My Secret Romance

My Secret Romance
Episode 53


__ADS_3

•••••


"Menikahlah denganku ..."


Anin seketika terdiam mendengar ucapan Rafa.


"Bagaimana?? Kamu bersedia??"


"Saya ... Anu itu ..."


"Tidak usah dijawab sekarang!! Pikirkanlah baik-baik!!" ujar Rafa lalu pergi meninggalkan Anin seorang diri di kamar.


Bi Inah memasuki kamar dan melihat Anin sedang berbaring sambil memikirkan sesuatu.


"Ada apa, Nak?? Cerita sama ibu kalau kamu ada masalah," ucap Bi Inah, lalu menggenggam erat tangan putrinya itu.


"Bu?? Tuan Rafa meminta saya untuk menikah dengannya."


"Apaaa?? Kapan, Nak?? Hem, bagus dong sayang. Ibu sangat senang mendengarnya."


"Tapi, Bu?? Anin takut ..."


"Takut kenapa?? Bukankah ini pertanda baik buat kamu dan juga Rafa??"


"Anin takut, kalau Rafa tidak bisa menerima kehadiran Rafin. Bagaimana kalau Rafa berpikir ..."


"Sudah, sayang. Jangan berpikir yang aneh-aneh dulu. Bukankah lebih baik kita memberitahukannya sekarang dan tahu hasilnya, entah itu baik atau buruk. Daripada nanti??"


"Tapi Anin belum Siap, Bu!"


Dipeluknya putrinya itu, dia tahu beban mental yang selama ini di tanggung putrinya itu. Menghadapi situasi dimana harus menerima kenyataan dicampakkan dan kehilangan, adalah sebuah trauma berat untuk Anin.


"Kamu terima saja dulu lamaran Tuan Rafa, Nak. Untuk selanjutnya, kita lihat saja nanti. Ibu harap semuanya mengarah ke arah yang lebih baik." ujarnya tersenyum.


**


2 minggu Berlalu, Anin mulai di sibukkan dengan belajar sambil bekerja di hotel milik keluarganya.


Seperti biasa, Mark akan menjemputnya setiap pagi bersama beberapa pengawal pribadinya.


"Silahkan, Nona," ucap Mark mempersilahkan Anin masuk ke dalam mobil.


Mobil pun melaju menuju hotel MX. Walaupun di dalam mobil, Anin selalu disibukkan dengan membaca berkas-berkas penting yang berhubungan dengan kepentingan hari itu.


"Hem, maaf Mark." ujar Anin di sela-sela kesibukannya di sepanjang perjalanan.


"Iya, Nona?? Ada yang perlu saya bantu??"


"Kapan Tuan Rafa akan balik?? Bukankah peresmian perusahaannya di kota J akan berlangsung minggu ini??"


"Apakah Nona muda belum dikabari oleh Tuan??"


Anin menggelengkan kepalanya, menatap Mark dengan ekspresi bingung.


"Oh, maaf Nona. Tuan Rafa tidak akan pulang untuk peresmian minggu ini. Beliau sedang ada urusan bisnis yang sangat penting di NY."


"Berapa lama??"

__ADS_1


"Mungkin untuk beberapa bulan kedepan, Non."


Anin menghela napasnya, lalu menatap ke luar jendela mobilnya. "Dasar jahat!! Habis mengajak aku menikah, dia malah menghilang entah kemana." umpatnya sambil meremas dokumen yang ada di genggamannya.


"Nona?? Nonaa??" teriak Rafa menyadarkan Anin akan apa yang baru saja dia lakukan.


"Ah, maafkan saya. Aduh bagaimana ini?? Ini kan kontrak kerja kita dengan Tuan Leo?"


Mark tertawa tanpa sadar melihat kepanikan gadis yang sedang menatapnya itu.


"Tenang saja, Nona. Itu hanya salinan yang harus anda pelajari, karena yang aslinya ada bersama saya sekarang." jelas Mark, dan membuat Anin akhirnya bisa bernapas lega.


"Ah, syukurlah. Saya pikir ini yang asli," ucapnya tersenyum malu-malu. Dia menyalahkan Rafa yang sudah membuatnya seketika seperti orang amnesia.


**


4 bulan berlalu, Anin mulai sibuk dengan pekerjaannya di hotel miliknya. Dan dia juga mulai terbiasa dengan semua urusan, walau masih dengan bantuan Mark.


"Nona, sebentar lagi kita akan rapat dengan perusahaan mode terbesar yang kita bicarakan kemarin. Semua berkas aslinya sudah saya siapkan."


"Terimakasih, Mark. Kalau begitu kita langsung saja kesana. Tidak baik tamu menunggu terlalu lama. Bukankah begitu??" ujarnya dengan penuh percaya diri.


"Ya, anda benar sekali, Nona"


Dan mereka pun pergi bersama menuju ruangan tempat yang akan diadakannya rapat.


*


"Selamat pagi, Nona!!" sapa mereka bersamaan begitu melihat Anin memasuki ruangan.


"Selamat paaa ..."



"Rafaaaa??"


Anin menutup mulutnya, seakan tidak percaya melihat sosok yang dia tunggu-tunggu selama ini sedang berdiri dihadapannya.


"Selamat pagi, Nona Anindya" sapanya lalu menjabat tangan Anin sambil tersenyum.


"Eh, Iya. Selamat pagi Tuan Rafandra." jawab Anin sedikit panik, tidak menyangka kalau rekan bisnisnya kali ini adalah Rafa sendiri.


"Si si silahkan duduk!" ujar Anin mempersilahkan.


Anin menatap kesal kepada Mark, yang terlihat biasa saja seperti sudah tahu kalau yang akan datang adalah Rafa. Mark yang mengerti akan tatapan tajam dari Anin, hanya bisa tersenyum sambil menggaruk-garuk kepalanya.


"Maafkan saya, Nona. Saya hanya melakukan apa yang Tuan Rafa katakan."


*


Hampir 2 jam berlalu, akhirnya dicapai kesepakatan penting antara dua perusahaan yang akan bekerjasama untuk sebuah proyek besar.


"Baiklah, Tuan. Terimakasih atas kepercayaannya. Kami akan pastikan anda tidak akan kecewa sudah bekerjasama dengan kami."


"Sama-sama, Nona Anindya. Saya sangat penasaran dengan hasil kinerja anda terhadap proyek penting ini." balas Rafa, dan merekapun saling berjabat tangan, lalu rapatpun selesai.


Satu-persatu orang-orang pergi meninggalkan ruangan rapat. Yang tersisa kini hanya mereka bertiga, Anin, Rafa dan Mark.

__ADS_1


"Awas kamu ya, Mark!!" ujar Anin kesal, lalu memukul tangan Mark.


"Maaf, Nona. Ini permintaan, Tuan. Saya hanya melakukan apa yang tuan minta."


Anin tertunduk malu, sambil merapikan berkas-berkas yang ada dihadapannya.


"Kenapa kalau aku merahasiakan kedatanganku?? Kamu sangat merindukan aku kan??" goda Rafa, lalu berjalan mendekati Anin.


"Jangan terlalu percaya diri!! Saya hanya merasa sedang di tipu!!"


"Ditipu kenapa?? Kalau aku tidak merahasiakannya, mungkin kinerjamu tidak akan sebagus tadi. Bukankah begitu, Nona Anin??"


Rafa berjalan semakin dekat dengan Anin. Kini jarak mereka hanya setengah meter, membuat Mark pun yang tidak tahan membayangkan apa yang bakal terjadi, memilih untuk keluar dari ruangan itu.


"Dasar!! Mereka pikir aku ini patung hidup apa!!" umpatnya sambil berjalan memasuki lift dan memilih masuk ke ruangan kerjanya.


**


"Anin??"


"Hemm??"


"Apakah kamu menungguku??"


Anin menatap kedua bola mata pria yang mulai dia sukai itu. Saat menjadi kekasih Rei, sebenarnya perasaan itu sudah mulai tumbuh, tapi pada saat itu rasa benci Anin lebih besar ketimbang rasa sukanya.


"Tidak!! Aku tidak menunggumu!!"


Rafa semakin mendekatkan dirinya. Jarak mereka yang begitu sangat dekat, sampai bisa merasakan bunyi detak jantung masing-masing.


"Menikahlah denganku!!"


Rafa mencium bibir Anin dengan mesra. Anin yang hanya bisa pasrah dengan perasaanya pun, akhirnya merespon ciuman yang diberikan oleh Rafa.


Anin pun terlihat menikmati setiap kecupan yang diberikan oleh Rafa. Tidak bisa di pungkiri, dia sangat menginginkan pria yang kini bersamanya, andai hidupnya tidak serumit itu.


"Dubraaaaak!!!"


Tiba-tiba pintu terbuka karena di dobrak paksa.


"Mamiiii!!!" teriak Rafin yang tiba-tiba masuk ke ruangan itu, dan langsung menutup matanya.


Mia yang datang bersamaan dengan Rafin pun ikut menutup mata, kaget melihat pemandangan yang tidak seharusnya mereka lihat.


"Maaf!! Maaf!! Maafkan kami. Kami pergi dulu. Kalian lanjutkan saja." ujar Mia gagap lalu mengajak Rafin keluar dari ruangan itu.


Anin dan Rafa yang tertangkap basah, hanya bisa menahan malu dan masing-masing tidak berani saling menatap.


"Uhh Miaaa!! Teruskan apanya!! Dasaaar!!" umpat Anin kesal bercampur malu.


Tiba-tiba Rafa memeluknya dari belakang. Dan mengecup pundaknya. "Aku anggap tadi itu sebagai jawaban, kalau kamu bersedia menikah denganku!!" godanya, membuat Anin malah semakin malu.


"Apasihhh!!"


Anin melepaskan pelukan Rafa, mengambil ponsel dan tasnya, lalu berlari pergi meninggalkan Rafa sendirian disana.


"Gadis aneh!!" ujar Rafa lalu tertawa.

__ADS_1


••••


Bersambung.


__ADS_2