
••••••••
Cathy kembali keruangan Rafa dengan langkah gontai. Sudah bisa dibayangkan apa yang akan Hendra lakukan setelah mengetahui kalau ternyata ibunya Cathy lah penyebab kecelakaan Rafa.
*
Beberapa menit yang lalu.
"Apa maumu, Hendra?"
"Mauku?? Datanglah kemari, aku akan memberitahu apa mauku!!"
"Tidak akan!! Aku tidak akan melakukan apa yang kamu inginkan!!"
"Kamu yakin?? Lalu bagaimana dengan ibumu?"
Cathy tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Kali ini dia benar-benar harus menuruti apa kemauan Hendra.
**
"Sayang, kamu kenapa??" tanya Hendra yang melihat muka Cathy sedikit lebih pucat. Bagaimana dia tidak pucat, gertakan Hendra kali ini benar-benar membuatnya bertekuk lutut. Jika dia tidak menuruti apa kemauan Hendra, sudah bisa dipastikan, Rafa akan mengetahui semuanya dari Hendra.
"Tidakk!!!!!"
Rafa yang kaget mendengar Cathy yang tiba-tiba berteriak, langsung berdiri dan memeluk Cathy.
"Kamu kenapa sih?? Kamu sakit??" tanya Rafa lalu memegang kening Cathy.
"Sayang?? Aku mau pulang." rengek Cathy sambil menahan rasa takutnya.
"Kamu mau pulang??" tanya Rafa yang bingung, karena tiba-tiba Cathy seperti orang ketakutan begitu.
Cathy menganggukkan kepalanya, tapi belum juga melepaskan pelukannya.
"Ya, udah. Ayuk kita pulang. Aku juga gak punya kerjaan disini" jawab Rafa, lalu dia membereskan barangnya dan membawa Cathy pulang.
**
Anin yang baru saja tiba di hotel dari luar karena urusan pekerjaan, lalu berpapasan dengan Rafa dan Cathy di lobi hotel.
Anin yang bisa melihat Rafa memeluk erat tubuh Cathy, seketika muncul rasa sakit dihatinya. Dia melewatinya begitu saja, tidak menyapa apalagi memperdulikannya.
Rafa yang bisa melihat Anin dari jauh pun merasa canggung dan ingin melepaskan pelukan Cathy. Tapi malah pelukan Cathy semakin erat.
Entah kenapa, sejak bertemu dengan Anin, Rafa selalu merasakan hal yang berbeda. Dan dia seperti tidak ingin menyakiti gadis itu dengan memeluk, merangkul atau menggenggam tangan gadis lain.
............
"Dasar!! Ah, kenapa hidupku tidak pernah seberuntung orang lain??" ujar Anin dalam hati sambil menatap layar ponselnya.
Anin yang diam-diam selalu memperhatikan akun sosial media milik Rafa pun, selalu merasa sedih dengan apa yang dia lihat. Update an status atau apapun itu, pasti selalu tentang Cathy.
"Kamu benar-benar sangat mencintainya," ucap Anin dalam hati.
Lalu Anin pun mulai kembali berselancar dengan akun sosial media miliknya. Dan dia pun mulai menulis sesuatu.
__ADS_1
"Takdir, jangan tarik ulur kebahagianku!!" tulis Anin dengan putus asa.
Sejak kepergian kedua orangtuanya, Anin selalu berpikir kalau takdir sudah mempermainkannya.
Tiba-tiba ...
(Ting!!")
Suara ponselnya berdering, dan Anin tiba-tiba langsung membuang ponselnya ke sofa.
"Apa itu tadi??" ujarnya kaget dengan apa yang baru saja dia lihat.
Anin masih bingung dan kaget dengan apa yang dia lihat. Lalu diberanikannya lagi mengambil ponselnya dan di lihatnya sebuah pemandangan mengejutkan.
Sebuah tanda 💓pada postingan statusnya dari seseorang yang dia kenal. Ya, Rei memberikan tanda bentuk hati pada postingan Anin.
"Rei?? Apa yang dia lakukan?? Bagaimana kalau istrinya melihat ini??" ujar Anin panik.
"Ah, masa bodoh!! Kan bukan aku yang salah. Dia saja yang tidak punya kerjaan memberikan tanda hati pada postinganku!!" gerutu Anin lalu menutup akun media sosial miliknya.
Anin menyandarkan kepalanya pada sofa, lalu menutup matanya. Pikirannya kini melayang kepada dua pria yang mengisi pikirannya.
Dan ponselnya tiba-tiba berbunyi lagi. "Ah, apa lagi ini??"
Anin mengambil ponselnya dan melihat sebuah pesan masuk.
"Reiii??"
Ya, sebuah pesan masuk dari Rei. Dan Anin langsung mematung, tidak percaya dengan apa saja yang baru dia lihat.
"Ah, pasti dia salah kirim," ucap Anin mencoba menenangkan dirinya.
Anin lebih memilih menyibukkan pikirannya pada pekerjaannya.Setengah jam berlalu, tapi tidak bisa dibohongi kalau pikiran Anin masih mengarah kepada pesan yang dikirim Reiki.
"Kenapa dia tiba-tiba mengirimkan pesan kepadaku?" batin Anin.
Anin mencoba memberanikan diri membuka pesan yang dikirim oleh Rei.
"Kamu apa kabar? Terlalu banyak penyesalan yang aku tanggung sendiri sampai sekarang dan aku ingin meminta maaf. Anin?? bisakah untuk yang terakhir kalinya, kita bertemu?"
Anin hanya menatap pesan itu dan tidak bergeming sama sekali.
"Kenapa?? Maaf, aku tidak bisa menemuimu." ujar Anin dalam hati tapi tidak membalas pesan itu. Ditutupnya kembali pesan Rei dan Anin pun pergi dari ruangannya.
*
Setibanya di kediaman Rafa, Cathy langsung masuk ke kamarnya. Rafa yang melihat perubahan mendadak pada Cathy pun bingung, ada apa dengan tunangannya itu.
Cathy mencoba menghubungi ibunya, tapi ponselnya sudah tidak aktif. Rasa takut semakin menghantui Cathy.
"Ahh, sialan!!! Dasar bajing*an!!!" umpat Cathy lalu membanting ponselnya.
Cathy menangis sesenggukan, tanpa dia sadari Rafa memperhatikannya dari luar. Sekilas sebuah memori muncul di kepala Rafa.
"Ah!! Kenapa aku seperti pernah melihat kejadian yang sama saat melihatnya menangis?" rintih Rafa sambil memegang kepalanya.
Rafa terus memandangi tunangannya itu. Ada perasaan aneh saat melihat Cathy menangis. Dia tidak merasa sedih saat melihat Cathy menangis.
__ADS_1
"Siapa kamu sebenarnya??" batin Rafa sambil terus mengingat siapa sosok gadis yang dia pandangi itu.
**
Pagi harinya.
Rafa langsung bangun seketika setelah mengingat, kalau tunangannya itu menangis tadi malam. Dia berjalan menuju kamar Cathy, tapi setelah pintunya dibuka, tidak ada siapapun di dalam.
"Ah, kemana dia??" tanya Rafa, lalu bergegas ke kamarnya dan mengambil ponselnya.
Tak ada satupun pesan atau panggilan masuk dari Cathy. Rafa pun langsung menghubunginya dan setelah 3 panggilan keluar, tidak ada tanggapan apapun dari Cathy.
"Kamu kemana, sih?? Hubungi aku setelah kamu membaca pesanku ini!!" Rafapun akhirnya memutuskan mengirimkan pesan, karena Cathy tidak bisa dihubungi sama sekali.
**
Di sebuah gedung tua, di pinggir kota.
Cathy baru tiba dengan mobil sedannya. Dia berjalan perlahan memasuki gedung itu, dan tiba-tiba langkahnya terhenti. Pandangannya menangkap sosok yang dia kenal. Ibunya terduduk lemas di sebuah kursi, dengan tangan di ikat.
"Akhirnya kamu datang juga!!" ujar Hendra tiba-tiba membuat Cathy kaget.
"Apa maumu??"
"Ops, santai!! Kau duduk sajalah dulu!!" perintahnya sambil menyodorkan sebuah kursi.
Cathy hanya menuruti kemauan Hendra. Perasaannya sedih ketika melihat ibunya seperti tidak terurus begitu.
"Mami? ??" panggilnya mencoba menyadarkan ibunya.
Tapi tidak ada tanggapan dari ibunya, dan Cathy hanya bisa menangisi apa yang sudah terjadi.
"Eits, tenang saja. Ibumu hanya kuberi obat tidur, supaya dia tidak berisik!!"
"Kamu benar-benar jahat!!" maki Cathy hampir memukul Hendra, tapi dengan cepat di tepisnya dan langsung menggenggam tangan Cathy dengan sangat kuat.
"Jangan macam-macam denganku!! Atau kau akan menyesalinya!!!" jawabnya ketus.
Cathy hanya bisa menangis pasrah. Karena dia tahu, Hendra bukanlah lawan yang seimbang.
"Katakan saja apa maumu!!"
"Baiklah, kalau kau tidak sabar lagi menunggu."
Hendra lalu menceritakan niat jahatnya kepada Cathy.
"Apaaaaaa?? Jadi maksudmu, aku harus membunuh gadis itu???"
"Betul!! Bunuh dia untukku, ibumu akan selamat, dan kau juga akan mendapatkan keinginanmu!!"
••••••••
(Bersambung)
Bagaimana kisah selanjutnya?? Stay terus, jangan lupa like, follow dan commentnya, ya??
Terimakasih.
__ADS_1