
Setelah keluar dari kamar mandi dan melihat Anin tidak berada di kamarnya, Rei mencari Anin di setiap sudut rumah, tapi tetap tidak menemukan Anin.
"Sayang, kamu dimana??"
Rei berteriak-teriak sambil memanggil Anin, tapi tidak juga menemukannya.
"Kamu dimana, sih?? Kemana kamu pergi malam-malam begini??"
Rei lalu mengambil ponselnya dan menghubungi Anin. Tapi, ponsel Anin ternyata tinggal di kamarnya, karena Rei mendengar suara ponsel milik Anin dari dalam kamar.
"Ah!! kamu dimana??"
Rei berjalan bolak balik karena frustasi tidak bisa menemukan Anin. Sudah hampir setengah jam Anin pergi dan belum juga kembali.
**
Di sebuah kafe M ...
Ternyata Anin sedang duduk sambil melirik jamnya seperti sedang menunggu seseorang.
Dan benar, tak lama kemudian seorang wanita paruh baya, namun masih tetap cantik dan bergaya elegan, berjalan menuju ke arah Anin. Wanita itu duduk tepat di hadapan Anin dan tersenyum. memandanginya.
Wanita itu adalah Nyonya Savian, maminya Rei. Sesaat setelah Rei memasuki kamar mandi, ponsel Anin berdering dan sebuah nomor asing tertera di layar ponselnya.
Anin memutuskan untuk mengabaikannya, karena dia juga tidak tahu nomor siapa itu. Setelah 3 kali panggilan masuk dan itu sangat menganggunya, Anin akhirnya mengangkat panggilan itu.
"Halo, ini siapa??"
"Hai, Anin. Saya maminya Rei."
Anin terpaku seketika, kaget mendengar kalau si penelepon ternyata adalah maminya Rei.
"Eh, iya Nyonya. Saya Anin ..." jawab Anin dengan terbata-bata.
"Nak, bisakah kita bertemu sekarang juga di kafe M?? Saya akan memberikan kamu alamatnya"
"Bi bi bisaa, Nyonya. Saya akan kesana segera. Nyonya bisa mengirimkan alamatnya sekarang juga"
"Baiklah, Nak. Tapi tolong rahasiakan pertemuan kita ini dari putra saya. Bisakah kamu melakukannya??"
Anin tidak mengerti kenapa maminya Rei meminta seperti itu. Tapi Anin tidak ingin berpikir yang aneh-aneh untuk saat ini.
Lalu Anin pun langsung bergegas menuju alamat yang di maksud, tapi dia malah lupa membawa ponselnya. Karena tadi dia buru-buru untuk berganti pakaian, dan dengan bermodalkan ingatan saat membaca pesan maminya Rei, akhirnya dia sampai di kafe yang di maksud.
•••••
"Halo, saya Nyonya Savian maminya Rei," ucap wanita itu memperkenalkan diri lalu menjabat tangan Anin.
"Eh, iya Nyonya. Saya Anin, Anindya Putri Atmaja. Senang berkenalan dengan anda, " jawab Anin membalas jabatan tangan wanita yang sedang duduk di hadapannya itu.
Wanita itu dengan lembut menatap Anin dan tetap tersenyum.
"Maafkan, saya. Saya terpaksa menghubungi kamu. Maafkan saya tidak bisa menyambut kamu dengan baik di sini."
Anin bingung dengan ucapan maminya Rei. Tapi lalu dia berpikir, mungkin maminya Rei merasa tidak enak karena setelah 2 minggu, mereka baru bisa berkenalan.
"Tidak apa-apa, Nyonya. Saya bisa memakluminya. Tidak perlu meminta maaf kepada saya", jawab Anin.
__ADS_1
"Jangan memanggil saya nyonya. Panggil saja saya tante."
"Baik, Tan," balas Anin menundukkan kepalanya.
"Apakah putra saya memperlakukan kamu dengan baik disini??"
Anin menganggukkan kepalanya. "Putra anda memperlakukan saya dengan saya baik. Anda tenang saja ..."
Nyonya Savian kemudian berpindah tempat, tepat di sebelah Anin. Dia menatap gadis itu dengan perasaan bersalah.
"Ada apa, tante?"
Anin bisa merasakan kesedihan di mata Nyonya Savian. Tapi dia tidak mengerti apa yang sedang terjadi kepada calon mami mertuanya itu.
"Apakah Rei sudah mengatakan sesuatu kepada kamu?? Ehm, maksud saya apakah dia mengatakan sesuatu tentang papinya??"
"Tidak, Tan. Rei tidak menceritakan apapun kepada Anin mengenai om. Apa terjadi sesuatu kepada om, Tan?"
Nyonya Savian mengerti, ternyata Rei belum memberitahukan kepada Anin mengenai ketidaksetujuan suaminya terhadap hubungan mereka.
"Maafkan kami, Nak. Terlebih saya, dan suami saya."
Lalu Nyonya Savian menceritakan semuanya, mengenai kedatangan Rei minggu yang lalu kerumah mereka, pertengkaran suaminya dan putranya sendiri, serta ketidaksetujuan suaminya perihal hubungan mereka.
Anin terduduk lemas. Seketika dunianya terasa hancur. Impiannya untuk bersanding dengan orang yang dia cintaipun, hanncur sudah.
Kejujuran yang dia ungkapkan, ternyata menjadi titik terlemahnya dalam menjalin sebuah hubungan.
"Tidak apa-apa, Nyonya. Saya mengerti. akan posisi saya"
"Saya hanya ingin keluarga saya utuh kembali. Saya tidak tahan melihat putra dan suami saya bertengkar seperti ini. Nak, sebagai seorang ibu saya hanya ingin melakukan yang terbaik untuk keluarga saya"
"Saya mengerti, Nyonya. Saya sangat mengerti. Saya memang tidak seharusnya hadir dalam kehidupan Rei, putra anda."
Nyonya Savian menggenggam erat tangan Anin. Dia mengerti bagaimana kondisi Anin sekarang. Tapi dia memang harus melakukan ini semua untuk keutuhan keluarganya.
"Saya hanya bisa meminta 1 hal kepadamu sebagai seorang ibu"
"Apa itu??
"Tolong tinggalkan anak saya."
Seperti di sambar petir di siang bolong, Anin mencoba menahan airmatanya. Dia tidak ingin menangis di depan orangtua Rei. Dia tersenyum dan mengangguk.
"Nyonya tenang saja. Anin akan melakukan apa yang Nyonya katakan. Anin akan meninggalkan Rei."
"Terimakasih, Nak. Terimakasih karena sudah mengembalikan kebahagiaan keluarga saya," ujar Nyonya Savian lalu memeluk Anin.
Anin melepaskan pelukan maminya Rei. "Bisakah anda juga membantu saya 1 hal??"
"Apa itu, Nak??"
"Tolong pilihkan seorang gadis yang terbaik untuk Rei, putra anda. Anda sangat beruntung bisa memiliki putra seperti dia. Dan saya juga sangat beruntung pernah mengenalnya. Terimakasih, Nyonya. Walaupun perkenalan kita cukup singkat, tapi saya senang bisa bertemu dengan anda."
Anin berdiri dan menundukkan kepalanya. "Kalau begitu, saya pamit dulu. Selamat tinggal Nyonya."
Nyonya Savian hanya bisa memandangi kepergian Anin. Dia tidak bisa berbuat apa-apa selain menjauhkan Anin dari Rei. Semuanya demi keutuhan keluarga Savian. Perasaan bersalah yang bisa terlihat jelas dari wajah Nyonya Savian, akan menjadi sebuah penyesalan terberat dalam hidupnya.
__ADS_1
Anin berlalu pergi meninggalkan Nyonya Savian. Airmatanya pun akhirnya jatuh juga. Langkahnya gontai, hatinya hancur. Dia hanya bisa menguburkan dalam-dalam mimpinya selama ini.
"P airport," perintah Anin begitu masuk ke dalam taxi.
**
"Ah, kamu kemana sih, sayang??"
Rei tidak tahu harus mencari kemana lagi kekasihnya itu. Lalu dia teringat kalau ponsel Anin tertinggal di dalam kamar. Dia berpikir, mungkin ada petunjuk yang bisa dia dapat dari sana.
Rei lalu pergi ke kamar, mengambil ponsel Anin dan memeriksanya. Rei melihat ada satu pesan yang bisa menjadi petunjuk kemana Anin pergi. Itu adalah alamat sebuah kafe yang tidak jauh dari apartemen Rei.
"Siapa yang menyuruh kamu kesana???"
Rei kemudian memeriksa panggilan masuk dan panggilan keluar. Dia ingin mengetahui siapa yang menyuruh Anin kesana.
Betapa terkejutnya dia saat melihat ada panggilan masuk dari nomor yang dia kenal.
"Mami??? Untuk apa mami menyuruh Anin kesana??"
Rei merasa ada yang tidak beres. Dia lalu memutuskan pergi, mengambil ponsel Anin dan kunci mobil dengan terburu-buru.
Rei mengendarai mobilnya menuju alamat yang ada di ponsel Anin. 15 kemudian dia sampai dan buru-buru berlari masuk ke dalam.
Di dalam Rei melihat di setiap sudut, mencari keberadaan Anin. Tapi dia tidak menemukan Anin. Hanya Nyonya Savian yang sedang duduk sambil menatap ke seberang jalan. Rei mendekati maminya, lalu duduk di sebelahnya.
Nyonya Savian kaget melihat Rei yang sudah berada di depan matanya.
"Reeeii??"
"Apa yang sudah mami lakukan. Mana Anin??"
Rei tau, pasti sudah terjadi sesuatu dengan Anin.
"Mami! Jawab Rei!!"
Nyonya Savian hanya bisa menatap putranya dengan perasaan bersalah. Dia tau, perbuatannya akan menyakiti putra kesayangannya itu.
"Maafkan, Mami ..."
Rei tiba-tiba memukul meja dan mengacak-acak kasar rambutnya.
"Ahhhh!! Maaamiiiiiiii!!!"
••••
Bagaimana kelanjutannya??
Rei akan menyerah ataukan akan tetap mempertahankan Anin??
Tetap pantau terus ya episode-episode berikutnya.
Tapi sebelum itu, saya akan tetap ingatkan jangan lupa untuk follow, like, dan comment cerita saya ini.
Dan jangan lupa juga votenya!!
Terimakasih.
__ADS_1
**
(Bersambung.)