawatir, Tuan. Kami akan berusaha semaksimal mungkin" jawab Dokter Wijaya menepuk pundak Rafa, lalu pergi meninggalkan Rafa dan Anin, berduaan di ruangan itu.


Rafa memandang wajah Anin. Rasa khawatir yang belum pernah dia rasakan sebelumnya, membuatnya sulit berpikir dengan jernih. Rafa lalu duduk di samping Anin dan dia pun tertidur.


*


Bi Inah membawa Rafin bermain di taman sekitaran rumah sakit. Dia berharap cucunya itu tidak bersedih lagi. Dan memang benar, namanya juga anak-anak, gampang sekali melupakan kejadian yang baru saja terjadi. Dan Rafin pun mulai aktif kembali. Berlari kesana kemari, mencoba semua permainan yang ada di taman itu.


**


Rafa tersentak, dia bangun dari tidurnya begitu mendengar ada ponsel yang berdering di kamar itu. Dia lalu berdiri mencari sumber suara yang membuatnya terbangun itu.


Matanya lalu tertuju pada sebuah ponsel yang terletak di atas sebuah meja. Lalu dia mendekatinya, dan melihat ada panggilan dari seseorang yang bernama "SAYANG".


Rafa tidak tahu itu ponsel milik siapa. Dia berpikir, mungkin itu ponsel milik Bi Inah, dan yang menelepon adalah putrinya.


Rafa mengabaikan panggilan itu, mungkin ada sekitar 3-4 kali. Dan panggilan yang ke 5, Rafa mengangkatnya. Rafa pikir pasti itu adalah panggilan penting, itulah kenapa si penelepon terus menghubungi si pemilik ponsel sampai berkali-kali.


"Halo ..."


"Halo??" jawab seseorang dari sana.


Rafa mengernyitkan dahinya, karena yang menelepon adalah seorang pria. Dia berpikir tidak mungkin Bi Inah memilik pacar di usia nya sekarang. Lalu itu ponsel milik siapa??


"Halo, anda siapa? Kemana pemilik ponsel ini?" tanya pria itu lagi kepada Rafa.


"Maaf sebelumnya, saya juga tidak tahu siapa pemilik ponsel ini. Boleh saya tahu anda mencari siapa?" jawab Rafa penasaran.


"Anin ... Anindya Putri. Saya mencari dia. Boleh saya tahu anda siapa dan Anin kemana?" jawab pria itu.


"A a anda siapa?"


"Saya kekasihnya!!"


Jawaban itu hampir saja membuat Rafa menjatuhkan ponsel milik Anin. Tanpa sadar, Rafa mematikan panggilan telepon tadi dan melihat foto di layar ponsel milik Anin.



Gubrak!!


Dan Rafa pun terjatuh setelah melihat foto Anin dan kekasihnya yang terpampang jelas di layar ponsel milik Anin.


******


(Bersambung!!).

__ADS_1


__ADS_2