My Secret Romance

My Secret Romance
Episode 17


__ADS_3

Di rumah nya Rafa uring-uringan, bolak-balik tidak jelas di dalam kamarnya.


"Bi Inah kemana, ya? Di hubungi tidak di angkat sama sekali!" ucap Rafa dalam hati, lalu kembali menghubungi Bi Inah.


Hasil yang di dapat tetap sama, tak ada jawaban dari Bi Inah. Rafa hanya ingin memastikan tentang Anin, Rafa tidak sadar kalau mereka sedang menghindari nya terutama Anin.


"Mungkin Bi Inah sudah tidur," ucap Rafa dalam hati lalu melanjutkan pekerjaan nya. Dia kembali sibuk dengan laptopnya. Begitulah keseharian Rafa yang dia habiskan selama 5 tahun belakangan ini setelah putus dari Cathy.


*


Di rumah Bi Inah.


"Rafin malam ini tidur sama nenek ya? Sekarang kita ke kamar, yuk? Sudah malam" ajak Bi Inah kepada Rafin. Rafin pun mengiyakan ajakan Bi Inah, lalu mencium satu-satu pipi Teguh, Mia dan terakhir Anin. Terpancar jelas kerinduan Anin terhadap anaknya itu, yang selama 4 tahun usianya kini, Rafin dirawat oleh Teguh dan Mia.


Dipeluknya erat Rafin, Anin tak sanggup membendung lagi airmata nya. Rafin yang merasakan nya pun, terdiam menatap Anin dengan heran.


"Mami kenapa menangis? Ada yang jahat sama mami ya?" tanya Rafin karena penasaran.


"Kalau ada yang jahatin mami, bilang sama Apin mami. Nanti Apin panggil ultamen (baca : ultraman), biar olang jahat itu di hajal sama ultamen" celoteh Rafin membuat semua orang pun tertawa.


Tingkah lucu apin membuat Anin melupakan sejenak permasalahan yang dia alami.


"Iya, nih. Mami di jahatin sama orang. Nanti kita panggil ultraman, ya? Apin bantu mami juga, kita ikat orang jahatnya rame-rame terus suruh nyanyi. Okay sayang?" canda Anin menjawab celotehan putranya itu.


"Sudah ... sudah!! Rafin tidur, yuk?" ajak Bi Inah, lalu mereka pun pergi ke kamar.


"Sayang aku duluan ya tidurnya. Kalian mengobrollah dulu tapi jangan lama" ucap Teguh kepada Mia lalu mencium kening istrinya itu.


Kini hanya tinggal mereka berdua di ruangan itu. "Malam ini aku tidur sama kamu ya, Nin?? Aku masih penasaran dengan cerita kamu," canda Mia lalu tersenyum melirik sahabatnya itu.


Anin hanya bisa tersenyum malu.


"Dasar!! Kasihan itu suami sendirian di anggurin. Ceritanya besok saja. Lagi pula tak ada yang bisa aku ceritakan tentang dia. Masih juga baru kenal!!" canda Anin membalas Mia. Lalu Anin berlari menuju kamarnya.


"Awas kamu ya, Nin," balas Mia, lalu berlari menyusul sahabatnya itu.


Anin yang melihat sahabatnya itu datang menyusulnya pun tersenyum.


"Dasar!! Di bilang besok saja. Ada yang kedinginan itu di kamar, di temani sana!!" ledek Anin membuat Mia mencibirkan mulutnya.


Anin tertawa melihat tingkah laku sahabatnya itu. Lalu mengeluarkan ponselnya.


"Nih, biar rasa penasaran kamu hilang!!" ucap Anin lalu menyodorkan ponsel miliknya.


Mia mengambil ponsel Anin dan memperhatikan semua foto Anin dan kekasihnya itu.



"Sepertinya dia pria baik-aik, Nin. Aku bisa melihat dia begitu mencintaimu"


"Aku bahagia. Kamu benar, dia adalah pria yang baik. Aku tahu, dia sangat mencintaiku. Walaupun kami baru berpacaran, cara dia memperlakukan aku sangat berbeda. Tapi aku takut, Mia. Aku takut kalau dia serius sama aku, apa yang harus aku lakukan? Aku tidak berniat membohongi dia dengan statusku yang sengaja aku sembunyikan. Aku hanya merasa belum siap"


"Kamu juga tidak berniat membohongi dia, Nin. Ini juga bukan salah kamu sepenuhnya. Jangan menyalahkan dirimu terus!! Kita lihat saja seberapa serius kekasihmu ini, setelah itu baru kita pikirkan langkah selanjutnya. Kalau dia memang serius dan benar-benar mencintaimu, dia pasti akan menerima segala kekuranganmu dan masa lalumu." ucap Mia berusaha menenangkan sahabatnya itu.

__ADS_1


"Kamu yakin dia akan menerima semua masa lalu aku??"


'Kalau dia benar-benar mencintaimu, aku yakin 100%!! Kamu gadis yang baik, Nin. Gadis yang baik untuk pria yang baik. Begitu juga sebaliknya. Kalau dia tidak bisa menerima masa lalumu, dia bukan pria yang baik."


Anin tersenyum memandangi sahabatnya itu.


"Kamu benar, kalau dia tidak bisa menerima masa laluku itu, berarti dia bukan yang terbaik yang Tuhan tunjukkan buat aku kan?"


Mia mengenggam erat tangan Anin. "Tumben pintar?" ledek Mia lalu tertawa memandang raut wajah Anin yang kesal.


"Tidur, yuk? Besok aku harus kerja pagi-pagi sekali. Semenjak Tuan Rafa balik ke Indonesia, dia membuat kami semua bekerja seperti robot."


Anin tersenyum melihat sahabatnya itu kesal. Dia teringat kembali pertemuan nya siang itu dengan Rafa.


"Benarkah dia menyukaiku? Tapi kami baru bertemu hanya 1 kali waktu di pemakaman mama. Terus kenapa dia mencariku selama ini?" Anin terus memikirkan tentang Rafa dan kenapa Rafa mencarinya.


"Apa jangan-jangan??" Anin lalu teringat percakapan terakhir mamanya dengan Rafa yang di tunjukkan Rafa waktu itu.


"Ah, iya!! Dia mencariku bukan karena menyukaiku. Dia mencariku hanya karena dia dekat sama mama. Mungkin hanya perasaan sebatas kasihan" ucap Anin menutup kedua matanya. Tak sadar ada buliran air yang mengalir dari sudut kedua matanya.


*


Pagi itu cuaca mendung, sudah seminggu hujan tidak turun. Anin yang masih bermalas-malasan memandangi langit dari kamarnya.


"Sepertinya udara diluar sangat sejuk. Kata Ibu sudah seminggu hujan tidak turun" ucap Anin dalam hati.


Setelah cukup puas dia bermalas-malasan di kamarnya, Anin pun keluar langsung menuju dapur. Anin tahu, Bi Inah pasti sedang berada disana.


"Pagi, Bu??" sapa Anin kepada Bi Inah lalu mencium pipinya.


"Ibu sudah siapin nasi goreng kesukaanmu. Nasi goreng cumi di tambah telur mata sapi," ucap Bi Inah lagi, lalu menatap wajah Anin yang sumringah, melihat makanan kesukaan nya sudah tersedia di meja makan.


"Terimakasih ya, Bu. Sudah lama Anin tidak merasakan masakan Ibu" ucap Anin gembira, menatap masakan Bi Inah yang sudah 5 tahun tidak dilihatnya.


Bi inah mengangguk puas, melihat Anin tersenyum bahagia.


"Bu, semua udah pada berangkat, ya?? Maafkan Anin sampai sekarang belum bisa bangun cepat. Jadinya ibu yang menyiapkan semuanya" ucap Anin meminta maaf kepada Bi Inah.


"Kenapa harus meminta maaf sayang, kamu kan juga putri Ibu. Ibu senang bisa membuatkan sarapan untuk putri-putri Ibu" jawab Bi Inah tersenyum kepada Anin.


"Oh iya, Nak. Nanti kamu yang jemput Rafin, ya?? Mia akhir-akhir ini sibuk dengan pekerjaannya dan Teguh sudah balik ke Bali buat mengurus pekerjaan disana" pinta Bi Inah lalu di jawab Anin dengan sebuah anggukan.


"Nanti habis menjemput Rafin, Anin sama Rafin ke toko Ibu, ya?? Anin juga malas di rumah, soalnya baru minggu depan Anin bisa mengurus administrasi buat melanjutkan kuliah Anin. Boleh kan, Bu??" ucap Anin memohon pada Bi Inah.


"Iya boleh dong, Nak. Kamu ada-ada saja. Nanti main-mainlah ke toko Ibu sama Rafin. Biar pagi ini Ibu bawa bekal buat makan siang kita disana" jawab Bi Inah kemudian.


"Yes, asik!! Ibu memang terbaik!!" teriak Anin bahagia lalu mengacungkan jempol kepada Bi Inah.


****


Di Hotel MT.


Rafa yang sudah sampai lebih dulu tiba di hotel, memandangi seluruh isi Hotel yang bisa di katakan sepi. Diliriknya jam nya yang ternyata masih jam 6. Dan dia langsung masuk ke ruangan pribadinya.

__ADS_1


"Astaga, gara-gara tidak bisa tidur tadi malam, aku juga tidak sadar aku ternyata berangkat sepagi ini," ucapnya sambil tertawa menahan geli karena tingkah lakunya.


"Untung tadi sepi. Kalau tidak, aku pasti bisa jadi bahan obrolan mereka yang datang terlalu pagi. Tapi Aku ini Bos mereka!! Terserah aku mau datang jam berapa!!" ucap Rafa tak karuan, lalu tertawa sendiri seperti orang kemasukan. Coba ada yang lihat, pasti pada kabur.


........................


1 jam berlalu, Rafa pun tertidur di sofa di dalam ruangannya saat Mark masuk kedalam.


"Tuan Rafa kenapa, Ya?? Belakangan ini selalu tidur di jam ini dan di ruangan ini. Apa dia sakit, atau kelelahan?" ucap Mark dalam hati lalu tersenyum..


Mark pun akhirnya keluar dari ruangan Rafa, karena percuma juga berdiri disana. Sebelum keluar Mark meninggalkan beberapa dokumen yang harus Rafa periksa dan tanda tangani.


*


Rafa terbangun, terkejut karena suara ponsel miliknya.


"Siapa ini? Tidak ada nama, hanya nomor?" gumam Rafa dalam hati.


Rafa memang tidak pernah menerima panggilan dari nomor yang tidak dia kenal. Cukup lama juga ponselnya berdering. Lalu akhirnya berhenti, tapi di ganti dengan suara pesan masuk.


"Tolong angkat, Tuan. Saya pengacara Wong, dan tolong jangan beritahu siapapun kalau saya menghubungi anda. Anda masih ingat kan kejadian 5 tahun lalu tentang kecelakaan Istri Pemilik hotel yang anda kelola sekarang. Saya adalah sahabatnya, yang di kabarkan ikut meninggal bersama beliau. Saya tau anda adalah orang baik. Nyonya Atmaja tidak salah dalam menilai seseorang. Tolong jumpai saya di alamat ini, dan jangan beritahu siapapun." begitulah isi pesan yang baru Rafa baca.


Betapa kagetnya Rafa membaca isi pesan itu. Rafa mengingat-ingat kembali kejadian 5 tahun lalu. Dimana proses penyelidikan kematian Nyonya Atmaja di hentikan karena menurut polisi itu adalah kecelakaan beruntun dan penyebabnya adalah rem mobil milik orang kepercayaan Nyonya Atmaja mengalami rem blong. Sehingga mengakibatkan hantaman kuat pada mobil Nyonya Atmaja. Akibatnya, mobilnya jatuh ke jurang, begitu juga dengan mobil yang menghantam mobil Nyonya Atmaja juga ikut masuk kejurang dan meledak bersamaan.


"Apakah ini benar?? Jangan-jangan ini sebuah jebakan. Itu sebabnya keberadaan nya tidak ingin di ketahui oleh siapapun kecuali aku??" ucap Rafa lalu mengambil ponsel miliknya dan mulai mengetikkan sesuatu. Kemudian dia bergegas mengambil kunci mobil miliknya lalu pergi meninggalkan hotel itu,


**


Anin menjemput Rafin di sekolahnya, lalu mereka bersama sama pergi ke toko Bi Inah. Rafin yang sadar kalau mereka sedang tidak menuju jalan kerumahnya pun langsung berceloteh.


"Mami, kita mau kemana mami? tanya Rafin penasaran kepada Anin.


"Kita mau ke toko Nenek. Rafin senang tidak?" jawab Anin kemudian.


"Holeee!! Apin bisa main lagi ke toko nenek. Holeeee!! makacihh mamii" ucap Rafin kegirangan.


"Memang nya selama ini Rafin kemana kalau tidak sama nenek?" tanya Anin bingung.


"Apin biasanya sama Ibu main-main di tempat Ibu kelja, mami. Celuu loh mami main-main disana. Kamarnya bagus banyak makanan" jawab Rafin dengan penuh antusias.


"Tapi kata nenek, Apin tidak boleh main lagi kesana kalena Bos Ibu mau datang. Kata Ibu anak kecil tidak boleh main ke hotel kalau Bos nya itu datang. Nanti Bos nya malah mami" cerita Rafin dengan wajah sedih.


Anin tersenyum memandangi putranya itu. "Ternyata waktu itu bukan kedatangan Rafin untuk pertama kalinya ke hotel itu. Andaikan kamu tahu nak, itu hotel milik kakek nenek Rafin. Dan pemiliknya yang sekarang adalah papa Rafin" ucap Anin dalam hati sambil sesekali memandang putranya itu.


"Mungkin Mia melarang Rafin main ke hotel lagi karena Mia tau Rafa mau datang" ucapnya lagi lalu tersenyum kepada Rafin.


"Anak mami mau es krim tidak? Kita beli es krim, yuk?" ajak Anin kepada Rafin.


"Ayukkkkkk!! Apin suka es clim mami" jawab Rafin bersorak kegirangan.


Sebelum sampai ke toko Bi Inah, Anin dan Rafin mampir ke salah satu Alf*mart tak jauh dari sana. Di dalam mereka membeli banyak sekali es krim dan cemilan untuk Rafin, supaya dia nanti betah, kalau lama lama di toko Bi Inah.


•••

__ADS_1


(Bersambung.)


__ADS_2