My Secret Romance

My Secret Romance
Episode 55


__ADS_3

••••••


"Mana, Cathy??"


Spontan Anin, Mark dan yang lainnya saling memandang.


"Maaf, saya mohon untuk keluarganya supaya menunggu di luar. Dokter akan melakukan pemeriksaan." perintah perawatnya dan mereka pun pergi keluar dengan perasaan campur aduk.


Anin berjalan dengan lesu. Hatinya seketika hancur, saat mengetahui orang pertama yang Rafa cari adalah Cathy dan bukan dia.


"Apa yang terjadi dengannya??" batin Anin lalu berjalan keluar, ingin mencari angin segar ingin menenangkan pikirannya.


*


Setengah jam berlalu, akhirnya dokter dan para perawat keluar dari ruangan Rafa.


"Bagaimana, Dok??" tanya Bi Inah langsung menghampiri dokter.


"Baik, Bu. Sebaiknya kita bicarakan ini diruangan saya saja." ajak dokter, lalu diikuti oleh Bi Inah.


Tak lama kemudian, Mia dan Rafin datang menyusul mereka kerumah sakit. Mia tidak melihat keberadaan ibunya disana. Hanya ada Rafa dan beberapa pengawal yang sedang menjaga Rafa dari luar.


"Maaf, Tuan. Bagaimana keadaan Tuan Rafa??" tanya Mia khawatir.


"Maaf, Nona. Saya juga belum mengetahui bagaimana keadaan Tuan Rafa yang sebenarnya. Ibu anda sedang membicarakannya dengan dokter."


"Baiklah, saya akan menunggu disini saja."


**


Di ruangan dokter.


"Silahkan duduk, Bu!"


"Bagaimana dengan Tuan Rafa, Dok??"


Tampak dokter sedang memperhatikan hasil pemeriksaan Rafa, lalu menatap Bi Inah.


"Dia menderita amnesia retrograde, atau bisa dibilang, Tuan Rafa hanya mengingat masa lalunya dan tidak mengingat masa sekarang. Jadi mungkin yang dia ingat, hanya orang-orang dari masa lalunya."


"Terus bagaimana, Dok??"


"Sabar, Bu. Untuk saat ini yang bisa kita lakukan hanya mengikuti alur permainan yang ada, sambil tetap di lakukan pengobatan."


"Maksud saya, apakah Tuan Rafa akan sembuh??"


"Penyakitnya ini di sebabkan oleh Cedera otak pasca operasi dan efek dari kecelakaan yang dia alami. Kemungkinan sembuh pasti ada, hanya saja kita belum tahu kapan. Semuanya tergantung dari lingkungan tempat Rafa tinggal."


"Hem, baik Dok. Saya mengerti. Saya dan semua keluarga saya akan melakukan yang terbaik."


"Oh, Ya. Anda harus segera menghubungi seseorang yang bernama Cathy. Karena gadis itu akan sangat membantu sekali proses pemulihan ini."


Bi Inah pun terdiam, dia mengerti apa yang akan putrinya rasakan saat Bi Inah akan menceritakan keadaan Rafa yang sebenarnya.


Bi Inah berjalan keluar dengan langkah gontai. "Ah, bagaimana aku harus menjelaskan ini kepadamu, Nak??" ujar Bi Inah dalam hati, lalu melihat Anin sedang duduk sambil bermain dengan Rafin.


Anin yang langsung melihat Bi Inah, lalu berlari mendekatinya.

__ADS_1


"Bagaimana, Bu?? Apa yang dikatakan dokter?"


"Kamu duduk dulu, Ibu akan menjelaskan semuanya."


Mereka pun duduk, Bi Inah juga memanggil Mark supaya Mark juga mengerti apa yang harus dia lakukan.


*


"Apaaaaa??" teriak Anin tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.


"Ibu yakin, wanita itu bisa membantu kesembuhan Tuan Rafa??" tanya Mia lagi tak percaya.


Bi Inah mengangguk, lalu melihat perubahan raut wajah Anin.


"Sayang??" panggil Bi Inah lalu menggenggam tangan Anin.


"Iya, Bu?? Kalau itu jalan satu-satunya untuk kesembuhan Rafa, Anin pun ikut senang. Setelah ini, kita harus menghubunginya dan menceritakan apa yang sedang terjadi."


Mark menggeleng tidak setuju. "Maaf, Nona. Sebenarnya saya tidak setuju dengan ide ini. Karena yang saya tahu, Tuan Rafa sangat membenci gadis itu. Bagaimana bisa dia bisa membantu penyembuhan Tuan Rafa??"


"Seperti yang kamu dengar, dia hanya mengingat kamu dan Cathy. Atau bisa di bilang, dia hanya mengingat orang-orang dari masa lalunya. Itulah sebabnya dia tidak mengenal saya."


"Tapi, Nona??"


"Ini adalah perintah dokter. Kita hanya bisa mengikutinya." ujar Anin tersenyum, lalu pergi meninggalkan mereka disana.


*


Mark pun melakukan apa yang Anin katakan, dan menghubungi Cathy. Dan seperti dugaan semua orang, Cathy bersedia mengurus Rafa dan dia akan terbang ke Indonesia hari ini juga.


"Mark??"


"Iya, Nona?"


"Bolehkah saya masuk kedalam sebentar?" pinta Anin, menatap Mark dengan penuh harap.


"Silahkan masuk, Non."


Anin masuk ke dalam dengan rasa cemas. Takut kalau Rafa akan mengusirnya. Tapi Anin terus berpikir dan memberanikan diri, mungkin inilah kesempatan terakhirnya untuk menemui Rafa sebelum Cathy benar-benar kembali.


**


"Permisi, Tuan??"


Rafa seketika menatap Anin dengan perasaan tidak sukanya.


"Siapa kamu????"


"Ma maaf, Tuan. Bolehkah saya duduk dan memperkenalkan diri saya terlebih dahulu??"


"Tidak perlu!! Kekuar kamu!!"


Anin berdiri gemetaran, karena inilah untuk pertama kalinya, Rafa menunjukkan sisi negatifnya seperti yang orang katakan.


Mark yang mendengar teriakan Rafa, langsung masuk dan melihat Anin yang sedang berusaha menahan airmatanya.


"Ada apa, Tuan??"

__ADS_1


"Kemana saja, kamu?? Sembarangan orang kamu masukkan ke kamar saya!"


"Dia bukan orang sembarangan, Tuan. Dia adalah putri dari keluarga Atmaja!!" jelas Mark sambil menatap Anin.


"Keluarga Atmaja??"


Rafa menatap Anin, dan raut wajahnya sedikit luluh. Anin yang melihatnya pun memberanikan diri mendekatinya, lalu duduk disampingnya.



"Hai, maafkan saya sebelumnya sudah membuat anda marah. Perkenalkan, saya Anindya Putri Atmaja."


Rafa hanya menatapnya, seperti pernah melihat wanita yang sedang duduk disampingnya itu, tapi dia tidak ingat dimana.


"Saya mengenal Ibumu!! Dia, wanita yang sangat baik. Bagaimana kabar beliau sekarang??"


Anin menatap Rafa tersenyum. Kini dia sadar, Rafa kembali pada ingatannya, dimana keberadaanya memang sama sekali tidak pernah ada. Apakah, takdirnya akan memang seperti ini??


"Mama saya sudah meninggal 5 tahun yanga lalu," ucap Anin berusaha kuat.


"Maafkan saya, Nona. Saya benar-benar tidak tahu, dan tidak mengingatnya. Sampaikan permintaan maaf saya, dan rasa berduka cita saya yang sedalam-dalamnya kepada Tuan Atmaja."


"Baiklah, akan saya sampaikan." jawab Anin sedih dan menatap Rafa dengan airmata yang tertahan.


"Berjanjilah kamu akan segera sembuh. Saya permisi dulu." pintanya, lalu pergi meninggalkan Rafa.


**


Di kediaman Rafa.


Anin memasuki rumah itu dengan langkah gontai. Terlihat jelas, betapa hebatnya peristiwa kali ini menghantam ruang hatinya. Tapi dia jelas tidak bisa berbuat apa-apa.


"Sudah pulang, Nak??" tanya Bi Inah begitu melihat Anin memasuki rumah itu.


"Sudah, Bu. Anin lelah sekali. Anin ke atas dulu, ya?? Anin mau istirahat." jawabnya lalu melangkah pergi.


"Nak??" panggil Bi Inah, membuat langkahnya tertahan.


"Iya, Bu??"


"Kamu tidak apa-apa??"


Anin menganggukkan kepalanya. "Anin baik-baik saja. Ibu tenang saja, semua akan kembali seperti semula. Dia pasti akan kembali." jawab Anin, lalu menatap Rafin sebentar, yang sedang bermain di ruangan tamu. Kemudian dia pergi ke kamarnya, dengan senyuman yang di paksa.


"Ah, Tuhan?? Segitu bencikah Tuhan kepadaku?? Sampai Tuhan mengujiku untuk kesekian kalinya." rintih Anin lalu terjatuh lemas, duduk di pinggiran tempat tidurnya.


"Maafkan aku, Tuhan. Maafkan aku yang sudah membuat orangtuaku bersedih selama sisa hidupnya. Maafkan aku tidak pernah membuat mereka bahagia. Kalaupun ini adalah hukuman atas apa yang sudah aku lakukan selama ini, aku terima. Tapi setidaknya satu kali saja, Tuhan. Izinkan aku memberitahunya, kalau Rafin itu adalah anaknya."


Seketika tangis Anin pun pecah. Hidup yang dia rasa tidak pernah adil untuknya. dan keberuntungan yang juga tidak pernah berpihak padanya.


Sampai kapan??


Entahlah ... Dia hanya berharap, suatu saat ketika keberuntungan itu berpihak padanya, Rafa akan ada disana, berdiri bersamanya, menggenggam tangannya, berjalan melewati semua kesusahan bersama.


•••••


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2