
"Aninnn!!!" ucap Bi Inah juga gak kalah paniknya dan berlari mendekati Anin.
"Lepaskan aku!!" teriak Anin ketika Rafa berusaha menopang badan dan memegang tangan Anin.
"Tidak!! Hei, sadar!! Jangan terlalu kekanakan!" ucap Rafa tanpa sadar malah membuat Anin semakin emosi melihatnya.
"Sayaaang, kamu tidak apa-apa?" tanya Bi Inah lalu memeluk tubuh Anin.
"Ibuuu, ada apa sebenarnya? Ada apa dengan Paman Hendra, dan apa hubungannya dengan kematian orangtua Anin?" ucap Anin dengan lirih.
Bi Inah memandangi Rafa, berusaha meminta bantuan atas pertanyaan Anin.
"Duduklah dulu, Ibu dan Tuan Rafa akan menceritakan semuanya, tapi setelah hati dan pikiranmu membaik," jawab Bi Inah dengan lembut lalu mengusap kepala Anin.
Mia dan Teguh yang mendengar ada keributan di luar, akhirnya menyusul mereka ke luar.
"Ada apa ini, Bu?" tanya Mia kaget begitu melihat Anin pucat dan ada gelas pecah berserakan di lantai.
Mia mendekati Anin dan menggengam tangannya. "Kamu baik-baik saja, Nin?" tanya Mia lagi.
Anin menggangguk dan memeluk Mia. Walau Anin berkata baik-baik saja, tapi Mia tau, ada sesuatu yang membuat sahabatnya itu terluka. Detak jantungnya terasa begitu kencang, dan napasnya masih terdengar cepat. Ya, Anin sedang berusaha menetralkan hati dan pikirannya.
"Tidak apa-apa, Nin. Kita semua ada disini. Kamu tidak sendiri, jadi jangan takut," ucap Mia dengan hati-hati lalu tersenyum kepada Anin.
"Sebaiknya, cobalah berpikir sedikit dewasa. Aku tahu kamu baru saja pulih, tapi setelah apa yang akan kami ceritakan nanti, aku harap kamu bisa dengan bijak menyikapinya."
Ucapan Rafa yang terkesan kasar dan tegas ini, membuat Anin semakin berpikir apa sebenarnya yang terjadi pada keluarganya dan pamannya.
"Baiklah, Bi. Sebaiknya Bibi ceritakan saja semuanya dari awal. Supaya, putri Bibi cepat sadar dan bisa berpikir, apa yang seharusnya dia lakukan untuk mengambil kembali apa yang menjadi haknya dan keluarganya. Tapi, jika dia sudah tidak peduli lagi dengan almarhum orangtuanya, mungkin ada baiknya dia tidak disini dan kembali ke Paris, supaya semuanya kembali normal seperti dulu," ujar Rafa dengan tegas sambil menatap Anin dengan tatapan sinisnya.
Anin yang mendengar ucapan Rafa itu pun tersulut emosinya. "Dasar musang berbulu domba!! Akhirnya kamu menunjukkan sifat aslimu yang kamu sembunyikan dengan baik selama ini. Aku hampir saja terkecoh olehmu!!" ucap Anin dalam hati sambil menatap Rafa dengan tajam.
"Maafkan, aku. Aku hanya ingin kamu cepat sadar. Dan kamu bisa menjaga dirimu dengan baik. Bukan seperti ini yang aku mau. Mereka sudah sangat menyakitimu dan keluargamu. Kalau kamu sendiri tidak ingin berjuang, bagaimana aku bisa membantumu?"
Rafa sebenarnya punya niat baik terhadap Anin, tapi penyampaiannya saja yang salah.
"Baiklah, Tuan. Saya akan menceritakan semuanya. Dan kamu, putriku sayang. Setelah apa yang akan Ibu ceritakan nanti, jangan takut! Ada Ibu dan semua orang yang disini yang akan menjaga dan melindungimu."
Setelah berbicara dengan Anin, Bi Inah mulai menceritakan semuanya sambil menggengam tangan Anin.
*
Anin menutup matanya dan menangis. Setelah apa yang Bi Inah ceritakan tadi, Anin benar-benar kehilangan akal pikirannya.
"Nak ..."
Bi Inah tau, pasti berat menerima semuanya untuk saat ini. Orang yang dia hormati selama ini, ternyata dialah penyebab orangtuanya meninggal. Dia tidak percaya, kalau pamannya bisa setega itu. Saat dia tidak diterima lagi dalam keluarga Atmaja, setelah orangtuanya meninggal dan dia baru tau ternyata dia bukanlah anak kandung Tuan Atmaja, Anin tidak begitu mempermasalahkannya. Dia hanya melepaskan semuanya, merelakan sesuatu yang bukan miliknya, dan pergi sejauh-jauhnya dari keluarga Atmaja.
Tapi untuk kali ini ...
**
"Ibu, bisakah Anin menyendiri dulu? Anin butuh waktu sebentar untuk mencerna semua ini dengan baik"
"Anin yakin??"
Anin menggangguk dan pergi meninggalkan mereka.
"Tidak apa-apa, Bu. Anin gadis yang kuat. Dia pasti baik-baik saja," ucap Mia berusaha menenangkan Bi Inah.
"Ibu juga berharap seperti itu, Nak"
...............
Di kamarnya Anin hanya duduk dan pikirannya melayang entah kemana. Dia tidak tahu harus berbuat apa saat ini. Yang dia rasakan, hanya sebuah penyesalan dan rindu yang teramat dalam kepada kedua orang tuanya.
"Ma, Pa ... Maafkan, Anin,"
Anin menangisi setiap kebodohan yang dia lakukan selama ini. Setelah Hendra menceritakan bahwa dia bukanlah anak kandung mama dan papanya, Anin kecewa. Dia pergi dan meninggalkan semuanya dan Hendra berhasil menyingkirkannya. Padahal seharusnya Anin berusaha bangkit dan melanjutkan apa yang Tuan Atmaja inginkan darinya.
Anin juga menyesal karena tidak berusaha mencari tau apa yang terjadi waktu itu. Walau Anin sadar ada kejanggalan dengan kematian Nyonya Atmaja, tapi Anin pergi begitu saja, dan membiarkan semuanya berlalu seperti angin.
Tiba-tiba ponsel Anin berdering.
"Uh, siapa yang menelepon pagi-pagi begini?'
__ADS_1
Karena Anin juga baru pulih dari sakitnya. Dia sampai lupa memegang ponselnya sendiri. Padahal ponselnya sudah dia terima dari Bi Inah saat pulang dari rumah sakit kemarin.
"Reiii???"
Anin berteriak kaget bercampur bahagia. Dia baru sadar, dia sedikit melupakan Rei sejak dia sadar kemarin.
"Pasti kamu sangat khawatir, sayang." ucapnya dalam hati.
*
"Halo ..."
"Aniiiinnnnn?? Sayang, kamukah itu??"
"I ii yaaaaa, sayang"
"Thanks, God. Aku pikir aku akan kehilanganmu. Syukurlah kamu baik-baik saja. Aku hampir gila memikirkanmu beberapa hari ini!!'
Anin terdiam dan berpikir sejenak ...
"Apakah, kamu tau tentang kondisiku selama ini?" tanya Anin penasaran.
"Tentu saja!! Aku menghubungimu setiap hari setelah kamu menghilang. Tiap hari aku terus menghubungimu, tapi tidak pernah ada jawaban. Sampai akhirnya ada yang mengangkat panggilanku dan keluargamu akhirnya mau menceritakan semuanya kepadaku."
Rei menceritakan semuanya kepada Anin. Dia sangat bahagia, akhirnya bisa mendengar kembali suara orang yang dia sayangi itu.
"Sayang, aku sangat merindukanmu. Kita akan membahasnya nanti. Kurang puas rasanya, kalau kita mengobrol lewat ponsel begini. Bisakah kamu mengirimkan alamatmu kepadaku? Aku baru saja tiba di indonesia dan baru keluar dari bandara!"
"Apaaaa?? Ka kaamuu sudah di Indonesia??"
Betapa kagetnya Anin mengetahui kalau Rei sudah berada di Indonesia.
"Baiklah, sayang. Aku akan mengirimkan alamatku. Sebentar, ya?"
Anin lalu mematikan panggilan teleponnya dan berlari keluar dari kamarnya.
"Aninn, hati-hati, Nak! Kamu baru saja sembuh!" teriak Bi Inah panik begitu melihat Anin berlarian.
"Bu, Tuan Rafa dimana?" tanya Anin.
"Sepertinya dia tadi langsung masuk ke ruangan itu. Ada apa, Nak?"
(Tok Tok Tok!!)
"Masuk!" jawab Rafa dari dalam.
Anin memberanikan dirinya masuk ke ruangan Rafa, walau sebenarnya Anin masih emosi setelah apa yang baru saja terjadi.
Rafa melihat Anin masuk, lalu mengalihkan pandangannya kembali pada laptop miliknya.
"Ada apa?"
"Hem, maaf Tuan kalau saya menganggu. Saya ingin berbicara sebentar dengan Tuan mengenai itu ..."
Anin terdiam sejenak ...
"Itu apa??" tanya Rafa.
"Itu, anu. Saya mau meminta alamat rumah Tuan ini dengan lengkap," jawab Anin terbata-bata.
"Apa?? Untuk apa alamat rumah saya??"
"Untuk teman saya, Tuan."
Kali ini Rafa menatap Anin setelah apa yang baru saja Anin ucapkan.
"Maaf, Nona. Saya tidak bisa memberikan alamat rumah saya kepada sembarang orang. Kalian saya ijinkan tinggal disini, bukan berarti kalian bisa mengajak orang sembarangan datang kerumah saya!" ujar Rafa tidak suka dengan ucapan Anin.
"Tapi dia bukan orang sembarangan buat saya, Tuan!!" ucap Anin kesal.
"Terus siapa?? Tadi kamu bilang teman!! Saya hanya mengijinkan kalian berlima tinggal disini. Dan hanya itu!! Saya tidak perbolehkan yang lain masuk!!"
"Dia kekasih saya!!" jawab Anin tegas.
Rafa yang mendengarnya pun kaget dan seketika tubuhnya lemas.
__ADS_1
"Aapa kamu bilang?? Kekasihmu??"
"Iya kekasih saya!! Dia baru saja tiba di Indonesia dan ingin menemui saya. Saya tidak bisa menemuinya di luar, oleh karena itu, saya meminta alamat rumah ini!"
"Tidak!! Tetap tidak boleh! Tidak ada yang tahu alamat rumah ini kecuali para pekerja di rumah ini dan Mark!! Itulah kenapa saya membawa kalian kemari, supaya kalian aman dari niat buruk Hendra!!"
"Ya, sudah kalau anda tidak mau memberitahu alamat rumah ini kepada saya. Saya yang akan menjemputnya sendiri ke bandara!!"
Anin lalu berlari keluar dari ruangan setelah berbicara dengan Rafa.
"Dasar gadis sint*ng!!"
Rafa lalu keluar dari ruangannya dan mengejar Anin.
"Aninnnnn!!"
Anin tidak juga menggubris panggilan Rafa. Anin semakin mempercepat langkahnya dan pergi menuju luar rumah.
"Aninnnn!! Aninnn!!
Bi Inah yang melihat Anin berlari dan Rafa mengejar Anin, berusaha menghentikan Anin.
"Ada apa, Nak??"
Anin berhenti dan melihat Rafa dengan tatapan kesal.
"Rei datang, Bu!! Anin hanya meminta alamat rumah ini supaya Rei bisa datang kemari, tapi Tuan Rafa tidak mengijikannya!!"
Rafa yang sudah berhenti tepat di hadapan Anin, berusaha menahan emosinya, karena dia menyayangi Anin.
"Maaf jika kamu kesal karena saya tidak memberitahu alamat rumah ini. Tidak ada yang tahu kalau saya pemilik rumah ini, dan kamu bisa tanya kepada mereka, kalau saya sendiri tidak pernah tidur dirumah ini sudah berpuluh puluh tahun!! Kalian orang pertama yang saya bawa kemari dan ini juga pertama kalinya saya menginjakkan kaki saya dirumah ini setelah sekian lama!! Oleh karena itu, saya bawa kalian kemari karena saya pikir ini adalah tempat paling aman untuk kalian bersembunyi dari orang yang bernama Hendra!!"
Rafa menarik napasnya, berusaha mengatur emosinya supaya tidak menyakiti Anin.
"Terus sekarang kamu ingin membawa orang lain kemari, hanya karena dia kekasihmu dan kamu ingin membahayakan hidup yang lain??!!"
"Ya sudah tidak usah di bahas lagi!! Kalau kamu tidak mau orang lain masuk kemari, biar saya yang keluar!!"
Bi Inah yang melihat kemarahan Anin pun berusaha menenangkannya.
"Husst, tarik napas dulu. Gak boleh gitu ngomong sama seseorang, Nak. Tuan Rafa ada benarnya. Kita juga tidak boleh sembarangan membawa orang masuk kemari walaupun itu kekasih kamu. Pikirkan juga Rafin. Dan kamu juga tidak boleh keluar dari rumah ini. Bagaimana kalau ada yang melihatmu dan mereka tahu kamu tinggal disini?? Sayang, Ibu tau Anin ingin sekali bertemu dengannya, tapi tidak ada yang bisa kita lakukan kecuali menunggu!"
Anin kesal dan tidak terima juga dengan penjelasan ibunya.
"Anin tetap harus keluar, Bu!! Dia sedang menunggu Anin!! Anin tidak tega menyuruhnya balik setelah perjalanan jauh yang di laluinya."
Anin lalu meninggalkan mereka dan pergi keluar rumah. Rafa yang tidak tahu harus berkata apalagi, lalu pergi mengejarnya.
"Aninnnnn!!! Tunggu!!"
Anin lalu menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Rafa.
"Ada apa lagi???"
"Tunggu dulu, aku akan mengantarmu!"
**********
(Bersambung)
Terimakasih untuk selalu mendukung karya saya lewat komen dan kritik yang kalian berikan.
Tetap jaga kesehatan dan semangat!!!
•
•
•
•
•
•
__ADS_1
Oh, ya!!
Jangan lupa votenya juga ya!! Terimakasih.