
••••
"Mama, Cathy memutuskan untuk pulang hari ini!"
"Kenapa, Nak??"
"Cathy sudah tidak tahan lagi. Cathy akan segera mengakhiri semuanya. Maafkan Cathy ya, Ma?"
Mamanya pun mengiyakan, menyetujui permintaan putrinya itu. Dia tau, kalau putrinya itu tidak bahagia bersama Hendra, pria pilihan Cathy.
"Awas kamu, Hendra!! Akan aku balas semuanya. Lihat saja nanti!!"
Ibundanya geram melihat Hendra yang sudah menyakiti putrinya itu. Tapi semuanya ini juga akibat campur tangan orangtua Cathy, yang juga gila akan harta dan kehormatan, sama seperti Cathy. Akibatnya sekarang, hidup Cathy sangat menderita. Seperti tidak ada lagi artinya.
*
Pagi-pagi sekali Anin sudah berangkat ke kota K menggunakan pesawat penerbangan pertama. Dia sudah tidak sabar untuk memulai sesuatu hal baru yang sama sekali belum pernah dia lakukan.
Hampir 4 jam perjalanan yang Anin tempuh. Sampai akhirnya dia tiba, dan langsung menghubungi Arum.
3 sampai 4 kali panggilan, tapi tidak ada tanggapan dari Arum.
"Hem, kemana dia?? Aku bingung harus kemana lagi ini."
Ini adalah perjalanan pertama buat Anin berada di kota itu. Tidak ada yang dia kenal selain Arum. Karena tidak ada tanggapan dari Arum, akhirnya Anin memutuskan untuk mengirimkan pesan, sambil menunggu Arum di bandara.
"Rum, aku sudah sampai. Hubungi aku segera setelah kamu membaca pesanku ini."
Anin menunggu di bandara hampir 2 jam tanpa ada kabar dari Arum. Sampai. akhirnya, Arum menghubunginya dan meminta maaf kepada Anin karena dia tidak bisa menjemput Anin di bandara.
"Maafkan aku, Nin. Aku baru membaca pesanmu"
"Tidak apa-apa, Rum. Kamu pasti sangat sibuk"
"Ehm, iya. Aku juga tidak bisa menjemput kamu. Aku ada rapat penting sekarang. Kamu bisakan pergi sendiri menggunakan taksi?? Nanti aku kirim alamatnya"
"Okay, Rum. Kamu kirimkan saja alamatnya. Aku akan kesana sekarang juga."
"Baiklah, Nin. Nanti aku hubungi kamu lagi, ya? Bye Anin"
"Bye, Arum."
Anin akhirnya pergi dari sana menggunakan taksi.
"Pak, tolong antar saya ke alamat ini, ya?"
Anin menyodorkan sebuah alamat kepada sang supir dan merekapun berangkat menuju alamat yang di maksud.
*
Setengah jam berlalu, akhirnya Anin sampai juga.
"Nona, kita sudah sampai"
Anin melihat sekelilingnya. Dia berdiri di depan sebuah apartemen mewah dan pasti sangat mahal.
"Hem, terimakasih, Pak" ucap Anin lalu masuk ke dalam apartemen itu.
Anin memamdangi sekeliling apartemen itu. "Astaga, apa ini tidak salah??"
Anin lalu mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan kepada Arum.
"Rum, apa ini tidak salah?? Ini apartemen siapa??"
Anin memutuskan untuk mengirimkan pesan saja, karena dia tidak ingin menganggu kesibukan Arum. Sambil menunggu balasan dari Arum, lagi dan lagi, akhirnya Anin harus menunggu lagi.
Sekitar 15 menit Anin menunggu, lalu datang seorang pria yang usianya hampir sama dengannya. Mendekatinya, lalu duduk di sampingnya.
"Anindya??"
Anin kaget mendengar pria itu memanggil namanya. Karena dia sama sekali tidak mengenalinya.
"Iya, saya Anindya. Ka ... kamu siapa??"
Pria itu menyodorkan tangannya ingin berjabatan dengan Anin. "Bima Setyo Wandani!!"
Anin bingung, dia sama sekali tidak mengenal nama itu. Lalu dia mengingat nama Arum yang juga menggunakan Wandani.
"Ahhh, Bima???? Adiknya Arum??"
Bima mengangguk tersenyum memandangi Anin. Bima dulu adalah adik kelas Anin dan Arum sewaktu di sekolah. Sebenarnya mereka seumuran, tapi Bima pernah tidak sekolah selama setahun karena sakit, dan Bima adalah saudara kembarnya Arum.
"Maafkan Arum. dia hari ini ada rapat penting, sehingga tidak bisa menyambutmu disini"
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Bim. Aku juga maklum dengan pekerjaannya. Terus kamu, apa yang kamu lakukan disini??"
"Aku tinggal disini!!"
"Oh, begitu. Arum juga??"
"Tidak ... Arum lebih memilih tinggal di rumah. Kamu kan tahu, aku lebih suka kebebasan," canda Bima lalu mengedipkan matanya.
"Kebebasan berganti-ganti pasangan??" balas Anin lagi menyindir Bima, dan mereka berdua pun akhirnya tertawa.
Bima memandang Anin, membuat Anin menjadi salah tingkah.
'Kenapa?? Kenapa memandangiku seperti itu??"
"Kamu makin cantik!" puji Bima.
"Dasar playboy!! Dari dulu gak berubah!!"
Anin mencibirnya lalu mengalihkan perhatiannya pada ponsel miliknya.
"Aku serius, Nin. Coba waktu itu kamu menerima aku, pasti aku tidak akan menjadi playboy!!"
Anin melempar tas miliknya kepada Bima. "Dasar!! Playboy ya playboy aja!! Tidak perlu mencari alasan!!"
"Awww!"
Anin tertawa melihat Bima yang merasa kesakitan setelah di lempar oleh Anin.
"Baru juga ketemu, sudah KDRT. Bagaimana kalau sudah menikah?? Kamu pasti sangat ganas di ranj*ang!!!"
"Ishhhh mesum!!"
Kali ini Anin melemparkan sebuah buku yang terletak di atas meja. Dan tepat mengenai kepala Bima.
"Awwhh, uh uh!!"
"Bimaaaaa!!"
Bima tertawa dengan sangat kencang sampai perutnya terasa sakit.
"Kamu ini!! Ayuk, aku antar ke kamar kamu!!"
"Apasih, Bim!! Awas ya kamu!!"
Anin tidak yakin dengan ucapan Bima, sampai akhirnya Bima menunjukkan pesan yang Arum kirim kepadanya. Dan akhirnya Anin percaya juga.
Bima berjalan menuju lift, kemudian di ikuti oleh Anin. Di sepanjang jalan mereka mengobrol seperti waktu sekolah dulu.
"Kamu yakin mau kerja disini, Nin??"
"Yakin, Bim"
"Ehm, maafkan kami tidak hadir di saat pemakaman orangtuamu. Kami bahkan tidak tahu kalau orangtuamu meninggal"
Anin menggangguk tersenyum. "Tidak apa-apa. Kenapa harus meminta maaf??"
"Ehm, bukankah keluargamu juga mempunyai hotel yang sangat terkenal, Nin? Kenapa kamu malah lebih memilih kerja disini??"
"ceritanya panjang, Bim. Lain kali saja ya, kita bahas. Aku pasti akan cerita, kok."
Bima menatap Anin. Gadis cantik yang cukup dia kenal bagaimana kehidupannya sewaktu dulu dari cerita Arum, kini berubah menjadi sosok yang sangat dewasa, lembut dan lebih sabar. "Andai kamu mau menerima aku, Nin. Tidak akan aku biarkan kamu hidup seperti ini," gumam Bima dalam hati.
"Jangan menatap aku seperti itu."
Ucapan Anin membuat Bima tersadar. "Itu perasaan kamu saja, Nin. Ayo sini!!"
Bima dan Anin berdiri di depan sebuah kamar di lantai 20 dan memasukinya. Kamar yang sangat luas dan pastinya terlalu mahal buat Anin untuk sekarang.
"Ini terlalu besar buat aku, Bim. Kamar yang kecil saja cukup, kok. Kita cari kamar yang lain saja, ya??" pinta Anin, kemudian pergi keluar dari kamar itu.
Sebelum Anin melangkah terlalu jauh, Bima menarik tangan Anin dan menghentikannya.
"Ini sebagai hadiah dari Arum, sebagai teman, Nin. Bukan sebagai staf di perusahaan kami."
"Ehm, iya. Tapi ..."
"Tidak ada tapi-tapian!! Kamu istirahat saja dulu. Aku harus balik ke kantor juga. Nanti aku telepon kamu, ya??"
"Terimakasih ya, Bim??"
Bima menatap Anin, kemudian mengangguk tersenyum. Di belainya pipi Anin tanpa sadar. Lalu Bima pun pergi meninggalkan Anin.
Anin memegangi kedua pipinya. Dia merasakan pipinya sudah seperti kerang rebus yang sangat panas.
__ADS_1
"Ah, Anin!! Jangan coba-coba berpikir seperti itu!! Kamu tidak pantas untuk seorang Bima Setyo Wandani!!"
Anin kemudian merebahkan tubuhnya dan menatap layar ponselnya. Disana masih tersimpan dengan baik, foto Anin dengan Rei. Anin juga melihat wallpaper yang terpasang di layar ponselnya masih foto mereka berdua.
"Aku kangen, kamu!!"
Anin kembali meneteskan airmata. Kesedihan yang berusaha dia bendung, kadang mengalir begitu saja tanpa dia sadari. Anin membuka galeri fotonya, lalu dia mengganti wallpaper di layar ponselnya.
"Ah, aku harus segera mengabari ibu," batin Anin. Lalu dia menghubungi Leni, temannya satu apartemen sewaktu di Paris.
Anin kemudian mengirimkan pesan kepada Leni. Untungnya nomor Leni masih tersimpan di buku kecil miliknya. Sama sperti nomor Arum dan yang lainnya, sehingga mempermudah dia menghubungi teman-temannya walau ponselnya tertinggal di Paris.
"Leni?? Ini Anin ...
"Aninn??"
"Iya, Anin"
"Anindya???"
"Iya ..."
"Bisakah aku meminta bantuan kamu lagi kali ini??"
"Pastilah, apa itu, Nin??"
"Bisakah kamu memberi kabar kepada ibuku, kalau aky baik-baik saja di Paris??"
"Anin?? Kamu dimana sekarang??"
Leni merasa ada yang tidak beres dengan temannya itu. Anin lalu menceritakan semuanya kepada Leni.
"Ehm, maafkan aku, ya?? Aku tidak berniat membuka lagi luka itu. Baiklah, akan aku lakukan seperti yang kamu katakan"
"Terimakasih, Leni."
"Sama-sama, Nin."
"Oh, ya Len. Bisakah kamu menyembunyikan keberadaanku untuk saat ini?? Terlebih kepada Rei."
"Kamu tenang saja. Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Kamu harus tetap kuat, ya??"
"Sedang aku usahakan."
Anin sedang berusaha mengumpulkan lagi kepingan hatinya yang hancur lebur. Dan Leni pun bisa memahaminya. Hampir 1 jam lebih lamanya, Anin dan Leni saling bercerita.
"Bye, Anin"
"Bye, Leni"
"heem, maafkan Anin, Bu. Pasti anin akan pulang. Tapi tidak sekarang! Anin malu, Bu!!" ucap Anin dalam hati.
Dia terus memandangi semua foto yang tersimpan dalam galeri ponselnya. Sampai akhirnya, Anin pun tertidur juga.
**
Ponsel Bi Inah berdering, ada sebuah pesan masuk. Lalu Bi Inah membacanya.
"Bu, Anin baik-baik saja. Maaf Anin belum bisa menghubungi ibu untuk saat Ini. Tapi Anin sangat bahagia disini. Anin harap ibu dan yang lainnya dalam keadaan baik juga. Titip salam Anin buat Rafin ya, Bu?? Maafkan Anin yang selalu merepotkan ibu dan selalu membuat ibu kecewa. Anin sangat merindukan kalian semua - Anin"
Mia yang sedang berada di samping Bi Inah pun bingung, kenapa Bi Inah justru menangis setelah melihat ponselnya.
"Ibu ada apa?? Kenapa ibu menangis??"
Bi Inah tanpa berkata-kata hanya menunjukkan pesan singkat yang dikirimkan oleh Anin.
"Jangan menangis, Bu. Anin bahagia dengan pilihannya."
Bi inah tersenyum menatap Mia. "Iya, Nak. Ibu mengerti. Ibu hanya merindukannya."
Dan kedua orang itu pun saling berpelukan. Mia berusaha memberi ketenangan kepada ibunya.
•••••
(Bersambung.)
Stay tune terus, ya??
like dan comment sebanyak-banyaknya.
Terimakasih, semoga kalian selalu dalam keadaan sehat.
💕💕
__ADS_1