My Secret Romance

My Secret Romance
Episode 37


__ADS_3

Setibanya di sebuah apartemen ...


"Masuklah ..." ajak Mark pada Anin dan Rei.


"Untuk sementara waktu, anda bisa tinggal disini, Tuan," ucap Mark lagi kepada Rei.


"Terimakasih Mark. Kamu tidak perlu sungkan begitu kepada saya. Kamu kan sepupu Anin. Cukup panggil saya dengan nama saja, okay?" ujar Rei sambil tersenyum.


"Ehm, iya baiklah."


Mark lalu memperlihatkan satu persatu isi apartemen itu kepada Rei.


"Apa apartemen ini tidak terlalu besar untuk saya? Saya hanya tinggal sendiri disini. Sedangkan disini ada dua kamar yang kosong, dan apartemen ini cocoknya untuk bos-bos besar yang punya banyak uang," ucap Rei tertawa.


Anin pun ikut tertawa mendengar ucapan Rei.


"Tidak apa-apa, sayang. Kamu akan tinggal disini selama kamu masih di Indonesia. Mark hanya ingin membuatmu merasa lebih nyaman. Bukan begitu, Mark?"


"I i yaa, Non. Eh eh, maksud saya Anin"


Rei membawa kopernya masuk ke salah satu kamar di apartemen itu, lalu membereskan barangnya. Anin yang melihatnya lalu mengikutinya.


"Kamu mandi saja dulu. Nanti aku yang akan membereskannya," ucap Anin saat melihat Rei mulai membereskan pakaiannya.


"Tidak apa-apa, sayang. Aku hanya membawa beberapa pakaian. Dan ini hanya membutuhkan waktu 5 menit. Tidak lama, kok. Atau?? kamu sudah tidak sabar ingin menghabiskan waktu denganku??" jawab Rei bercanda lalu mulai mendekati Anin.


"Apaan, sih?? Aku cuma tidak mau kamu terlalu lelah. Bereskan pakaiannya kan bisa nanti. Mandilah dulu, setelah itu ..."


Belum juga selesai Anin melanjutkan ucapannya, Rei sudah membungkam bibir Anin dengan sebuah ciuman.


"Sayang ... Jangaaan ..."


Rei tidak menggubris penolakan Anin. Rei terus saja melakukan aksi panasnya itu dan hanya bisa membuat Anin pasrah. Rei juga makin panas dan terus saja menghujami Anin dengan sebuah permainan yang panas, hingga membuat Anin lupa kalau disitu masih ada Mark.


Mark yang masih berada di ruangan itu, hanya bisa geleng-geleng kepala saat mendengar suara-suara aneh dari sebuah kamar yang baru di masuki oleh Anin dan Rei.


"Dasar manusia jaman now, gak dimana-mana, pasti begitu," ucap Mark tertawa lalu mengambil ponselnya dan menghubungi Rafa.


"Halo ..."


"Halo, Tuan"


"Bagaimana sekarang?"


"Semuanya sudah saya lakukan seperti yang anda katakan, Tuan. Kekasih Nona Anin sudah saya bawa kemari"


"Baiklah, Mark. Terimakasih ..."


Rafa terdiam sejenak, seperti hendak bertanya sesuatu tapi sulit sekali mengatakannya.


"Ehm, Anin bagaimana? Dimana dia sekarang?" tanya Rafa penasaran.


"Itu, anu, mereka sedang berduaan di kamar, Tuan!"


"Apaa????"


Rafa tanpa sadar berteriak kepada Mark. Dan membuat Mark tersentak kaget.


"Maaf, maafkan saya. Sebentar lagi suruh Nona Anin menelepon saya"


"Baiklah, Tuan."


Lalu Rafa menutup panggilan teleponnya. Muncul beribu pertanyaan dalam hatinya, sedang apa Anin disana.


"Ahhh!! Ayolah, Rafa. Dia itu milik orang lain. Kamu tidak berhak mengatur hidupnya," ucap Rafa dalam hati, berusaha menguatkan dirinya sendiri.


••


Setelah hampir setengah jam Anin dan Rei memadu kasih di dalam kamar, akhirnya Anin keluar dengan malu-malu. Dia melihat ke sekeliling apartemen itu, tidak ada Mark disana.


Lalu dia mengambil ponselnya dan menghubungi Mark. Tak berapa lama Rei juga keluar dari kamarnya.

__ADS_1


"Ada apa, sayang?" tanya Rei begitu melihat Anin sedang menelepon seseorang.


"Mark tidak ada disini. Aku sedang menghubunginya," jawab Anin.


Setelah 2 kali Anin menghubungi Mark, barulah ada tanggapan dari Mark.


"Halo, Nona?"


"Kamu dimana?"


"Saya di lobi, Nona. Tadi saya keluar, mau merokok sebentar. Maafkan saya tidak pamit kepada anda"


"Tidak apa-apa. Itu, saya ingin menanyakan sesuatu kepada kamu"


"Apa itu, Non?"


"Ehm, bisakah saya menginap malam ini disini??"


"Maaf, Nona. Saya tidak punya wewenang untuk menjawabnya. Dan tadi Tuan Rafa berpesan kepada saya, supaya anda segera menghubunginya"


"Ah, baiklah kalau begitu. Saya akan segera menghubunginya."


Anin mengakhiri panggilan teleponnya, lalu duduk di sofa dan menyandarkan kepalanya. Anin tahu, pasti akan sulit sekali meminta ijin kepada Rafa.


Rei yang melihat kegelisahan kekasihnya itu, mendekatinya lalu mencium pipinya.


"Ada apa, sayang?"


"Tidak apa-apa, aku hanya kelelahan saja," ucap Anin berusaha menutupi kegundahan hatinya.


"Ah, kita kan masih berciuman sayang. Itu saja kamu sudah kelelahan. Bagaimana kalau yang lain??"


"Ishhh, kamu ini. Jangan di ulangi lagi!! Mark sampai lari itu gara-gara kamu"


"Dia bukan lari, itu namanya tau diri. Dia hanya memberikan kita waktu untuk melepas kerinduan," jawab Rei sambil tertawa.


"Sinetron!!" ucap Anin lalu memukul tangan Rei.


Tidak lama kemudian Mark masuk, tapi kali ini dia tidak sendiri. Ada Rafa bersama dengan dia.


Rei yang melihat Anin berdiri dan mendekati Rafa, langsung mengikuti Anin.


"Tuan, tadi saya berniat menelepon anda. Tapi anda sudah sampai disini."


Rafa hanya menatap Anin tanpa sepatah katapun dan Rei pun bingung siapa pria yang di panggil Tuan oleh Anin.


"Dia siapa, sayang??"


Rei menatap Anin, dan Anin bingung harus menjelaskan apa kepada kekasihnya itu. Anin berniat akan menjelaskan semuanya nanti, tapi dengam situasi seperti ini, itu tidak akan mungkin terjadi.


"Bisakah kita mengobrol sebentar, Tuan?" pinta Anin kepada Rafa.


Rafa menatap Anin lalu mengalihkan pandangannya kepada Rei. "Kalau kekasihmu mengijinkan ..."


Anin menatap Rei dan meminta ijin untuk mengobrol berdua dengan Rafa. Rei mengijinkannya, walau sebenarnya dia merasa ada yang aneh antara mereka berdua. Tapi Rei percaya Anin tidak akan mengecewakannya.


Anin dan Rafa pergi keluar. Mereka mencari tempat untuk mengobrol.


"Sudah disini saja. Jangan jauh-jauh," ucap Rafa pada Anin.


Lalu mereka pun duduk di sofa yang berada di sudut lobi apartemen itu.


"Apa yang ingin kamu bicarakan?"


Anin menatap Rafa, dia memandang lekat sekali pria yang sedang duduk di hadapannya itu. Pria baik dan bertanggung jawab, mau melindungi keluarganya, padahal dia hanya orang baru bagi mereka.


"Ada yang ingin aku tanyakan kepadamu?"


"Apa itu??"


"Kamu harus jawab yang jujur, apa sebenarnya alasan kamu mau melindungi aku dan keluargaku?"

__ADS_1


Rafa balik menatap Anin dengan lembut. Pria arogan yang sombong, keras dan tegas, namun dia sangat memperhatikan Anin.


Rafa lalu menunjukkan sebuah pesan teks terakhir dari almarhum Nyonya Atmaja. Anin membacanya, dan dia hanya bisa menangis melihat isi pesan mamanya itu.


"Jadi Mama tau, bakal ada sesuatu yang akan terjadi padanya. Itu sebabnya dia mengirimu pesan untuk menjagaku?"


"Sepertinya begitu, dan aku juga baru membacanya setelah kamu menghilang dari Indonesia. Dan keluargamu tidak memberiku informasi apapun"


"Jadi kamu menjaga dan melindungiku karena isi pesan ini?"


Rafa menatap Anin, lalu segera mengalihkan pandangannya kepada ponsel miliknya. Seperti hendak mencari sesuatu disana.


"Iya, awalnya aku ingin menjagamu karena wasiat terakhir beliau. Tapi setelah itu ..."


"Setelah itu apa??"


"Setelah itu alasan ku berubah"


"Berubah?? Kamu berubah pikiran dan tidak ingin menjaga aku lagi, karena sikapku tadi pagi??"


"Bukan itu ..."


"Terus berubah bagaimana??"


Anin penasaran dengan ucapan Rafa yang berbelit-belit.


"Hei, berubah bagaimana??"


"Berubah ... Karena aku, ingin melindungi orang yang aku sayang."


Rafa menatap Anin yang juga sedang menatapnya. Mata mereka beradu, ada kekecewaan yang tersirat dari mata Anin. Tapi dia sadar, pasti ada orang yang lebih penting darinya, dan sekarang itu menjadi prioritas Rafa untuk menjaga dan melindunginya.


"Tidak apa-apa. Kamu memang sudah sangat baik terhadap aku dan keluargaku. Kalau sekarang yang menjadi prioritasmu ada orang lain dan bukan aku, aku hanya bisa mengucapkan terimakasih kepada kamu."


Rafa tertawa melihat ekspresi dan mendengar ucapan Anin.


"Kamu kecewa?"


"Tidak! Tentu saja tidak!"


"Kamu tidak penasaran siapa diaaa??"


"Apa?? Ya pasti tidak!! Itu adalah privasimu dan aku juga tidak ingin mengetahuinya"


"Yakin?? Aku rasa kamu mengenalnya"


"Aku mengenalnya?? Tidak mungkin!! Aku tidak mempunyai seseorang yang dekat denganku, entah itu sahabat atau apa kecuali Mia. Tidak mungkinkan kamu menyukai Mia?"


Rafa memukul kening Anin dengan keras.


"Awww sakit!!"


"Makanya jangan mikir yang aneh-aneh!! Aku juga masih waras untuk tidak merebut istri orang lain"


"Lalu siapa?? Jangan berbelit-belit deh!!" ucap Anin mulai sedikit kesal.


Rafa lalu mengambil ponselnya dan menunjukkan foto seseorang pada Anin.



"Alasanku berubah setelah aku sadar, kalau aku mulai menyukai dan menyayangi dia!"


Ucapan Rafa membuat Anin tidak bisa berkata-kata lagi. Ponsel Rafa pun terjatuh dari genggamannya. Dan mata mereka pun saling beradu pandang.


•••••••••••••


(Bersambung)


Like ...


Comment ...

__ADS_1


Vote ...


Terimakasih.


__ADS_2