
******
Bi Inah masih berdiri mematung di kamar Anin. Seakan kakinya enggan bergerak keluar dari kamar Anin.
"Ah, Nak?? Apa yang harus Ibu katakan kepada Tuan Rafa??"
Bi Inah hanya bisa menarik napas panjang, bersiap-siap untuk menjelaskan kepada Rafa kemana Anin sebenarnya pergi.
Bi Inah menuruni tangga dengan langkah gontai. Dia melihat Rafa sedang duduk di meja makan sambil menikmati secangkir kopi panas.
"Ah, Bi Inah! Bagaimana? Dimana dia?? Apakah dia sedang sakit??"
Rafa mempertanyakan dimana Anin karena Bi Inah turun dari kamar hanya seorang diri.
"Ehm, anu Tuan! Itu ... Anin Aninn ... dia sudah keluar pagi-pagi sekali."
"Apaaa?? Kemana dia??"
"Ehm, itu ... Anin pergi ke Paris bersama Rei"
"Haaaaah???"
Rafa terkejut mendengarkan penjelasan Bi Inah. Dia masih belum bisa mencerna apa maksud dari perkataan Bi Inah.
"Maksud Bibi apa?? Saya tidak mengerti!! Bagaimana dia bisa pergi kesana?? Coba Bibi jelaskan pada saya, apa yang terjadi sebenarnya."
Bi inah pun mulai menceritakan apa yang terjadi pada Anin dan alasan apa yang membuat Anin harus pergi bersama Rei ke Paris. Bi Inah juga menyerahkan surat yang Anin tinggalkan kepada Rafa.
Rafa membacanya, matanya hanya bisa menatap kosong sepucuk surat dalam genggamannya. Bi Inah menyadari kalau Rafa benar-benar terpukul atas keputusan Anin ini.
"Tuan??"
Bi Inah memanggil Rafa, namun Rafa masih tidak bergeming.
"Tuan??"
"Eh, iya??"
"Maafkan putri saya, Tuan"
"Tidak apa-apa!"
Rafa lalu pergi meninggalkan Bi Inah yang juga masih berdiri menatap kepergian Rafa.
"Maafkan saya, Tuan. Saya tidak bisa memenuhi janji saya, untuk membuat Anin menjadi milik anda."
Bi Inah sebenarnya sangat bahagia apabila Rafa lah menjadi suami Anin. Karena dengan begitu, nasib Rafin akan semakin jelas. Tapi kalau bersama Rei adalah keputusan Anin, Bi Inah hanya bisa mendukung keputusan putrinya itu. Karena Rei juga sudah menerima keberadaan Rafin dan semua masa lalu Anin.
**
Di bandara P ...
Anin menatap jauh ke luar sana. Ada sesuatu yang aneh dengan perasaannya, tapi dia juga sulit untuk mengatakannya.
"Ah, semoga kamu baik-baik saja."
Rei yang melihat kegundahan hati kekasihnya itu, menggenggam tangan Anin. "Semua akan baik-baik saja. Setelah semuanya beres, kita akan menjemput Rafin juga."
Anin tersenyum memandang Rei, Dia sangat bersyukur kebahagiaan akhirnya menjadi miliknya.
**
Sudah 2 minggu berlalu, Anin juga sudah berada di Paris, tapi dia belum juga memberikan kabar.
Rafa juga tidak pernah lagi menginjakkan kakinya di rumah itu sejak kepergian Anin. Dia lebih memilih tinggal di apartemennya.
Tapi Rafa tetap mengijinkan Bi Inah dan yang lainnya untuk tinggal di rumahnya.
Semua kehidupan sudah kembali seperti semula. Teguh sudah balik ke Bali, Mia juga sudah kembali bekerja, tapi tetap dalam pengawasan Mark dan beberapa orang yang memang sengaja Rafa tugaskan untuk menjaga mereka.
*
"Nenek ... Nenek ..." panggil Rafin, berlari-lari dari kamarnya.
"Aduhhh ... hati-hati, sayang. Nanti Rafin Jatuh."
Bi Inah lalu berlari mendekati Rafin dan menggendong Rafin ke pelukannya.
__ADS_1
"Nek, Apin lindu Mami. Mami kemana??"
Bi Inah bingung harus menjawab bagaimana pertanyaan cucunya itu.
"Sabar ya, Nak? Mami lagi kerja. Nanti kalau Mami sudah tidak sibuk, pasti Mami kesini. Rafin sekarang main-main dulu, ya? Nenek mau bantu Mbak Uning dulu buat siapin makanan untuk Rafin."
Rafin mengangguk setuju, dan dia pun mulai bermain dengan mainannya.
**
Di kantornya, Rafa terlihat sibuk dengan laptop dan pekerjaannya. Dia kembali seperti Rafa yang dulu, yang gila kerja sampai lupa waktu dan kesehatannya sendiri.
(Tok ... Tok ...)
Terdengar seseorang mengetuk pintu dari luar ruangan Rafa.
"Masuk!"
"Ehm, permisi, Tuan. Itu Nona Cathy memaksa masuk kesini. Saya sudah menolak, tapi ..."
Belum juga selesai penjelasan dari sang sekretaris, tiba-tiba Cathy menerobos masuk ke dalam dan di ikuti oleh beberapa petugas keamanan.
Rafa yang melihat Cathy masuk pun, hanya bisa menahan emosinya. Dia tau, dia sedang berhadapan dengan seorang Cathy, dan dia kenal siapa gadis ini. Saat dia mencoba mendapatkan apa yang dia mau, dia tidak akan berhenti sampai dia benar-benar mendapatkannya.
"Lepaskan saya!! Lepaskan tangan kalian dari saya!! Kalian belum tau siapa saya!!"
Cathy dengan sombongnya membentak para karyawan Rafa yang mencoba melawannya.
"Semuanya keluar!! Saya sendiri yang akan menanganinya!!" perintah Rafa pada sekretarisnya dan beberapa petugas keamanan yang mencoba mengusir Cathy.
Setelah semuanya keluar, Rafa menatap Cathy dengan pandangan tidak suka. Dia mencoba sabar untuk menghadapi wanita ini. Bagaimanapun juga, Cathy pernah mengisi hari-harinya selama beberapa tahun. Dan dia tidak ingin bersikap kasar kepada Cathy.
"Apa mau kamu??"
"Aku ingin kembali lagi padamu!"
Cathy mencoba mendekati Rafa.
"Stopp!! Jangan mendekat!!"
"Rafaa ... Maafkan aku. Aku tidak akan mengecewakan kamu lagi, kalau kamu mau menerima aku."
"Cukup!! Dari tadi aku sudah berusaha menahan emosiku. Tapi kamu malah semakin tidak tahu diri. Aku menerima kamu disini, hanya karena kita pernah berhubungan baik. Tapi itu dulu!!"
"Rafaaa ..."
"Stop!!! berhentilah memanggil namaku dan mengucapkan omong kosong!! Hubungan kita sudah berakhir lama. Dan itu kamu sendiri yang memilih untuk mengakhrinya!! Aku hanya mengikuti permainan kamu!!"
"Maafkan, aku. Waktu itu aku khilaf, sayang. Waktu itu aku gelap mata. Dan sekarang aku sadar, kalau semuanya tidak ada artinya tanpa cinta!"
"Tidak ada artinya tanpa cinta, atau tidak ada artinya, karena kamu tahu Hendra hanya memiliki sebagian harta warisan dari keluarga Atmaja??"
Rafa menatap tajam kedua bola mata Cathy. Cathy hanya bisa terdiam dan menundukkan kepalanya. Dia tidak bisa menyembunyikan kegalauan hatinya. Rafa ternyata bisa menebak alasan Cathy kenapa dia meninggalkan Rafa.
"Aku memang tidak bisa membahagiakanmu dengan kekayaan waktu itu. Tapi aku pernah bilang, untuk membahagiakanmu, apapun akan aku lalukan dan akan aku dapatkan semua yang kamu mau. Tapi kamu tidak sabar dan lebih memilih meninggalkan aku."
"Aku menyesal!! Maafkan aku Rafa ..."
"Aku pernah bilang, aku sudah memaafkanmu. Tapi untuk memulai kembali semuanya dari awal, aku tidak bisa!! Aku tidak pernah memungut kembali sampah yang pernah aku buang!! Ingat itu!!!"
Rafa membalikkan tubuhnya membelakangi Cathy, dia menatap jauh ke luar jendela. Ada perasaan sedih bercampur emosi tiap kali dia melihat Cathy. Semua rencana masa depan yang pernah dia bangun dengan baik, kini hanya tinggal sebagai kenangan yang menyedihkan.
"Pulanglah!! Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi disini!!"
"Rafa, maafkan aku. Aku tidak akan pulang sebelum kamu menerimaku kembali!!"
Cathy menangis sekuat-kuatnya di ruangan Rafa. Dia bahkan rela bersujud di depan Rafa. Menangis mengemis cinta Rafa kembali. Rafa yang muak melihat sikap Cathy pun menghubungi Mark, dan menyuruhnya untuk mengusir Cathy dari ruangannya.
Dengan bantuan beberapa petugas keamanan, mereka mencoba mengeluarkan Cathy dari ruangan Rafa.
"Rafa!!! Maafkan aku!! Aku berjanji akan membantumu memusnahkan Hendra!! Aku akan membantumu mendapatkan apa yang kamu mau!!"
Rafa tidak menggubris semua ucapan Cathy. Dia kembali sibuk dengan pekerjaannya dan tidak memperdulikan Cathy yang di bawa dengan kasar oleh petugas keamanan.
"Rafaaaa!! Awas kamu!! Kamu akan menyesal nanti dan akan mengemis meminta aku kembali!!!"
Cathy terus saja berteriak memanggil Rafa dan memaki-maki Rafa di depan semua karyawan kantor.
__ADS_1
"Idihh ... kasian ya Nona Cathy. Dulu saja di puja-puja, sekarang keadaannnya sangat menyedihkan," ucap salah satu karyawan kepada karyawan yang lain.
"lihat, tuh!! Kasian sekali. Makanya jangan suka selingkuh. Rasakan!!"
"Iya bener, itulah akibatnya membuang berlian demi sebongkah batu apung!!
Yang terdengar hanya bisikan para karyawan yang menyaksikan langsung, betapa menyedihkannya nasib Cathy yang di seret paksa keluar dari ruangan Rafa.
"Eheeeem!!!! Semuanya kembali bekerja!!"
Ucapan Mark membuat mereka tersadar dan mereka pun kembali pada pekerjaan mereka masing-masing.
"Kalau masalah ini masih di bahas besok!! Saya pastikan, siapapun itu akan langsung saya pecat!!"
Mereka semua tidak bergeming. Ada ketakutan akan hilangnya perkerjaan mereka. Dan merekapun tidak berani lagi mengungkit kejadian yang baru saja terjadi.
*
Di ruangannya, Rafa yang sedari tadi sibuk dengan pekerjaannya, akhirnya menghentikan aktifitasnya. Dia menyandarkan kepalanya dan menutup matanya.
"Sesulit inikah mendapatkanmu. Kamu dimana sekarang??"
••••
Mau tau kelanjutannya?? Stay tune terus, yah??
Happy reading!!
Jangan lupa follow, vote, comment dan likenya.
Terimakasih.
__ADS_1
(Bersambung).