My Secret Romance

My Secret Romance
Episode 26


__ADS_3

Malam itu, setelah Bi Inah menyelesaikan pekerjaan rumahnya dan mengurus Mia, Bi Inah pun bersiap-siap berangkat menuju rumah sakit tempat Anin dan Rafin di rawat.


"Sayang, Ibu berangkat dulu, ya? Makan malam kamu sudah Ibu siapkan dan Teguh sebentar lagi juga pulang." ucap Bi Inah berpamitan kepada putrinya.


"Loh, mas Teguh hari ini pulang, Bu?"


"Iya, sayang. Ibu minta Teguh untuk menemani kamu malam ini, karena kondisi kesehatan kamu juga lagi tidak baik. Maafkan Ibu, ini terpaksa Ibu lakukan. Ibu takut terjadi apa-apa pada kamu karena Ibu juga tidak bisa menemani kamu malam ini."


Mia tersenyum, lalu memeluk Ibunya.


"Tidak apa-apa, Bu. Terimakasih karena sudah mengkhawatirkan aku. Ibu juga jaga kesehatan, ya? Vitaminnya jangan lupa dibawa. Besok sore sehabis kerja, Mia nyusul Ibu kesana."


"Apa kamu tidak minta izin saja, Nak? Ibu bisa bilang sama Tuan Rafa nanti di rumah sakit."


Mia menggeleng lalu tersenyum.


"Tidak usah, Bu. Kita sebaiknya jangan memanfaatkan kebaikan Tuan Rafa untuk. hal begini. Bantuan yang dia berikan untuk Anin dan Rafin sudah sangat cukup. Mia masih bisa kerja, kok. Kalau Mia lelah, disana juga nanti bisa istirahat. Ibu jangan khawatir." ucapnya berusaha menenangkan Ibunya.


"Ya sudah kalau begitu. Jaga kesehatan, ya? Ibu pamit dulu." ujar Bi Inah lalu pergi menaiki sebuah Taksi online.


*


Setibanya di rumah sakit, di depan kamar rawat Anin, Bi Inah melihat ada beberapa orang pria berbadan tegap, dan terlihat sangat kejam sedang berdiri di depan pintu kamar yang Anin tempati.


Bi Inah berjalan mendekati mereka. Kemudian berjalan masuk, tapi tiba-tiba di hadang oleh seorang pria. Bi Inah terkejut dan takut, lalu berjalan mundur perlahan.


"Maaf, Ibu. Anda di larang masuk,


"Sa sa saya Ibunya!! Kenapa kamu melarang saya masuk??"


Bodyguard yang mendengar penjelasan Bi Inah, lalu pergi masuk ke kamar menemui Rafa yang sedang tertidur pulas di sofa tepat di samping Anin.


"Tuan, maaf."


Rafa terbangun, sepertinya dia tidak benar-benar tidur. Karena dia bangun dalam sekejap, setelah mendengar suara anak buahnya memanggil.


"Ya, ada apa?"


"Maaf, di luar ada seorang Ibu yang mengaku bahwa dia adalah Ibu dari nona ini", ucapnya sambil menunjuk Anin.


Rafa lalu berjalan keluar, dan dia melihat Bi Inah sudah berdiri di depan pintu.

__ADS_1


"Biarkan Ibu ini masuk. Lain kali kalau bukan Ibu ini yang datang, siapapun itu tidak di perbolehkan!! Kalian harus mengingat itu!!"


Kedua bodyguard sewaannya itu pun mengangguk.


"Oh, ya!! Ada satu orang lagi. Putri Ibu ini!! Nanti Ibu ini sendiri yang menunjukkan siapa orangnya.!!" ucapnya lagi lalu berbalik masuk ke kamar bersama Bi Inah.


Bi Inah memandangi satu persatu Anin dan Rafin. Rafa mengerti betul kesedihan yang tersirat dari pandangan di matanya.


"Bibi tenang saja. Cucu Ibu akan segera membaik. Tapi kalau Anin, kita tunggu perkembangannya, kata dokter."


Bi Inah mengangguk, tanpa menoleh ke arah Rafa.


"Terimakasih, Tuan. Anda sudah sangat membantu kami. Tanpa anda, mungkin putri dan cucuku tidak bisa seperti ini." ucap Bi Inah memandangi Anin.


Rafa tersenyum, ada rasa senang yang terukir di wajahnya. Lalu di pandangi nya wajah Anin.


"Bi, kalau boleh ... ijinkan saya menjaga Anin seumur hidup saya."


Bi Inah terkejut mendengar ucapan Rafa. Kakinya seketika lemas, dan airmatanya mengalir. Ada rasa senang menyelimuti hatinya. Dan disisi lain, ada rasa khawatir akan pendapat Anin nantinya.


Rafa memegang tangan Bi Inah, karena tubuh Bi Inah terlihat lemah hampir jatuh ke lantai.


"Bibi tidak apa-apa kan? Apa saya salah berbicara??" ucap Rafa bingung.


"Apakah anda mencintai Anin, Tuan??"


Rafa tertegun mendengar pertanyaan Bi Inah.


"Saya juga tidak tahu apa saya mencintai dia, Bi. Tapi yang saya tahu, saya ingin sekali menjaga Anin. Bukan karena orangtuanya, tapi hati saya yang menginginkannya."


Bi Inah tersenyum, lalu mengenggam tangan Rafa.


"Beri saya waktu Tuan untuk meyakinkan Anin, setelah kesehatannya membaik." ucap Bi Inah.


Rafa mengangguk dan tersenyum, lalu kembali memandangi Anin.


**


Praaaanng!!


Hendra melempar botol wine yang berada di hadapannya. Sontak membuat yang lain terkejut.

__ADS_1


"Sialan!! Apa saja yang kalian lakukan sampai-sampai gadis itu bisa di pindahkan tanpa sepengetahuan saya???" ucapnya kesal begitu tahu Anin sekarang berada di rumah sakit milik Rafa.


"Kalian keluar semua!!!" bentaknya lagi, lalu mereka pergi meninggalkan Hendra sendirian.


"Dasar bocah ingusan!! Lihat saja nanti!! Kau akan tahu siapa saya!!" gumamnya dalam hati sambil menahan emosinya.


Tak lama kemudian, Cathy masuk dan melihat ruangan Hendra yang sangat berantakan.


"Ada apa, sayang? Kenapa kamu marah-marah begini?" ucap Cathy mendekat lalu mencium bibir Hendra.


"Menjauh dariku!!" ucap Hendra lalu mendorong tubuh Cathy dengan sangat kuat.


"Awww, sayang kamu kenapa? Kamu kasar sekali?" teriak Cathy emosi lalu memukul Hendra.


Belum sempat pukulan itu mengenai dadanya. Hendra menepis tangan Cathy, lalu menariknya ke pelukannya.


"Kamu ingin tahu mengapa saya begini??" ucapnya kemudian mulai mencumbu istrinya itu.


"Hendraaa, jangan!! Kita sudah berjanji tidak akan saling menyentuh sebelum saya benar-benar siap." ucap Cathy gemetaran melihat luapan emosi di mata Hendra.


Hendra tidak memperdulikan ucapan Cathy. Dia tetap saja melanjutkan aksinya tadi. Kali ini, dia sudah menyusuri tiap inci leher milik Cathy.


Cathy berusaha berontak dan teriak. Tapi percuma saja, ruangan Hendra kedap suara dan tenaganya tidak cukup untuk melawan tenaga Hendra. Di tamparnya wajah Hendra, tapi bukannya membuat Hendra berhenti, tapi Hendra justru semakin semangat menyerang Cathy.


Tidak butuh lama bagi Hendra untuk menaklukkan benteng pertahanan Cathy. Tubuhnya kini hanya pasrah menerima setiap perlakuan Hendra. Yang di rasakannya sekarang hanya rasa malu dan nyeri pada daerah intimnya.


Cathy menangis meringkuk di lantai ruangan Hendra. Di sekujur tubuhnya terdapat banyak bekas luka lebam.


Hendra tertawa, seperti menghina harga dirinya. Walau Cathy sadar, Hendra adalah suami sahnya.


"Kenakan pakaianmu!! Kemudian pergi dari sini!!" bentaknya seperti mengusir kemudian mengenakan pakaiannya juga.


"Jangan macam-macam denganku!! Sekarang kau adalah istriku!! Dan jangan coba-coba menemui mantan kekasihmu itu lagi!!" ucapnya pergi setelah mengenakan pakaiannya.


Cathy sontak terkejut mendengar ucapan Hendra. Dia berpikir, bagaimana Hendra tahu kalau dia pergi menemui Rafa hari itu??


"Apakah Hendra memata-mataiku?? Berarti dia tahu aku kemana saja selama ini??" gumam Cathy dalam hati.


"Aaaaahhhh!!! Dasar psikopat!!" teriak Cathy meronta-ronta menyesali setiap detik kesalahan yang dia perbuat dengan meninggalkan Rafa.


********

__ADS_1


(Bersambung)


Jangan lupa vote, like dan commentnya ya. Terimakasih dan happy reading!!


__ADS_2